ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Empatpuluhsatu


__ADS_3

Seperti yang sudah berlalu,


Kini Gadis telah kembali menginjakkan kakinya di Jakarta. Dua jam yang lalu pesawat yang di tumpanginya itu mendarat dengan sempurna di salah satu bandara terbesar yang ada di Indonesia. Dan sekarang Gadis sudah berada di dalam apartemennya. Apartemen baru yang sudah di persiapkan khusus oleh Pamannya untuk Gadis tempati selama tinggal di Jakarta.


Gadis yang baru saja selesai membersihkan dirinya sedikit terkejut saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Gadis tak tahu siapa orang yang datang menemuinya, seingatnya ia tak membuat janji dengan siapapun hari ini.


Tak ingin menerka-nerka, akhirnya Gadis melangkah menuju dimana pintu itu berada, lalu membuka pintu dan betapa terkejutnya ia saat tahu siapa orang yang tengah berdiri di hadapannya kali ini.


"Bi - Bima ..."


"Nona, Gadis ..."


Seru keduanya secara bersamaan. Gadis yang tak pernah mengira jika yang datang menemuinya kali ini adalah Bima, sekretaris sekaligus asisten pribadinya Kalan. Pun dengan Bima yang tak tahu kalau orang yang akan di temuinya itu adalah Gadis, gadis yang telah berhasil membuat bosnya itu selalu uring-uringan setiap hari.


"Apa kabar, Nona Gadis?"


Setelah lama saling diam, akhirnya Bima membuka suaranya terlebih dulu. Bima menatap Gadis, tak ada yang berubah sedikitpun dari gadis itu. Gadis menurutnya masih sama seperti Gadis dulu yang ia ketahui. Dia masih tetap terlihat cantik meskipun sudah menikah. Ya, karena Bima mengetahui apa yang telah terjadi diantara Bos dan wanita yang saat ini ada di hadapannya.


Bagaimana jika Bosnya itu tahu kalau Gadis ada disini?


Apa yang akan terjadi kalau Kalan tahu Gadis kembali menggantikan posisi Pak Ricard?


Ah ... sepertinya Bima harus segera menyiapkan diri. Ia harus siap-siap menghadapi sikap Kalan yang selalu tak bisa di tebak nantinya.


"Baik." Jawabnya sembari memberi seulas senyum.


"Maaf, saya tidak tahu kalau ternyata Nona Gadis lah yang menggantikan Pak Ricard. Karena beliau tidak memberi tahu saya sebelumnya."


"Paman Ricard, dia tidak mengatakan apa-apa?"


"Tidak Nona." Jawab Bima seraya menggeleng. "Beliau cuma menyuruh saya untuk datang dan meminta tanda tangan langsung ke apartemen ini."


"Mungkin Paman lupa. Karena saya baru sampai dua jam yang lalu."


Ujar Gadis yang membuat Bima mengangguk mengerti. Tak ada lagi percakapan di antara keduanya setelah Bima memberikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Gadis. Berkas penting yang membutuhkan tanda tangan dari pemilik perusahaan Sinarmas Land karena Bima akan mengadakan pertemuan selanjutnya dengan beberapa kliennya yang lain. Bima pun pamit, ia tak bisa berlama-lama karena Kalan sudah menghubunginya melalui pesan singkat yang baru saja diterimanya.


"Baiklah, Nona Gadis. Saya pamit dulu, sampai bertemu lagi besok di pertemuan selanjutnya."


"Iya, makasih Bima."


Setelah Bima pergi, entah kenapa perasaan Gadis mendadak tak tenang seperti ini. Apalagi disaat ia ingat, kalau mulai besok pagi Gadis akan kembali lagi ke kantor dan mulai bekerja kembali sebagai pimpinan, menggantikan posisi sang Paman. Gadis mengambil berkas-berkas itu lalu membukanya satu persatu, ada beberapa hal yang menarik perhatian Gadis. Salah satunya adalah berkas pembangunan hotel terbaru di Bali bersama dengan perusahaan Kalan.

__ADS_1


Bagaimana jika Kalan membatalkan semua kerja samanya, setelah lelaki itu tahu kalau Gadis lah yang kembali menjadi partnernya dalam pembangunan hotel tersebut?


Mengingat itu membuat Gadis meringis sambil memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing. Bukan hanya itu saja, Gadis juga harus menyiapkan diri untuk bertemu dengan Kalan besok, ia harus mempersiapkan diri jika sikap lelaki itu berubah, mengingat bagaimana seorang Kalan yang begitu membencinya.


Apapun yang terjadi, aku harus siap. Dan aku gak boleh lemah.


******


"Pagi, Pak."


Sapa Bima saat Kalan baru saja keluar dari dalam lift. Kalan hanya mengangguk, lalu memasuki ruangannya bersama Bima yang mengikutinya dari belakang. Begitu tiba di dalam ruangan, Kalan langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap beberapa berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya sambil mengernyit.


Selalu sebanyak ini kah pekerjaannya?


"Pak ... sebentar lagi kita ada pertemuan dengan beberapa klien dari perusahaan Jaya Gemilang dan Sinarmas Land." Bima menyerahkan ipad yang langsung Kalan terima.


"Sepertinya pertemuan ini akan berlangsung cukup lama, dan ..."


"Apa kamu sudah menghubungi Pak Wibowo?"


Bima mengangguk, Pak Wibowo adalah direktur dari perusahaan Jaya Gemilang.


"Untuk Pak Ricard, bukan beliau yang akan hadir." Bima diam sejenak, membuat Kalan mendongak dan mengalihkan pandangannya dari layar ipad. "Pak Ricard sepertinya sudah menyuruh Nona ...."


Bima kembali mengatupkan rahangnya saat tiba-tiba saja pintu di depan sana di ketuk dari luar. Baik Kalan ataupun Bima mengangguk setelah Sheila, sekretaris kedua Kalan setelah Bima memberitahunya bahwa semua anggota pertemuan hari ini sudah berkumpul di ruang meeting.


Bima yang di perintahkan Kalan untuk lebih dulu kesana pun berlalu dari ruangan Kalan. Sementara Kalan, lelaki itu meminta izin untuk ke kamar mandi terlebih dulu.


Sepanjang perjalanan menuju ruang meeting yang berada di lantai enam pun membuat Kalan sedikit tercenung. Lelaki itu ingat dengan perkataan Bima yang mengatakan kalau Ricard, pemilik perusahaan Sinarmas Land tidak dapat mengikuti pertemuan ini. Lalu yang menjadi pertanyaan Kalan, siapa orang yang menggantikannya? Setahunya, pertemuan ini sangatlah penting, tapi mengapa Ricard tidak dapat menghadirinya?


Sementara Gadis,


Tiba-tiba saja ia merasa gugup, sebentar lagi Gadis akan bertemu dengan Kalan dalam rapat nanti. Gadis yang datang bersama Risa dan Daniel menggantikan sang Paman pun mau tidak mau ia harus siap. Dan Gadis berharap, agar situasi yang ia lalui tak membuatnya gugup seperti ini saat meeting berlangsung.


Saat itu, ponsel Gadis tiba-tiba berdering. Gadis meminta izin kepada Risa dan Daniel untuk mengangkatnya terlebih dulu. Menyuruh mereka berdua untuk meneruskan langkahnya mendahului Gadis menuju ruang meeting.


Nama sang Paman tertera di layar ponselnya. Gadis mengernyit sebentar sebelum kemudian ia mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Paman."


"Hallo, keponakan ku yang cantik.!"

__ADS_1


Gadis terkekeh, "Ada apa Paman menelpon?"


"Kamu dimana?


"Hari ini aku menghadiri pertemuan di perusahaannya Kalan, Paman."


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya sang Paman di seberang sana. "Apa kamu siap?"


Gadis tersenyum tipis seperti Pamannya itu dapat melihatnya saja. "Mau tak mau aku harus siap, Paman."


"Bagus sayang, apapun yang terjadi nanti jangan membuat kamu lemah. Mungkin saat pertama Kalan melihat mu ia akan marah, tapi Paman yakin itu hanya kemarahan sesaat."


"Iya, Paman."


"Baiklah kalo begitu, nanti kalo ada apa-apa jangan lupa kabari, Paman."


Setelah itu panggilan pun di tutup.


Gadis menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Kenapa Gadis merasakan gugup seperti ini setelah dua tahun berlalu? Padahal sebelumnya ia baik-baik saja.


"Tenang, Gadis." Gumamnya pelan. Kemudian Gadis berbalik. Namun, ia tercekat saat tanpa sengaja melihat Kalan yang tengah berdiri tak jauh dari tempat saat ia berteleponan tadi.


"Ka - Lan ..." Gadis menelan ludahnya kelat. Apa benar laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang itu adalah Kalan?


Tidak Gadis, tidak juga dengan Kalan, lelaki itu menatap perempuan yang ada di hadapannya saat ini seperti tak percaya.


Setelah dua tahun, kenapa sekarang gadis itu muncul lagi?


Keduanya sama-sama saling menatap untuk beberapa saat. Ada kesan canggung dan tak biasa saat mereka berdua beradu pandang. Meskipun sebenarnya, kedua jantung dua insan itu diam-diam saling berdebar tak beraturan.


Kalan yang masih tak percaya jika ia akan kembali bertemu dengan Gadis, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada rasa terkejut, sekaligus perasaan benci yang kini mulai datang kembali saat ingatannya kembali lagi pada kejadian dua tahun yang lalu. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya. Jangankan untuk menyapa, sekedar untuk menarik garis senyum tipis saja tak sudi di lakukannya.


Untuk mengusir kecanggungan di antara mereka, Gadis kemudian berdehem, lantas tersenyum seraya mengangguk yang di balas Kalan hanya dengan tatapan datar. Tanpa mengucap sepatah katapun, Kalan akhirnya pergi meninggalkan Gadis yang masih bergeming menatap kepergiannya itu dengan perasaan getir.



Aku memang pantas mendapatkannya.


...******...


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2