
Tiga hari kemudian,
Gadis yang sudah membaik dan memutuskan untuk segera kembali bekerja hari ini, sepulangnya dari kantor ia berencana ingin mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan Retha yang masih di rawat disana.
Gadis yang belum sempat menjenguk pun merasa tidak enak hati lantaran ia sangat mengenal Retha dengan baik.
Begitu tiba di parkiran rumah sakit, Gadis segera memarkirkan mobilnya disana. Ia keluar dari dalam mobil dengan langkah tergesa-gesa. Dengan informasi yang ia terima dari resepsionis rumah sakit tersebut, maka Gadis segera menuju ke ruangan dimana saat ini Retha sedang menjalani perawatan.
Begitu tiba di depan pintu, ia sempatakan untuk menarik napas terlebih dulu lalu mengeluarkannya secara perlahan sebelum kemudian membuka pintu di depannya itu, Gadis pun sedikit terkejut saat matanya melihat sosok seorang laki-laki yang sedang menyuapi Retha dengan begitu telaten.
"Sayang ... udah ah, aku udah kenyang." Cicit Retha begitu manja.
"Kamu harus banyak makan, Tha. Biar cepet sembuh." Ujar Kalan seraya mengangkat kembali sendok makan itu ke hadapan bibir Retha. "Aaa ..." Bujuknya lagi.
Kepala Retha menggeleng, "Gak mau, aku gak mau banyak makan. Nanti badan aku gendut, terus kamu jadi gak suka sama aku." Retha merajuk dengan bibir mengerucut lucu.
Kalan terkekeh. "Biar pun kamu gendut, kamu pasti tetap cantik kok." Kata Kalan yang membuat Retha tertawa pelan.
"Awas ya, kalo nanti aku gendut kamu gak suka sama aku?"
"Tergantung ..." Ujar Kalan yang membuat gadis itu merengek.
"Sayang ... ih, kamu tuh."
Kalan mengusak rambut Retha dengan gemas. Membuat seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu pun menjadi tidak nyaman saat melihat kemesraan yang terjadi di antara mereka berdua.
"Ekhemm ..." Gadis itu berdehem pelan.
"Gadis ...?" Retha yang baru menyadari kehadiran Gadis tentu membuatnya sedikit terkejut, pun dengan Kalan yang langsung menoleh ke belakang. Kalan menghentikan kegiatannya yang sedang menyuapi Retha saat Gadis mulai mendekat ke arah mereka.
"Hai ..." Gadis tersenyum tipis, "Gimana keadaan kamu sekarang, Tha?" Tanya Gadis yang kini sudah berada di samping Retha
"Sudah baikan, kok." Balas Retha seraya tersenyum.
"Maaf, Tha. Aku baru bisa jenguk kamu hari ini." Ujar Gadis sembari menyimpan parsel berisi buah-buahan segar yang sempat ia beli tadi di jalan sebelum menuju ke rumah sakit.
"Gak apa-apa, Dis. Aku dengar kamu juga sakit, Kalan yang cerita sama aku."
Gadis melirik Kalan sekilas sebelum kemudian kepalanya mengangguk.
"Sakit apa, Dis?"
"Cuma gak enak badan aja." Setelahnya, Gadis kembali melirik Kalan yang sedari tadi terus memperhatikannya dalam diam.
Beberapa hari tidak bertemu, ternyata Kalan sibuk menemani Retha disini. Sepertinya Kalan memang benar-benar marah padanya, terlihat dari sikapnya yang kembali dingin serta dari tatapan matanya yang menyoroti tajam.
Apa keputusannya yang menolak Kalan waktu itu sudah tepat?
Dua hari yang lalu,
Tepatnya saat Retha baru saja mengalami kecelakaan. Keesokan harinya Kalan kembali menemuinya di apartemen setelah pulang dari rumah sakit. Lelaki itu tampak sangat cemas, serta terlihat dari raut wajahnya kalau Kalan terlihat sangat lelah. Tapi demi ingin melihat keadaan Gadis, ia abaikan rasa lelahnya itu. Dan benar saja, begitu ia melihat Gadis sekarang dengan keadaan baik-baik saja, membuat rasa lelahnya pun seketika menghilang.
"Kalan ..?!"
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Kalan sedikit cemas.
__ADS_1
"Baik ..." Jawab Gadis bersama kepalanya yang mengangguk. "Aku udah baikan kok."
"Ah ... syukurlah, Dis. Aku khawatir banget sama kamu." Gadis tersentak saat Kalan tiba-tiba saja memeluknya. "Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan kamu." Ujarnya lagi seraya memeluk Gadis semakin erat.
"Kalan ..." Gadis merasa sesak saat Kalan memeluknya semakin erat. Ia bingung kenapa Kalan bersikap tidak seperti biasanya. Apa yang membuat Kalan berubah menjadi seperti ini? Kalan pun masuk ke dalam apartemen tanpa melepaskan pelukannya itu.
"Kalan ... kamu mau aku mati?" Keluh Gadis saat ia benar-benar merasakan tangan lelaki itu memeluknya semakin erat.
Kalan yang sadar pun dengan segera mengangkat wajahnya menjauh. Lalu mengurai pelukannya itu.
"Maaf ...!" Lelaki itu tersenyum tipis. "Aku terlalu senang, Dis. Melihat kamu baik-baik saja."
Seharusnya gadis itu senang saat Kalan memperlakukannya seperti ini. Bukan kah ini yang dulu selalu ia harapkan dari Kalan, mendapat sedikit perhatian dan perlakuan manis dari laki-laki dingin seperti Kalan yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari. Tapi kenapa sekarang ia malah ragu?
Gadis pun bingung dengan sikap Kalan yang tiba-tiba berubah menjadi aneh seperti ini, ia pun tidak tahu harus merespon seperti apa ketika Kalan kembali mengatakan sesuatu yang membuatnya sedikit terkejut.
"Dis ... aku tahu kamu akan terkejut saat aku bilang __" Ia jeda kalimatnya sebentar sembari menatap Gadis lekat. "Saat aku bilang, kalo aku jatuh cinta sama kamu." Entah darimana ia mendapat keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Gadis. Kalan akui, semenjak kembalinya Gadis dari Paris, lelaki itu tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau ternyata rasa cinta itu telah tumbuh di hatinya. Perasaan yang dulu matian-matian ia tolak, Perasaan yang dulu selalu ia abaikan begitu saja. Dan sekarang, Kalan seperti mendapatkan karmanya sendiri.
Ya, karma. Selamat datang pada karma yang mungkin saja sebentar lagi akan membuatnya menyesal.
"Aku tidak tahu jelasnya kapan rasa cinta itu hadir. Tapi yang aku tahu, semenjak kamu pergi dan menghilang begitu saja tanpa memberi kabar, aku mulai merasa kehilangan. Aku sadar ternyata kamu begitu berharga. Aku pun seperti orang gila saat orang suruhanku tidak bisa menemukan keberadaan kamu. Dan selama enam tahun itu, aku selalu mencari kamu, Dis."
"Ka - lan, apa yang kamu katakan?" Tanya Gadis masih tidak percaya.
"Kamu tahu? Kesalahan terbesar aku adalah saat membuat kamu menangis. Satu-satunya yang membuat aku menyesal adalah saat dulu melihat kamu menangis hingga membuat kamu pergi. " Ujar Kalan sembari terus menatap dalam mata bening itu. "Selama enam tahun itu aku selalu tersiksa, setiap kali bayangan kamu ketika menangis terlintas, maka rasa bersalah itu pun semakin besar. Setiap hari, bahkan setiap malam kamu selalu datang dalam mimpiku."
"Kalan, aku __ aku!"
"Mungkin Tuhan sedang menghukumku."
"Aku tahu, saat ini kamu pasti masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi aku mengatakan yang sesungguhnya, Dis. Aku ..." Kalan terdiam sesaat sebelum kemudian ia kembali berujar.
"Aku ... mencintai kamu."
Ya Tuhan ... Entah ini nyata, atau hanya mimpinya saja.
******
"Gadis ...!"
Gadis menutup matanya seraya menggeleng saat suara seorang wanita terdengar dari balik punggungnya.
"Sayang, kamu ada disini?" Tanya Bunda Yasika yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang wanita setengah baya lainnya yang juga ikut masuk.
Gadis menoleh sambil tersenyum. "Bunda." Ia mencium tangan Yasika, lalu memeluknya.
"Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Baik, Bunda." Jawab Gadis sembari mengurai pelukannya.
"Syukurlah, Bunda khawatir banget sama kamu." Ujarnya lagi seraya mengusap lembut sebelah pipi gadis itu.
"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Bunda saat kini pandangannya beralih pada Retha.
"Baik, Tante."
__ADS_1
"Bunda ..." Kalan pun menghampiri Bunda, mencium tangan lalu memeluknya sebentar. Begitu pula pada wanita setengah baya yang merupakan Ibu dari Retha. Ia pun melakukan hal yang sama pula.
"Siapa gadis cantik ini, Jeng?" Tanya Desi saat Kalan baru saja melepas pelukannya.
Yasika, Kalan dan Retha pun menoleh ke arah Gadis.
"Ini Gadis, Jeng Desi. Teman Kalan sama Retha, dia baru pulang dari Paris, loh."
"Tante." Gadis menghampiri wanita setengah baya itu, lalu mencium punggung tangannya.
"Wah ... pantesan aku baru lihat, cantik banget ya?"
"Makasih Tante." Jawab Gadis sambil melempar senyum lebar.
Setelah itu, kini yang menjadi perbincangan mereka adalah tentang rencana pertunangannya Kalan dan Retha yang tinggal satu bulan lagi. Retha, Yasika dan Desi tampak begitu bahagia saat ternyata sebentar lagi mereka akan menjadi satu keluarga nantinya. Sementara Kalan, lelaki itu terlihat biasa saja. Pun dengan Gadis yang hanya menjadi pendengar setia ketika semua orang tengah membahas tentang rencana pertunangan yang akan di gelar secara meriah itu.
Sebenarnya Gadis merasa risih saat berada di antara tengah-tengah mereka. Kalau bukan karena Bunda Yasika yang menahannya agar tidak pergi, mungkin saat ini Gadis sudah pulang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil membuang jauh-jauh pikirannya tentang Kalan.
Ya, Kalan. Laki-laki yang sedari tadi terus menatapnya sambil mempertontonkan kemesraan bersama Retha di hadapannya.
Sama halnya seperti sekarang, dengan tidak tahu malunya, lelaki itu memeluk Retha, mencium keningnya sembari terus menggenggam tangan Retha erat dihadapan semua orang, termasuk dengan dirinya. Kalan sepertinya memang sengaja melakukan itu untuk membuat Gadis cemburu.
Ya, ternyata Kalan memang benar-benar menepati ucapannya sendiri yang akan membuat Gadis cemburu. Dan Kalan sendiri yang akan membuktikannya, kalau sebenarnya gadis itu masih memiliki perasaan cinta untuknya.
Meskipun Gadis telah menolaknya, Kalan tidak akan menyerah. Ia akan terus berjuang untuk mendapatkan cinta gadis itu kembali.
Katakanlah sekarang Tuhan sedang memberinya hukuman dengan caranya sendiri. Karena dulu Gadis lah yang selalu berusaha mengejar cintanya meskipun kerap lelaki itu selalu menolaknya, tapi sekarang Kalan lah yang akan mengejar cinta Gadis meskipun ia akan di tolak berkali-kali.
"Mungkin Tuhan sedang menghukumku dengan caranya sendiri. Dulu aku selalu menolak setiap kali kamu bilang cinta sama aku. Tapi sekarang, sama seperti kamu dulu, aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta kamu kembali, Dis."
"Tapi aku tidak mencintai kamu lagi Kalan."
"Bibir kamu boleh mengatakan tidak, tapi tidak dengan hati kamu."
"Jangan sok tahu kamu?"
"Aku yakin, rasa itu masih ada buat aku. Jadi ... jangan pernah larang aku untuk kembali mendapatkan cinta kamu."
Setelahnya, Kalan pun pergi meninggalkan Gadis yang masih berdiri mematung di tempatnya. Satu kali ia mendapatkan penolakan dari Gadis membuat hatinya sedikit nyeri, tapi semua itu tidak sebanding saat dulu ia menolak cinta gadis itu hingga sepuluh kali.
Dan Kalan berjanji, ia akan menebus semua itu.
...*******...
Bersambung ...
Di lanjut di episode berikutnya ya?
Jangan lupa like, komen, dan vote.
Makasih ...
❤❤❤
__ADS_1