
.
.
Hati Aruna semakin gelap berusaha menebak apa yang akan terjadi. Semakin hari semakin ia tak banyak bicara.
.
"Minggu ini kita ke Ciputat ya, ke tempat paman ke 2" ucapan paman Jesaya itu memulai percakapan di tengah keluarga yang duduk santai di ruang tamu.
"kita singah ke ancol boleh pa" sahut Michael semangat,
"berapa hari pa? " tanya Eliana lagi
"sebentar saja hanya mengantar Aruna dan nenek. mereka mungkin akan seminggu disana setelah itu nenek akan pulang ke medan"jelas Jesaya pada anak anaknya.
.
Perjalanan mulai. Sesampainya di kediaman paman Era mereka langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian masing masing. Setelah makan malam keluarga paman Jesaya berpamitan untuk pulang, tinggallah Aruna dan nenek nya bersama keluarga paman Era.
.
Ting.. Tong ponsel milik Aruna berbunyi menandakan ada pesan masuk
"bagaimana kabarmu? Lusa aku akan menjeputmu. Bersiap lah! "
Dari siapa lagi kalau bukan dari Ike.
" kami sedang di Ciputat, tempat paman Era, kalau kau mau datang, datanglah kemari" balas Aruna sedikit berharap.
.
__ADS_1
Hari yang di maksud telah tiba, bolak balek Aruna mengecek ponsel nya memeriksa pesan dari Ike namun tidak ada.
Hatinya resah, apakah kali ini Ike juga akan mengecewakan nya lagi untuk kesekian kalinya.
Tentu saja dengan 1001 teori pembenaran diri.
.
Tok tok tok suara pintu terdengar di ketok dari luar. Segera Aruna bergegas membukanya dan sangat lega kakak sulungnya tiba dan tampak baik baik saja.
Setelah berbasa basi dengan keluarga paman Era, Ike permisi untuk membawa Aruna menuju jakarta lantaran 2 orang teman nya sedang menunggu disana.
Dengan semangat Aruna bersiap siap dan mengkemas barang nya dengan ransel hitam miliknya.
Mereka menaiki taxi dari depan gang rumah paman Era.
.
Aruna memandang keluar kaca dan melamun dengan pikiran kosong.
"Aku sudah punya seorang anak" suara Ike memecahkan lamunan Adiknya sembari menyodorkan ponsel yang menujukkan photo kebersamaan nya dengan seorang bayi
"lihatlah itu putri ku"sambungnya lagi
"leluconmu tidak lucu" balas Aruna cuek mengembalikan ponsel milik Ike,
Jantung nya berdetak luar biasa mengingat mimpi yang menghatuinya beberapa hari yang lalu. Ia memalingkan wajah nya menatap luar jendela, matanya berkaca kaca berharap kakaknya itu hanya bercanda.
Mereka berganti kendaraan. Menaiki bus transjakarta, menaiki angkot hingga menurunkan mereka tepat di depan sebuah penginapan di dekat kota tua.
Sepanjang perjalanan perasaan Aruna amburadul dan kacau, hatinya berdebat di dalam sana. Sedangkan bibirnya bungkam tak bersuara.
__ADS_1
.
.
Tap.. Tap.. Tap.. Langkah demi langkah 2 wanita itu menaiki anak tangga menuju lantai 3 penginapan itu.
Disana tampak sepi, mereka berjalan melewati koridor dan berhenti di depan sebuah kamar no 210.
"Ayah" panggil Ike mengetuk pintu.
Segera pintu itu di buka dari dalam oleh seorang lelaki sedikit tinggi kurus dan berkulit gelap sedang menggendong seorang bayi mungil.
Wajah Aruna pucat saat itu juga melihat pemandangan itu. Kakinya gemetar, air mata keluar sangat deras dari matanya yang melotot tanpa berkedip. Traaapp kaki Aruna terjatuh bertumpu pada kedua lutut nya sekarang posisi nya seperti orang berlutut, tangan nya lemas bibirnya tak mampu bersuara.
Ike masuk ke dalam kamar dengan antengnya dan duduk di ujung kasur.
Sedangkan suaminya hanya terdiam dan terus mengendong Ninta putri kecil mereka.
Aruna bangkit dan meninggalkan pemandangan yang menusuk hatinya itu.
Ia menghentikan langkahnya setelah melewati 3 kamar dari kamar Ike.
Aruna menangis dengan keras dan dalam memeluk kedua pahanya.
Kepalanya berat terbayang wajah ibunya. Luar biasa kacaunya Aruna saat itu. Ia sering menangis tapi tak pernah sedalam itu
"apa ini Tuhan,? Takdir macam apa ini? Hidup macam apa ini? " ucap hatinya dalam tangisan.
.
.
__ADS_1