ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Tigapuluhlima


__ADS_3

Gadis terpejam erat saat merasakan benda lunak itu kini telah menempel di atas bibirnya, memangutnya mesra hingga membuat bibir keduanya sama-sama basah. Kalan ******* bibir manis itu dengan penuh kelembutan, menghisapnya kuat yang sontak membuat Gadis mencengkram jas kerja lelaki itu kuat-kuat saat ia membuka sedikit bibirnya dan membiarkan lidah lelaki itu bermain di dalam rongga mulutnya. Bibir mereka saling bertaut dengan lidah saling membelit.


Gadis melenguh saat ia merasakan sesapan lidah di dalam sana semakin menggila. Bahkan, Kalan tidak memberinya waktu sedikit pun untuk ia menghirup udara.


"Eugh ..."


Gadis mulia kehabisan napas, lalu menepuk bahu lelaki itu pelan agar Kalan mau melepaskan pungutannya. Kalan menarik wajahnya, dan membiarkan Gadis untuk menghirup udara banyak-banyak. Dengan napas memburu Kalan menempelkan hidungnya di atas hidung mancung gadis itu.


"Sudah, nanti ada yang lihat." Gadis sedikit terengah saat melontarkan kalimat itu.


Kalan masih memejamkan matanya, menetralkan degub jantungnya yang bergemuruh hebat. Sungguh, ia tidak akan melepaskan ciuman itu kalau bukan karena Gadis yang menahannya.


"Aku cinta kamu."


Ya, sudah berapa puluh kali lelaki itu mengatakan cinta padanya? Rasanya Gadis pun sudah tidak dapat menghingtungnya lagi. Bagi Kalan, ia tidak akan pernah bosan untuk melontarkan kata cinta itu pada Gadis, setiap hari, bahkan setiap detikpun ia akan melakukan itu meskipun kendengarannya terasa sangat konyol.


"Aku tahu kamu cinta sama aku." Gadis terkekeh, mengusak ujung hidungnya pada ujung hidung lelaki itu. "Aku juga cinta sama kamu."


Kalan membuka matanya, lalu menatap kedua bola mata bening itu dalam-dalam. "Gadis Ayunda ..." Meskipun napasnya masih terengah, tapi debaran jantungnya sudah mulai tenang. "Maukah kamu menjadi istriku?"


"A-apa?"


Kalan tersenyum seraya mengecup bibir itu sekilas. "Aku ingin menikah denganmu, aku ingin kamu menjadi istriku, aku ingin kamu menemaniku disaat suka maupun duka, dan aku ingin ... kamu menjadi ibu untuk anak-anak aku nantinya."


"Ka-kamu, serius?" Tanya Gadis terbata. Entah perasaan apa yang sekarang ia rasakan, Gadis begitu terkejut saat Kalan, laki-laki yang baru sehari menjadi kekasihnya itu sudah memintanya untuk menikah.

__ADS_1


Senang?


Tentu, Gadis sangat senang bahkan sangat bahagia saat Kalan memintanya untuk menjadi istrinya. Gadis tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau inilah yang menjadi impiannya sejak kecil. Impian indah yang selalu membuatnya bersemangat dan tak pernah mengenal kata lelah untuk membuat Kalan jatuh cinta. Impian untuk Menikah dan menjadi istri dari seorang Kalandra.


Tapi ... Ada satu hal yang membuat Gadis tidak bisa memberikan keputusannya begitu saja. Ia tidak ingin menjadi gadis yang tak bertanggung jawab dan pengecut. Ada satu hati yang mesti ia jaga. Hati laki-laki yang selama ini begitu baik dan mencintainya dengan sepenuh hati. Ya, Abian Pradisa. Lelaki yang setia menunggunya disana. Gadis tidak bisa melupakan Bian begitu saja, ia harus bertanggung jawab dan menyelesaikan semuanya sendiri tanpa ada hati yang terluka nantinya.


"Menikahlah denganku?" Pinta Kalan kembali.


"Aku ... aku." Gadis menurunkan pandangannya, kalau saja saat ini tidak ada Bian di antara mereka berdua, maka dengan perasaan bahagia ia akan langsung menjawab dan menerima permintaan Kalan.


"Kamu mau kan menjadi istriku?" Kalan menempelkan keningnya di atas kening Gadis. Ia pejamkan matanya rapat-rapat saat Gadis tak kunjung memberi jawaban. Bukan Kalan tak mengetahui alasan apa yang membuat Gadis bungkam, ia tahu kalau sebenarnya di antara mereka berdua masih ada seseorang yang mungkin saja membuat Gadis tidak bisa memberinya keputusan untuk saat ini.


Gadis menarik napas panjang untuk menetralkan kembali detak jantungnya yang berdebar kencang sebelum kemudian ia kembali berujar. "Kamu tahu Kalan." Ada jeda di sela kalimatnya."Ini adalah impian aku sejak dulu bisa menikah sama kamu, bahkan di saat aku masih kecil dan belum mengetahui apa itu menikah, aku selalu mengatakan kepada semua orang kalo aku akan menikah denganmu. Dan sekarang aku merasakan kebahagiaan yang tak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata saat kamu meminta aku untuk menjadi istrimu. Sungguh, aku bahagia ..."


Gadis menatap lekat wajah Kalan sekarang, tanpa terasa air bening itu pun mulai menggenang di pelupuk mata. Ia bahagia sekaligus merasa bersalah. Gadis merasa bahagia saat Kalan ingin menjadikannya seorang istri, ia juga merasa bersalah saat wajah Bian tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.


Meskipun ia mencintai Kalan, tapi ia tidak ingin menyakiti Bian. Tidak.


" .... Tapi aku tidak ingin menyakiti dia." Gadis menunduk, ia tidak ingin Kalan melihatnya menangis. "Aku tidak ingin menjadi perempuan jahat. Maka dari itu, tolong mengerti aku, dan beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya."


"Tapi aku cinta kamu, Dis. Aku benar-benar ingin menikah denganmu."


"Iya." Kepalanya mengangguk. "Aku juga cinta sama kamu. Tapi tolong, aku ingin menyelesaikan dulu semuanya sendiri. Setelah semuanya selesai, aku janji, aku akan memberikan jawaban kalo aku juga mau menikah denganmu."


"Dis." Kalan mengangkat wajah Gadis yang sedikit menunduk, lalu keduanya kembali saling menatap dalam diam. Kalan tahu kalau Gadis menangis, dengan begitu ia usap lembut sisa cairan itu dari pipi mulusnya. "Baik ... Baik kalo itu memang keputusan kamu. Aku akan memberikan waktu untuk kamu. Tapi aku mohon, jangan menolak pemberianku ini." Kalan mengeluarkan sesuatu dari kantong jas kerja yang ia gunakan.

__ADS_1


"Ini ...?" Gadis nampak sedikit terkejut saat Kalan membukakan kotak berukuran kecil itu di hadapannya. "Kamu?"


"Ya ..." Kalan tersenyum. "Aku mohon terima ini."


"Tapi ..." Pandangan Gadis kini tertuju pada sebuah cincin yang ada di dalam kotak itu. Apa maksudnya ini adalah Kalan sedang melamarnya?


"Dis, ..." Seolah tahu apa yang sedang Gadis pikirkan, Kalan mengeluarkan cincin itu dari tempatnya. Lalu menarik tangan Gadis kemudian memasukkan cincin itu ke dalam jari manisnya. "Ini adalah bukti cinta aku sama kamu." lantas ia labuhkan sebuah kecupan pada tangan gadis itu.


Sementara Gadis, ia tak dapat berkata apa-apa lagi selain diam. Menolak pun rasanya percuma karena kini cincin itu sudah tersemat di jari manisnya. Gadis kembali menitikkan air mata ketika rasa bahagia sekaligus bersalah itu melebur menjadi satu. Gadis ingin semua yang terbaik. Jika memang ia dan Kalan di takdirkan untuk tetap bersama, maka ia pun akan diberi kemudahan untuk menjaga hati seorang Bian agar tak terluka nantinya. Tapi seandainya jika takdir Kalan dan Gadis berbeda, maka ia pun harus mempersiapkan diri untuk terluka. Bukan hanya Gadis saja yang akan terluka, tapi juga Kalan, lelaki itu pasti akan terluka.


"Selesaikan masalah kamu, setelah itu ... barulah kita menikah."


Gadis mengangguk, "Iya. Aku janji akan menyelesaikan semuanya tanpa melukai siapapun."


"Aku sayang kamu, Gadis Ayunda. Maafkan atas semua kesalahan aku dulu. Aku janji, aku akan mencintai kamu dengan sepenuh hati dan selamanya."


"Aku juga." Ujar Gadis sembari menghambur memeluk tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya itu. "Aku sayang kamu, Kalandra Aksa Pratama. Hanya kamu satu-satunya lelaki yang membuat aku selalu jatuh cinta setiap harinya."


"Aku akan setia menunggu kamu disini, berjanji lah padaku untuk kembali secepatnya." Kalan semakin mengeratkan pelukannya itu. Ia sadar dan tidak ingin egois, ia mengizinkan Gadis untuk kembali ke Paris dan menyelesaikan hubungannya bersama lelaki itu secara baik-baik. Meskipun sebenarnya ia pun takut, Kalan tidak ingin kehilangan Gadis untuk yang kedua kalinya.


"Aku janji akan kembali secepatnya."


"Harus."


Lalu, pada hari itu mereka habiskan waktunya untuk berdua. Saling memeluk, saling melontarkan kata-kata cinta yang entah sudah keberapa puluh kali mereka ucapkan secara bergantian.

__ADS_1


Dan mereka tidak akan pernah merasa bosan untuk itu.


...*******...


__ADS_2