ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhdua


__ADS_3

"Dis ... Aku sayang kamu."


"Begitu kamu pulang dari Jakarta, aku akan langsung melamar dan menikahi kamu secepatnya."


"Aku gak tahu apa yang akan terjadi, jika sampai kamu meninggalkan aku, Dis."


"I love you, Gadis - ku."


Ya Tuhan ...


Gadis segera tersadar saat kalimat demi kalimat itu terngiang kembali di telinganya. Dan Bian, bagaimana bisa ia melupakan lelaki itu? Bagaimana bisa Gadis melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan bersama laki-laki lain? Tidak, ini tidak benar. Ini tidak waras. Ini kesalahan kedua yang ia lakukan bersama dengan Kalan, setelah kemarin malam Gadis membiarkan lelaki itu mencumbu bibirnya karena sedang dalam keadaan mabuk, tapi kali ini Gadis begitu sadar.


Dan mereka? oh ... ya ampun!


Gadis tidak mungkin mengkhianati lelaki baik seperti Bian yang sudah menemani dan mencintainya selama ini.


Gadis mendorong dada lelaki itu cepat hingga tautan bibir keduanya terlepas. Gadis pun menutup bibir dengan kedua telapak tangannya.


Apa yang sudah aku lakukan?


"Dis ..."


Seraya menggeleng, Gadis mundur satu langkah kebelakang sembari menatap Kalan dengan napas sama-sama memburu. Gadis ingin mengatakan sesuatu, tapi rasanya sangat sulit. Gadis itu bingung harus mengatakan apa, dan harus berbuat apa sekarang. Gadis pun tidak mengerti kenapa ia bisa kembali melakukan kesalahan itu lagi. Kesalahan yang tidak bisa ia hindari.


"Kalan ..."


"Kenapa, Dis.?"


Oh ... Ya Tuhan ... apa yang sudah kita berdua lakukan?


Gadis dan Kalan sama-sama tidak sedang menjalani hubungan apapun saat ini. Tapi kenapa mereka berdua bisa seperti pasangan kekasih yang saling merindukan.


Gadis menutup matanya rapat-rapat, berduaan bersama Kalan selalu membuatnya lupa diri. Dan Gadis tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi.


Tidak ...


"Ada apa, Dis? kamu baik-baik saja kan?"


"Aku __ aku __" Gadis membuang pandangannya ke samping kerena tidak ingin melihat mata lelaki itu. Mata yang bisa membuatnya hilang kewarasan.


"Dis ... kamu kenapa?" Kalan bertanya seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Gadis ..."

__ADS_1


Seketika Gadis mundur ke belakang saat Kalan mendekatinya. Lelaki itu mengernyit, menatap Gadis dengan tatapan bingung.


"Ini tidak benar, Kalan." Ujarnya sambil memutar badan membelakanngi lelaki itu. "Kita gak bisa terus seperti ini."


"Maksud kamu apa, Dis."


Astaga ... apa lelaki itu lupa, atau memang pura-pura lupa?


"Apa yang udah kita lakukan barusan itu tidak benar. Itu salah, Kalan."


"Aku tahu." Jawab lelaki itu datar.


"Lalu kenapa kamu mencium aku? kita berdua gak ada hubungan apapun."


"Lalu kenapa kamu juga menikmatinya?"


Seketika Gadis memutar badannya untuk mempertemukan pandangan mereka berdua. Dan kini, mata itu kembali saling menatap dalam diam. Baik Kalan maupun Gadis, mereka berdua sama-sama terdiam. Masih bingung dengan apa yang harus mereka katakan selanjutnya.


Apa yang di katakan Kalan memang benar adanya, seharusnya ia menolak atau mencegah saat Kalan hendak menciumnya. Tapi apa, justru ia sendiri pun malah diam, tidak menolaknya, dan membiarkan lelaki itu untuk kembali menciumnya.


Sekilas bayangan saat mereka sedang berciuman pun kembali berputar. Gadis ingat bagaimana ia membalas ciuman lelaki itu sama gilanya. Seolah terbuai dengan cumbuan Kalan, maka Gadis pun membiarkan lelaki itu untuk menciumnya lebih dalam lagi.


"Tapi gak seharusnya kita melakukan itu, kan?" Ujar Gadis dengan suara pelan. "Kamu tentunya ngerti, apa maksud aku." Ia pun menurunkan pandangan matanya ke bawah. "Aku dan kamu ..." Ia gigit bibir bawahnya sembari meremat jari-jari tangannya. "Kita tidak sedang dalam hubungan apapun, kita berdua sama-sama orang asing. Dan kamu ...?"


"Dan kamu mempunyai kekasih, kan?" Sela Kalan cepat.


"Aku tahu ini salah, Dis. Apa yang udah kita lakukan berdua itu tidak benar. Tapi aku sendiri juga bingung, kenapa aku bisa melakukan itu sama kamu."


"Mungkin, kita hanya terbawa suasana saja." Ujarnya lagi dengan lirih. "Kamu punya Retha, dan kamu gak menyukai aku, Kalan."


"Apa kamu masih menyukai aku, Dis?"


Apa? Sontak Gadis mengangkat wajahnya, menatap lelaki itu yang kini tengah menatapnya juga.


Apa maksudnya?


"Apa perasaan itu masih ada?" Tanyanya sambil mengelus bibir bawah Gadis yang basah karena ciumannya.


Sontak Gadis menjadi gugup setengah mati. Jelas saja, selain mereka sudah berciuman, sekarang Kalan pun mengatakan sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya serta membuat dadanya berdebar kencang tidak karuan.


"Apa maksud kamu?"


Kalan mendekat, semakin mengikis jarak di antara mereka. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan hatiku, aku juga tidak tahu dengan perasaanku saat ini, yang aku tahu sekarang, aku merasakan kenyamanan saat sedang bersama kamu." Ujarnya kembali yang membuat Gadis melebarkan matanya tidak percaya.

__ADS_1


"Ka-lan ..." Suaranya terbata. "Aku tidak mengerti apa maksud kamu.?"


"Aku tidak ingin kamu sakit, aku merasa nyaman saat bersama kamu. Dan aku ..." Ia pandangi mata itu dalam-dalam, tapi sebelum Kalan melanjutkan kembali kalimatnya, tiba-tiba ponsel miliknya kembali berdering. Dan mau tidak mau, lelaki itu pun terpaksa mengambil ponsel dari dalam kantong celananya. Kalan mengernyit saat nama sang Bunda lah yang tertera di layar ponselnya itu.


Ada apa Bunda Yasika menelponnya malam-malam seperti ini?


Tidak seperti saat ia mengabaikan telepon dari Retha, Kalan langsung menggeser tombol hijau saat tahu kalau Bundanya lah yang menghubunginya sekarang.


"Hall--"


"Kalan ... kamu dimana?" Belum selesai Kalan meneruskan kalimatnya, Yasika sudah lebih dulu menyerobotnya. "Kenapa kamu susah banget di hubungi?"


Kalan yang masih bersama dengan Gadis pun lantas menghela napas pelan. "Maaf Bunda ... aku sedang ___"


"Kalan, apa kamu tahu kalau Retha sekarang ada di rumah sakit?"


"Apa? Rumah sakit, Bunda?" Tanya Kalan sedikit terkejut. Pun dengan Gadis yang berada di depannya saat ini.


"Iya, tadi Bima yang memberi tahu Bunda karena kamu susah untuk di hubungi."


"Kenapa dengan Retha, Bunda?" Suara Kalan memelan.


"Dia kecelakaan."


Kalan yang mendengar itu hampir saja menjatuhkan ponselnya ke bawah. Beruntungnya ada Gadis yang dengan sigap langsung menahannya. Begitu sang Bunda mematikan panggilannya, Kalan menatap Gadis sekarang dengan sorot yang tidak ia mengerti.


"Ada apa?"


"Retha."


"Ada apa dengan Retha?" Tanya Gadis begitu penasaran.


"Dis, aku harus segera ke rumah sakit sekarang." Kalan yang belum sempat menjawab pertanyaan dari gadis itu, buru-buru merampas kunci mobilnya serta jas kerja yang tersampir di punggung sofa. Mendadak perasaannya menjadi tidak tenang, dan rasa bersalah pun kerap menghampiri karena ia telah mengabaikan Retha seharian ini. Bahkan disaat Retha terus menghubunginya, Kalan tidak menghiraukannya. Lelaki itu lebih memilih untuk mematikan ponselnya dan menemani Gadis yang sedang sakit di apartemennya.


Padahal, ada wanita lain yang sedang membutuhkannya saat ini. Wanita yang Kalan cintai, dan masih berstatus sebagai kekasihnya hingga sampai detik ini. Wanita itu yang tak lain adalah Retha, yang kini sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit karena kecelakaan tunggal yang di alaminya.


Disaat Kalan hendak membuka pintu apartemennya, disaat itu juga ia kembali menoleh kebelakang. Kalan memutar badan dan mendapati Gadis masih bergeming di tempatnya. Lelaki itu hampir saja melupakan Gadis yang sedang sakit disana.


"Dis ... maaf, aku harus ke rumah sakit sekarang. Retha mengalami kecelakaan, Kamu gak papa kan aku tinggal?"


Gadis tersenyum tipis bersama kepalanya yang menggeleng. Seandainya Kalan tahu kalau ia menginginkan lelaki itu untuk tetap disini bersamanya, apa Kalan tetap akan pergi?


Ah ... siapa dia? Tentu saja Kalan akan memilih untuk menemani kekasihnya ketimbang dengan dirinya.

__ADS_1


"Jangan lupa di minum obatnya." Ujarnya kemudian sebelum Gadis benar-benar melihat punggung Kalan sudah menghilang dari pandangannya.


...********...


__ADS_2