
"Bima ...?" Seru Retha saat asisten sekaligus orang kepercayaan Kalan itu sedang menunggu Retha di parkiran.
Bima menunduk hormat. "Silahkan Nona Retha." ujar Bima sembari membukakan pintu mobilnya.
"Kalan mana?" Tanya Retha saat ia sudah berhasil duduk di sebelah lelaki itu.
"Maaf sebelumnya, saya di perintahkan Pak Kalan untuk mengantarkan anda pulang, karena beliau ada kepentingan mendadak."
Retha mengernyit, menatap jam tangannya yang baru menunjukkan pukul dua belas malam. Ia kembali menatap Bima seolah meminta penjelasan.
Tengah malam seperti ini? memangnya ada kepentingan apa sampai Kalan harus pergi di tengah malam seperti ini?
"Tadi Bapak Kalan mendapat telepon mendadak yang mengabarkan kalau Ibu Yasika sakit, Nona." Bukan Bima namanya kalau ia tidak bisa membuat Retha percaya. Meskipun sebenarnya, ia sendiri juga takut jika nanti sampai ketahuan oleh Retha kalau Bima telah membohonginya. Tapi masa bodoh dengan semua itu. Yang terpenting sekarang adalah, Bima bisa menyelesaikan tugas yang di berikan oleh atasannya itu dengan baik.
Bima pun bisa bernapas lega saat Retha tidak lagi banyak bertanya tentang atasannya itu. Bima juga sempat kesulitan saat Retha meminta untuk mengantarkannya kerumah Kalan malam ini juga, Retha sangat cemas ketika mendengar kabar tentang calon Ibu mertuanya yang jatuh sakit. Sebagai calon menantu yang baik, tentu Retha ingin segera melihat keadaan calon Ibu mertuanya itu sekarang. Beruntungnya, Bima bisa kembali membuat Retha percaya dan tidak merengek lagi ingin pergi menemui Kalan.
Setelah selesai dengan tugas yang di berikan Kalan padanya. Bima pun segera pulang dengan membawa kendaraan milik Kalan itu ke apartemennya sendiri. Tak lupa, Bima juga sudah memberi kabar kepada Kalan kalau ia sudah mengantarkan Retha sampai ke dalam rumahnya dengan selamat.
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama, Pak." Ujar Bima di seberang sana.
Setelahnya,
Kalan yang masih berada di jalanan pun sesekali melihat ke arah Gadis yang sepertinya sudah tertidur. Ia melihat wajah Gadis yang sedikit pucat, dan terlihat sangat lemas. Kalan memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing saat ia melihat Gadis menangis di tengah-tengah celotehannya. Ya, Gadis terus merancau, mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin merasa bersalah.
Kalan menyadari satu hal saat mendengar kata-kata Gadis sewaktu menggendongnya saat hendak di bawa ke dalam mobil.
"Kalan ... Aku cantik kan?" Tanya Gadis dengan mata sayunya menatap lelaki itu.
"Dis ... kamu mabuk."
"Aku gak mabuk." Kilah Gadis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya anak kecil. "Aku cuma minum sedikit tadi." Lalu, memberikan gestur sedikit pada ibu jari dan telunjuknya.
"Aku cantik kan?" Tanya Gadis kembali sambil terkekeh. "Aku gak jelek kan?"
Gadis menyerukan wajahnya di perpotongan leher Kalan, menghirup wangi maskulin dari tubuh lelaki itu yang selalu membuat Gadis menyukainya.
"Aku tuh wanita paling bodoh di dunia ini." rancau gadis itu sembari terkekeh sebelum kemudian ia mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan mereka.
"Kamu gak bodoh."
Gadis terkikik geli. "Masa?"
"Hmm ..." Kesal Kalan karena gadis itu tidak berhenti mengoceh.
"Ziyana memang benar, aku perempuan yang sangat bodoh dan gak punya harga diri. Aku selalu mempermalukan diri aku sendiri hanya demi kamu. Kamu tahu?" Rancau Gadis sambil menatapnya dengan mata menyipit. "Aku kira kamu akan luluh dan jatuh cinta sama aku. Tapi nyatanya enggak. Sedikitpun kamu gak pernah melihat aku. Apa sebegitu buruknya aku di mata kamu?" Kalan sedikit tertohok mendengar penuturan Gadis. Kalan lantas terdiam, memandangi Gadis dalam diam.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa jatuh cinta sama aku?"
"Dis ... kamu semakin ngaco."
Setelah itu, selama dalam perjalanan menuju ke parkiran Kalan tidak lagi menghiraukan gadis itu. Ia tetap bungkam meskipun Gadis terus saja bertanya sesuatu yang membuat hatinya berdenyut nyeri.
Sebegitu terlukanya kamu gara-gara aku, Dis?
__ADS_1
******
Tiba di basement gedung apartemen, Kalan memarkirkan mobilnya disana. Ia keluar dari dalam mobil lalu segera membuka pintu penumpang untuk kembali membawa Gadis dalam gendongannya.
Dengan susah payah Kalan membawa Gadis dalam gendongannya agar segera sampai menuju unit apartemennya. Meskipun kurus, tapi ternyata tubuhnya itu berat.
Begitu tiba di depan unit Gadis, lelaki itu bingung karena tidak mengetahui passcode apartemennya. Kalan berusaha membangunkan Gadis dan menyuruhnya untuk menekan beberapa digit angka di panel pintu itu, tapi Gadis tidak menghiraukannya. Ia malah kembali merancau semakin tidak jelas. Dengan terpaksa Kalan pun membawa Gadis ke dalam unit miliknya.
"Dis ... kamu mabuk, aku buatin teh panas dulu." Kata Kalan saat ia telah berhasil duduk di atas sofa dengan Gadis yang masih berada dalam pangkuaannya.
"Aku gak mabuk, Kalan."
"Jangan ngeyel, jelas-jelas kamu tuh mabuk."
Gadis tertawa kecil, lalu menatap Kalan dalam dengan jarak wajah mereka yang saling berdekatan.
"Gadis ...!" Kalan selalu merasa gerah setiap kali Gadis menatapnya seperti itu.
"Kamu itu tampan ___?" Kalimatnya terpotong oleh cegukan. "Tapi sayangnya, kamu terlalu dingin dan galak." Kemudian ia terkikik geli. "Sama Retha kamu bisa tersenyum, tapi sama aku kenapa enggak? padahal jelas-jelas aku lah orang pertama yang mengenal kamu. Tapi kamu gak pernah bersikap baik sama aku, Kalan."
Seolah ini adalah waktu yang tepat untuk meluapkan semua kekesalannya terhadap Kalan, Gadis pun dengan setengah kesadaran yang di milikinya akan mengeluarkan semua isi hatinya sekarang.
"Aku memang tidak cantik dan seksi seperti Retha. Apa karna itu, kamu gak menyukai aku?"
"Dis ..." Kalan menutup matanya rapat-rapat. "Lebih baik kamu tidur sekarang."
"Enam tahun." Ujarnya lirih. "Selama enam tahun aku mencoba untuk melupakan kamu. Melupakan semua kenangan kita, melupakan orang-orang yang pernah baik sama aku." Gadis itu menunduk. "Meskipun sulit, tapi aku tetap berusaha untuk menghapus rasa cinta aku sama kamu, hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang laki-laki yang benar-benar tulus mencintai aku. Menerima aku, dan begitu menghargai aku." Gadis mengangkat wajahnya dan menatap Kalan kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku berharap dengan hadirnya Bian di hidup aku, aku bisa melupakanmu. Dan itu berhasil, sedikit demi sedikit perasaan itu hilang."
"Tapi setelah kita berdua kembali bertemu, entah kenapa aku kembali menjadi orang bodoh itu lagi." lirih Gadis semakin menyembunyikan wajahnya di atas bahu Kalan. "Perasaan itu datang lagi. Rasa yang sudah aku kubur dalam-dalam itu muncul lagi. Aku bodoh. Aku bodoh, Kalan." Gadis itu terisak. "Aku kembali mencintai kamu."
Sementara itu, Kalan yang masih terkejut berusaha untuk tetap tenang. Ia tepuk dan usap punggung Gadis dengan lembut. "Apa yang kamu katakan, Dis.?" Meskipun sebenarnya Kalan sendiri bingung dengan perasaannya sendiri akhir-akhir ini. Tidak memungkiri, selama enam tahun gadis itu menghilang, Kalan merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Entah itu apa, yang jelas, jika suatu hari nanti mereka bertemu kembali, Kalan berjanji tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi.
"Aku mencintai kamu. Aku masih mencintai kamu, Kalan."
Ya Tuhan ... Kalan kembali menutup matanya rapat-rapat, entah perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Mendengar kata cinta itu terlontar kembali, membuat hatinya berdesir hangat. Kalan sendiri bingung harus merespon seperti apa, Gadis sedang mabuk sekarang, dan sepertinya minuman memabukkan itu mulai mempengaruhinya sekarang.
Kalan tidak sepenuhnya yakin dan percaya dengan apa yang di katakan oleh orang yang sedang mabuk, sama seperti Gadis sekarang.
"Dis ..."
Gadis lantas menarik kepalanya dari bahu Kalan. Sedikit mendongak untuk mempertemukan pandangan mereka. Untuk sesaat mata mereka bertemu, saling mengunci dengan pandangannya masing-masing.
"Maaf ..." Kembali Gadis berujar lirih sembari menyentuh sebelah wajah Kalan dengan telapak tangan kirinya. "Gak seharusnya aku bilang itu sama kamu." Ia pun tertawa kecil. "Sebentar lagi kamu sama Retha bakalan tunangan, dan kalian berdua akan segera menikah." Gadis kembali menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya anak kecil. Entah kenapa saat melontarkan kalimat itu ada perasaan sakit yang tiba-tiba saja menyerang sebagian hatinya.
"Dis ... ini sudah terlalu malam, aku akan membuatkan mu teh panas dulu, setelah itu sebaiknya kamu tidur." Kalan mengalihkan pandangannya saat Gadis menatapnya sayu seperti itu. "Jangan banyak bicara, istirahat lah sekarang."
"Aku akan kembali ke Paris."
Seketika Kalan kembali mempertemukan pandangan mereka.
"Setelah enam bulan, aku akan pulang dan menetap selamanya disana." Gadis menurunkan pandangan matanya, ia tidak ingin jika sampai Kalan melihat air bening itu menetes. "Semoga saat kamu menikah nanti, aku masih berada disini."
Hening, itulah suasana yang terjadi pada malam ini. Kalan bungkam, pun dengan Gadis yang mencoba untuk tidak menangis di hadapannya. Meskipun dalam keadaan mabuk seperti ini, tapi Gadis sadar dengan apa yang dia katakan sejak tadi. Perasaan lega itu datang ketika ia bisa mengeluarkan semua isi hatinya kepada Kalan.
__ADS_1
"Setelah aku kembali ke Paris, mungkin kita tidak akan pernah bertemu kembali."
"Jangan banyak bicara." Mendadak perasaan Kalan tidak menentu. Ada rasa tidak suka saat Gadis mengatakan hal itu.
"Aku harap kamu bahagia bersama Retha disini."
"Gadis ...!" Kalan menutup matanya rapat-rapat saat ia merasakan telapak tangan halus gadis itu membelai sisi wajahnya dengan lembut.
"Terkadang aku iri sama dia." Gadis menyentuh seluruh permukaan wajah tampan lelaki itu. "Tapi aku juga akan bahagia, kan?" Tanpa terasa air bening itu jatuh juga melewati pipinya.
"Aku bilang jangan banyak bicara."
"Apa aku berhak bahagia?" Tanya Gadis yang membuat Kalan mengusap cairan itu dari pipi mulusnya.
"Hem ... kamu berhak mendapatkan bahagia itu, Dis."
Gadis tersenyum sembari menyeka air matanya. "Kamu benar, aku juga berhak bahagia. Aku akan menikah dengan Bian dan mempunyai anak yang banyak. Aku akan mengurus Bian dan anak-anak nantinya dengan penuh kasih sayang." Cerocos Gadis dengan buliran air mata yang terus berjatuhan keluar dari mata bulatnya. Kalan pun diam, dan keterdiamannya itu seolah mengatakan jika ia sendiri tidak rela melihat Gadis menjadi milik orang lain.
"Maafin aku, Dis." Kalan menghapus cairan bening di pipi Gadis dengan kedua ibu jarinya. "Maaf karena terlalu sering melukai kamu."
Ya, karena Kalan sering memberi luka kepada gadis itu.
Gadis tersenyum, "Bukan salah kamu."
Lalu, Kalan menatapnya penuh penyesalan. Mereka berdua kini saling memandang dengan tatapannya masing-masing sebelum kemudian Kalan menyadari kalau ternyata Gadis memang sangat cantik. Dulu, Kalan tidak pernah memperhatikan wajah Gadis, tidak pernah juga memandang Gadis sampai sedalam ini. Seolah cinta telah membutakannya, maka yang terlihat oleh lelaki itu hanyalah Retha. Cuma Retha seorang. Tidak Gadis, tidak juga dengan gadis-gadis lainnya.
Kalan kembali menutup kedua matanya saat telapak tangan halus itu mulai menyentuh setiap lekuk wajahnya. Entah kenapa Kalan pun tidak bisa menolak saat Gadis menyentuhnya. Setiap sentuhan yang gadis itu berikan mampu membuatnya tenggelam bersama di dalamnya. Apalagi di saat tangan itu mulai menyentuh bibirnya.
"Dis ...!" Kalan takut tidak bisa mengendalikan dirinya.
Lantas, ia pun membuka mata dan mendapati Gadis sedang menatapnya dengan sayu.
Ya Tuhan ...
Seolah tatapan itu menjadi kelemahannya, Kalan tidak bisa lagi menahan untuk tidak membuat mata sayu itu terpejam.
Ya, kedua mata itu kini saling terpejam saat kedua belah bibir itu menyatu. Kalan yang memulainya, memangut bibir Gadis dengan segala kesadarannya dan begitu lembut.
...*******...
Eng ... ing ... eng ...
Bersambung ...
Aku potong dulu pas bagian yang manis-manisnya ... hihihi
Kelanjutannya di terusin di episode berikutnya yess ...
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen, vote dan simpan sebagai favorit ya?
Makasih semua, sehat selalu ...
Salam dari eike, Kalan dan juga Gadis ...
Siyu ... ❤❤❤
__ADS_1