
"Apa kabar, Tha?"
Suara parau milik seorang laki-laki yang begitu ia rindukan beberapa hari ini.
"Seperti yang kamu lihat." Retha membuang pandangannya ke sembarang arah, ia tidak ingin melihat Kalan untuk saat ini. Hatinya akan kembali sakit ketika melihat mata kelam milik lelaki itu. Mata yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Mata yang dulu selalu menatapnya penuh damba.
Beberapa hari setelah pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, Retha dan Kalan tidak pernah bertemu kembali. Lelaki itu menghilang, padahal Retha masih sangat berharap kalau Kalan akan menyesal dan merubah keputusannya untuk tetap kembali melanjutkan hubungan mereka. Tapi begitu lelaki itu muncul kembali di hadapannya, sepertinya niat untuk memperbaiki hubungan mereka itu tidak ada sama sekali, dan Retha hanya menunggu sesuatu yang sangat mustahil serta harapan kosong.
Kenapa rasanya menyakitkan seperti ini.
Padahal malam tadi, Retha tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Kalan tiba-tiba saja menghubunginya lewat saluran telepon. Kalan bilang, ia ingin menemuinya dan berbicara secara langsung dengannya. Dengan hati berbunga-bunga Retha menyambut dengan senang hati.
Dan ternyata, Retha sangat menyesal karena ia terlalu percaya diri, ia mengira jika Kalan akan meminta maaf dan mengatakan sesuatu yang bisa membuat hatinya kembali menghangat dan bisa membuatnya tersenyum kembali.
Tapi setelah mendengar perdebatannya bersama sang Mama, barulah Retha sadar, kalau ternyata Kalan menemuinya bukan untuk memintanya kembali menjadi kekasih dan melanjutkan pertunangan mereka. Melainkan, lelaki itu datang menemuinya hanya untuk membuat hatinya kembali terluka.
Baru kali pertama Retha melihat kemarahan Kalan yang begitu menakutkan, ia sendiri sampai tidak bisa mempercayai kalau Kalan akan semarah itu pada Mamanya. Padahal setahu Retha, Kalan itu begitu menghargai Mamanya. Tidak pernah sekali pun ia melihat sikap Kalan yang tidak pantas seperti itu. Kalan adalah laki-laki baik, lemah lembut serta begitu perhatian.
Tapi sekarang melihat kemarahannya pada sang Mama, Kalan seperti bukan Kalan yang ia kenal. Lelaki itu berubah hanya untuk membela wanita lain. Wanita yang dulu matian-matian selalu ia acuhkan.
"Maafkan aku, Tha. Bukan maksud aku untuk bersikap tidak sopan kepada Tante Desi ..."
"Kenapa Kalan? kenapa kamu bersikap kurang ajar seperti itu pada Mama?" potong Retha dengan napas yang menggebu serta mata yang memerah menahan tangis. "Kamu bukan Kalan yang aku kenal. Kalan yang aku tahu tidak jahat seperti kamu."
"Ya ... kamu memang benar, tapi aku tidak bisa membiarkan Mama kamu menyakiti Gadis."
"Oh ..." Retha menggeleng, mengusap air bening yang tiba-tiba menetes melewati pipinya itu dengan kasar. "Jadi karena Gadis. Karena Gadis kamu seperti ini?"
"Tapi perbuatan Mama kamu sendiri sudah sangat keterlaluan pada Gadis, Tha.!"
Bukan karena Gadis yang membertahu Kalan, tapi Bima, laki-laki itu yang di perintahkan secara langsung oleh Kalan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan benar saja, begitu Kalan melihat isi dari rekaman cctv yang Bima perlihatkan padanya, ia sangat marah.
Keterlaluan.
Bukan karena kata-kata kasar yang Kalan permasalahkan disini, tapi ada bagian lain yang membuat laki-laki itu tidak terima saat Gadis diperlakukan seperti itu. Kalan tidak bisa terima jika sampai ada orang lain yang menyakiti Gadis, apalagi jika sampai orang itu berani menampar gadis yang sekarang begitu sangat berharga di hatinya.
Cukup dulu ia yang selalu menyakiti Gadis.
"Maafin aku, Tha. Maaf ..." Lirihnya kemudian yang membuat Retha menganggukkan kepalanya.
Kalau bukan karena Retha, mungkin saja saat itu Kalan tidak dapat mengendalikan emosinya. Ia terlalu marah, bahkan Kalan pun tak peduli saat ia mendapatkan makian dari Desi. Begitu banyak kata-kata kasar yang keluar dari mulut wanita setengah baya itu untuknya. Ia tak menggubris, tapi saat makian itu kembali di tujukan untuk Gadis, Kalan pun tak terima.
"Sebegitu berharganya Gadis buat kamu sekarang?" Tanya Retha dengan suara yang melirih. "Apa tidak ada kesempatan lagi buat aku untuk kembali lagi sama kamu?"
Kalan yang mendengar pun hanya bisa terdiam, ia tahu seperti apa perasaan Retha saat ini. Bagaimana pun Retha pernah menjadi bagian dari hatinya, ia pernah menjadi satu-satunya wanita yang bisa membuat Kalan jatuh cinta, oleh sebab itu, Kalan tidak ingin melihat wanita itu menangis.
"Apa semua kenangan kita dulu tidak berarti lagi bagi kamu?" Retha meremas kain berlapis yang menutupi pahanya itu dengan remasan kuat. "Apa cinta itu sudah tidak ada lagi untukku?"
"Tha ..."
"Aku kira kamu datang kesini ingin meminta maaf dan ingin memperbaiki hubungan kita lagi." Ia usap air bening itu dengan kasar. "Aku kira kamu akan menyesal karena telah membatalkan rencana pertunangan kita yang tinggal beberapa hari lagi. Aku kira kamu akan berlutut di hadapan aku sambil membawa cincin, lalu meminta aku untuk menjadi istri kamu?"
Retha tertawa miris,
Sungguh, ia terlalu bodoh karena terlalu banyak berharap.
"Maafkan aku, Tha." Kalan tidak sanggup melihat Retha terluka, tapi ... ia juga tidak ingin membohongi perasaannya sendiri, kalau ternyata cinta itu sudah tidak ada untuk Retha.
__ADS_1
"Kamu berengsek."
"Kamu jahat, Kalan.!"
"Ya, aku tahu itu." Kalan pun menunduk. "Aku yang pantas di salahkan disini. Maafkan aku karena telah membuatmu terluka, Tha."
"Aku tidak butuh permintaan maaf darimu, aku hanya ingin kamu mencintai aku lagi, Kalan." Lihatlah betapa hancurnya hati Retha saat ini. Selain kehilangan cintanya Kalan, ia juga akan kehilangan satu-satunya lelaki yang selama ini selalu menjadi pelindung untuknya. Retha telah menaruh harapan besar pada laki-laki itu. Tapi dalam waktu sekejap, Kalan pula yang telah menghancurkan semuanya.
Menghancurkan semua perasaannya.
Setelah Retha meluapkan semua kekesalannya, kemarahannya, kekecewaannya, barulah Kalan bisa menenangkannya. Ia raih tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Beruntung Retha tidak menolaknya, gadis itu malah menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Kalan sembari menangis tersedu.
"Maaf, Tha." Gumamnya pelan sembari mengelus rambut itu dengan gerakan lembut. "Kamu wanita yang baik dan cantik, kamu pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku."
Meskipun enggan, mungkin ini adalah kali terakhir Retha bisa memeluk tubuh lelaki itu. Sudah tidak ada lagi harapan untuknya, kesempatannya untuk kembali mempertahankan hubungannya pun rasanya sudah tidak bisa lagi.
Dan sepertinya, menyerah adalah sesuatu yang harus ia lakukan sekarang.
Dan pada akhirnya pula, ia lah yang kalah.
******
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi, Risa."
Jawab Gadis sembari memberikan senyum lebar pada sekretarisnya itu. Pagi-pagi sekali Gadis sudah berangkat ke kantornya demi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda beberapa hari terakhir ini. Banyak sekali yang mengganggu pikirannya belakangan ini, selain karena Bian yang masih mendapat perawatan dari rumah sakit, ia juga harus menghadapi beberapa kliennya yang sempat meragukan Gadis karena termakan isu tak sedap tentang dirinya.
Ia lelah, ia pun sempat ingin menyerah. Tapi, bukan Gadis namanya kalau ia akan menyerah begitu saja.
Tidak, Gadis bukanlah wanita lemah yang mudah untuk menyerah. Apapun yang terjadi, ia harus tetap kuat dan menghadapi semuanya dengan hati yang tenang. Sama halnya seperti sekarang, Gadis berusaha untuk tetap tenang dan bisa mengendalikan dirinya saat ada seseorang yang mengirimkan beberapa pesan melalui nomer pribadinya.
"Risa ..." Gadis menoleh ke arah Risa yang sedang berdiri di sampingnya itu sekarang. "Siapa yang mengirim bunga sebanyak ini?" Tanya Gadis masih tidak percaya.
"Belum tahu, Bu. Tadi pagi-pagi sebelum Ibu datang, ada beberapa kurir yang mengantarkan bunga-bunga itu."
Gadis menatap Risa dengan dahi mengernyit. "Sebanyak ini?"
"Iya, Bu." Risa menyengir. "Kurir itu bilang ini semua buat Ibu, jadi saya suruh saja untuk langsung menyimpannya di ruangan, Bu Gadis."
Masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang, Gadis pun berjalan ke arah dimana bunga-bunga itu di letakkan. Ia mengambil salah satu buket mawar putih yang menjadi kesukaannya itu, tak lupa dengan sebuah kertas kecil yang terselip di tengah-tengah bunga itu. Gadis mengambil kertas itu kemudian membacanya.
"Tidak sengaja saat mau jalan ke kantor, aku melihat semua bunga kesukaan mu itu. Bunganya sangat cantik, sama seperti kamu."
Kalan.
Gadis kembali terkejut bersama rahangnya yang kembali terbuka lebar, "Kalan ..." Gumamnya pelan. "Jadi ...?"
"Jadi ini semua kiriman dari Pak, Kalan.?" Tanya Risa berseru heboh. "Ya ampun ... Manis banget sih, Bu." Ujarnya lagi sembari menutup mulutnya dengan talapak tangan.
Gadis hanya bisa menghela napas pelan saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh sekretarisnya itu. Bukan hanya Risa saja yang tak percaya, ia sendiri pun masih tidak percaya kalau Kalan akan mengirimkan bunga sebanyak ini untuknya.
Bunga sebanyak ini, untuk apa?
Di saat Gadis dan Risa masih berdiri mematung sambil menatap bunga-bunga di depannya itu, di saat itu pula ia kembali di kejutkan oleh suara dering ponselnya yang menyala. Gadis terkesiap, buru-buru ia merogoh ponsel dari dalam tasnya itu.
Dan Kalan,
__ADS_1
Ternyata laki-laki itu yang menghubunginya sekarang.
"Hall ..."
"Kenapa kamu kirim aku bunga sebanyak ini sih?" Belum sempat Kalan melanjutkan kata-katanya, Gadis telah lebih dulu menyerobotnya dengan pertanyaan yang membuat Kalan sedikit menjauhkan ponselnya itu dari telinga.
"Ternyata suara kamu tidak pernah berubah ya?" Bukannya menjawab, Kalan justru seperti sedang meledeknya. "Tapi aku seneng dengernya."
"Kalan ..." Gadis itu menggeram gemas di seberang sana. "Aku tuh serius."
"Aku juga serius." Jawab Kalan santai. "Gimana, kamu suka kan sama bunga-bunga itu?"
Gadis mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan kerjanya yang sekarang tampak seperti taman bunga itu. "Kenapa gak sekalian kamu kirim juga penjualnya kesini.?" Cibir gadis itu kembali yang membuat Kalan terkekeh geli.
"Kalo kamu mau, aku akan beli toko sama penjualnya juga buat kamu."
"Ish ..." Gadis mendesis. "Buat apa coba, kamu ngirimin aku bunga sebanyak ini.?"
"Aku akan kirim lebih banyak lagi jika kamu menginginkannya."
"Buat apa? kenapa banyak sekali.?" Gadis menggigit bibirnya sembari menunggu jawaban dari lelaki itu.
"Karena cinta aku terlalu banyak buat kamu." Jawab Kalan yang membuat Jantung Gadis tiba-tiba saja berdebar tidak beraturan. Kalau saja lelaki itu ada di hadapannya sekarang, mungkin ia akan melihat wajah Gadis yang merona.
"Mulai sekarang, setiap hari aku akan selalu mengirimkan bunga untuk kamu."
"Jangan ...!"
"Aku tidak meminta persetujuan darimu. Anggap saja ini sebagai perjuangan ku untuk kembali mendapatkan cinta kamu."
"Kalan, kamu ___" Suara Gadis tercekat, saat lelaki itu tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuat dadanya kembali berdebar kencang.
"Aku cinta kamu. Baik-baik disana ya, sayang ..." Setelahnya Kalan menutup panggilan itu sebelum Gadis menyahut.
Dan Gadis, ia malah melongo tidak percaya saat Kalan menutup panggilannya begitu saja.
Sayang?
Ya ampun ... Kalan memanggilnya sayang.
...*******...
Bersambung gaes ...
Di tunggu part berikutnya.
Jangan lupa like, komen, vote, dan simpan sebagai favorit ya?
Follow IG aku yuk
@hakimparida
Makasih ...
Selamat menjalankan ibadah puasa ...
__ADS_1
❤❤❤