
.
.
Saat pagi tiba, Maranatha dan Aruna bersiap siap untuk pulang. Maranatha sudah ada jadwal rapat di kantor untuk siang hari jadi Mereka berangkat pagi supaya masih sempat mengantarkan Aruna ke kost nya. Aruna juga kebetulan kena sift siang jadi mereka tidak terlalu buru buru..
Rasa canggung masi terlihat dari sikap Aruna. Bila tak di sapa dia akan diam saja menikmati pemandangan selama perjalanan.
Tapi Maranatha selalu punya pertanyaan yang membuat Aruna harus mengeluarkan suara nya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang dek? " tanya Maranatha memulai.
" ngga ada, biasa aja bang" jawab Aruna berbohong berusaha menutupi perasaannya.
Sebenarnya ada puluhan bahkan ribuan tanda tanya timbul di hatinya tentang apa yang sudah mereka lakukan semalaman. Tapi ia tak berani bertanya. Jantung nya juga masih belum stabil hingga membuat nya gugup dan salah tingkah.
Mata Maranatha terbelalak kaget mendengar ucapan gadis di sebelah nya.
"Laah..?? Biasa?? Tidak ada??? Apa dia sudah biasa melakukannya dengan orang lain?? Apa baginya permainan semalam tidak ada artinya??
Apa kharisma ku sudah pudar ya?? " protes batin Maranatha merasa di kecilkan oleh sang gadis.
__ADS_1
" Ehhemm... Maksudku begini Aruna, bagaimana perasaanmu padaku sebelum dan sesudah kita bertemu " sambung Maranatha salah tingkah berusaha memperjelas pertanyaan nya.
Aruna mengangguk pelan dan mengkerutkan dahinya untuk mencerna penjelasan Maranatha dan berusaha memaksa otaknya untuk berpikir dan membentuk kalimat.
"Ah...aku nyaman sekali bang, sepertinya beban pikiran ku juga sudah berpindah ke bahumu" canda Aruna terkekeh kecil tak mengusik tangannya di pangkuan.
"Begitu..? Baguslah. Tapi ngomong ngomong apa yang membuatmu menghubungi ku? "
" Entah lah bang, Tanganku seperti dapat perintah mencari no ponsel mu dan langsung menelepon. Padahal ada banyak kontak disana, tapi jemariku melewatkan nya" jawab Aruna mulai serius menganggapi.
"hahaa... Perintah?? Perintah siapa? " Maranatha terkekeh mendengar penjelasan Aruna.
" Seriusan loo" wajah Aruna memerah digoda Maranatha.
Tidur ku tak nyenyak memikirkan mu. Siapa sebenarnya kau, bagaimana bisa aku sudah merasa sangat nyaman dengan mu bahkan saat pertama kita bertemu.
Kau ingat saat aku meminta mu untuk berbelanja? "
Aruna mengangguk penasaran
" Aku hanya merasa menyuruh istriku. Pertama aku kagum padamu kau sudah ku jadikan istri dalam hatiku" sambungnya fokus menyetir sesekali menoleh pada Aruna.
__ADS_1
"....... " terdiam dengan expresi bingung.
" Susah dipahami sih, tapi aku merasakan nya Aruna. Kau sangat mengoda di mataku. Semua yang ada padamu membuatku kagum dan semakin penasaran"
Aruna hanya terdiam mencerna semua kalimat Maranatha yang menyanjung nya. Wajahnya merah padam. Apa benar yang di kisahkan tuan hitam manis itu?
Apa dia semenakjubkan itu?
Tak terasa daerah kost kosan yang di tinggali Aruna sudah sampai. Tapi mereka berhenti di depan gang karna ingin mengisi perut dulu sebelum berpisah.
Aruna hendak duduk di hadapan Maranatha. Tiba tiba tangannya di tarik si hitam manis.
"Aku lebih nyaman bila kau duduk di sebelah ku" pintanya.
Aruna hanya menurut. Mereka menikmati sarapan. Tak menghiraukan pandangan karyawan itu menatap mereka curiga. Wajar saja, mereka terlihat mesra dengan pautan usia yang membuat mereka lebih cocok seperti anak dan ayah. Tapi nyatanya mereka sepasang kekasih, kira kira begitulah perasaan Maranatha.
Maranatha mengantarkan Aruna sampai pintu gerbang. Aruna menunggu kepergian Pria itu hingga tak terlihat lagi baru ia masuk ke kamarnya. Hatinya berbunga bunga seperti orang jatuh cinta.
Sepanjang perjalanan Maranatha juga sangat bahagia dan puas. Sekarang Aruna sudah di tangan nya, tidak akan dia lepaskan lagi. Kepedihan hidup yang di kisahkan Aruna semalaman membuat Maranatha ingin selalu melindungi dan membantu nya.
Lagi pula Maranatha merasa pikiran mereka berdua sejalan dan mudah dis cocokan berbeda dengan Elmi.
__ADS_1
.
..