Dunia Di Belahan Lain

Dunia Di Belahan Lain
Part 24


__ADS_3

.


.


Aruna memutar otak nya. Kemana ia harus mengajak Maranatha jam sudah larut malam.


Sedangkan Maranatha sibuk komplen mengenai kepulangan Aruna yang tak memberitahu dirinya.


Belum lagi pertanyaan 1 mendapat jawaban sudah di layangkan pertanyaan lain jadi Aruna sedikit bingung mau jawab yang mana dulu.


"Apa abang sudah makan? " tanya Aruna di sela sela pertanyaan nya.


" Sudah sore tadi. Kau belum makan? Dia bertanya balek.


"Belum" balas Aruna menoleh padanya yang sedang serius mengemudi.


"Hmm.. Kalau begitu kita akan makan dulu. Kau mau makan apa? "


" Apa saja bang"


"Lirik sebelah kiri aku akan melirik sebelah kanan kira kira mana yang menggugah selera" balas Maranatha mulai menatap ke kanan dan menurunkan kaca mobil supaya leluasa memilih tempat yang pas untuk mereka.

__ADS_1


"Bagaimana kalo di situ? " tanya Maranatha menunjuk sebuah kedai mie aceh yang tampak tidak terlalu rame dan tidak sepi juga.


" Boleh " Aruna pasrah.


Menunggu pesanan mereka datang. Maranatha mulai bertanya


" Apa yang ingin kau sampaikan? "


Aruna mengela nafas mulai lagi mengingat beban nya yang baru saja ia lupakan sejak menunggu kedatangan Maranatha. Wajah nya menunjukkan bahwa ia sedang mengalami masa masa sulit.


Mulai lah Bibir Gadis itu berbicara. Mulai dari persoalan nya dengan Indra, sampai persoalan Ike ia tuturkan. Sedangkan Maranatha menyimak dengan serius tak berkata kata.


Mulai mata bulat Aruna berkaca kaca menuturkan kisah pahitnya, makanan datang jadi dia harus menyeka air mata yang belum jatuh itu.


Kisah berlanjut pelan sambil menikmati makanan yang terhidang.


Saat itu hanya suara Aruna yang terdengar.


Setelah puas mengeluarkan semua uneg uneg dalam hati nya, wajah Aruna sedikit lega dan puas sepertinya setengah dari beban itu sudah hilang.


"Apa kau sudah selesai? " tanya Maranatha menatap serius ke arah Aruna.

__ADS_1


Aruna hanya mengangguk.


" Pertama selamat kau sudah berhasil melewati masa sulit mu. Dan kedepannya juga tetap lah kuat seperti ini. Tidak semua orang bisa seperti yang kita harapkan bahkan terkadang kita juga kecewa terhadap diri sendiri. " ucap Maranatha pelan.


Tapi entah apa yang istimewa dari kalimat itu. Bahkan kalimat itu bisa di ucapkan oleh anak TK sekali pun. Tetapi efek nya sangat luar biasa di hati Aruna, semangat tumbuh dalam hatinya.


Melihat Aruna sudah sedikit menikmati situasi nya dengan santai. Maranatha mulai menuturkan keluh kesah nya pada Aruna.


Memang belakangan ini dia dan Elmi selalu berseteru Tak ada damai nya.


Kisah tentang rumah tangga nya yang berantakan ia ceritakan tanpa risih Aruna akan mengetahui Aib keluarganya. Ia bercerita tanpa batas seolah Aruna adalah kepercayaan nya.


Dan anehnya lagi Aruna juga menikmati alur cerita itu seolah olah ia sudah paham mengenai persoalan rumah tangga. Kedewasan nya terlihat dari cara nya menyikapi curahan hati Maranatha.


Maranatha merasa nyaman dengan sikap gadis itu. Cerita sudah melebar kemana mana tak terasa sudah pukul 01:00 dini hari tanpa mereka sadari juga custumer tingal mereka berdua. Sedangkan karyawan sudah sibuk membersihkan semua meja karna ingin closing.


"Abang pulang lewat mana? " tanya Aruna berniat minta di antar pulang.


" Nanti saja kita bahas di mobil ya, mereka mau closing " jawab Maranatha bangkit dari duduk nya dan berjalan ke kasir untuk membayar tagihan.


Aruna ikut bangkit dan berjalan pelan ke depan kedai menunggu Maranatha.

__ADS_1


.


.


__ADS_2