
Hari ini tepatnya pukul sepuluh pagi. Kalan yang di temani oleh Bima berangkat menuju Bandung untuk meninjau proyek pembangunan hotel disana. Tidak hanya Kalan dan Bima saja yang berangkat kesana, di mobil yang berbeda itu pun Gadis dan juga Risa sama-sama berangkat menuju ke kota kembang itu.
Awalnya Bima menawarkan Gadis dan juga Risa untuk mengenakan mobil yang sama. Tetapi Gadis menolak dengan alasan yang membuat keduanya mengerti. Padahal, alasan yang sebenarnya itu adalah Gadis tidak ingin berdekatan dengan Kalan.
Kejadian kemarin saat berada di dalam toko perhiasan itu, membuat Gadis kembali merasa tidak tenang. Apalagi di saat Retha memergoki Kalan yang sedang memeluk pinggangnya membuat ia semakin merasa bersalah. Beruntungnya saat itu Retha tidak mempermasalahkannya, ia mengerti saat Kalan memberinya penjelasan.
Tiba di Bandung setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya. Kalan beserta Bima segera menuju ke lokasi untuk meninjau perkembangan pembuatan hotel terbarunya itu. Sedangkan Gadis dan Risa, mereka berdua langsung menuju ke hotel dimana mereka akan bermalam selama satu malam di Bandung.
"Risa ... setengah jam lagi kita berangkat menuju lokasi. Kamu siap-siap ya?"
"Baik, Bu."
Risa yang baru saja membersihkan dirinya pun langsung membereskan semua berkas-berkas yang akan mereka bawa ke tempat ia dan atasannya itu akan meninjau secara langsung proyek pembangunan hotel disana.
Sebuah hotel bintang lima, yang di bangun secara khusus oleh kedua perusahaan properti terbesar itu.
"Pak ... sepertinya, itu Nona Gadis dan sekretarisnya." Kalan mengikuti kemana arah jari telunjuk Bima mengarah. Dan benar saja, Gadis sedang berjalan menuju ke arahnya. Di saat Gadis dan sekretarisnya itu tiba, mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana. Kalan merasa tidak suka, saat semua para pegawai laki-laki itu memandang Gadis seperti orang yang kelaparan. Kalan pun sampai berdecak kasar saat melihat bibir gadis itu tidak pernah berhenti untuk tersenyum, senyuman yang Gadis berikan untuk orang lain bukan dirinya.
"Ck."
Tapi kenapa ia merasa tidak suka?
Buru-buru Kalan menggeleng. Cukup sudah Gadis selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Entah kenapa semenjak gadis itu kembali dari Paris, ada perasaan tidak biasa yang selalu ia rasakan. Entah itu apa? Kalan pun bingung, ia sendiri kadang tidak mengerti.
"Selamat siang, Nona Gadis."
"Selamat siang, Bima." Balasnya sambil melempar senyum. "Selamat siang, Pak Kalan." Tapi tidak pada Kalan, Gadis sepertinya ragu untuk memberi senyum kepada lelaki itu.
"Hem ..." Kalan hanya mengangguk tanpa sedikit pun menatapnya.
Tuh ... kan?
"Selalu begitu." Gadis mendesah bersama bibirnya yang menggerutu pelan.
"Bicara apa kamu?"
"Hah?" Gadis tersentak, mengangkat wajahnya seketika. Ia kira Kalan tidak akan mendengarnya, tapi ... Gadis menggigit bibirnya sambil tersenyum kaku. "Aku gak bicara apa-apa."
Gadis memang memiliki sifat ramah dan selalu tersenyum setiap kali ia bertemu dengan siapapun. Berbanding terbalik dengan Kalan, lelaki itu terlalu dingin. Jangankan untuk tertawa, tersenyum tipis saja rasanya enggan bagi Kalan untuk melakukannya.
Sama hal nya seperti sekarang, Kalan berubah menjadi menakutkan saat ia sedang menegur salah satu pegawainya yang telah melakukan kesalahan. Meskipun sudah meminta maaf beberapa kali, tapi Kalan tetaplah Kalan. Lelaki itu keras dan tidak suka jika ada yang tidak mematuhi aturannya.
"Maafkan saya, Pak.!"
"Apa gunanya meminta maaf, jika kamu tahu apa yang kamu lakukan itu adalah salah."
Lelaki yang terlihat lebih tua darinya itu menunduk takut. Tidak berani menatap apalagi membantahnya. Farhan, lelaki itu memang mengakui kesalahannya. Karena kelalaiannya yang hampir saja mencelakakan orang lain membuat Kalan marah besar.
"Sekali lagi maafkan saya, Pak Kalan."
"Bima ..." Kalan sedikit berteriak.
"Ya, Pak." Bima sudah terbiasa melihat kemarahan bosnya itu. Sementara Gadis dan Risa, ini adalah kali pertama mereka melihat Kalan bisa semenyeramkan seperti itu setelah enam tahun berlalu.
"Cari orang yang benar-benar ingin bekerja. Dan tidak lalai seperti dia."
Bima melirik laki-laki itu sekilas sebelum kemudian kepalanya mengangguk. "Baik, Pak."
"Tapi ... Pak, apa saya di pecat?" Ujar lelaki itu sedikit gemetar.
"Kamu pikir saya masih mau memperkejakan orang seperti kamu?"
Farhan membelalak dengan wajah yang pucat, ia mengira jika kesalahannya itu akan mendapatkan maaf. Tapi ternyata salah, justru tanpa basa-basi lagi ia telah di pecat hari ini juga.
"Pak ... saya mohon. Tolong maafkan kelalaian saya, Pak." Pria itu memelas. "Kasihani saya dan keluarga saya Pak." Ujarnya lagi dengan raut sedih.
Kalan memalingkan wajahnya ke samping sembari bertolak pinggang. Bukannya tidak memiliki hati, justru keputusannya itu sudah tepat, memberi sangsi untuk orang-orang yang lalai saat bekerja.
Berbeda dengan Gadis, ia merasa tidak tega saat melihat pria itu memelas. Apalagi saat Farhan menyebut nama keluarga, membuat hatinya sedikit tersentuh.
"Maaf, Pak Kalan. Sebaiknya anda pertimbangkan dulu keputusan anda untuk memecat pak Farhan." Kata Gadis yang membuat semua orang menoleh menatapnya. Bima yang berdiri di samping Kalan hanya berdehem pelan sembari melonggarkan tali dasinya sedikit. Sementara Risa, wanita itu hanya terdiam membisu.
"Maksudnya?" Kalan menaikan sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Jadi keputusan saya untuk memecat orang yang bisa membahayakan keselamatan orang lain itu salah?"
__ADS_1
"Bukan begitu." Buru-buru Gadis menyela. "Bukan itu maksud saya."
"Terus?"
"Ya - ya." Suaranya terbata. "Saya pikir pak Farhan tidak sengaja. Dan ... beliau juga sudah meminta maaf."
"Kalo kata maaf itu berlaku, penjara tidak akan penuh." Kalan mendesis, "Kamu juga seorang pemimpin perusahaan kan?" Tanya Kalan dengan pandangan tajam. "Bagaimana perusahaan akan maju, jika pemimpinnya sendiri tidak mempunyai pendirian yang kuat."
"Kamu lagi ngatain saya gak punya pendirian?" Tanya Gadis tidak terima.
"Ya." Kalan mengangkat kedua bahunya. "Katakanlah seperti itu."
Gadis menggeram kesal, berhadapan dengan Kalan sama saja dengan membuang-buang tenaga nya secara percuma. Lelaki itu masih tetap sama, Gadis pun selalu kehilangan kata-kata setiap kali berhadapan dengan manusia dingin seperti Kalan itu.
Tidak ingin berdebat di hadapan semua orang yang kini sedang memperhatikan keduanya, akhirnya Gadis memilih untuk diam. Meskipun sebenarnya ia sangat kesal. Dan kekesalannya itu semakin bertambah saat ia hendak ke toilet dengan sedikit berlari menggunakan heels serta lantai yang baru saja di bersihkan membuatnya terpeleset.
"Aww ..." Gadis itu meringis kesakitan sambil memegang kakinya yang terkilir.
"Dasar ceroboh.!"
Gadis terkejut saat Kalan tiba-tiba saja datang dan langsung menghampirinya.
"Aww ..." Kembali ia meringis saat Kalan memegang mata kaki sambil di tekannya dalam-dalam. "Sakit, ih ..." rengeknya kembali.
Kalan hanya meliriknya sekilas sebelum kemudian membuka sepatu yang masih di kenakan oleh Gadis.
"Kita harus ke dokter sekarang."
"Ngapain?"
"Periksa kaki kamu."
"Gak mau, nanti juga sembuh." Ya, karena Gadis paling tidak suka jika harus berhadapan dengan dokter. Dan Kalan tahu itu, Gadis selalu menolak bahkan sampai menangis jika mendengar kata dokter. Padahal yang membuat Gadis menjadi ketakutan seperti itu adalah karena dirinya.
Ya, karena dulu Gadis sempat melihat Kalan berteriak-teriak kesakitan saat dokter mulai menyuntikkan sesuatu pada kakinya yang terluka karena terjatuh dari tangga. Luka sobek yang cukup besar membuat Kalan harus menerima beberapa jahitan pada kaki serta kepalanya yang terluka. Melihat Kalan kesakitan seperti itu membuatnya ikut menangis, bahkan ia sempat memarahi sang dokter karena merasa kasihan melihat Kalan-nya menjerit-jerit seperti itu.
Aneh ...
Kalan menatapnya sekarang, "Masih takut?"
"Tapi kaki kamu perlu di periksa."
"Enggak." Kepalanya menggeleng. "Aku gak mau." Dan Gadis tetaplah si gadis keras kepala.
Kalan pun menyerah, ia berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.
"Makasih." Seru Gadis sembari menepuk-nepuk kain celananya yang sedikit kotor.
Merasa sudah bersih, Gadis ingin segera meninggalkan toilet dan kembali menuju ke ruangan dimana saat ini Risa sedang menunggunya. Tapi sebelum gadis itu beranjak melangkah, Kalan yang masih berada di belakangnya pun segera menangkap tubuh Gadis saat akan terjatuh.
"Aww ..."
"Kamu gak papa?"
Gadis memegang kakinya sembari menggeleng. "Nggak."
"Ya udah aku bantuin kamu jalan."
"Gak usah." Tolak gadis itu seraya menepis tangan Kalan dari bahunya. "Aku bisa jalan sendiri."
"Oh ... ok." Kalan mundur sembari melipat kedua tangannya di atas dada. "Ya udah silakan?"
Gadis memicik sebelum kemudian ia kembali berjalan. Gadis merasa jika kakinya memang masih terasa sakit, tapi sebisa mungkin ia akan tetap berjalan meskipun dengan langkah pelan. Kalan yang masih berada di belakangnya pun hanya diam seraya memperhatikan gadis itu. Kalan tahu kalau sebenarnya gadis itu kesakitan, tapi karena keras kepala atau mungkin Gadis masih marah karena perdebatannya tadi, membuat ia enggan untuk menerima bantuan dari Kalan.
Gadis berhenti sambil meringis pelan karena kakinya yang benar-benar terasa sakit sekarang . Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati Kalan masih berdiri sambil melempar senyum meledek ke arahnya.
Buru-buru Gadis memalingkan wajahnya sembari mencebik kesal. Gadis pun terpaksa harus kembali bergerak melangkahkan kakinya agar ia segera pergi dari hadapan lelaki itu. Tapi, di saat ia hendak melangkahkan kakinya walau terpaksa ,di saat itu juga ia terkejut saat tiba-tiba saja Kalan menggendongnya dari belakang.
"Kalan ...?" Gadis itu memekik kencang. "Apa yang kamu lakukan?"
Kalan hanya melirik sekilas tanpa menjawab pertanyaan dari gadis itu. Ia mengangkat tubuh Gadis dan mengeratkan tangannya agar gadis itu tidak terjatuh.
"Kalan lepasin, turunin aku, aku bisa jalan sendiri, kamu gak usah gendong aku kayak gini."
__ADS_1
Cerocos Gadis tanpa henti. Setelah enam tahun berlalu, baru kali ini Kalan bisa mendengar kembali suara Gadis yang terus berceloteh seperti itu. Gadis nya yang cerewet yang sebenarnya sangat ia rindukan.
"Kalan ... turunin gak?"
"Aku bisa jalan sendiri, gak perlu kamu gendong kayak gini."
"Aku malu, nanti di lihatin sama orang-orang."
"Kalan ..." Gadis itu sedikit berteriak sembari melingkarkan kedua tangannya erat-erat pada pundak Kalan saat lelaki itu melonggarkan pegangan tangannya yang membuat Gadis hampir saja terjatuh.
"Diem gak?" Mendadak Kalan menjadi risih saat Gadis menyerukan wajahnya di perpotongan lehernya. Dadanya berdebar, dan hawa panas pun seketika menjalar ke seluruh tubuhnya saat hembusan napas yang terasa hangat itu menerpa permukaan kulit lehernya.
Kalan berdehem. "Dis ...!" Panggilnya dengan suara pelan.
Gadis yang masih betah menyembunyikan wajahnya di leher lelaki itu mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan mereka.
"Kamu bisa diem kan, badan kamu tuh berat." Kalan mencoba menghindar saat Gadis menatapnya seperti itu. Apalagi dengan jarak wajah mereka yang berdekatan seperti ini, membuat perasaan lelaki itu semakin tidak menentu.
"Kamu masih memakainya?" Tanya Gadis yang membuat lelaki itu merengut bingung.
"Apa?"
"Parfum." Ujar Gadis sambil terus menatapnya.
Kalan menatapnya sekilas sebelum kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Hem ..."
"Kenapa?" Entah kenapa saat mendengar suara Gadis yang seperti bisikan itu membuat tengkuknya seketika merinding.
"Karena sudah terbiasa dengan baunya." Padahal ada alasan lain yang membuat Kalan selalu memakai parfum pemberian Gadis hingga saat ini.
Gadis pun tersenyum sambil terus menatap wajah Kalan dari jarak yang begitu dekat. Hingga hembusan napas Gadis begitu terasa hangat menerpa kulit wajahnya. Kalan pun tidak bisa menahan debaran jantungnya yang semakin menggila di dalam rongga dadanya itu. Lantas,
"Dis ..." Kalan pun memperlambat langkah kakinya meskipun tubuh Gadis semakin terasa berat saat dalam gendongannya. Ia menutup matanya sesaat sebelum kemudian mempertemukan pandangan mereka berdua. Bukan hanya wajahnya saja yang saling berdekatan, bahkan hidung mereka pun saling bersentuhan karena tidak ada jarak yang tersisa sedikitpun. Mata keduanya saling mengunci satu sama lain, Kalan begitu lekat menatap wajah gadis itu sekarang. Pun dengan Gadis yang menatap Kalan begitu dalam.
Hingga tanpa mereka berdua sadari kini keduanya telah saling menutup mata. Di saat bibir mereka hampir bersentuhan, di saat itu juga mereka berdua tersentak saat mendengar suara dering ponsel milik Kalan yang tiba-tiba saja berbunyi. Keduanya pun saling menarik wajah hingga sedikit menjauh.
Gadis yang masih berada dalam gendongannya Kalan pun memalingkan wajahnya yang memerah ke samping. Pun dengan Kalan.
Mereka berdua menutup matanya rapat-rapat sembari merutuki dirinya sendiri yang hampir saja melakukan sesuatu yang akan membuat keduanya merasa bersalah dan menyesal.
Gadis akan merasa bersalah karena telah mengkhianati Bian yang selama ini begitu baik dan mencintainya.
Pun dengan Kalan, lelaki itu juga akan menyesal jika sampai menyentuh Gadis. Karena setahunya, wanita yang masih ia cintai hingga saat ini adalah Retha. Kalan tidak ingin menyakiti Gadis kembali hanya karena sebuah kesalahan yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Dan Kalan tidak ingin menyakiti siapapun disini.
Kalan mencintai Retha, kekasihnya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin kehilangan Gadis kembali.
...*****...
Bersambung ...
Next part berikutnya yess ..
Oh iya, aku cuma mau bilang untuk mampir baca ceritaku yang lain yuk?
Ada
Ketika Harus Memilih
Menikahi Camelia
Lawyer Handsome
Putih Abu
Menikah Tanpa Pacaran
Ceritanya seru-seru kok ... hihi.
Makasih semua ..
__ADS_1
❤❤❤