ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhtujuh


__ADS_3

Gadis menggeram gemas saat ocehan-ocehannya tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Kalan. Tidak ada rasa menyesal dan bersalah sedikitpun yang Kalan tunjukkan saat ini. Lelaki itu malah terlihat lebih santai, bahkan disaat Gadis sedang marah pun Kalan hanya menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman. Pun dengan Bima yang masih berdiri di samping Kalan yang sesekali melempar senyum tipis padanya.


Ada apa dengan mereka berdua? Apa semua ocehan Gadis mereka anggap lucu?


Ck, menyebalkan.


Kalan kembali tersenyum saat meminta Gadis untuk tetap tenang, ia pun menyuruh Gadis untuk duduk terlebih dahulu.


"Duduk, Dis.!"


Lagi, Gadis melihat senyuman Kalan yang sempat membuatnya kesal sekaligus terpesona di buatnya.


"Kenapa berdiri aja?"


Gadis terkesiap. Buru-buru ia menggeleng. "Nggak." Tolak Gadis masih dengan mode galaknya. "Aku gak punya banyak waktu."


Kalan mengerti, karena ia dan Gadis adalah orang-orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan. Kalau bukan karena urusan yang mendesaknya untuk menemui Kalan, tentu Gadis tidak akan datang untuk menemuinya. Apalagi beberapa hari ini Gadis selalu menghindarinya. Gadis seperti ingin menjauh darinya. Meskipun begitu Kalan tetap tidak akan menyerah, ia akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan hati Gadis kembali.


Setelah Bima membawakan secangkir teh panas untuk Gadis, ia pun meminta izin kepada Kalan untuk keluar dari dalam ruangan tersebut. Tapi sebelum laki-laki itu benar-benar keluar, Bima kembali memutar badannya saat suara Kalan kembali terdengar.


"Iya, Pak."


"Jangan terima tamu siapapun. Karena saya tidak mau diganggu."


"Baik. Pak." Bima mengangguk, lalu keluar dari dalam ruangan itu sembari menutup pintunya rapat-rapat.


Setelah Bima keluar, kini di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Kalan dan Gadis duduk di kursi yang saling berhadapan. Meskipun sedikit risih karena mereka kembali hanya berdua, Gadis memilih untuk tidak melihat ke arah Kalan. Selain karena kesal, Gadis juga tidak ingin menatap wajah lelaki itu sekarang.


"Maafkan aku." Setelah sama-sama terdiam, akhirnya Kalan lah yang memecah keheningan di antara mereka berdua. "Maaf, gara-gara aku kamu jadi terjebak dalam situasi seperti ini."


Ya, karena Kalan lah yang membuatnya berada di dalam masalah besar seperti ini. Selain karena Bian yang memberinya kabar sedang sakit dan di rawat di rumah sakit, Gadis pun harus menghadapi sang Paman yang semalam langsung menghubunginya serta meminta penjelasan dengan kabar yang telah diterima nya. Beruntung, Pamannya itu mengerti setelah Gadis menceritakan semuanya. Ricard pun meminta Gadis untuk tetap tenang. Dan lelaki paruh baya itu pun berjanji, tidak akan memberi tahu siapapun masalah yang sedang terjadi antara Gadis dan juga Kalan, termasuk pada Bian sendiri.


Karena sang Paman yakin jika keponakannya itu akan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Dan Gadis pun sangat beruntung karena memiliki Paman sebaik Ricard Calvin.


Bukan hanya itu saja, sebelum Gadis memutuskan untuk menemui Kalan hari ini, ia sempat di kejutkan oleh kedatangan seorang wanita paruh baya yang datang ke perusahaannya dengan keadaan marah-marah dan membuat sedikit kekacauan disana.


Bukan hanya Gadis saja yang terkejut, pun dengan seluruh karyawan yang sama terkejutnya saat mendengar telah terjadi kekacauan di lantai dimana ruangan Gadis berada. Wanita itu sengaja mendatangi Gadis untuk mempermalukan dan membuat perhitungan dengan Gadis yang sudah menjadi penyebab batalnya rencana pertunangan putrinya itu dengan Kalan. Beruntungnya Gadis bisa menangani wanita yang bernama Desi itu, hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berbicara di dalam ruang kerjanya.


Meskipun di dalam ruangan itu, Gadis tanpa henti-hentinya mendapatkan makian serta cacian dari wanita yang bernama Desiani itu. Wanita itu terus menyalahkan Gadis, memaki, bahkan tak segan untuk mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat Gadis semakin terpojok.


"Gara-gara kamu, pertunangan putri saya dan Kalan jadi berantakan seperti ini."


"Kenapa kamu tega menghancurkan kebahagiaan putri saya, hum?"


"Memangnya tidak ada laki-laki lain selain Kalan yang bisa kamu kencani?"


"Wajah kamu memang cantik, tapi sayang kelakuan kamu sangat busuk."


"Seharusnya kamu tidak kembali kesini."


"Seharusnya kamu menghilang untuk selamanya."

__ADS_1


"Dasar wanita rendah dan murahan."


Gadis kembali menutup matanya rapat-rapat saat kalimat demi kalimat itu kembali berdengung di telinganya. Entah kesalahan apa yang pernah ia perbuat hingga harus mendapatkan perlakuan tidak pantas seperti ini.


Seharusnya Gadis menolak saat sang Paman memintanya untuk kembali ke Jakarta. Seharusnya Gadis menerima lamaran Bian agar ia dan Kalan tidak akan terjebak dalam situasi rumit seperti ini. Dan kalau boleh meminta, Gadis tidak ingin bertemu kembali dengan Kalan walaupun itu hanya dalam mimpi.


Melihat Gadis diam sambil menutup matanya rapat-rapat membuat Kalan pun menghampirinya. Lelaki itu duduk di samping Gadis sembari menyentuh bahunya.


Bukannya merasa tenang, justru kemarahan Gadis kembali lagi setelah Kalan mendekatinya.


"Dis ... "


"Jangan sentuh aku." Sentak Gadis sembari menepis tangan Kalan dari bahunya dengan kasar.


Sontak terkejut, Kalan pun menjauhkan tangannya. "Apa yang terjadi?" Tanya Kalan begitu penasaran saat melihat mata bening itu kini mulai memerah menahan tangis.


"Kamu tanya apa yang terjadi.?" Gadis berdecak kasar, menatap Kalan dengan napas menggebu. "Seharusnya aku gak datang ke Jakarta dan bertemu kamu lagi disini. Seharusnya kita berdua gak usah ketemu lagi, Kalan." Ia ingat semua kata-kata Desi yang membuatnya semakin terluka.


"Dis ..."


"Kamu sumber masalah yang membuat aku jadi wanita yang paling menjijikan." Tuding Gadis seketika. "Kamu yang membuat aku jadi wanita yang begitu rendah dimata orang lain." Karena itulah yang Desi dan orang lain katakan tentang dirinya saat ini.


Kalan bungkam dengan tubuh yang menegang. Ada yang tidak biasa dari Gadis, dan Kalan tahu itu. Tapi apa yang membuat gadis itu berubah menjadi marah seperti ini?


Apakah karena pengakuan cintanya kemarin di hadapan Bunda yang membuat Gadis marah besar seperti ini?


"Dis ..."


"Kamu bener-bener jahat Kalan, karena kamu aku kembali mendengar kata-kata menyakitkan. Dari dulu sampai sekarang kamu selalu nyakitin aku."


"Aku minta maaf."


"Berhenti bilang maaf, aku mau sekarang kamu berhenti untuk gangguin aku. Yang seharusnya disalahkan itu kamu, bukan aku." Ujar gadis itu bersungut-sungut. "Gara-gara kamu aku kembali di permalukan."


Gadis kembali mengingat bagaimana seorang Desi itu begitu marah padanya. Bahkan kata-kata tak pantas pun kembali ia dengar. Dan yang lebih parahnya lagi, wanita setengah baya itu mempermalukan Gadis di depan semua karyawannya sendiri.


"Dulu kamu selalu nyakitin aku, dan sekarang tanpa sadar kamu juga akan nyakitin aku lagi, Kalan."


Bibir Gadis bergetar, apa yang mengganjal selama ini dalam hatinya seolah ia ungkapkan sekarang. Sebenarnya Gadis tidak ingin menyalahkan siapapun disini. Tapi untuk sekarang, ia luapkan semua kekesalannya itu terhadap Kalan. Gadis tidak menyalahkan Kalan karena telah mencintainya. Sungguh, kalau pun boleh jujur, Gadis sangat senang saat mengetahui kalau ternyata lelaki yang dulu selalu menolak cintanya itu akhirnya jatuh cinta padanya.


Tapi bukan dengan cara seperti ini yang Gadis inginkan. Ungkapan rasa cinta yang Kalan tunjukkan untuknya tidak berada dalam waktu yang tepat.


Gadis tidak ingin menyakiti siapapun disini, ia tidak ingin menyakiti Retha, apalagi Bian, laki-laki yang selama ini sudah menemani dan mencintainya. Meskipun hati Gadis sempat kembali goyah saat pertama kali bertemu dengan Kalan.


Gadis mengakui kalau perasaan itu masih ada.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Dis.?" Sungguh, ini adalah kali kedua Kalan melihat betapa terlukanya gadis itu sekarang. Dulu ia tidak pernah peduli terhadap Gadis, saat Gadis menangis pun Kalan akan selalu mengabaikannya. Tapi sekarang melihat Gadis menangis di hadapannya, tiba-tiba saja dadanya merasakan sesak yang teramat luar biasa.


"Tolong jangan buat aku terlihat seperti wanita murahan. Biarkan aku bahagia dengan hidup aku sekarang." Ujar Gadis lirih, pun dengan kepalanya yang semakin menunduk dalam.


"Apa Retha yang membuat kamu menangis seperti ini?"


Kepala mungil itu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kamu bukan wanita rendah dan murahan, kamu wanita baik dan kuat yang pernah aku kenal." Ya, karena pada kenyataannya Gadis memang bukanlah wanita yang lemah.


"Tapi itu yang di katakan orang-orang tentang aku. Aku wanita murahan yang telah merebut kamu dari Retha. Aku orang ketiga yang telah menghancurkan hubungan kalian berdua. Gara-gara aku, kamu dan Retha batal bertunangan." Ujar Gadis kembali bersama air bening yang tanpa henti-hentinya keluar dari mata bulatnya itu.


"Tapi itu bukan salah kamu. Tolong jangan dengarkan apa kata orang lain."


"Kamu bisa bicara seperti itu karena bukan kamu disini yang di salahkan."


"Ya ... kamu memang benar, ini memang salah aku karena mencintai kamu." Kalan melirih.


"Maka dari itu, tolong berhenti. Kalan."


"Aku akan melakukan apa saja yang kamu minta, tapi maaf ..." Kalan mengangkat wajah Gadis yang menunduk, lalu menangkup kedua sisi wajah gadis itu dengan lembut. Pandangan mereka berdua pun kini saling bertemu. "Untuk berhenti mencintai kamu, aku tidak bisa melakukannya." Kata Kalan sembari menghapus air mata yang terus menetes melewati pipi mulus gadis itu menggunakan ibu jarinya. "Tolong, berhenti untuk menangis." Lantas Kalan menjatuhkan keningnya di atas kening Gadis.


"Kenapa kamu begitu egois?" Gadis tidak menghindar saat kedua kening itu saling menyatu. Bahkan napas keduanya pun terasa hangat menerpa permukaan kulit wajah mereka berdua.


Gadis menutup matanya, pun dengan Kalan.


"Karena aku ingin kamu menjadi milik aku, Dis. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya."


"Tapi aku gak bisa."


"Aku tahu, ini akan sulit bagi kamu." Suara Kalan terdengar begitu berat. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, cukup aku saja disini yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta kamu."


"Dan aku harap, kamu akan lelah lalu menyerah."


"Aku akan menyerah jika kamu sendiri yang meminta aku untuk pergi selamanya dari hidup kamu."


"Bukankah aku sudah memintanya?" Gadis membuka matanya, lalu menatap Kalan sekarang. Dapat Gadis lihat bibir Kalan yang melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis.


"Kamu hanya meminta aku untuk berhenti, bukan menyuruh aku untuk pergi selamanya dari hidup kamu, kan?"


Bukan Kalan namanya kalau tidak bisa membuat Gadis terdiam. Entahlah, mungkin Kalan yang terlalu pintar dan sempurna hingga membuat Gadis selalu tidak bisa berkutik dan kehabisan kata-kata setiap kali berhadapan dengan lelaki itu. Akan tetapi, saat Kalan hendak menciumnya, buru-buru Gadis membuang mukanya ke samping.


Tidak ... Gadis tidak boleh membiarkan Kalan untuk menciumnya.


Kalan hanya tersenyum menerima penolakan dari Gadis, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Tidak mendapatkan bibirnya bukan berarti ia juga tidak bisa mendapatkan yang lain. Maka, yang di lakukannya sekarang adalah kembali menarik dagu itu untuk mempertemukan pandangan mereka, lalu, ia labuhkan sebuah kecupan yang sangat lama di kening gadis itu.


"Aku sayang kamu." Bisik Kalan begitu ia melepaskan kecupan itu di kening Gadis.


...********...


Hai ... ada yang kangen sama ceritanya Kalan & Gadis gak sih?


**Setelah membaca, jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen, dan vote juga ya?


Makasih buat semua yang selalu setia menunggu cerita mereka berdua. Semoga suka ...


Sampai ketemu di part berikutnya ...


Mudah mudahan gak lama Up nya ... hihihi ..


bye ... bye ...

__ADS_1


❤❤❤**


__ADS_2