ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Limapuluh (End)


__ADS_3

"Keterlaluan kamu Kalan.!" Bentak sang Bunda. Wanita setengah baya itu sedikit menjerit. "Bagaimana kamu bisa melakukan itu pada Gadis?" Tanya Yasika masih tak percaya.


"Maafin aku, Bunda." Lelaki itu menunduk, ia tahu kesalahannya itu sudah sangat fatal. Karena kesalahannya itu pulalah yang membuat kedua orang tuanya marah, kecewa, bahkan merasa malu. Dan Kalan akui itu.


"Bunda tak pernah mengajari kamu untuk menjadi laki-laki berengsek seperti itu."


"Bun ..." Kai mencoba menenangkan Istrinya itu, meskipun sebenarnya ia juga merasa kecewa. Bagaimana bisa putra yang ia didik sedari kecil bisa berubah menjadi penjahat seperti itu? Ya, katakanlah seperti itu.


Tapi ada satu hal yang membuat Kai bangga, ia bangga karena Kalan mau mengakui semua kesalahannya dan mau bertanggung jawab dengan apa yang telah di lakukannya.


Mendengarkan cerita dari Kalan, Kai tahu tak ada satupun yang anaknya itu sembunyikan. Kalan memberi tahu semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Termasuk saat Desi, sang calon besanlah yang ternyata sudah menjebak putranya itu. Kalan pun memberi tahu keduanya bahwa ia telah membatalkan rencana pernikahannya bersama Retha.


Kemarin, Kalan kembali mengunjungi Retha yang kebetulan sedang berada di rumah Mamanya - Desiani Juwita. Lelaki itu mengutarakan maksud dari kedatangannya kembali yang ingin memutuskan hubungan mereka berdua secara baik-baik. Karena yang Kalan tahu, Retha adalah gadis yang sangat baik, ia tak ingin hubungannya bersama Retha menjadi buruk setelah apa yang terjadi selama ini. Lagi dan lagi Kalanlah yang kembali membuat Retha terluka.


Meskipun begitu, Kalan akhirnya bisa bernapas lega saat Retha, wanita itu mau menerima apapun keputusan dari Kalan. Retha meminta pada Kalan untuk tetap menganggapnya sebagai seorang teman. Tak lebih dari itu. Retha pun meminta maaf secara langsung atas kelakuan Mamanya yang sudah sangat keterlaluan itu. Ia malu sekaligus merasa bersalah. Retha sadar karena cinta itu memang tidak bisa di paksakan. Selama ini Retha memang menjadi tunangannya dari Kalan, tapi Retha tahu kalau hati lelaki itu bukan lagi untuknya.


Sementara Desi, meski awalnya ia sempat tak terima saat Kalan kembali menyakiti Retha, tapi melihat putri satu-satunya itu memohon tentu membuat hatinya sedikit terbuka. Desi pun mengalah, wanita paruh baya dengan kesombongannya yang tinggi itupun pada akhirnya kalah. Sekeras apapun usahanya untuk mempersatukan mereka berdua tidak akan berhasil jika di barengi dengan kelicikan dan keserahakan di dalamnya. Maka, dengan sedikit rasa malu, ia pun meminta maaf secara langsung dan tulus kepada Kalan.


Desi berjanji, setelah ini ia tak akan lagi mengusik kehidupan putrinya ataupun Kalan. Dan Kalan percaya itu.


"Pokoknya Bunda mau kamu nikahin Gadis secepatnya." Titahnya yang seketika membuat Kalan mengangguk.


"Iya, Bunda. Aku akan melakukannya. Karena aku juga mencintai Gadis." Ujar Kalan yang membuat Yasika dan Kai merasa kembali tenang sekarang.


"Bawa Bunda untuk menemui Gadis."


******


Kalan mengusap wajahnya gusar saat panggilannya yang kesepuluh tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia mendesah frustrasi, merasa cemas saat Gadis tak juga mengangkat telepon darinya. Kalan takut terjadi sesuatu pada Gadis. Kalan pun takut jika Gadis kembali pergi meninggalkannya.


Kalan menatap jam yang melingkari tangannya itu sebelum kemudian ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Keluar dari dalam ruangannya secara terburu-buru membuat sebagian karyawannya itu menatap lelaki yang mereka ketahui sebagai pemilik perusahaan itu penuh tanya. Tak biasanya mereka melihat Kalan sekacau saat ini. Bahkan di saat sedang mengadakan rapat mingguan pun Kalan tampak tak fokus sama sekali.


Keluar dari dalam gedung perusahaan yang menjulang tinggi, Kalan segera memasuki mobil yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh supir pribadinya.


Kalan mengendarai mobilnya itu sendiri dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia mengumpat kesal saat mobil yang di tumpanginya itu terjebak dalam kemacetan yang sangat panjang.


Dan setelah hampir satu jam lamanya ia berada di tengah-tengah kemacetan itu, akhirnya Kalan pun bisa bernapas lega saat mobilnya sudah terparkir di pelataran rumah megah milik kedua orang tuanya itu.


Kalan tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya ketika sang Bunda memberitahunya kalau ternyata Gadis ada disini, berada dirumah kedua orangtuanya saat ini.


Ya, seharian ini Kalan tak dapat berkonsentrasi dengan apapun. Yang ia inginkan sekarang hanyalah ingin bertemu dengan Gadis. Ia ingin melihat wajah gadis yang beberapa hari terakhir ini sering mengganggu pikirannya. Kalan benar-benar merindukan Gadis-nya itu. Meskipun ia selalu mendapatkan penolakan dari Gadis, Tapi Kalan tak pernah menyerah, ia akan terus berusaha sampai Gadis mau menerima lamarannya.


"Kenapa belum tidur?"


Gadis menoleh, menatap Kalan yang tengah berdiri di sampingnya itu sekilas sebelum kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya itu ke depan. "Belum ngantuk."


"Apa aku boleh duduk disini?"

__ADS_1


Tanpa menjawab, Gadis pun mengangguk. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada Kalan. Lelaki itu tersenyum, buru-buru ia duduk di samping Gadis sebelum gadis itu berubah pikiran.


Lalu, Kalan dan Gadis sama-sama terdiam. Suasana pada malam ini terasa begitu dingin, dan lebih hening saat keduanya kini saling diam seraya menatap langit luas bertaburan bintang di atas sana.


Menatap keindahan di malam hari dari balkon kamar tidur yang Gadis tempati.


Meskipun begitu, Kalan merasa senang saat ia bisa duduk di samping Gadis kembali. Setelah sekian lama Kalan begitu merindukan Gadis-nya itu. Ia rindu Gadis yang selalu ceria dan cerewet seperti dulu. Ia juga rindu dengan tingkah Gadis yang selalu menggemaskan dimatanya itu. Ia rindu senyumannya, ia rindu celotehannya, ia juga rindu dengan tatapan matanya yang dulu selalu menatapnya penuh damba.


Tapi sejak kejadian itu, sejak malam sialan itu terjadi, semuanya seakan hilang. Gadis-nya pun kini telah berubah. Tapi Kalan berjanji, ia akan mengembalikan Gadis-nya seperti dulu lagi.


Gadis masih pada posisinya, tak merubah pandangannya sedikit pun dari langit malam ini. Sedangkan Kalan, lelaki itu tak lepas memandangi wajah Gadis dari samping.


Merasa risih karena Kalan terus memperhatikannya, Gadis pun menoleh seraya berkata. "Aku mau tidur." Ujarnya sambil berdiri.


"Sebentar." Kalan menarik tangannya, menahan Gadis agar gadis itu tidak pergi. "Bisakah kita bicara dulu."


"Tapi aku ngantuk." Bohongnya, Gadis hanya ingin Kalan berhenti memandanginya.


Kalan tersenyum tipis. "Cuma sebentar."


Gadis pun mengangguk dan kembali duduk di samping lelaki itu sekarang. Hening pun kembali mengambil alih semuanya. Seandainya hubungan keduanya sama seperti dulu, tentu Kalan dan Gadis tak akan bersikap canggung seperti ini.


"Maaf." Lalu, kata itulah yang keluar dari mulut Kalan setelah lama mereka saling terdiam. "Aku minta maaf atas semuanya." Gadis masih diam, ia pun memberi waktu untuk Kalan berbicara. "Seandainya aku tahu sejak dulu, mungkin aku tak akan mengulangi kesalahan kembali. Kamu tahu?" ada jeda sejenak. "Waktu kamu meninggalkan aku untuk menikah dengan orang lain, aku disini begitu hancur. Aku sering mabuk-mabukkan dan jarang pulang kerumah. Semua itu terjadi sangat lama, hingga akhirnya, Bunda dan Retha lah yang membuat aku seperti memiliki kehidupan kembali."


Gadis yang sedari tadi diam dan menatap ke depan, pada akhirnya ia menoleh, menatap Kalan yang masih setia berbicara dengan suara yang melirih.


"Aku kembali pada Retha, berharap agar aku bisa melupakan kamu secepatnya. Tapi ... seiring waktu berjalan, perasaan cinta itu tak kunjung datang. Yang ada di hati aku itu cuma kamu, sebenci apapun aku, semarah apapun aku, tapi tetap saja rasa benci tak bisa merubah perasaan cinta itu sama kamu. Hingga akhirnya kamu kembali."


"Waktu kejadian malam itu, jujur aku merasa bersalah sekaligus bersyukur. Aku merasa bersalah karena telah menyentuh kamu sebelum waktunya, gadis yang begitu aku cinta. Tapi aku juga merasa bersyukur, karena pada malam itu kamulah yang aku sentuh, bukan wanita lain."


Kalan meraih tangan halus gadis itu untuk ia genggam. Beruntung, Gadis tak menolaknya. "Maaf jika aku sudah berpikir seperti itu. Aku cinta sama kamu, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Tolong ... ijinkanlah aku untuk menebus semua kesalahan aku sama aku. Menikah lah dengan ku, Gadis Ayunda.?"


Gadis mengerjapkan matanya secara perlahan. Ia tidak terkejut, karena pada sebelumnya pun Kalan sudah berkali-kali memintanya untuk menjadi istrinya.


"Menikahlah denganku?"


Gadis hanya diam, menatap Kalan dan tangannya yang di genggam oleh lelaki itu secara bergantian.


"Tolong ... jangan pernah berpikir untuk kembali meninggalkan aku." Karena Kalan hampir gila saat ia tak dapat menemukan Gadis yang selama tiga hari ini bersembunyi darinya. Ia bahkan sampai rela bolak balik Jakarta - Paris hanya untuk bisa menemukan Gadis dan membawanya pulang kembali.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu pergi lagi dari aku."


"Apa kamu lelah?" Tanya Gadis kemudian yang membuat Kalan menggeleng seketika. Kalan tak akan pernah lelah jika itu menyangkut tentang Gadis, meski ia harus mencari Gadis sampai berkeliling dunia sekalipun. "Itu hukuman buat kamu"


"Hmm ..." Kepala lelaki itu mengangguk. "Kamu boleh menghukum aku sepuas yang kamu mau. Tapi tolong, jangan pernah lagi pergi dari aku." Lalu, Kalan mencium tangan Gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Maafkan aku, dan menikahlah denganku?"

__ADS_1


"Aku ..." Gadis itu menunduk, tak ingin menatap Kalan berlama-lama. "Aku sudah memaafkan kamu. Dan aku ..." Ada jeda di sela kalimatnya. "Aku mau menikah denganmu, aku mau menjadi istri kamu."


"Sungguh?...." Kalan pun tersenyum. "Aku tidak salah dengar kan?"


Kepala mungil itu menggeleng. "Iya, aku menjadi istri kamu."


"Terimakasih ... Terimakasih, sayang."


Lantas, Gadis hanya bisa menutup matanya rapat-rapat saat Kalan tiba-tiba saja menyatukan bibir mereka. Menciumnya lembut dengan segenap perasaan damba. Gadis yang tadinya diam pun pada akhirnya membalas ciuman Kalan yang begitu terasa lembut di bibirnya. Tidak apa-apa jika Kalan terus memangut dan melesakan lidahnya di dalam sana. Tidak apa-apa jika Gadis membalas ciuman lelaki itu, tidak apa-apa juga jika Gadis kembali membuka hatinya untuk Kalan. Sungguh, ia tidak apa-apa.


Karena pada kenyataannya, Gadis memang sangat mencintai lelaki itu.


Lelaki yang sedari dulu sampai detik ini masih mengusai hatinya. Lelaki itu yang telah mengajarinya dalam banyak hal. Karena lelaki itu pula, akhirnya Gadis mengakui dirinya sebagai pemenang.


Karena Cinta Abadi-nya pada Kalan lah yang menjadikan ia sebagai pemenang yang sesungguhnya.


Ya, Pemenang, karena kesabaran Gadis lah yang membuat Kalan akhirnya menyerah dan kalah.


Kalan berjanji, ia akan mencintai Gadis selamanya. Pun dengan Gadis, ia juga berjanji akan mencintai dan menemani Kalan selamanya. Dan pada malam ini, mereka ukir Cinta Abadi itu didalam hatinya masing-masing. Mereka berdua berjanji akan menjadi pasangan yang saling mencintai sampai nanti menua bersama, bahkan sampai maut memisahkan.


Cinta Abadi ~ ETERNAL LOVE.


TAMAT ...


...****************...


Alhamdulillah ...


Akhirnya sampai juga kita di penghujung ceritanya Kalan & Gadis.


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam cerita ini ..🙏


Tak lupa ucapan terima kasih aku untuk kalian yang sudah mampir membaca, memberi dukungan dari awal hingga akhir, menjadikan cerita ini sebagai cerita favorit kalian ...


Sekali lagi terima kasih ...


Jangan lupa untuk mampir baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa juga untuk,


Follow IG aku ya?


@hakimparida


Next cerita aku selanjutnya ...


"AKUPUN MENYERAH"


Terima kasih, semoga sehat selalu ...

__ADS_1


Salam dari aku, Kalan dan Gadis ...


lopyuall ...❤❤


__ADS_2