ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Empatpuluh


__ADS_3

Dua tahun kemudian,


*


*


*


"Sayang ... kamu mau kemana?"


"Aku mau berangkat ke kantor."


"Kenapa gak sarapan dulu?"


"Nanti saja di kantor, aku buru-buru soalnya."


Gadis yang masih tidak suka dengan kata terlambat, maka ia pun terlihat sangat tergesa-gesa. Tadi malam Gadis tak dapat tertidur dengan nyenyak, selain karena pekerjaan yang sang Paman berikan untuknya sangat banyak, membuat Gadis harus kerja lembur dan menyelesaikan pekerjaannya itu malam itu juga.


Gadis masih Gadis yang dulu. Ia masih bekerja di perusahaan Pamannya itu hingga sampai detik ini. Meskipun statusnya kini telah berubah. Dua tahun yang lalu, Gadis dan Bian resmi menikah. Mereka menikah satu minggu setelah kejadian itu. Meskipun sudah menikah, sang Paman masih mengizinkan Gadis untuk tetap memegang perusahaannya dan bekerja di perusahaan miliknya.


"Ya udah, kalo gitu kamu hati-hati ya sayang!"


Gadis tersenyum, ia melambai sebelum kemudian masuk kedalam mobilnya. Disaat dalam perjalanan, seperti biasa ia akan selalu berhenti di salah satu toko bunga langganannya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, maka sang pemilik toko bunga itu pun tak terkejut saat melihat keberadaan Gadis ada di dalam tokonya. Ia pun sudah mengetahui bunga apa yang selalu Gadis beli setiap hari jumat seperti ini.


"Ini bunganya, cantik."


"Makasih bibiku sayang." Balasnya seraya tersenyum lebar.


"Bian sangat beruntung bisa memiliki istri seperti kamu."


Gadis tersenyum, dan senyuman itu membuatnya semakin terlihat cantik. "Kalo begitu aku pergi sekarang ya, Bik." Pamit Gadis sambil memeluk tubuh wanita setengah baya itu.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Wanita setengah baya itu sedikit berteriak saat Gadis sudah kembali masuk kedalam mobilnya.


"Iya ..." Balasnya seraya melambaikan tangan.


Wanita setengah baya bernama Liani itu menatap Gadis yang baru saja pergi, ia tersenyum.


"Kamu gadis yang baik dan cantik. Pantaslah Bian begitu mencintainya. Suatu saat nanti, kamu pasti akan bahagia." gumamnya pelan sembari masuk kembali ke dalam tokonya.


Sementara Gadis, di dalam mobil ia menatap bunga lily putih itu sekilas sambil tersenyum, "Hari ini aku bawakan bunga kesukaan kamu lagi, Bian." Gumamnya pelan sebelum kemudian ia melajukan mobilnya kembali.


******


Berada di dalam ruangan, Gadis meletakkan bunga itu di atas meja kerjanya, berharap agar nanti pulang ia tak lupa lagi membawa bunganya.

__ADS_1


Gadis yang sedang bekerja dan memeriksa beberapa laporan mengenai rencana pembangunan hotel terbarunya itu sedikit terkejut, karena terlalu fokus bekerja ia tak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


"Kamu memang Gadis-ku yang luar biasa."


Suara itu ...? Gadis mendongak, menatap pria setengah baya itu dengan tampang terkejut.


"Ya ampun, Paman?" Gadis memekik, ia sedikit terkejut saat tiba-tiba sang Paman sudah duduk berhadapan dengannya.


"Paman kapan kembali? kenapa tidak bilang kalo Paman akan datang?" Tanya Gadis masih tak percaya. Seingatnya, kemarin malam Pamannya itu masih berada di Jakarta. Dan sekarang melihatnya sudah ada disini tentu membuat Gadis sangat senang.


"Paman sengaja tak memberitahumu, karena Paman ingin memberikan kejutan pada keponakan ku yang cantik dan pintar."


Gadis tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pantesan Tente Nia begitu mencintai Paman, ternyata Paman itu memang pandai merayu ya?"


Ujar Gadis yang membuat Pamannya itu tergelak hingga membuat wajahnya menjadi merah. Seperti itulah kedekatan antara Gadis dan Paman Ricard, kedekatan mereka berdua sudah seperti seorang anak dan Ayah.


"Dis ... Sebenarnya Paman kesini untuk kembali meminta bantuan dari kamu."


"Bantuan?"


"Iya." Sang Paman mengangguk. "Jika kamu tidak keberatan, apa kamu bersedia jika Paman meminta kamu untuk kembali lagi ke Jakarta?"


"Ja - Jakarta?" Tanya Gadis terbata.


Ricard, laki-laki setengah baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu menghela napas pelan. Sebenarnya ia tak ingin melibatkan Gadis kembali dalam urusan pekerjaan yang ada di Jakarta. Ia tahu betul apa yang telah menimpa keponakan tercintanya itu. Dua tahun berlalu, Gadis sudah kembali menemukan kehidupannya di Paris, tapi kini ia harus meminta Gadis untuk kembali lagi ke Jakarta dengan alasan istrinya yang sering sakit-sakitan akhir-akhir ini.


"Paman tahu pasti berat buat kamu untuk kembali lagi ke Jakarta. Tapi, sudah sebaiknya kamu segera berdamai dengan masa lalu."


Apa yang dikatakan oleh Pamannya itu memang benar, sudah saatnya pula Gadis melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Mendengar cerita dari sang Paman tentang Kalan, membuat sebagian hatinya ikut berdesir. Ternyata lelaki itu baik-baik saja selama dua tahun ini. Bahkan, menurut informasi dari Pamannya itu kalau sekarang Kalan sudah bertunangan dengan seorang gadis dari masa lalunya.


Apa Retha yang kini menjadi tunangannya Kalan?


"Baiklah Paman, aku akan kembali ke Jakarta." Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Gadis menyetujui. Semua itu ia lakukan semata-mata karena sang Paman, bukan karena orang lain atau pun Kalan.


Kalan? apa kabarnya laki-laki itu?


Gadis tersenyum miris saat ingatannya kembali lagi ke dua tahun yang lalu, dimana pada saat itu Kalan begitu marah dan sangat membencinya. Bahkan, lelaki itu pernah mengatakan kalau ia muak dan tak mau lagi berhubungan apa-apa dengannya.


"Tapi, Paman." Gadis menggigit bibirnya sebelum kemudian ia kembali bertanya. "Paman tahu kan gimana Kalan bencinya sama aku?"


"Iya." Pamannya itu mengangguk.


"Dia juga tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan ku. lalu, bagaimana dengan kerja sama perusahaan kita? apa itu tidak akan berpengaruh buruk pada perusahaan Paman?"


Ricard tersenyum tipis, ia bangga dengan sikap Gadis yang lebih mementingkan perusahaan dibanding dengan perasaannya sendiri. Ricard tahu apa yang akan terjadi jika sampai Kalan bertemu kembali dengan Gadis, bahkan jika Kalan menarik kembali semua sahamnya dari perusahaan miliknya, itu tak membuatnya masalah.

__ADS_1


Kehilangan salah satu saham tidak akan membuat perusahaannya menjadi bangkrut.


"Kamu jangan khawatir, Paman tahu seperti apa Kalan, laki-laki itu sangat profesional, dia tidak akan melibatkan urusan perusahaan dengan urusan pribadi." Ya, karena Ricard sudah sangat mengenal Kalan dengan baik. Bahkan selama Ricard di Jakarta, Kalan bersikap baik-baik saja. Padahal ia tahu, kalau Ricard adalah Paman dari gadis yang sangat di bencinya itu.


"Tapi bagaimana kalau Kalan menarik kembali semua sahamnya?"


Ricard tertawa, "Kamu tenang saja, Dis. kalaupun itu terjadi, Paman tak akan marah padamu. Lagi pula perusahaan Paman tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan salah satu saham. Masih banyak perusahaan lain yang mau bergabung dengan perusahaan kita. Kamu jangan khawatir."


"Baiklah, Paman. Tadinya aku cuma takut. Tapi sekarang, aku merasa lega saat Paman mengatakannya."


"Paman yakin kamu bisa."


******


"Hai ... ?"


Setelah pulang dari kantor, Gadis langsung pergi ke suatu tempat yang sering ia kunjungi selama dua tahun belakangan ini.


"Aku datang dengan membawa bunga kesukaanmu." Ujar Gadis sambil tersenyum, "Apa kamu senang?" Tanyanya dengan wajah berbinar.


"Bian ..." Gadis pun menunduk, "Aku akan kembali ke Jakarta, Paman Ricard meminta aku untuk kembali mengurus perusahaannya disana. Mungkin dalam beberapa waktu, aku gak akan datang kesini." Gadis semakin menunduk sambil meremat jari-jari tangannya itu dengan kuat. Gadis berusaha untuk tidak menangis, tapi setiap kali ia berada di tempat ini, rasanya mata itu tak bisa jika tidak menangis.


Sesibuk apapun Gadis, ia akan selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Bian. Membawakan sebuket bunga lily kesukaan lelaki itu sembari menyelipkan beberapa doa untuknya. Rasa sesak dan kehilangan itu seketika kembali menghantam benaknya, Gadis pun masih tak percaya jika Bian, lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu sudah beristirahat dengan tenang di alam sana.


Bian telah kembali pada sang pemilik.


Lelaki itu pergi meninggalkannya tepat dua jam setelah selesai melakukan janji pernikahan di hadapan Tuhan, Mamanya dan sang penghulu. Bian pergi setelah ia berhasil menjadikan Gadis sebagai istrinya. Dan Bian pun pergi darinya dengan membawa sejuta kenangan.


Entah kenapa Tuhan mengambil Bian dengan begitu cepatnya, Bahkan saat itu Gadis belum sanggup untuk kehilangan sosok Bian. Gadis ingin melihat Bian sembuh, tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Tuhan mengambil Bian disaat pria itu baru saja merasakan kebahagiaan tak terkira. Dan Tuhan mengambil Bian, disaat laki-laki itu sudah resmi menjadi suami dari gadis yang begitu di cintainya.


Ya, secepat itulah Bian pergi untuk selamanya.


"Meskipun aku jauh, tapi doa aku akan selalu ada bersama kamu." Gadis melirih dengan isakan kecil. "Tapi aku gak yakin sama permintaan terakhir kamu." Kepalanya menggeleng pelan seolah Bian ada disana, ada di hadapannya. "Maafin aku Bian, maaf."


Gadis menghapus sisa air matanya, ia tersenyum saat kilasan tentang permintaan terakhir dari Bian kembali berputar di kepalanya. Sebuah permintaan yang rasanya tak mungkin untuk ia lakukan.


Permintaan maaf dari Bian pada Kalan, dan permintaan agar Gadis bisa kembali lagi pada Kalan.


Tidak, itu tidak mungkin.


Kalan sudah melupakannya, dan Kalan membencinya karena Gadis telah memberinya luka.


...******...


Jangan lupa like, komen, dan vote .

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2