
.
.
Selesai menikmati sarapan, mereka bersiap siap untuk berangkat ke kota.
Tanpa basa basi Aruna langsung membawa mereka ke salon perjanjian.
Saat mereka tengah menikmati pijatan lembut dari tangan kakak kakak banci karyawan salon itu.
Maranatha tersenyum di belakang Aruna menatap nya dari pantulan kaca.
Maranatha langsung duduk di sofa menunggu kekasihnya itu selesai.
"Kita cuci dulu ya kak" ucap pegawai yang
melayani Aruna dengan suara manja. Aruna mengangguk dan segera turun dari kursinya.
Sedangkan Ria dan Win masih setia dengan pijatan nya.
Melihat mereka berjalan menuju belakang, Maranatha bangkit berdiri dan mengikut pula.
Setelah Aruna meletakkan tubuh nya di kurso panjang itu, Maranatha menunduk dan mengecup bibir Aruna lembut.
Sontak mata Aruna terbelalak kaget, sedangkan banci yang sedang membilas rambut nya hanya diam pura pura tak melihat siaran langsung di depan nya.
"Aku merindukan mu" sambungnya melihat Expresi terkejut Aruna tapi tangan nya beralih meremas paha Aruna.
"Hheh" degus Aruna dengan senyuman meleceh tapi juga senang.
__ADS_1
Selesai sudah mereka bersalon, Maranatha bergegas hendak menjemput mobil ke parkiran percetakan tempat legend yang membuat nya terjepit di posisi saat ini. Walaupun menikmati tapi tetap saja bayangkan tentang hari esok menghantui nya.
Maranatha meninggalkan 3 gadis itu sedang menikmati nasi goreng lengkap dengan jus nya.
Maranatha kembali membawa mobil xenia hitam menjemput 3 orang wanita yang pantas di sebut putri nya.
"Kita akan kemana? " tanya Maranatha pada Aruna di sebelah nya
" Terserah yang didepan saja om" jawab Win cepat. Menikmati pemandangan jalan dari jendela mobil.
"Kita mutar mutar aja deh, melewati ladang jeruk mungkin mereka suka" ajak Maranatha.
Aruna hanya memajukan muncung nya dan mengangguk setuju.
Sepanjang jalan Aruna dan Maranatha asik bercerita. Sedangkan Win dan Ria asik dengan kamera berselfi. Mobil memang sengaja melaju pelan agar hasil jepretan mereka tidak terganggu.
Aruna puas melihat semangat yang sempat hilang tadi malam.
Belum lagi tangan Aruna berhasil membuka pintu mobil, Maranatha menarik lengannya dan melu*mat bibirnya tanpa basa basi.
"Kau cantik sekali hari ini "lirih Maranatha di sela sela ciuman nya.
Aruna hanya tersenyum manis. Lagi lagi pria ini main sosor saja saat ada kesempatan.
Win dan Ria puas berselfi kembali mereka masuk mobil.
" Apa memori nya sudah penuh? " tanya Maranatha melirik ke belakang lewat kaca spion.
" Aku geram melihat buah jeruk nya. Andai saja tidak di pagar, pasti sudah panen" degus Win sedikit kesal karena tak bisa mencicip buah jeruk yang sangat mengiurkan itu.
__ADS_1
"hihihi.. Tenang saja, di bagasi ada 2 kotak untuk kalian habiskan nanti di rumah" jawab Maranatha santai.
"Benarkah om? " mata Win bulat seperti mau loncat keluar tak percaya mendengar kalimat Pria yang bahkan mereka belum tau siapa sebenarnya dan hubungan apa dengan Aruna.
Maranatha hanya mengangguk setia dengan kemudinya.
Aruna tak menyambung percakapan mereka, sebenarnya dia yang meminta Maranatha untuk menyiapkan jeruk supaya kedua teman nya itu tidak kecewa.
Usaha terbesar Maranatha memang bertani.
Ladang nya luas terbentang di bawah kaki gunung Sinabung. Jadi jeruk 2 kotak itu persoalan kecil baginya.
Maranatha mengantar mereka pulang sampai depan pintu. Maranatha yang menurunkan jeruk itu kurang lebih ada 40 kg lah.
Win dan Ria langsung masuk ke dalam rumah dan menyambar buah jeruk yang baru saja di letakkan Maranatha.
Aruna setia menunggu dekat pintu mobil ingin mengantar kekasih tua nya itu pulang dan bersalaman.
Maranatha menempelkan sejumlah Uang kertas di telapak tangan Aruna dan berbisik
"Untuk ongkos kalian nanti. Maaf aku tidak bisa mengantar kalian sayang "
" Hemmm tidak masalah, pulang lah. Terimakasih untuk hari ini. Jangan lupa beri kabar ya. Hati hati di jalan" balas Aruna mencium telapak tangan Maranatha.
Aruna memandang kepergian Maranatha hingga mobil itu tak terlihat lagi.
.
.
__ADS_1