ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Tigapuluhsembilan


__ADS_3

"Bangsat ...!"


Dengan amarah yang masih mengusai kesadarannya, lelaki itu melayangkan beberapa pukulan terhadap seseorang hingga membuatnya tersungkur di bawah sana.


"Kalan ... hentikan."


"Berengsek."


Lagi, Kalan tak menghiraukan teriakan Gadis sama sekali.


"Aku mohon hentikan." Kalan menepis tangan Gadis dengan kasar, tak ada rasa kasihan sedikitpun saat melihat gadis itu memelas. Rasa cinta yang dulu ia rasakan, kini berubah menjadi benci saat tahu kalau ternyata Gadis telah mengkhianatinya.


"**** ...!"


"Ka - lan ...!"


"Jangan sentuh aku, berengsek."


"Jaga bicara kamu." Bian tak terima saat ada orang yang berani menghina apalagi menyakiti Gadis.


"Cih ..." Kalan berdecih, menatap kedua manusia itu dengan penuh kebencian. "Kalian berdua memang sama-sama pecundang, kalian berdua memang sama berengseknya."


"Kamu boleh menghina aku, tapi jangan sekali-kali kamu menghina Gadis."


"Dia memang pantas mendapatkannya." Kalan menatap Gadis dengan tatapan menyeramkan. "Dia ..." Lelaki itu menunjuk Gadis yang sedang menunduk. "Dia tak lebih dari seorang wanita murahan."


Gadis yang sedang menunduk pun seketika mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat menyakitkan dari pria yang sangat di cintainya itu. Ia tak mengira jika Kalan akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya mencelos sakit. Ingin sekali ia membela diri, tapi saat melihat keadaan Kalan yang sepertinya tak memungkinkan membuat Gadis bungkam untuk saat ini.


Dan Gadis hanya bisa menutup matanya rapat-rapat saat Kalan, lelaki yang baru beberapa minggu ini menjadi kekasihnya terus menghina, mengatainya dengan kata-kata kasar yang tak pantas.


"Diam ... berengsek." Bian yang tak terima Gadis di perlakuan seperti itu pun akhirnya melayangkan sebuah tinjuan tepat mengenai wajah Kalan. "Gadis bukan wanita seperti itu."


"Oh .. ya?" Kalan menepis tangan lelaki yang sedang mencengkram kerah kemejanya itu dengan kasar. Ia berdecih jijik seraya menyunggingkan bibirnya ke atas. "Lo yang diam, dan lo tahu, wanita ini tak sepolos yang lo lihat."


Melihat suasana semakin memanas, membuat Gadis menjadi panik. Apalagi di saat Kalan dan Bian sama-sama sedang berseteru dengan emosi yang telah mengusai kesadarannya masing-masing membuat Gadis semakin khawatir. Ia tak ingin melihat keduanya saling bertikai seperti ini. Apalagi sekarang, di rumah Bian itu tak ada orang satupun. Bahkan, orang yang bertugas untuk menjaga rumahnya pun pergi entah kemana. Gadis takut, dan ia tak bisa berbuat apa-apa.


Dan ketakutannya itu pun semakin bertambah saat Kalan kembali hendak melayangkan pukulannya.


Disaat Gadis hendak melerai, disaat itu pula tangan Kalan melayang hingga tanpa sengaja pukulannya itu tepat mengenai wajah Gadis. Meskipun sempat terkejut, tapi itu tak membuat Kalan merasa bersalah ataupun menyesal sama sekali.


"Dis ..." Bian buru-buru menghampiri Gadis, membantunya untuk berdiri. Gadis itu meringis kesakitan sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat ulah Kalan. "Ya ampun ... kamu terluka."


"Aku gak papa." Jawabnya bersama kepala yang menggeleng, seraya menatap Kalan yang langsung membuang pandangannya saat itu juga.


"Tapi bibir kamu berdarah." Bian adalah lelaki baik dan perasa. Berbanding terbalik dengan Kalan, laki-laki itu sepertinya sudah sangat membenci Gadis untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya.


Gadis sendiri tak akan marah atau benci pada Kalan. Ia tahu kalau Kalan memang tidak sengaja melakukan itu. Meskipun saat ini Gadis melihat sorot kebencian dari mata lelaki itu. Mata yang selalu menatapnya teduh kini berubah menjadi menyeramkan. Mata yang selalu menatapnya penuh damba kini yang ada hanya kebecian dari pandangannya.


Akan tetapi, Gadis tak menyesal. Meskipun ia akan kehilangan cintanya Kalan. Biarlah Kalan membencinya, biarlah Kalan menganggap dirinya sebagai wanita tak tahu malu meskipun itu sangat menyakitkan. Dan biarlah Bian bahagia, karena Gadis bersedia untuk menikah dengannya.


Ini sudah menjadi keputusannya,


Sebagai rasa terima kasihnya pada Bian, ia ingin membalas semua kebaikan lelaki itu padanya selama ini. Gadis ingin membuat Bian bahagia, dan Gadis ingin menemani Bian di saat-saat terakhirnya.


Meskipun ia harus mengorbankan perasaannya sendiri Dan kehilangan cintanya Kalan.


******

__ADS_1


Tiga hari sebelumnya,


"Aku gak butuh belas kasihan dari kamu, Dis."


"Lebih baik sekarang kamu pergi."


"Aku akan baik-baik saja."


Itulah yang Bian katakan pada Gadis. Lelaki itu merasa jika kembalinya Gadis ke Paris hanya sebatas rasa kasihan karena telah mengetahui penyakitnya. Padahal, kepulangannya Gadis ke Paris bukan karena itu, ada hal lain yang ingin Gadis katakan pada Bian. Tapi itu tidak mungkin Gadis katakan disaat Bian sedang sakit seperti ini.


Bian yang matian-matian menyembunyikan penyakitnya dari Gadis, pada hari itu dengan secara tak sengaja salah satu bagian dari tubuhnya mengeluarkan sesuatu. Darah yang keluar dari hidungnya membuat Gadis akhirnya tak sanggup lagi untuk diam. Apalagi melihat Bian yang sudah sangat pucat dan lemas, membuat Gadis seketika itu juga menangis tak terkira.


"Jangan suruh aku pergi, Bian. Aku mohon." Gadis mengatupkan kedua tangannya, ia memohon dengan lelehan air bening yang terus keluar dari mata bulatnya itu.


Bian yang tak mampu melihat Gadis menangis seperti itu pun pada akhirnya mengalah.


"Kamu harus kuat, Bian. Aku tahu kamu pasti bisa ngelewatin ini semua."


"Sepertinya gak mungkin, Dis." Bian mencoba untuk tersenyum. "Penyakit aku udah ada di tahap akhir."


"Nggak." Kepala Gadis menggeleng. "Kamu gak boleh menyerah seperti ini. Aku tahu kamu laki-laki kuat, Bian. Kamu harus percaya sama Tuhan, keajaiban itu akan datang kalo kita terus berdoa dan berusaha."


Bian, lelaki itu terkekeh saat melihat Gadis yang begitu bersemangat untuk menyemangatinya. Inilah yang Bian sukai dari Gadis, selain cantik dan baik, Gadis juga adalah Gadis ceria dan cerewet. Bian sangat beruntung bisa mengenal dan mencintai Gadis. Meskipun ini adalah kali terakhir ia bisa ada di samping Gadis, sebelum Tuhan memanggilnya nanti.


"Dis ... apa kamu masih mau bersama laki-laki penyakitan seperti aku?"


"Apa maksud kamu, Bian?"


"Aku sakit Dis. Dan aku gak mau merepotkan kamu."


"Jangan bicara seperti itu, aku mohon."


Bian bukan lah lelaki lemah, ia juga bukan laki-laki cengeng. Tapi di hadapan Gadis, entah kenapa tiba-tiba saja matanya mulai berkaca-kaca.


"Meskipun nanti aku sudah pergi, cinta aku akan selalu ada bersama kamu."


"Bian ..." Gadis berkata lirih.


"Pergi lah, Dis."


"Nggak ... aku gak akan pergi, Bian. Aku akan selalu ada di samping kamu, aku akan temani kamu sampai kamu sembuh."


"Benarkah?" Bian menemukan ketulusan dari sorot mata Gadis.


Gadis pun mengangguk.


"Aku sayang kamu, Dis."


Gadis tak menjawab, ia hanya diam sembari menangis. Apa yang harus Gadis katakan sekarang? Gadis tak mungkin mengatakan kalau sebenarnya ia sudah mencintai laki-laki lain. Tidak, itu tidak mungkin.


"Dis ...?" Panggil Bian yang membuat Gadis kembali menatapnya. "Sebenarnya aku sudah meminta ini sejak lama." Bian mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja yang di kenakannya. Gadis melihat kalung yang Bian kenakan dengan dua buah cincin yang menggantung indah di dalamnya.


Bian membuka kalung dan mengeluarkan satu cincin itu dari sana. Lalu ia meraih tangan Gadis dan menggenggamnya erat. "Mungkin hidup aku cuma sebentar lagi disini, tapi aku ingin memiliki kamu sebelum aku pergi selamanya, Dis. Aku ingin menikah denganmu." ada jeda di sela kalimatnya. "Gadis Ayunda, apa kamu mau menjadi istriku?"


Sebenarnya Gadis tak terkejut saat Bian meminta untuk menikah dengannya. Ia sudah mengetahui keinginan terakhir dari Bian adalah menikah dan menjadikan Gadis sebagai istrinya. Di satu sisi, Gadis mencintai Kalan. Ia tak ingin mengecewakan lelaki yang juga sudah melamarnya itu meskipun secara tidak langsung. Tapi di sisi lainnya juga ia tak ingin membuat Bian terluka. Ia tak ingin membuat laki-laki itu semakin rapuh kalau Gadis menolaknya.


Ya Tuhan ... ia harus apa?

__ADS_1


Merasa Gadis hanya diam saja, itu sudah cukup membuat Bian mengerti. Siapa orang yang mau menikah dengan laki-laki penyakitan seperti dirinya? Bian pun siap dan tak akan marah jika Gadis menolaknya. Karena Bian mengerti. Meskipun ia harus kembali merasa kecewa karena lagi-lagi Gadis menolaknya.


"Maafkan aku, Dis. Seharusnya aku sadar kalo kamu pasti ..." Bian melepaskan genggaman tangannya itu dari Gadis.


"Aku mau Bian." Seketika kata itu keluar dari bibir Gadis.


"Apa maksud kamu?" Tanya Bian tak percaya. Ia tak salah dengar kan?


"Aku mau jadi istri kamu."


"Dis ..." Kepalanya menggeleng. "Aku gak mau kamu terima aku karena kasihan atau terpaksa. Aku gak papa kalo kamu juga menolaknya."


Ada perasaan bersalah saat Bian mengatakan kalimat itu, Gadis memang terpaksa menerima lamaran Bian karena ia ingin membuat laki-laki itu bahagia di sisa hidupnya.


"Aku ... aku ingin menikah denganmu. Karena aku juga mencintai kamu." Bolehkah ia berbohong untuk membuat seseorang bahagia?


"Tapi, Dis." Bian yang masih tak percaya Gadis akan menerima lamarannya, seketika bibirnya tersungging lebar. Rasa lelah dan tak percaya diripun hilang seketika saat Gadis mau menerima laki-laki yang sedang sakit seperti dirinya.


Tanpa terasa Bian menangis, dan itu yang membuat Gadis semakin merasa bersalah.


Disaat Bian memasangkan cincin di jari manisnya yang kanan, tanpa sengaja pula ia melihat tangan kirinya. Gadis menutup matanya rapat-rapat saat cincin pemberian dari Kalan pun masih tersemat indah di dalamnya.


Maaf kan aku, Kalan.


Gadis tersenyum saat melihat Bian akhirnya bisa tersenyum lebar seperti itu. Itulah yang Gadis inginkan, membuat Bian tersenyum di saat-saat terakhirnya.


Tapi tanpa mereka berdua sadari, ternyata ada seseorang yang mengikuti dan memantau kegiatan Bian dan Gadis selama disana. Laki-laki sedikit tua itu tersenyum lebar saat ia telah berhasil mengambil beberapa poto dan beberapa rekaman video yang pasti akan membuatnya beruntung.


"Pak ... sudah saya kirimkan semuanya."


"Bagus, Pak Kalan pasti akan sangat terkejut dengan hasilnya. Bagaimana mana mungkin orang yang sangat di cintainya bisa berkhianat seperti ini."


******


"Aku benci kamu."


"Aku menyesal karena udah jatuh cinta sama perempuan munafik kayak kamu."


"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan membenci kamu."


Gadis menutup matanya erat, ia tak pernah mengira jika hubungannya bersama Kalan akan berakhir seperti ini. Setelah kejadian tadi, Kalan pergi begitu saja dengan membawa seluruh kebenciannya. Meskipun Gadis sempat menjelaskan, tapi tetap saja tidak membuat laki-laki itu percaya. Kalan sudah terlanjur membencinya, dan Kalan sudah benar-benar pergi dari dirinya.


"Kenapa kamu gak bilang, kenapa kamu lakuin ini semua. Dis?"


"Maafin aku."


"Sudah aku bilang aku gak mau kamu kasihani." Ujar Bian dengan suara yang meninggi.


"Tapi, Bian.!"


"Pergi, Dis. Pergi lah, kejar laki-laki itu dan jelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi."


"Nggak, Bian. Aku gak akan pergi. Aku akan tetap ada disini sama kamu."


"Aku gak mau menikah sama orang yang tidak mencintai ku sama sekali." Hati siapa yang tak sakit saat ia tahu kalau gadis yang begitu ia cintai telah mencintai laki-laki lain.


Bian tak ingin memaksa, ia tak ingin memiliki Gadis dengan cara seperti ini. Tapi ... rasa cintanya yang terlampau besar terhadap Gadis membuatnya ingin sekali memiliki Gadis, meskipun Gadis sendiri tak mencintainya. Di sisa umurnya yang entah berapa lama lagi ia akan hidup, maka Bian memutuskan untuk tetap menikahi Gadis.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2