
Setelah berita miring sudah beredar, kedua keluarga Erin pun ikut geram dan ingin bertindak.
Kali ini ia benar benar, akan melengserkan pebinor itu. Kedua orang tua Erin dan juga ibunda io pun akan bertindak kali ini, ia tidak ingin hubungan rumah tangga sang anak retak karena orang ketiga seperti yang pernah terjadi saat Ardi mencoba meretak kan nya.
Di kantor perusahaan milik Zidan kini, ibunda io sudah ada disana. Ia sengaja menyewa seseorang untuk memuat berita tentang dirinya ada di perusahaan milik Zidan.
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini Zidan Al-Rasid." Ujar ibunda io, ia terlihat lebih rapi dari biasa nya dan mengenakan kacamata hitam.
"Apa anda sudah ada janji." Tanya salah satu resepsionis.
"Katakan saya orang tua dari pimpinan hotel Alfarisqi, aku ingin bertemu." Ucap ibunda io.
"Baik saya akan sampaikan."
Setelah menunggu, resepsionis itu menghubungi atasan nya kini ia di sambut oleh Ifan, asisten Zidan dan berlalu menuju lantai atas ruangan Zidan. Sesampai nya di ruangan Zidan ibunda io tanpa bisa basi pun duduk, dan memainkan kipas di tangan nya bagai di drama drama sungokong, memainkan kipas ditangan nya begitu lihai seakan akan sedang kepanasan.
"Maaf nyonya jika sambutan ku tidak memuaskan anda." Ucap Ifan.
"Apa yang membuat anda kemari Bu." Ujar Zidan.
"Cih aku bukan ibumu." Batin nya.
Zidan menyangka bahwa ibunda io adalah ibunda nya Erin. Bahkan ia menyambut nya dengan gugup, seakan akan seperti pemuda yang ketakutan akan restu orang tua.
"Kedatangan ku kesini untuk memperingatkan mu, anaku Erina sudah memiliki keluarga. Mengapa kau membuat berita yang tidak sesuai fakta." Cetus nya membuat Zidan bingung untuk menjawab Nenek Gayung ini.
"Maafkan saya Bu, saya tidak berniat untuk membuat kericuhan di dalam rumah tangganya, saya sungguh tidak tahu bahwa berita nya akan seperti ini. Anda sendiri pasti tahu saya ini orang penting, sudah pasti banyak yang mengincar dan mencari berita apa saja tentangku." Tuturnya dengan sombong dan angkuh.
"Cih...pebinor ini, rasanya aku ingin menumpuk nya pakai sanggulku yang berat ini." Gerutunya dalam hati.
"Benar sekali, seharus nya anda mengklarifikasi tentang berita ini. Bukan malah tenang tenang saja." Kesal nya.
"Apa anda tidak suka dengan berita trending topik ini."
"Lalu kau pikir aku menyukainya ?."
"Bu.."
"Aku merasa tidak punya anak sepertimu."
"Maaf, baik lah nyonya. Apa kau tidak menyukaiku, apa yang menantu anda berikan padamu." Ucap nya dengan sombong.
"Sialan, dia fikir aku ibunda Erin. Sepertinya dia ingin menyogok ku." Ucap nya dalam hati.
"Apa maksud mu."
"Nyonya, aku ini sangat kaya apa kau tidak ingin mempunyai menantu yang tampan dan kaya seperti ku Hem." Kata kata Zidan membuat ibunda io tertawa dalam hati.
"Hahahaha kau benar, lalu apa yang ingin kau lakukan."
__ADS_1
"Kenapa anda tidak memberikan ku kesempatan untuk mencintai putrimu."
"Lalu kau ingin menyogok ku begitu, dan membantumu memisahkan mereka begitu ?."
Ibunda io sudah semakin geram, rasa nya ingin menimpuk laki laki tidak tau diri ini dengan sanggul nya.
"Tidak, anda tidak boleh berfikir seperti itu."
"Sudah lah, aku paham apa yang ada di dalam fikiran mu."
"Dan ingat, kau tahu aku siapa ?."
"Aku adalah ibu mertua Erina, berani berani nya kau ingin menyogok ku. Dan merendahkan putraku." Kesal nya.
"Sialan nenek gayung ini mempermainkan ku, aku fikir ia ibunda nya Erin. Kurang ajar nenek nenek bisa-bisa nya mengerjai ku." Gerutu Zidan.
"Kenapa diam."
"Apa kau terkejut. Sebaik nya kau tidak bermain main dengan hartamu, harta bisa saja lenyap dalam sekejab tapi ketulusan hati tidak bisa di bayar dengan apa pun."
Ibunda io pun berlalu meninggalkan Zidan, ia sangat kesal karena ia di kerjai oleh nenek nenek seperti nya.
"Sialan...!!"
"Banyak sekali orang yang menyayanginya, sehingga aku tidak bisa mengusik satu pun di antara mereka."
"Apa benar harta ku ini tidak berharga
bisa mendapatkan cintaku, untuk apa banyak bergelimang harta tapi istri pun aku tidak mempunyai nya."
Zidan benar-benar kesal, ia di serang seorang nenek nenek biasa. Seakan akan cinta telah membuat nya semakin gila, dan melenyap kan urat malu nya.
Disisi lain ibunda io sudah melangkah jauh dari kantor Zidan, dan ia juga sudah menyiapkan berita hangat yang tidak kalah trending topik dengan yang tempo lalu.
Entah apa yang di fikirkan ibunda io, sehingga membuat ia cerdas merancang semua nya ia yakin akan membuat Zidan syok besok dengan berita lebih menakutkan di banding bertemu dengan hantu.
"Siap-siap lah kau Zidan Al-Rasid."
Ucap nya ibunda io, menahan tawa seakan akan ini lebih membuat nya bahagia di banding dengan mendapatkan cucu kedua.
Sesampai nya di rumah, ibunda io sangat lah terlihat bahagia atas semua yang ia lakukan ia benar benar merencanakan dengan sangat mulus seperti jalan tol pada umum nya.
"Hei besanku mengapa kau seperti orang jatuh cinta, senyum senyum sendiri." Tanya ibunda Erin.
"Hahaha, tentu saja aku sedang jatuh cinta lagi."
"Benarkah, lalu mimpimu untuk menimang cucu akan terganti dengan menimang adik io." Tutur nya.
"Apa kau percaya aku jatuh cinta, bukan kah kita kemarin merencanakan sesuatu untuk si pebinor."
__ADS_1
"Hah jadi kau apa kan si pebinor itu."
"Aku tidak melukai nya."
"Lalu."
"Aku hanya menemui nya saja."
"Apa kau jatuh cinta padanya ?."
"Apa aku terlihat sepeti orang jatuh cinta Aryati ?." Tanya nya dengan penasaran.
"Tidak hanya saja.."
Ibunda Erin tidak melanjutkan kata-kata nya.
"Hanya apa..?."
"Iya memang kau terlihat seperti orang jatuh cinta." kata kata jujur sang besan membuat ibunda io tertawa.
"Kenapa tertawa."
"Kau lucu sekali, kau ingin tahu ?."
"Tentu saja."
"Lihat saja besok, kau akan tahu."
Hening..
.
.
.
.
.
.
Ibunda Erin masih terdiam terpaku oleh kata kata sang besan, dan ibunda io berlalu meninggalkan Aryati Ibunda Erin begitu saja.
Apa yang di lakukan oleh ibunda io, ia sangat penasaran dengan apa yang di lakukan ibunda io, ia hanya bisa menebak nebak saja namun semua ini membuat ibunda Erin mati penasaran oleh nya.
Apa ibunda io menghajar Zidan di kantor nya
atau ibunda io mempermalukan nya, atau benar benar memaki nya di kantor.
__ADS_1
Ibunda Erin bertanya tanya akan semua itu, ia pun tidak sabar dengan hari esok. Penasaran dan rasa ingin tahu tentu saja ada di dalam benak nya.