ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Empatpuluhdua


__ADS_3

"Batalkan kerja sama kita dengan perusahaan Sinarmas Land sekarang juga."


"Tapi, Pak ..."


"Kamu tidak usah membantah, turuti perintah saya, Bima."


Kalan mulai meradang sejak pertemuannya bersama Gadis kembali terjadi. Ia tak pernah mengira jika gadis yang begitu di bencinya kini datang kembali. Selama dua tahun Kalan berusaha untuk bisa melupakannya, dan itu telah berhasil meskipun terasa sangat sulit. Sedikit demi sedikit ia mulai melupakan sosok Gadis dari ingatannya. Apalagi setelah Retha datang, gadis itulah yang membantu dan menemani Kalan disaat ia sedang berada dalam keterpurukan selama dua tahun lamanya. Dan Retha pula lah yang telah berhasil meluluhkan hatinya kembali.


Kalan mencoba membuka hatinya kembali untuk Retha.


Semenjak kejadian dua tahun yang lalu, Kalan tersiksa. Setiap hari ia harus hidup di bawah bayang-bayang Gadis. Dan itu benar-benar membuatnya muak. Kalan selalu menyibukkan dirinya dengan bekerja, kadang lelaki itu pun melakukan lembur, jarang pulang ke rumah ataupun apartemen. Kalan hanya akan sibuk sendiri dan terkadang sampai tidur di kantor. Semua itu ia lakukan agar bisa melupakan Gadis secepatnya, tapi sayangnya semua itu tak berhasil.


Hingga kemudian, Kalan yang jarang pergi ke tempat hiburan malam pun pada akhirnya tempat itulah yang menjadi tempat favoritnya pada saat itu. Lelaki itu lebih sering menghabiskan waktunya berada disana, mabuk-mabukkan dan tak jarang pula membuat kekacauan. Beruntung lah pemilik tempat hiburan malam itu adalah Ruben Arganta, temannya Kalan sendiri, hingga sang pemilik tempat pun menugaskan beberapa anak buahnya untuk tetap mengawasi dan menjaga Kalan.


Tidak hanya Ruben yang selalu di buat geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kalan yang tak seperti biasanya. Tapi ada Kai dan juga Yasika. Beruntungnya kedua orangtuanya itu memiliki tingkat kesabaran yang lebih, dan mereka berdualah yang membuat Kalan akhirnya kembali sadar. Selain mereka, ada juga Retha yang selalu menemaninya selama ini. Retha tak pernah menyerah meskipun Kalan sudah melarangnya. Hingga akhirnya, Kalan pun luluh saat melihat kesabaran Retha dalam menemaninya selama ini.


Retha berhati baik meskipun dulu Kalan sudah membuatnya terluka.


Dan beberapa bulan yang lalu, Kalan memutuskan untuk menjadikan Retha sebagai tunangannya. Tentu saja hal itu membuat Retha bahkan Desiani sangat bahagia, meskipun awalnya sempat meragukan Kalan. Tetapi, melihat putrinya itu memelas meminta restu akhirnya Desi pun setuju. Dengan syarat, Kalan harus berjanji tak akan menyakiti Retha kembali. Kalan pun setuju, meski sebenarnya ia belum bisa mencintai Retha sepenuhnya. Kalan sangat merasa bersalah karena telah menjadikan Retha sebagai tempat pelariannya saja. Kalan memang sengaja bertunangan dengan Retha, berharap agar ia bisa melupakan Gadis secepatnya.


Bukankah dengan cara seperti itu Kalan akan kembali menyakiti Retha?


"Pak ... apa sebaiknya, Pak Kalan pikirkan lagi?"


"Kamu jangan ngatur saya, Bima." Bisa Bima lihat bagaimana sikap Kalan yang berubah menjadi semenakutkan ini sewaktu masih berada di dalam ruang meeting. Dan ia yakin, jika perubahan sikap Kalan itu terjadi karena ada Gadis. Karena Gadis datang disaat lelaki itu sudah mulai menemukan ketenangan, dan Gadis kembali disaat Kalan sudah mulai melupakannya.


"Perusahaan kita akan mengalami kerugian besar jika kita tidak bekerja sama lagi dengan perusahaan Sinarmas Land, Pak."


"Persetan dengan itu semua." Seketika Bima menciut dan meringis saat Kalan menggebrak mejanya itu dengan sangat keras. Bima pun mengerti apa yang membuat sikap Kalan berubah kembali menjadi seperti ini. Dan sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah pekerjaan bersama Kalan.


"Baiklah, Pak. Tapi menurut saya, sebaiknya Pak Kalan pikirkan kembali. Saya akan meninggalkan Pak Kalan dan memberi waktu agar Pak Kalan bisa beristirahat dan berpikir dengan tenang."

__ADS_1


Kalan yang mendengar pun hanya bisa mengusap wajahnya gusar, ia menatap Bima sambil mendengus kesal. Bima memang sosok laki-laki pekerja keras dan bisa mengendalikan keadaan di situasi rumit sekali pun.


Sebelum Bima benar-benar keluar dari dalam ruangan itu, ia kembali menoleh ke belakang seraya berkata.


"Jangan menghancurkan sesuatu yang sudah kita bangun hanya karena urusan pribadi. Bukannya Pak Kalan sendiri yang mengatakan itu pada saya? Jadi ... bersikaplah profesional."


Setelah itu, Bima pun keluar dengan dada yang berdebar kencang. Sebenarnya ia sendiri pun takut saat mengatakan kalimat itu di saat Kalan sedang dalam keadaan marah. Bima sudah mengenal sosok Kalan dengan baik. Lelaki keras kepala dan tak mudah merubah suatu keputusan yang telah dibuat. Maka dari itu, Bima harus bersiap diri jika dalam waktu beberapa jam ke depan, Kalan mungkin saja akan memecatnya karena di anggap sudah sangat lancang.


Berbeda dengan Bima yang sedang was-was di luar sana, Kalan justru sedang berdiri menatap keluar jendela dari dalam ruangannya. Lelaki itu sedang menyesap rokok yang entah sudah berapa banyak ia habiskan dalam waktu yang sangat singkat.


Kalan benar-benar pusing, pikirannya sekarang bukan hanya pada pekerjaan saja. Tapi ada hal lain yang membuatnya ingin mengamuk dan membanting semua barang yang ada di hadapannya sekarang juga.


"Gadis ... sialan.!"


Kedua tangannya mengepal erat bersama dengan rahangnya yang mengeras. Ia benar-benar benci berada dalam situasi seperti ini.


"Kenapa kamu kembali, berengsek!"


Kalan kembali mengusap wajahnya kasar seraya melonggarkan tali dasinya sedikit, ia ingat saat pertemuannya tadi di ruang meeting berlangsung. Kalan yang sebenarnya enggan menatap Gadis, maka pada saat itu ia terpaksa melihat ke arahnya saat Gadis sedang berpersentasi di depannya. Meskipun setelah itu ia kembali membuang pandangannya.


Melihat wajah Gadis secara terus menerus membuatnya semakin kesal.


Gadis masih sama seperti Gadis yang dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun dari wajahnya, Gadis masih terlihat cantik meskipun kini tubuh gadis itu terlihat sedikit lebih kurus di bandingkan dulu.


Apa wanita itu sudah bahagia dengan pernikahannya?


Mengingat itu membuat Kalan kembali meradang, ia kesal, benci, bahkan muak saat tahu kalau Gadis sudah menikah dan menjadi milik orang lain.


Munafik.!


Maka, di saat Gadis masih berpersentasi di depan, di saat itu pula Kalan menghentikan kegiatannya itu. Ia menolak dengan keras semua persentasi Gadis di hadapan semua orang. Bahkan tanpa di duga sebelumnya, Kalan pun dengan lantang mengatakan pembatalan kerja sama antara perusahaan miliknya dengan perusahaan Gadis. Membuat semua orang menganga tak percaya, tak terkecuali dengan Gadis sendiri.

__ADS_1


Semua para peserta meeting pun saling melempar tatapan penuh tanya, mereka sangat terkejut dengan keputusan Kalan yang menurutnya sangat mendadak dan tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa mereka membatalkan kerja sama setelah kedua belah pihak dari kedua perusahaan itu sudah saling menandatangani? apa yang membuat seorang Kalan membatalkan kerja samanya bersama perusahaan besar seperti Sinarmas Land itu? padahal, ada banyak perusahaan besar lainnya yang sangat menginginkan bisa bekerja sama dengan perusahaan besar milik Ricard Calvin itu.


Merasa suasana di dalam ruangan itu sudah mulai memanas, Kalan pun meminta Bima untuk menutup meeting kali ini, dan akan mereka lanjutkan besok.


Kalan yang akan keluar dari ruangan, seketika berhenti tepat di depan Gadis yang masih berdiri di depan sana. Tanpa menoleh, ia mengatakan sesuatu yang membuat Gadis sedikit kecewa.


"Maaf, saya tidak tertarik lagi bekerja sama dengan perusahaan anda, Nona Pradisa."


Setelahnya, ia pun pergi melewati Gadis begitu saja.


Sementara Gadis, ia menarik napas dalam sembari menutup matanya sekilas. Ada rasa tak biasa yang ia rasakan saat Kalan memanggilnya dengan nama Pradisa dengan penuh kebencian. Nama belakang sang suami yang sudah lama tiada, Abian Pradisa.


"Bu ... bagaimana ini?" Tanya Risa sedikit cemas saat ia sudah berdiri di samping Gadis.


"Kenapa Pak Kalan tiba-tiba saja membatalkan kerja samanya?" Kali ini Daniel yang ikut bertanya.


Mereka berdua tahu betul seperti apa Ricard Calvin, sang pemilik perusahaan yang begitu bangga bisa bekerja sama dengan perusahaan besar milik Kalan itu. Ini adalah kerja sama pertamanya bersama Kalan. Ricard begitu kagum pada sosok Kalan yang pintar dan selalu mempunyai ide cemerlang untuk mengembangkan perusahaan agar menjadi lebih besar.


Bukan hanya itu saja, bahkan rencana pembangunan hotel terbaru yang berada di Bali pun sudah rampung di kerjakan.


Lalu, bagaimana bisa Kalan membatalkannya begitu saja?


Gadis menutup matanya sambil menarik napas. Kemudian, ia menatap Risa dan Daniel secara bergantian.


"Kalian tenang saja. Biar ini menjadi urusan saya." Gadis itu tersenyum tipis. "Saya pastikan ... Pak Kalan tidak akan membatalkan kerja samanya."


Ya, Gadis memutuskan untuk berbicara secara langsung bersama Kalan. Ia harus bisa membuat Kalan menarik kembali pembatalan kerja sama itu. Meskipun Gadis sendiri merasa tidak yakin, karena ia tahu alasan kenapa Kalan membatalkan kerja sama itu adalah karenanya.


Tapi, demi sang Paman dan nama perusahaan, apapun akan Gadis lalukan. Ia tak akan menyerah dan akan berusaha agar kerja sama di antara kedua perusahaan besar itu tetap berjalan tanpa melibatkan urusan pribadi di dalamnya.


...******...

__ADS_1


__ADS_2