
Setelah Erin keluar dari kantor Zidan, ia pun masih berlutut sama persis sewaktu Erin disana. Ia hanya diam terpaku kepergian nya, ia tidak menyangka dirinya akan di tolak mentah mentah.
Ia mengira setelah ia menawarkan semua hartanya ia akan mendapatkan wanita itu, namun sebalik nya malah mendapat penolakan secara terang terangan dan juga peringatan secara langsung.
Kini ia benar benar tahu, bahwa tidak semua wanita akan menukar cintanya demi harta dan uang.
"Aaarghhh !!."
"Sial...!!!." Ucap Zidan berkali kali.
"Ifan..!!" Teriak nya lagi.
"Iya pak."
"Kosongkan jadwalku, aku ingin menemui Ardiansyah."
"Baik pak." Ucap Ifan.
Entah apa lagi, tindakan Zidan untuk mendapatkan Erin. Iya pun seperti kehilangan akal nya, entah apa yang ada di dalam fikirannya yang ia tahu dia bisa mendapatkan wanita yang ia inginkan.
"Kenapa kau menolak ku Erin, aku bisa gila karenamu. Apa yang ada dalam dirimu sehingga kau membuat aku gila seperti ini, apa kau menyihirku sehingga aku bisa bertekuk lutut seperti ini." Gerutunya.
"Apa kurang nya aku, Erin....!!."
"Aku mempunyai segala-galanya, dan suamimu tidak ada apa-apa nya di banding kan aku. Tapi kenapa Erin...!!!."
"Wanita kejam...!!"
"Liat saja apa yang akan ku lakukan."
Zidan benar benar kesal dan emosi karena penolakan Erin. Di dalam ruangan nya ia hanya memaki dan menggrutui semua yang terjadi padanya, seakan akan dunia ini runtuh baginya.
Tiba tiba selintas Zidan punya ide untuk membalas rasa kesal nya kepada CEO cantik itu, entah apa rencananya namun ia terlihat tenang saat ide itu melintas di otaknya.
*********************************
Sejak pertemuan nya dengan Zidan Erina merasa tidak berselera makan atau pun bersemangat bekerja, bukan karena ia menyesal menolak harta yang begitu banyak namun ia sangat kesal bisa-bisa nya mengenal investor gila seperti dirinya.
Setelah rapat ia pun masih merenung, ia sedang memikirkan cara untuk membasmi investor gila itu yang ia juluki anjing liar.
"Aku harus hati-hati, dia adalah orang kaya tidak mungkin ia akan berdiam diri setelah aku menolak nya secara terang terangan seperti ini. Membuat ku muak anjing liar satu ini, awas saja bila sampai mas io dan aku di hukum oleh nya aku tidak segan segan untuk bertindak lebih dari yang ku lakukan sebelum nya kepada nya." Gerutunya tak henti henti ia menggerutui investor gila itu.
Tiba tiba ia di kejutkan kedatangan sang suami, mungkin karena ia terlalu memikirkan investor gila itu sehingga ia tidak menyadari kedatangan sang suami tercinta nya itu.
"Mom..!!."
"Anak bunda sudah datang.." Sapa nya.
__ADS_1
"Cium dulu, sebagai hadiah pada bunda kemarin sudah memasakkan mu tomyam." Tuturnya.
"Tidak, aku sudah besar jangan sembarangan menciumku." Ucap nya membuat sang ayah terkekeh oleh tingkah pola nya.
"Alfa sudah besar Bun, jangan cium dia. Cium ayah saja." Tutur io
"Sama saja anak dan ayah sama sama menyebalkan."
"Sepertinya ada yang aneh di wajahmu." Tanya io memandang lekat sang istri.
"Benarkah, aku rasa biasa saja." Tutur Erin.
Ia sengaja menutupi nya dari sang suami karena ia takut di hukum, dan akan di kurung lagi oleh suami tercinta nya.
"Jangan banyak banyak fikiran nanti lama hamil nya lagi." Jelasnya sambil menahan tawa.
"Mom nanti sore ajak aku ketoko Akong Asen, aku ingin menemui uncle Alen." Jelas sang putra.
"Tidak, bunda tidak suka Alfa main disana terlalu lama, nanti pulang pulang bahasa Alfa akan berubah."Tuturnya merasa kesal.
"Apa maksud mu." Tanya io dengan penasaran dan ia bingung dengan apa yang di bicarakan sang istri dan sang putra.
"Tidak usah dengarkan kata mommy Ded." Ucap Alfa.
"Dasar setan kecil." Batin Erin, bisa bisa nya sang putra lebih kompak kepada ayah nya ketimbang dengan dirinya sebagai ibunya.
"Gus.. kaya nya itu yang nginep di kamar 207 mencurigakan." Ucap Andi melihat CCTV di hadapan nya itu
"Kau benar memang dia orang nya yang sering melaporkan semua gerak gerik Bu Erin."
"Apa yang akan kau lakukan..?."
"Aku hanya ingin memberi pelajaran saja sedikit, tenang saja." Tutur nya.
"Aku tahu isi kepala mu Gus." Ucap Andi menahan tawa.
Setelah melihat CCTV Andi dan Agus pun sudah tahu, wajah sang penguntit tersebut. lalu mereka membuntuti nya.
Di sebuah restoran sang penguntit itu pun menghubungi seseorang, yang tak lain adalah tuan nya Zidan Al-Rasid.
Tak lama kemudian Zidan Al-Rasid datang menemuinya, disana lah Agus dan Andi akan beraksi.
Andi dan Agus sudah merubah penampilan nya, ia berpenampilan celana pendek dan kaos putih dan juga menggunakan kacamata dan yang membuat Andi tertawa ialah, Agus mengenakan sandal jepit dan bertopi gak tinggal dengan memakai kumis palsu.
"Gus kau yakin rencana ini akan membuat target down."
"Tenang saja."
__ADS_1
Lalu mereka menghampiri, sang penguntit dan juga Zidan yang tengah duduk di resto tersebut.
"Selamat sore pak Zidan." Sapa Agus dengan tegas memain kan peran nya.
Zidan pun menoleh ia merasa heran dengan apa yang ia lihat.
"Sore.."
"Apa saya boleh bergabung, kenalkan nama saya Mario Hatta Saputra." Tutur Agus, membuat Andi ingin tertawa namun ia menahan nya.
"Oh.. Pak Mario yang terhormat."
Lalu Zidan memandang Agus dari bawah hingga atas.
"Apa Bu Erin matanya sudah minus, sehingga ia memilih pria jelek ini berkumis tebal, sandal jepit celana pendek. Aku melihat nya sudah seperti security saja." Batin Zidan.
"Apa pak Zidan sudah tidak laku lagi, sehingga ingin merebut istri cantik ku." Tutur Agus.
"Seharusnya pak Mario berkaca, anda tidak pantas untuk Bu Erin. Dia begitu cantik dan sempurna kenapa memilih suami seperti Anda." Kesal nya ia mulai terpancing atas penyamaran Agus.
"Sayang sekali pak Zidan yang sepertinya tidak mempunyai kaca di rumah, sampai ingin menukar harta nya untuk mendapatkan istriku." Tutur Agus membuat Zidan semakin terbakar.
Zidan pun terdiam terpaku karena ucapan Agus yang membuat ia merasa sakit luar biasa.
"Sebaik nya anda menyingkir sebelum mendapat malu, pewaris perusahaan Waskita karya terbesar di Indonesia telah kalah saing dengan pria biasa seperti saya." Tutur nya, dan berlalu meninggalkan kedua orang itu Andi hanya menahan tawa sepanjang jalan.
Ia benar benar tidak menyangka ide konyol nya bisa membuat Zidan terpaku seperti itu.
Setelah kepergian Andi dan Agus Zidan benar benar, kesal bisa bisa nya ia kalah saing dengan pria bersandal jepit itu pikir
nya.
"Ton... Jawab jujur, tampan siapa aku dengan laki laki berkumis sandal jepit itu." Tanya Zidan.
"Tentu saja pak Zidan lebih tampan dan juga kaya." Jawab nya dengan tidak yakin.
"Kenapa kau menjawab seperti tidak yakin."
Zidan semakin kesal, atas jawaban bawahan nya itu.
"Tidak pak, mungkin mereka saja yang minus." Tutur nya. Dan Zidan semakin melolot.
"Jadi wanita pujaan ku itu minus, itu maksud mu." Tanya nya lagi.
"Tidak maksud saya.."
"Sudah tidak perlu di lanjutkan."
__ADS_1
Dan akhirnya Zidan pun berlalu meninggalkan resto tersebut dengan sejuta kekesalan nya.