
.
.
Hari berganti hari tak terasa 2 minggu sudah Aruna habiskan di rumah paman Jesaya tanpa pekerjaan yang menghasilkan uang, sedangkan Ike semakin sulit untuk di hubungi.
Sebelumnya Ike hanya mengatakan untuk bersabar lantaran seminggu ini dia sangat sibuk di pekerjaannya.
Hati Aruna semakin resah dan penuh tanda tanya. Aruna memutuskan untuk bertanya pada ibunya karna 2 wanita itu dari dulu selalu menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol lewat telepon. Karna Ile memang kesayangan ibunya dari kecil, setidaknya begitu lah perasaan Aruna. Ternyata hal itu juga di rasakan oleh ibunya.
" Bukan hanya jarang menelepon ku sekarang, dia bahkan selalu mengabaikan panggilan dariku" ucapan ibunya tadi menjadi beban bagi Aruna.
"Ada apa sebenarnya " gumam Aruna dalam hati mengkerutkan kering nya.
.
.
1 Bulan telah berlalu tanpa kejelasan dari Ike.
Susah senang di nikmati Aruna di kediaman paman Jesaya. Maklum saja hal yang kurang berkenan di hati akan sering terjadi bila kita terlalu lama menumpang di rumah orang bahkan famili sendiri tanpa penghasilan. Kadang wajah masam tuan rumah, kadang sikap cueknya hingga ocehan.
.
Aruna memampukan diri untuk menghadapi itu semua karena Aruna masih harus mengisi perut walaupun tidak punya penghasilan Dia berusaha memberikan yang terbaik dalam mengerjakan pekerjaan rumah sebagai tanda terima kasih atas tumpangan pamannya.
.
__ADS_1
Hari ini tepat ulang tahun Aruna yang ke 20,
Aruna masih tetap menyimpan rasa penasaran terhadap ketidakpedulian Ike padanya, belum pernah Ike melewatkan ulang tahun Aruna tanpa ucapan
Tetapi berbeda dengan ulang tahun nya kali ini
.
Siang itu setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Aruna merebahkan badannya di kasur kamar kakak sepupunya Eliana, ia membuka ponselnya melihat kabar.
Satu persatu aplikasi itu di cek ternyata tak ada ucapan juga dari Ike.
.
Namun senyuman melebar di bibir Aruna melihat sebuah ucapan dari Maranatha.
Entah kenapa pria itu selalu berhasil membuat Aruna tersenyum lega bahkan hanya dengan hal kecil.
.
Setelah kepergian Aruna, Maranatha berusaha menahan diri bila ingin menghubungi gadis itu karna dia telah menyadari dia telah jatuh cinta pada Aruna, namun tak ada kemungkinan untuk memiliki. Belum tentu juga Aruna mau menerima dia dan anak anaknya.
.
.
Malam itu Aruna terlelap dalam tidurnya, sepertinya ia lelah sekali.
__ADS_1
Dia terbawa ke alam mimpi, disana dia sedang berjalan dengan seorang sahabatnya yang sudah lama merantau jauh.
Dua tangan Aruna memegang gunting dan sebuah cukup di sebelahnya lagi. Aruna memotong rambut nya sambil berjalan dan tertawa bersama Dwi, sesekali ia cukur kepada nya sendiri. Tampak ia sengaja dan bahagia melakukan itu, belum lagi rambutnya habis terpotong Aruna sudah terbangun, matanya langsung terbuka lebar menghilangkan rasa kantuknya saat itu juga, sampai pagi tiba Aruna bahkan tak memejamkan matanya lagi.
.
Sesaat setelah pagi tiba langsung Aruna bercerita pada ibunya melalui telepon,
"Jangan terlalu di pikirin, sekarang ambil saja gunting, potonglah rambutmu sedikit "perintah ibu nya dari pulau Sumatera itu. Segera ia melaksanakan.
.
Malamnya juga Aruna masih di hantui mimpi buruk yang menggangu nya itu tapi kali ini Aruna hanya memotong kukunya dengan gigi dan tangan yang lain.
Aruna sangat jarang bermimpi dan saat dia bermimpi sesuatu pasti akan terjadi. Jadi dia sangat terganggu dengan mimpinya yang berurutan.
.
Malam ini Aruna berharap tidurnya akan nyenyak.
Namun lagi lagi ia harus terhantui oleh mimpi.
Kali ini dia duduk sedang menyusui seorang baby tampak dia sangat bahagia dengan bayinya. Yang benar saja.
Air mata nya pecah malam itu, "ada apa ini Tuhan? Apa yang sedang terjadi?" gumam nya dalam hati menangis tak bersuara.
.
__ADS_1
.
.