
"Dasar gak tahu tempat."
Kalan bersikap datar seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Gadis, ia hanya mampu menunduk saat wanita di depannya itu terus mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa malu sekaligus bersalah.
Bersalah karena ia telah ketahuan sedang berpelukan bersama Kalan. Lelaki yang beberapa hari terakhir ini begitu dekat dengan perempuan itu. Dan Gadis juga belum sepenuhnya mengetahui tentang hubungan mereka berdua.
"Untung saja aku yang masuk, coba kalo orang lain. Ck." Lagi, wanita seksi dengan rambut kecoklatan itu berdecak seraya tersenyum miring. Ia menatap Kalan dan Gadis secara bergantian. Dan inilah kesempatannya untuk membalas pada Kalan. "Sayang ... ?" Tanpa aba-aba wanita itu mendekat, lalu bergelayut manja pada lengan Kalan.
Seketika Kalan menoleh dengan raut terkejut saat Jesica memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Pun dengan Gadis yang langsung menoleh menatapnya. "Coba jelaskan sama aku sekarang, ada hubungan apa antara kamu sama dia?" wanita itu merajuk.
"Sesy ...!" Kalan mencoba melepaskan tangan wanita itu dari lengannya. "Lepas, kenapa kamu jadi seperti ini?" Ujarnya seraya menatap Gadis yang sedari tadi menatapnya penuh selidik.
Bukannya melepas, wanita itu justru semakin erat melingkarkan tangannya, membuat Gadis risih dan mendesah saat melihatnya. "Bukannya kamu cinta banget sama aku, terus sebentar lagi kita akan menikah kan?" Katanya lagi dengan suaranya yang di buat-buat manja.
Gadis tercengang bersama dengan matanya yang melebar sempurna. Apa katanya? menikah?
*Tadi bilangnya gak punya hubungan apa-apa, tapi mereka sudah merencanakan pernikahan.
Ck, menyebalkan*.
"Apaan sih?" Sungutnya kesal. "Lepas gak?"
Kepala Sesy menggeleng layaknya anak kecil. "Gak mau."
"Jesica ..."
Kalan menarik napas dalam sebelum kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu tercengang bersama dengan matanya yang membulat sempurna.
"Terimakasih." Ujarnya pelan. Meskipun begitu, tapi permintaan maaf dari Kalan itu masih dapat terdengar oleh kedua gadis itu.
"Apa?" Tanya Jesica tak percaya. Seketika ia melepas tangannya dari lengan lelaki itu. Ya, perempuan yang tadi masuk tanpa permisi dan mengganggu kegiatannya bersama Gadis itu adalah Jesica Anastasya. Sepupunya Kalan. Apa katanya? ya ampun, ia sedang bermimpi atau Kalan yang sedang kerasukan malaikat?
Seorang Kalan yang terkenal dingin dan pemaksa itu meminta maaf?
"Apa kata kamu? coba di ulang, aku gak denger." Jesica merasa ini adalah kesempatan baik untuknya, kesempatan untuk membalas Kalan yang selalu memaksa dan mengancamnya. "Coba katakan sekali lagi.?"
Seandainya Kalan tidak sedang bahagia saat ini, sudah ia pastikan akan menarik semua sahamnya dari perusahaan Jesica hari ini juga. Melihat sikap Jesica yang sepertinya sengaja ingin membalas perbuatannya, membuat pemuda itu harus menahan rasa kesalnya. Apalagi disaat tadi Jesica datang dan masuk ke dalam ruangannya itu tanpa permisi atau mengetuk pintunya terlebih dulu membuat ia geram.
Sungguh, seandainya saja bukan Jesica yang membantunya untuk mendapatkan Gadis, sudah dari tadi ia mengusir dan menyeret sepupunya itu untuk keluar dari ruangannya.
Sialan.
__ADS_1
"Gak ada kata ulang." Ucap lelaki itu tegas. "Lebih baik sekarang kamu keluar, sebelum aku menarik kembali semua sahamku dari perusahaan kamu."
Jesica memanyunkan bibirnya ketika sikap Kalan kini mulai terlihat menyeramkan. Ia pikir Kalan akan berubah jinak, tapi nyatanya ia salah besar. Lelaki itu tetap Kalan yang keras kepala, galak dan tak pernah terkalahkan.
Jesica yang mulai terimindasi dengan suara Kalan yang menyeramkan itu membuatnya menciut. "Kamu tuh bisanya cuma mengancam ya?" Jesica terlihat sangat kesal sekali. Ia tidak bisa melawan jika Kalan sudah membawa-bawa nama perusahaannya.
"Terserah aku." Lelaki itu mengedikkan bahunya acuh.
Jesica mendesis, lalu memutar kedua matanya malas. Setelah itu, kini perhatiannya tertuju pada Gadis yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka berdua.
"Gadis?"
"Ya."
"Kamu masih ingat aku kan?" Tanya Jesica. "Kalan, minggir." Tanpa sadar Jesica duduk di tengah-tengah mereka.
"Apa-Apaan sih, Jes.?" Ketus lelaki itu.
Gadis mengernyit sambil tersenyum kaku, ia melirik Kalan yang terlihat mulai kesal. "Memangnya kamu siapa?"
Jesica tertawa, ia yakin jika Gadis memang tidak mengenali dirinya. "Aku Sesy."
"Sesy?"
Gadis nampak sedikit berpikir, ia menatap Jesica lamat-lamat, lalu ...
"Sesy?" Gumamnya pelan seraya terus menatap perempuan cantik itu sekarang.
"Astaga ... Dis, aku Sesy. Sesy yang ___"
"Yang gendut itu." Sela Kalan cepat. Gadis menatap Kalan sambil mengulum senyum. Sementara Jesica, ia mendelik tajam menatap lelaki itu tidak suka.
Begitu lah Kalan, dari dulu sampai sekarang laki-laki itu memang tak pernah berubah. Bukan hanya Gadis saja yang sering menangis karena Kalan, ia pun sama. Jesica selalu menangis karena Kalan selalu mengolok dan memanggilnya dengan panggilan gendut, lebih parahnya lagi karung beras.
Menyebalkan bukan? Tapi Jesica menyadari, kalau dulu ia memang tidak seramping dan secantik seperti sekarang.
******
Satu jam lebih Gadis dan Jesica bertukar cerita sambil sesekali melempar tawa. Mereka melupakan seseorang yang sepertinya mulai jengah karena ia dilupakan begitu saja. Kalau bukan karena Gadis yang melarangnya, sudah sejak tadi ia mengusir Jesica.
Kalan menyibukkan dirinya dengan kembali bekerja. Ia membiarkan Gadis dan Jesica untuk tetap disana. Gadis dan Jesica selalu tertawa, dan hal itu tak luput dari perhatian Kalan. Sesekali ia memperhatikan bagaimana Gadis tertawa saat Jesica menceritakan tentang Kalan yang meminta bantuan darinya.
__ADS_1
Dan tanpa sadar ia pun ikut tersenyum saat menerima ide konyol dari Bima.
Kalan memperhatikan bagaimana Gadis tertawa. Lelaki itu baru menyadari kalau ternyata senyuman Gadis sangat lah manis. Dan lebih parahnya lagi, ternyata Gadis terlihat lebih cantik saat sedang tersenyum seperti itu.
Kenapa aku baru tahu kalau senyum kamu itu begitu manis, Dis? kamu juga cantik.
Kalan tersenyum tipis saat ingatannya kembali lagi ke masa lalu. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa bisa menjadi laki-laki bodoh saat itu. Jelas-jelas Gadis lah orang yang selalu ada untuknya, Gadis lah yang selalu menemaninya, dan hanya Gadis lah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tersenyum.
Disaat ia sedang memperhatikan Gadis dari kursi kebesarannya, disaat itu pula Gadis menatapnya. Untuk beberapa saat mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Kalan tersenyum, pun dengan Gadis yang membalas senyumannya. Senyuman itu yang membuat Kalan merasa gila sekarang. Ia ingin sekali menghampiri Gadis lalu membuat bibir ranum itu berhenti tersenyum untuk sesaat. Sayangnya disana ada Jesica, dan ia pun kesal saat Gadis mengalihkan pandangannya lagi kepada Jesica yang tidak berhenti mengoceh, membuat Kalan semakin ingin mengusir Jesica saat itu juga.
Seperti dewa keberuntungan itu sedang berpihak padanya, maka di beberapa detik kemudian, ia tersenyum saat melihat Jesica menerima panggilan telepon dan memutuskan untuk segera pergi secepatnya.
"Sampai ketemu lagi nanti ya? kapan-kapan kita jalan bareng, oke.!" Setelah berujar demikian, Jesica pun pergi. Wanita itu kini sudah tak terlihat lagi.
Dan di dalam ruangan itu pun sekarang hanya tinggal ada mereka berdua. Kalan dan Gadis.
"Udah puas ngomongin aku dari tadi, huh?"
"Kalan ..." Gadis tersentak saat tiba-tiba Kalan kembali memeluknya dari belakang.
"Kamu kayaknya bahagia banget hari ini?"
"Hem ..." Kepala mungil itu mengangguk.
"Kenapa?" Tanya Kalan dengan masih memeluk Gadis dari belakang, ia benamkan wajahnya di perpotongan leher gadis itu sekarang.
"Karena aku bisa bertemu lagi sama Sesy."
"Cuma Sesy.?" Tanya Kalan dengan lembut. Sesekali ia menghirup aroma memabukkan dari tubuh Gadis. Entah kenapa Kalan begitu menyukai aroma tubuh dari gadis itu. Sampai-sampai ia tidak akan melepaskan Gadis dari dekapannya. Ia tidak akan membiarkan Gadis menjauh darinya walau untuk sebentar.
"Selain Sesy, aku juga bahagia hari ini karena kamu." Ujar Gadis seraya menatap lelaki itu dari samping. "Aku gak pernah mengira jika Kalan yang aku kenal galak dan dingin itu mau melakukan hal konyol seperti itu." Gadis terkekeh, ingatannya kembali lagi pada Jesica. Perempuan itu menceritakan bagaimana perjuangan seorang Kalan untuk bisa membuat Gadis cemburu.
"Itu semua aku lakukan demi kamu. Karena aku benar-benar mencintai kamu, Dis."
"Benarkah?" Tanya Gadis seraya memutar badannya. Kini mereka berdua saling berhadapan dengan mata saling memandang.
Kalan begitu lekat menatap wajah Gadis yang terlihat sangat cantik. Pun dengan Gadis, ia terpaku menatap mahluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna dimatanya. Dari dulu hingga sekarang, Gadis selalu mengagumi ketampanan yang dimiliki oleh lelaki itu.
Ini seperti mimpi baginya bisa mendapatkan laki-laki yang selalu menolak cintanya waktu itu.
"Kenapa?" Kalan menyelipkan beberapa helai rambut gadis itu pada balik telinga. "Kenapa kamu begitu cantik, Dis?"
__ADS_1
Gadis tersenyum, dan senyuman itu sontak membuat Kalan membeku. Darahnya terasa panas lalu menjalar ke seluruh tubuhnya, dengan tatapan penuh damba Kalan mengikis jarak di antara mereka berdua. Lalu, tidak ia biarkan bibir ranum itu tersenyum karena kini Kalan menciumnya.
...******...