ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhempat


__ADS_3

"Aku ... mencintai kamu."


Ya Tuhan ... entah ini nyata atau hanya mimpinya saja. Kalan, lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuatnya sulit untuk ia percaya.


"Apa yang kamu katakan" Tanya Gadis masih tidak percaya.


"Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Dis."


Cinta? Seharusnya Gadis senang saat Kalan menyatakan cintanya, tapi kenapa kini seakan ada keraguan yang melanda benaknya.


"Nggak ... Gak mungkin." Ujarnya sembari menggeleng. "Kamu pasti sedang bercanda kan?"


"Apa aku terlihat sedang bercanda?"


Gadis menurunkan pandangan matanya saat ia tahu kalau Kalan memang sedang tidak bercanda. Gadis sudah mengenal Kalan sejak lama, ia pun tahu bagaimana sikap lelaki itu yang tegas, dingin dan tidak suka dengan kebohongan.


"Dis ..." Kalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Aku tahu kamu tidak akan percaya. Tapi apa yang aku katakan itu adalah kenyataannya, aku benar-benar mencintai kamu."


Gadis bungkam, ini terlalu sulit untuk ia percaya. Ini seperti mimpi baginya saat mendengar Kalan melontarkan kalimat yang dulu sering ia ucapkan untuk lelaki itu. Kata cinta yang selalu membuat Kalan merasa jengah, bahkan setiap kali kata itu keluar dari bibir Gadis, setiap itu pula ia selalu mendapatkan penolakan dari lelaki itu.


"Dis ..." Gadis menghindar saat Kalan akan menyentuh bahunya.


"Katakan kalo kamu juga cinta sama aku?"


"Nggak." Jawabnya sembari menggeleng. "Yang kamu cintai itu bukan aku, tapi Retha." Gadis ingat bagaimana seorang Kalan begitu mencintai Retha, seorang gadis cantik yang selalu membuat Kalan jatuh cinta padanya setiap hari.


Kalan menutup matanya sekilas, kejadian-kejadian semasa dulu sekilas terbersit kembali dalam benaknya. Bagaimana dulu ia selalu bersikap kepada Gadis, bagaimana dulu ia selalu marah setiap kali Gadis mengikutinya, dan bagaimana ia selalu menolak dengan lantang setiap kali Gadis mengutarakan perasaannya. Karena pada waktu itu, hanya Retha lah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta.


Akan tetapi kini semuanya telah berubah, dan waktu seakan sedang menertawakannya. Perasaan yang selalu ia jaga dan tidak pernah pudar untuk Retha, kini secara perlahan mulai luntur. Kalan akui, sejak ia kehilangan Gadis selama enam tahun lamanya, ada banyak perubahan yang terjadi pada hatinya. Kalan benar-benar kehilangan Gadis. Kalan pun sadar, ternyata gadis yang selalu membuatnya tersenyum selama ini bukanlah Retha, melainkan gadis berkacamata yang dulu selalu mengejar cintanya.


"Bagaimana bisa sekarang kamu bilang cinta sama aku, sementara kamu masih bersama Retha. Bukankah sebentar lagi kalian akan bertunangan dan menikah?"


"Tapi aku mencintai kamu."


"Jangan gila.!" Gadis memutar badannya untuk membelakanngi lelaki itu.


"Aku memang gila. Aku gila karena mencintai kamu." Kalan semakin mendekatkan tubuhnya pada gadis yang sedang membelakanngi nya itu sekarang. Katakanlah ini aneh, ia seperti bukan Kalan yang sebenarnya. Sikap dingin yang telah melekat pada dirinya seakan hilang bersama dengan kepintarannya hanya karena seorang Gadis.


"Cukup Kalan.!" Suara Gadis terdengar meninggi. "Aku gak mau bahas itu, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini."


"Aku gak akan pergi sebelum kamu lihat aku sekarang."


"Pergi, Kalan." Kata Gadis yang membuat lelaki itu semakin penasaran.


"Kalo kamu ingin aku pergi, lihat aku, Dis.!"


Gadis menutup matanya sekilas sembari menarik napas panjang untuk menetralkan kembali detak jantungnya yang berdentum kuat di dalam rongga dada, kemudian ia menegakkan wajah lalu memutar badan untuk kembali mempertemukan pandangan mereka.


Gadis menatap Kalan sekarang, pun dengan lelaki itu yang kini sedang menatapnya pula.


"Katakan sekali saja kalo kamu pun sama seperti aku, kamu masih mencintai aku kan?"


"Sudah berapa kali aku bilang, aku gak cinta sama kamu lagi, Kalan." Seru Gadis yang membuat lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman menyeringai yang seketika membuat Gadis bergidik.


"Jangan pernah berbohong, karena mata kamu tidak bisa membohongi aku."


Gadis membuang muka ke samping, Kalan memang tidak mudah untuk dibohongi. Lelaki itu selalu saja mencari cara untuk membuat Gadis tidak bisa berkutik.


"Sekarang kamu bisa pergi. Tempat kamu bukan disini, ada Retha yang sedang menunggumu. Dan aku tekankan sekali lagi, aku gak cinta sama kamu karena aku pun sama, aku punya seseorang dan aku juga akan menikah dengannya. Dan asal kamu tahu, rasa cinta aku udah mati saat kamu menyuruh aku untuk pergi." Ujar gadis itu bersungut-sungut.


"Lalu apa namanya saat kita berciuman?"


"Waktu itu aku sedang mabuk."


Kalan mendesis seraya tersenyum miring. "Lalu kenapa kemarin pun kamu diam saat aku kembali mencium kamu?"


"Mungkin hanya terbawa suasana saja." Jawab Gadis tanpa menoleh sedikitpun.


Kalan menarik napas dalam lalu membuangnya kasar. "Baiklah, aku akan pergi sekarang." Ia tetap mendekat meskipun gadis itu menghindar. "Aku akan kembali pada Retha sesuai apa yang kamu minta."


"Ya, karena seharusnya memang seperti itu."

__ADS_1


"Aku akan membuatmu cemburu untuk membuktikan kalo kamu masih mempunyai perasaan buat aku."


"Dan aku tidak akan merasa cemburu sama sekali."


"Baik." Kalan sedikit menjauh. "Aku ingin melihat sendiri, bagaimana kamu tidak akan cemburu saat melihat aku bersama Retha."


Seketika Gadis menoleh sembari melempar senyum sinis. "Terserah, karena aku tidak akan cemburu sama sekali."


"Apa kamu yakin?"


Gadis bungkam, ia pun bingung harus berkata apa lagi setelah Kalan kembali memangkas jarak di antara mereka berdua. Kalan menatap mata bening itu dengan dalam untuk mencari tahu sebuah kebenaran. Kebenaran bahwa Gadis masih mencintainya.


"Kamu tidak bisa membohongi aku, Dis."


"Aku mohon pergi lah!" Seru Gadis dengan lirih.


"Mungkin Tuhan sedang menghukumku dengan caranya sendiri. Dulu aku selalu menolak setiap kali kamu bilang cinta sama aku. Tapi sekarang, sama seperti kamu dulu, aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta kamu kembali, Dis."


"Tapi aku tidak mencintai kamu lagi, Kalan.!" Ya, karena Gadis sudah memikirkan itu dengan baik, ia tidak ingin menyakiti siapapun disini, semoga keputusannya yang telah menolak lelaki itu adalah yang terbaik untuk semua, termasuk ia dan juga Kalan sendiri.


"Bibir kamu boleh mengatakan tidak, tapi tidak dengan hati kamu."


"Jangan sok tahu kamu?"


"Kamu boleh menolak aku sekarang, tapi aku pastikan tidak dengan nanti." Kalan menangkup kedua sisi wajah gadis itu dengan lembut sehingga kini mereka berdua saling beradu tatapan.


"Aku yakin, rasa itu masih ada buat aku. Jadi ... jangan pernah larang aku untuk kembali mendapatkan cinta kamu."


******


Nyatanya,


Berada di dalam ruangan bersama orang-orang yang sedang membahas sesuatu yang menurutnya sangat pribadi itu membuat Gadis merasa tidak nyaman. Bukan karena ia cemburu.


Tidak.


Gadis tidak cemburu saat melihat Retha terus bergelayut manja pada lengan lelaki itu sambil berceloteh tentang bagaimana acara pesta pertunangan nanti yang akan di gelar di sebuah hotel berbintang dengan sangat mewah. Hanya saja Gadis merasa risih terus berada di tengah-tengah dua keluarga yang sedang membahas sesuatu yang bukan menjadi urusannya, ditambah dengan gelagat aneh dari Kalan yang sedari tadi hanya terdiam membisu serta tidak lepas untuk memandanginya.


Seolah tidak tahu, Gadis pun bersikap biasa saja tanpa memperdulikan Kalan.


Disaat Gadis hendak meminta izin kepada Yasika untuk menunggunya di luar, disaat itu juga rahangnya kembali mengatup saat ia mendengar sesuatu yang membuat semua orang sedikit terkejut. Bukan hanya Retha saja yang terkejut, melainkan Bunda Yasika dan wanita yang bernama Desi itu pun sama terkejutnya.


"Apa maksud kamu sayang?" Tanya Retha tak mengerti. "Apa yang kamu katakan?"


Kalan menatap Retha sambil tersenyum tipis, lalu menatap kedua wanita setengah baya itu secara bergantian. Dan yang terakhir, pandangannya itu tertuju pada Gadis. Kalan tahu, mungkin keputusannya sekarang akan membuat semua orang bertanya-tanya.


"Jelasin sama aku, apa maksud kamu.?"


"Ya ..." Ia jeda kalimatnya sebentar sembari menarik napas pelan. "Aku hanya ingin menunda acara pertunangan kita." Kata Kalan yang membuat semua orang tercengang bersama matanya yang melebar sempurna.


"Ta - Tapi kenapa? acara itu tinggal satu bulan lagi, dan kita sudah mempersiapkan semuanya kan? kenapa kamu mau kita menundanya?" Saking terkejutnya, Retha meringis kesakitan saat tidak sengaja menarik selang infusnya dengan keras.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Desi menghampiri putrinya itu dengan cemas.


"Nggak, Ma." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun pada sang Mama, yang menjadi pusat perhatiannya itu sekarang hanyalah Kalan.


"Katakan sayang, kenapa kamu ingin kita menundanya?" Tanya Retha dengan suara yang lembut. Itulah kelebihan yang dimiliki oleh seorang Retha, selalu menjaga nada bicaranya meskipun ia sedang tidak baik-baik saja. Ada rasa penasaran yang begitu dalam dari benak Retha saat tiba-tiba saja Kalan mengatakan sesuatu yang sebenarnya ia sendiri pun tidak mengerti.


"Tha ..." Kalan menarik napas dan menutup matanya sekilas sebelum kemudian kembali berujar. "Maafkan aku. Aku sengaja ingin menunda pertunangan kita karena ..." Ia melirik Gadis sekilas. Buru-buru gadis itu membuang muka ke samping. "... Karena belum siap."


"Belum siap bagaimana, Kalan?" Sewot Desi yang tak mengerti dengan calon menantunya itu. Sementara Retha, gadis itu hanya diam tanpa bersuara lagi.


"Karena aku ingin memikirkannya kembali. Aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah, aku juga tidak ingin mengecewakan Retha nantinya."


"Alasan macam apa itu?" Sungut Desi tidak terima.


"Bagaimana ini, Jeng?" Kali ini Desi menghampiri Yasika yang sedari tadi hanya diam. "Semuanya sudah kita persiapkan, bagaimana kita akan membatalkannya?"


"Tenang dulu Jeng Desi, biar saya bicara dulu sama Kalan." Yasika menatap putranya itu sekarang.


"Tapi Jeng, saya gak mau tahu pokoknya acara pertunangan itu harus tetap berjalan."

__ADS_1


Yasika mengangguk sambil melempar senyum tipis untuk menenangkan suasana hati Desi saat ini. "Iya, Jeng. Saya mohon tenang ya? izinkan saya dan Kalan untuk bicara dulu berdua." Ujar Yasika seraya menghampiri putranya itu.


"Bunda ingin bicara sama kamu."


Kepala Kalan mengangguk sebagai jawaban.


"Jeng Desi"


"Iya, silahkan." Ada raut kecewa dari wajah calon besannya itu sekarang.


"Retha ..." Yasika tersenyum lebar. " Tante keluar dulu ya?"


Retha pun membalasnya dengan anggukkan di kepala. Yasika kembali tersenyum saat ia melihat Retha yang terlihat lebih tenang dibandingkan dengan Mamanya sendiri.


Setelahnya, Yasika membawa Kalan keluar dari dalam ruangan untuk mencari tempat yang nyaman agar mereka berdua bisa berbicara dengan nyaman. Yasika pun tidak mengerti dengan sikap putranya itu yang secara tiba-tiba ingin menunda pertunangan yang sudah jauh-jauh hari mereka persiapkan tanpa ia tahu.


Ada apa dengan Kalan?


Biasanya, Yasika lah orang pertama yang akan mengetahui segala sesuatu mengenai putranya itu. Karena Kalan tidak pernah bisa menyembunyikan apapun darinya. Kalan akan selalu bercerita pada sang Bunda apapun masalah yang sedang dihadapinya. Tapi kenapa sekarang anak laki-lakinya itu membuat keputusan tanpa sepengetahuannya.


Yasika pun yakin, jika Kalan melakukan itu bukan tanpa alasan.


Disaat mereka hampir tiba di parkiran rumah sakit, tiba-tiba langkah kaki Yasika dan Kalan berhenti saat mendengar suara seseorang yang memanggil dari balik punggungnya. Yasika menoleh, pun dengan Kalan.


"Bunda ..."


"Gadis.?"


Gadis tersenyum sembari mempercepat langkahnya menuju kearah mereka berdua. "Maaf, Bunda sampai lupa kalo ada kamu disini, sayang?"


"Gak papa, Bunda." Kemudian ia melirik ke arah Kalan. "Kalo begitu, aku pamit pulang sekarang ya Bunda.?"


"Baiklah, maafin Bunda ya? lain kali kita akan pergi bersama."


Gadis tersenyum lebar, tapi senyuman itu tak berlangsung lama saat tiba-tiba saja Kalan memintanya untuk tidak pergi.


"Ada apa, Kalan?" Yasika menatap putranya itu dengan dahi mengkerut.


Kalan menatap Bundanya itu sekilas sebelum kemudian pandangannya tertuju kembali pada Gadis.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Bunda." Jawabnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya itu dari Gadis.


"Mengatakan apa?"


Yasika semakin tidak mengerti, ia melihat Kalan dan Gadis secara bergantian.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Yasika yakin, jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Melihat dari tatapan keduanya, sepertinya mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa yang sedang mereka sembunyikan?


Jangan-jangan?


"Aku mencintai Gadis, Bunda."


Dan itulah yang Yasika takutkan, mengetahui kalau ternyata putranya itu jatuh cinta pada gadis yang dulu selalu ia sakiti.


Karma,


Selamat datang pada Karma yang sekarang sedang menimpa putranya itu.


...******...


Bersambung ...


**Next episode selanjutnya ..


Jangan lupa like, komen, dan vote.


Makasih buat semua yang sudah mampir baca ceritanya aku?


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam cerita ini ..


Harap di maklum yes ..

__ADS_1


Sekali lagi Terima kasih ...


❤❤❤**


__ADS_2