
Nyatanya,
Harapan Gadis untuk kembali ke Jakarta dan menikah bersama Kalan pun harus ia tunda terlebih dulu. Mendengar kenyataan kalau lelaki yang selama ini telah begitu baik padanya sedang sakit, membuatnya merasa bersalah. Gadis mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jakarta dalam waktu secepat itu. Meskipun sulit, tapi Gadis tak bisa meninggalkan Bian begitu saja. Gadis ingin menemaninya, Gadis ingin melihat laki-laki itu sembuh. Bukan karena masih cinta, mungkin inilah kesempatannya untuk membalas semua kebaikan lelaki itu. Dan Gadis tak ingin menyakiti atau membuat Bian terluka nantinya.
Gadis tahu seperti apa seorang Bianura Pradisa. Laki-laki baik hati yang sudah mencintai dan menemaninya selama ini. Lelaki yang punya segudang perhatian, lemah lembut, dan selalu membuat Gadis tertawa. Dan rasanya Gadis tak mungkin mengatakan keinginannya sekarang disaat Bian sedang sakit seperti ini.
Merasa bersalah?
Tentu, Gadis sangat merasa bersalah saat ternyata Bian meminta semua keluarganya untuk menyembunyikan tentang penyakitnya dari Gadis, dengan alasan ia tidak ingin di Kasihani, apalagi jika sampai membuat Gadis-nya khawatir.
Ya Tuhan ... kenapa Bian? Kenapa mesti Laki-laki baik itu yang engkau beri ujian seperti ini?
"Tante tahu kalau Bian sangat mencintai kamu."
"Tante mohon ... hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membuat anak tante bertahan."
"Tolong Tante sayang, Menikahlah dengan Bian."
"Tante ingin melihat Bian bahagia di saat-saat terakhirnya."
Gadis menutup matanya rapat-rapat saat kalimat demi kalimat itu kembali terngiang dalam benaknya. Entah apa yang harus ia lakukan saat kedua orang tua Bian memintanya secara langsung untuk menikah dengan putra tunggalnya itu. Dulu, mereka sempat tidak merestui hubungan Bian bersama Gadis karena gadis itu selalu menolak setiap Bian ingin menikahinya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka berdua bisa menerima Gadis, mereka tak ingin mengekang Bian, dan mereka pun tahu satu-satunya wanita yang bisa membuat putranya itu tersenyum dan bahagia adalah Gadis.
Siapa orang tua yang tak bahagia saat melihat putra satu-satunya itu juga bahagia.
"Dis ..." Bian masih bisa tersenyum lebar, lelaki itu sangat pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya. Bian sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Lelaki itu justru terlihat baik-baik saja. "Kenapa kamu gak kasih kabar kalo akan kembali secepat ini?"
"A-aku ... memang sengaja." Berbanding terbalik dengan Bian, meskipun ia tersenyum tapi Gadis tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Setelah kemarin Mama Merry memberitahunya tentang penyakit yang di derita Bian selama ini, Gadis tak tinggal diam. Hari ini ia memutuskan untuk menemui Bian, dan kebetulan lelaki itu berada di rumahnya. Bian yang tak tahu dengan kedatangan Gadis yang secara tiba-tiba membuatnya sedikit terkejut, ia tak menyangka jika Gadis akan kembali secepat ini. Bahkan terakhir kali mereka berhubungan lewat telepon, Gadis tak berkata apapun. Dan sekarang, melihat Gadis yang selalu di rindukannya selama ini ada di hadapannya, membuat ia tak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya.
Ini bukan mimpi bukan? kalau memang ia sedang bermimpi, maka Bian tak ingin bangun dari tidurnya.
"Aku senang kamu kembali." Ujarnya lagi seraya tersenyum.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Gadis begitu khawatir.
__ADS_1
"Keadaan aku baik." Lihatlah, Bian masih bisa tersenyum meskipun wajahnya sudah terlihat sedikit pucat. "Aku cuma kecapean aja kok."
"Maaf ..." Gadis berujar lirih. "Maafin aku."
"Hei ..." Bian mengambil tangan Gadis yang sedari tadi saling meremat di atas kain berlapis yang menutupi pahanya itu. "Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah apa-apa."
"Aku ... Aku." Dan akhirnya Gadis pun menunduk. Ia tak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi meronta minta di keluarkan.
"Kenapa kamu menangis?"
"Seandainya aku gak pergi ke Jakarta waktu itu, mungkin aku akan selalu menemani kamu disini."
"Apa yang kamu katakan, Dis.? jangan merasa bersalah seperti itu, aku gak papa, aku cuma kecapean. Sebentar lagi juga aku sembuh."
Semakin Bian banyak bicara, maka semakin Gadis menangis. Entah apa yang membuat Gadis tak bisa lagi menahan kesedihannya di hadapan Bian, bahkan Gadis ingin menangis sekeras-kerasnya kalau saja ia tidak ingat dengan perkataan sang Mama dan kedua orang tua Bian yang memintanya agar tak membuat lelaki itu bersedih.
"Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Hati aku sakit, kalo liat kamu menangis, Dis."
Ya Tuhan ... Apa ia sudah berbuat jahat? apa yang sudah Gadis lalukan pada laki-laki baik seperti Bian?
******
Sementara di tempat dan kota yang berbeda, seorang laki-laki yang sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa kliennya itu sedikit terlihat gusar. Ia hanya diam dan tak memperhatikan presentasi yang sedang dilakukan oleh salah satu rekan bisnisnya itu.
Seharian ini Kalan tak dapat menyembunyikan rasa kesal sekaligus rasa bersalah saat mendapati dua kabar yang datang sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Ya, selain karena Gadis yang memberinya kabar tak akan kembali dalam waktu dua minggu, ia pun harus mendengar kabar yang tak kalah mengejutkan dari itu. Beberapa jam yang lalu ia mendapatkan kabar tentang Retha, gadis yang dulu pernah singgah di hatinya itu akan melakukan tindakan percobaan bunuh diri.
Retha hampir saja kehilangan nyawanya saat ia menenggak minuman beracun yang entah darimana ia dapatkan. Beruntung saat itu dokter pribadinya datang tepat waktu hingga nyawanya bisa terselamatkan. Mendengar kabar itu tentu saja membuat sebagian hati Kalan ikut meringis. Retha adalah sosok wanita baik dan pintar yang tak pernah melakukan apapun tanpa berpikir lebih dulu. Bukan hanya itu saja, ada hal lain yang lebih membuatnya terkejut, alasan di balik tindakan gilanya itu adalah karena dirinya.
Ya, Karena Retha masih sangat mencintai Kalan.
"Ada kabar apa?"
"Maaf, Pak. Menurut informasi yang saya terima, Nona Retha memang sengaja meminum minuman beracun itu." Ujar Bima saat ia di perintahkan secara langsung oleh Kalan untuk mencari tahu tentang Retha. "Dan ..." Bima menunduk sebentar sebelum kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat atasannya itu menggeleng tak percaya. "Nona Retha melakukan tindakan itu salah satunya adalah karena, Pak Kalan."
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Tanya Kalan, ia menatap Bima dengan sebelah alisnya yang terangkat tinggi.
"Iya, Pak. Selain karena pekerjaan dan tekanan dari Nyonya Desi yang membuatnya frustrasi, Nona Retha juga melakukan itu karena dia masih mencintai Pak Kalan."
"Jangan sembarangan bicara kamu?" Kalan berdecak keras seraya menggeleng. Tidak, Retha tidak mungkin melakukan tindakan bodoh itu karena dirinya.
"Itulah kebenarannya, Pak."
Kalan mengusap wajahnya gusar, Meskipun sulit untuk percaya tapi itulah kenyataannya.
"Terus, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sepertinya Nona Retha sudah di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, Pak."
Kalan mendesah frustrasi, ia menengadah sambil menatap langit-langit di atas sana. Baru saja ia menutup mata untuk menenangkan diri, tiba-tiba saja pintu di depan sana terbuka lebar, menampilkan seseorang yang ia percaya sebagai orang suruhannya.
"Selamat siang, Pak."
"Ada apa?"
Lelaki berbaju serba hitam, bertubuh tinggi dan besar itu mendekat, menyodorkan sebuah map kehadapan Kalan.
"Silahkan, Pak."
Kalan menerima map tersebut dengan perasaan gundah. Meskipun belum tahu isi dari dalam map tersebut, tapi sudah membuat perasaannya mendadak tak tenang. Dan benar saja, begitu ia membuka dan melihat apa yang ada di dalam map itu seketika wajahnya berubah menjadi mengeras, ia meremas map tersebut dengan sangat kuat hingga tak berbentuk lagi.
Bangsat ...!
"Bima ..." Seru Kalan dengan sorot mata yang sangat menakutkan. "Pesankan tiket pesawat buat saya sekarang juga." napasnya memburu bersama dengan kedua tangannya yang mengepal erat, "Saya mau berangkat ke Paris malam ini juga." Ulangnya kembali yang membuat Bima segera mengangguk.
"Ba - baik, Pak." melihat sikap Kalan yang berubah menjadi menakutkan seperti itu, Bima yakin ada yang tidak beres. Ia pun melaksanakan perintah dari Kalan sebelum laki-laki itu mengamuk nantinya.
Ada apa sebenarnya?
...*******...
__ADS_1