
"Loh ... sayang, kenapa kamu sama Sinta? dimana Kalan?"
Tanya Desi sedikit terkejut saat ia melihat di dalam apartemen itu hanya ada Retha dan Sinta. Desi berpura-pura mencari sosok Kalan, ia yakin kalau sekarang laki-laki itu pasti ada di dalam kamarnya Retha. Kalan pasti sedang beristirahat disana.
"Ma, kapan Mama datang?" Retha malah balik bertanya, membuat Desi penasaran saja di buatnya.
"Jam enam pagi-pagi tadi Mama sudah sampai. Mama langsung kesini, karena Mama khawatir sama keadaan kamu." Padahal, selain karena cemas dengan keadaan Retha, ada hal lain yang membuat Desi buru-buru menemui putrinya itu. Ia ingin tahu apakah rencananya itu berhasil atau tidak.
Rencana yang akan membuat Kalan segera menikahi putrinya itu.
"Aku udah baikan kok, Ma." Jawabnya sembari tersenyum.
"Syukurlah." Desi bernapas lega. "Lalu, dimana Kalan?"
"Kalan gak ada disini."
"Hah?" Seru Desi sedikit terkejut. "Apa dia sudah pergi? Semalam dia menginap disini kan?"
Kepala Retha menggeleng. "Nggak."
"Maksud kamu? Bukannya Mama udah menyuruh Kalan untuk menemani kamu disini?" Entahlah, kenapa Desi merasa kalau rencananya kali ini kembali gagal. Lalu, bagaimana dengan minuman pemberiannya itu?
"Kalan memang sempat datang kesini, Ma. Tapi ... dia pergi setelah mendapat telepon dari seseorang." Jelas Retha yang seketika membuat Mamanya itu merengut kesal.
"Kenapa kamu gak larang? seharusnya Kalan itu menemani kamu, bukan malah pergi. Kamu kan tunangannya." ujar Desi kesal. "Lalu ... minuman yang Mama berikan, dimana?"
"Aku udah kasih sama Kalan kok, Ma."
"A -apa?" Matanya membola sempurna. "Kamu kasih dia?"
"Ya." Jawab Retha bersama dengan kepalanya yang mengangguk. "Aku juga udah suruh Kalan untuk meminumnya, kok."
"Kenapa kamu kasih dia sih?" Sungutnya kesal yang membuat Retha menautkan kedua alisnya tinggi-tinggi.
Ada apa dengan Mamanya?
__ADS_1
Retha menatap sang Mama penuh curiga.
"Bukannya Mama yang suruh aku untuk kasih minuman itu sama Kalan?"
"Ya kalo dia nginap disini, Retha." Sungutnya kesal sembari mendesah jengkel. Susah payah ia merencanakan semua ini untuk membuat Kalan segera menikahi putrinya itu. Karena menurut Desi, hanya dengan cara seperti inilah ia bisa mendesak Kalan untuk bertanggung jawab serta mau menikahi Retha secepatnya. Syukur-syukur kalau Retha sampai hamil nantinya, sudah pasti Kalan akan mempercepat pernikahan mereka.
Tapi, bukan itu yang Desi pikiran saat ini. Melainkan minuman yang khusus ia buat sendiri untuk Kalan. Apakah Kalan meminumnya? Desi sangat berharap jika Kalan memang tak meminum minuman itu, kalau pun sampai Kalan meminumnya, lalu pada siapa lelaki itu menyalurkan hasratnya? Karena obat perangsang yang ia masukan kedalam minuman itu pasti akan bereaksi dengan cepat.
Desi pun meringis, membayangkan jika Kalan sampai meniduri wanita lain di luaran sana. Tak hanya itu, ia pun takut jika sampai Kalan merudapaksa seseorang.
Ya ampun ... membayangkan itu benar-benar membuatnya bergidik ngeri. Apa yang akan terjadi jika sampai Kalan di penjara? selain karier putrinya yang akan hancur, nama baiknya pun juga akan ikut tercemar. Apa kata teman-teman sosialitanya nanti? Oh ... tidak.
Astaga! Desi tak ingin itu terjadi.
******
Sementara di tempat yang berbeda,
Kalan hanya diam tak memiliki semangat bekerja seperti biasanya. Lelaki itu lebih memilih untuk memandangi berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya di banding dengan memeriksa laporan mengenai perusahaannya itu. Serumit apapun masalah yang ia hadapi, selelah apapun Kalan, dan sebanyak apapun pekerjaannya, ia tidak akan bersikap seperti ini. Kalan akan bertanggung jawab, apalagi jika itu menyangkut pekerjaan dan perusahaannya.
Ya, Gadis. Mengingat nama itu membuat dadanya sakit seperti diremas kuat-kuat. Bayangan wajah Gadis yang menangis, serta tatapannya yang penuh kebencian membuat Kalan serasa ingin menenggelamkan dirinya saja. Kalan tak tahu kenapa ia bisa menyetubuhi gadis itu. Seingatnya, waktu itu Kalan hanya meminum minuman haram itu beberapa gelas saja, tapi kenapa ia bisa merasa bergairah? Hasratnya pada malam itu benar-benar tinggi. Dan Kalan pun ingin segera melampiaskannya saat itu juga.
Ini aneh. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tapi apa?
Kalan memijit pangkal hidungnya yang terasa berat. Pikirannya sedang berkecamuk saat ini. Apalagi dengan sesuatu yang membuat Kalan penasaran.
Bercak merah seperti darah yang ia lihat waktu itu.
Apa itu artinya Gadis masih perawan? Bagaimana bisa, bukannya Gadis sudah menikah?
Mengingat itu tentu membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri. Apalagi ketika Gadis hanya diam saja saat Kalan menanyakan hal itu secara langsung. Kalan mengerti, mungkin saat itu Gadis masih marah. Akhirnya ia pun menyerah dan memilih untuk pergi meskipun saat itu Kalan ingin sekali menemaninya. Berapa banyak kata maaf yang Kalan ucapkan pada Gadis, rasanya itu percuma. Kata maaf itu tak akan bisa mengembalikan keadaan menjadi seperti semula. Kata Maaf itupun tak akan mampu menyembuhkan luka dalam waktu sekejap. Kalan siap jika ia harus menerima hukuman. Apapun akan Kalan terima, sekalipun Gadis ingin menghukumnya secara langsung.
Kalan tahu, apa yang sudah terjadi tak akan bisa membuatnya kembali seperti semula. Tapi ijinkanlah ia untuk menebus semua kesalahannya pada Gadis. Kalan akan bertanggung jawab, sekalipun ia harus kembali mengingkari janjinya pada seseorang.
Karena bagi Kalan, sekarang Gadis adalah prioritas utamanya.
__ADS_1
"Pak ... Apakah saya boleh masuk?" Tanya Bima di ujung sana.
"Masuklah."
Bima pun masuk dan menutup pintu di depannya itu rapat-rapat. Perlahan ia menghampiri Kalan yang masih berdiri di depan jendela sambil menatap langit cerah di luar sana. Meskipun dengan perasaan kosong.
"Saya sudah menjalankan perintah dari Pak Kalan, dan ini laporan yang Bapak minta." Bima menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat itu kehadapannya.
Kalan mengambil amplop besar itu dari tangan Bima, lalu dengan segera membukanya, rasanya sudah tak sabar. Kalan ingin tahu apa yang ada di dalam amplop berwarna coklat itu.
Begitu ia melihat apa yang ada di dalam amplop tersebut, Kalan menatap Bima dan sebuah kertas yang ada di tangannya itu secara bergantian.
"Apa maksudnya?" Sungguh, ia ingin mendengarnya secara langsung.
"Seperti yang Pak Kalan lihat."
"Jadi ...?" Ia jeda kalimatnya seraya mengusap wajahnya kasar. "Jadi selama ini Gadis sudah menjadi seorang janda?"
"Iya, Pak." Jawab Bima bersama kepalanya yang mengangguk. "Suami Nona Gadis meninggal setelah dua jam mereka resmi menikah." Jelas Bima kembali yang membuat Kalan membeku di tempatnya. "Menurut informasi yang saya terima, suami Nona Gadis meninggal karena penyakit yang di deritanya selama hidup."
Bahu Kalan merosot lemah, antara percaya dan tidak percaya. Selama ini Kalan matian-matian tak ingin mendengar apapun lagi tentang kehidupan Gadis. Apalagi setelah Gadis menikah. Bahkan saat itu hanyalah kebencian yang ia rasakan. Yang Kalan tahu, Gadis lah yang telah mengkhianatinya, Gadis lah yang telah menumbuhkan kebencian dihatinya.
Tapi setelah mendengar kenyataan itu, tentu ia kembali merasa bersalah. Dan entah kenapa rasa bersalah itu semakin menggunung.
Ya Tuhan ... jerit lelaki itu dalam hati.
Kenapa Kalan tidak tahu? kenapa Kalan harus tahu sekarang disaat ia telah menghancurkan kehidupan Gadis. Kalan benar-benar menjadi manusia paling jahat. Dan sekarang semuanya telah terjawab, bercak merah seperti darah itu menandakan kalau ternyata Gadis masih perawan.
Dan Kalan lah yang telah merenggutnya. Kalan pula lah orang pertama yang telah menyentuhnya.
Arrgghhh .... Bangsat.!
Kalan menutup matanya rapat-rapat sembari meremas kertas itu sampai tak berbentuk lagi. Kalan berjanji, ia akan menebus semua kesalahannya itu pada Gadis. Dengan cara apapun.
Selain karena rasa bersalah, rasa cinta yang begitu besar pulalah yang membuat Kalan akan mempertanggung jawabkan semua kesalahannya pada Gadis.
__ADS_1
...****************...