
"Aku cinta kamu, aku sayang kamu, Kalan."
Tangis Gadis pecah saat itu juga, ia semakin menyembunyikan wajahnya ke dada bidang milik Kalan sembari memeluknya erat. Entah sudah berapa banyak air mata yang Gadis keluarkan sehingga membuat kemeja pemuda itu menjadi basah. Dan entah sudah keberapa kali pula gadis itu merancau, melontarkan kata cinta dan sayang yang berulang-ulang kali ia ucapkan meskipun dalam keadaan menangis.
Sementara Kalan, pemuda itu membalas pelukan Gadis sama eratnya. Jantungnya berdebar tak karuan saat Gadis terus melontarkan kalimat demi kalimat yang membuat ketakutannya berubah menjadi sebuah perasaan senang. Tentu Kalan sangat bahagia saat kata cinta itu keluar dari bibir Gadis secara langsung. Kalan tak pernah mengira jika ia akan merasa sebahagia ini. Padahal dulu, Kalan tak pernah sekalipun merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tapi sekarang, ada kebagian tersendiri yang ia rasakan saat Gadis mengungkapkan kembali perasaannya. Ternyata gadis itu masih mencintainya hingga sekarang.
Dan Kalan bersumpah, ia akan mencintai Gadis selamanya.
Gadis adalah wanitanya, Gadis adalah miliknya, dan Gadis adalah kelemahannya sekarang. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Gadis-nya. Tidak akan.
"Kamu mencintaiku?'
Tanpa sadar kepala mungil yang masih bersembunyi di dada lelaki itu mengangguk, membuat Kalan tersenyum lalu mengecup pucuk kepala gadis itu berkali-kali.
"Aku lebih mencintai kamu, sayang." Ujarnya kembali yang membuat Gadis semakin menangis.
"Tolong ... jangan buat aku cemburu lagi."
"Kamu cemburu?" Tanya lelaki itu kembali.
Lagi, kepala Gadis mengangguk.
"Kalo aku tahu rasa cemburu mu itu bisa membuat kamu dalam bahaya seperti ini, maka aku tidak akan melakukannya." Sungguh, Kalan sangat menyesal akan itu. "Maafkan aku, aku memang sengaja membuat kamu cemburu."
"Maksud kamu?" Setelah lama menyembunyikan wajahnya, akhirnya Gadis mendongak, menatap Kalan dengan wajah yang sangat menggemaskan dengan hidung yang memerah.
Kalan tersenyum, "Lupakan saja!"
"Lalu Jesica, dia ...?" Tanya Gadis pada laki-laki yang sedari tadi menatapnya lekat itu sambil tersenyum.
"Dia bukan siapa-siapa." Jelas Kalan yang membuat Gadis semakin tak mengerti.
"Bukankah Jesica pacar kamu?" Tuduh Gadis pada pada laki-lakinya itu.
"Kata siapa?" Kalan mengusap sisa cairan bening itu dari mata Gadis dengan ibu jarinya. "Aku sama dia gak pacaran."
__ADS_1
"Tapi kalian ___?"
Sebelum Gadis bertanya lebih jauh lagi, Kalan sudah lebih dulu menariknya kembali dalam pelukan. Untuk saat ini, Kalan hanya ingin memeluk Gadis, ia akan menjelaskannya nanti jika Gadis memang benar-benar menuntut penjelasan darinya. Kalan tak peduli saat ia dan Gadis kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana. Masa bodo dengan apa yang orang lain katakan tentangnya sekarang. Yang jelas, Kalan merasa jika hari ini adalah hari keberuntungan untuknya, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan karena pada akhirnya ia bisa memiliki Gadis, memiliki Cintanya.
******
"Ayo, turun." Ajak Kalan saat ia sudah memarkirkan mobilnya tepat di pelataran gedung perusahaan miliknya sendiri.
Kepala mungil itu menggeleng seraya berujar, "Gak mau, aku tunggu disini saja."
"Kenapa?" Tanya Kalan saat ia sudah melepas seatbelt dari tubuhnya.
"Aku malu, Kalan. Kamu gak lihat mata aku yang bengkak kayak gini." Gadis itu mencebik dengan bibir mengerucut lucu. Apa kata orang nanti jika mereka melihat keadaan Gadis sekarang? Oh ... tidak!
Kalan terkekeh sebelum kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat Gadis merona."Gak masalah, di mata aku kamu tetap cantik, mau dalam keadaan apapun."
Uh ... Kalan kenapa sih bikin pipi aku merah saja.?
"Sekarang aja bilangnya gitu, dulu mana pernah." Gerutunya pelan yang membuat pemuda itu seketika tertawa saat mendengarnya.
"Dari dulu juga kamu memang udah cantik kok." Kalan mengatakan itu jujur dari hatinya. Dimata Kalan, Gadis memang cantik meskipun dulu mata indahnya itu selalu ia tutupi dengan kaca mata. Tapi sayang, karena rasa cintanya yang teramat besar untuk Retha saat itu membuatnya menjadi buta. Bahkan Kalan tak pernah menyadari kehadiran Gadis saat itu. "Apalagi sekarang, kamu adalah Gadis aku yang paling cantik.
"Ish ..." Gadis menatap Kalan gemas. "Bukan itu, Nanti semua karyawan kamu pada liatin aku, dan ngomongin yang enggak-enggak lagi. Di kiranya aku kenapa-kenapa."
"Jangan pedulikan apa kata orang, lagipula gak akan ada yang berani ngomongin kamu." Gadis sedikit menjauhkan wajahnya saat Kalan tiba-tiba saja mencondongkan wajah ke arahnya.
"Mana kamu tahu.!" Gadis bisa bernapas lega saat pemuda itu hanya membukakan seatbelt nya. Lantas bibirnya kembali mencebik, dan semua itu tak luput dari perhatian Kalan. "Lagian kenapa kamu bawa aku kesini sih? Aku balik ke kantor aja ya?"
"Nggak." Tukas Kalan. "Kamu harus ikut dan temenin aku bekerja."
Gadis bisa apa selain menurut pada pemuda itu. Setelah kejadian yang hampir saja membuatnya celaka, serta setelah Gadis yang mengakui semua perasaannya pada Kalan, lelaki itu berubah seketika. Sikap dingin dan datar yang biasa Gadis lihat pun kini tak nampak lagi pada Kalan. Kalan berubah menjadi pria yang posesif, ia tidak mengijinkan Gadis untuk kembali lagi ke kantornya. Bahkan, Kalan sendiri yang menghubungi Risa secara langsung dan memerintahkan wanita itu untuk menghandle semua pekerjaan Gadis hari ini.
Dan Risa pun hanya bisa mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut lagi.
Meskipun kini keadaan Gadis sudah mulai tenang, tapi tidak dengan Kalan. Jujur, dengan kejadian tadi yang hampir saja membuat Gadis celaka, ia tidak akan membiarkan gadis itu sendiri lagi. Kalan akan selalu menjaganya mulai dari sekarang. Seandainya Kalan tidak datang di waktu yang tepat, entah apa yang akan terjadi pada Gadis-nya.
__ADS_1
Dan Kalan harus berterima kasih kepada Jesica, karena dia, karena sepupunya itulah yang membuat Kalan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke kafe itu dan melihat keadaan Gadis.
"Cepat kamu temui dia, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Gadis, karena sepertinya dia sedang cemburu akut.!"
Kalan tersenyum seraya menggeleng pelan saat teringat akan perkataan Jesica. Ternyata, tidak sia-sia ia meminta bantuan pada sepupunya itu meski harus dengan cara memaksa sekalipun.
"Kalan, lepas." Keluh Gadis saat Kalan tidak melepaskan tangannya. "Aku malu, semua pegawai disini sedang menatap kita sekarang." Bisik Gadis saat ia dan Kalan baru saja melewati lobi untuk menuju keruangan kerjanya.
Bukannya menuruti keinginan gadis itu, Kalan justru semakin erat menggenggam tangannya, membuat Gadis seketika menunduk karena malu. Berbanding terbalik dengan Gadis, Kalan justru terlihat lebih tenang saat semua karyawannya menatap dan berbisik-bisik membicarakan mereka berdua. Lelaki yang biasanya selalu bersikap datar, dingin, dan akan marah ketika siapapun melakukan kesalahan, kini ia hanya diam dan lebih banyak tersenyum. Melihat perubahan sikap dari atasannya itu membuat semuanya terkejut. Tak terkecuali Bima.
"Silahkan masuk, Pak Kalan dan Nona Gadis."
"Terimakasih." Ujar Kalan saat Bima membuka pintu ruangannya itu lebar-lebar. Bima pun mengangguk seraya tersenyum.
Begitu masuk ke dalam ruangan, Kalan segera membawa Gadis untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya itu. Tak lupa ia menyuruh Bima untuk keluar, lalu memerintahkan petugas kebersihan disana untuk membawakan minuman dan secangkir kopi untuknya.
"Kalan ...!" Pekik Gadis saat pemuda itu tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. "Kamu ngapain?"
"Jangan berisik." Bisik Kalan dengan suara khasnya, lalu melingkarkan kedua tangannya itu pada perut Gadis. Entah kenapa saat ia memeluk Gadis, Kalan merasa begitu nyaman.
Mendapat perlakuan seperti ini tentu membuat Gadis tersentak serta merasa tak nyaman. Bagaimana jika ada seseorang yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan dan melihat apa yang sedang di lakukan oleh lelaki itu sekarang. "Jangan seperti ini." Gadis mencoba melepaskan tangan Kalan yang terasa semakin erat memeluknya. "Ini di kantor, gimana kalo ada orang yang masuk?"
"Sebentar, Dis."
Gadis itu meremang saat hembusan napas Kalan terasa begitu hangat menerpa permukaan kulit lehernya. Dadanya berdebar kencang, serta tubuhnya menegang seketika saat ia merasakan sesuatu telah menempel pada kulit lehernya itu.
Oh ya ampun ... apa yang sedang lelaki itu lakukan?
"Ka-lan ..." Suaranya tertahan saat lelaki itu menghisap kulit lehernya. "Kalan ..."
"Hem ..." Jawabnya di sela-sela kegiatannya itu. Ia semakin menenggelamkan wajahnya lalu menghirup dalam-dalam aroma memabukkan dari tubuh Gadis.
Disaat Kalan semakin gencar membuat Gadis mendesah tertahan, disaat itu pula pintu didepan sana terbuka lebar. Menampakkan seseorang tengah berdiri dengan wajah terkejut. Lantas, ia memekik dengan suara kencang.
"Astaga ... Apa yang sedang kalian lakukan??"
__ADS_1
...******...