
"Ada apa sayang?"
Retha menoleh saat mendengar suara lembut dari balik punggungnya. Ia tersenyum saat sang Mama mendekat dan duduk di sampingnya. "Kenapa pagi-pagi sekali udah melamun?"
"Nggak papa, Ma." Jawabnya bersama kepala yang menggeleng pelan.
"Ada apa?" Kembali pertanyaan itu Desi layangkan karena ada yang tak biasa dari raut wajah putrinya itu. "Katakan, apa yang membuat kamu melamun pagi-pagi seperti ini?"
"Ma ..." Retha membuang napasnya pelan. "Ma, ternyata Gadis ada disini."
"Gadis?"
"Hem ..." Kepalanya mengangguk. "Aku tidak tahu sejak kapan Gadis kembali. Aku bertemu dengannya kemarin, dan itupun di kantornya Kalan. Aku takut, Ma."
"Sayang ..." Sang Mama meraih tangan putrinya itu dengan lembut. "Bukannya gadis itu sudah menikah? lalu apa yang kamu takutkan?"
Lagi, kepala Retha menggeleng. "Tapi tetap aja, Ma. Aku takut Kalan kembali padanya."
Begitu besar kekhawatiran Retha saat melihat Gadis kembali. Bagaimana pun, Gadis lah yang dulu membuat Kalan berpaling dan memutuskan hubungan mereka berdua. Dan sekarang, melihat Gadis ada di Jakarta membuatnya kembali merasa tak tenang.
Bukan Retha tak mempercayai Kalan. Lelaki itu memang sudah berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Tetapi tetap saja sebagai seorang perempuan, rasa takut itu kembali muncul. Apalagi yang Retha tahu kalau dulu Kalan begitu mencintai Gadis.
Dan untuk sekarang ... Entahlah!
"Sayang, gimana kalo kamu minta sama Kalan untuk mempercepat pernikahan kalian?"
"Apa Kalan akan setuju?"
"Tentu saja dia harus setuju."
"Tapi bagaimana kalo Kalan menolak, Ma? Mama tahu kan seperti apa Kalan?" Ujar Retha yang membuat Desi sedikit berpikir.
Ya, Desi mengetahui bagaimana sikap Kalan yang sangat keras kepala dan tidak bisa di paksa. Lelaki itu bahkan sangat sulit sekali untuk di dekati.
Desi ingat betul bagaimana perjuangan seorang Retha selama ini untuk kembali mendapatkan cinta laki-laki itu. Meskipun saat itu, Desi pulalah yang turun tangan untuk membuat Kalan kembali kepada putrinya. Dan Desi-lah yang telah berhasil membujuk Kalan untuk bertunangan dengan Retha, putrinya. Meskipun pada saat itu ia sedikit menggunakan cara yang licik. Melihat ada ketakutan di raut wajah putrinya itu tentu saja membuat Desi kembali harus segera bertindak.
Desi tidak akan membiarkan siapapun kembali merebut kebahagiaan putrinya. Apapun akan ia lakukan untuk melihat putrinya itu bahagia, meskipun ia harus kembali menggunakan cara licik sekalipun. Desi tersenyum miring sebelum kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat Retha mengangguk, lalu tersenyum bahagia.
"Tenang sayang, Mama pastikan Kalan akan segera menikahi kamu secepatnya." Ujar wanita setengah baya itu dengan penuh keyakinan.
******
"Ada apa, Tente.?"
"Kalan, maaf Tente mengganggu sebelumnya. Sepertinya Retha sakit. Apa kamu bisa menemuinya di apartemen?"
"Sakit?" Tanya Kalan seraya mengernyit.
__ADS_1
"Iya, penyakitnya kambuh lagi. Tante lagi di luar kota. Retha sendirian disana, Tante takut terjadi apa-apa."
Terdengar suara begitu cemas di seberang sana. Kalan pun mengiyakan setelah pulang dari kantor, ia akan menemui Retha, melihat keadaan gadis itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Kalan segera bergegas meninggalkan ruangan kerjanya itu untuk segera menemui Retha di apartemennya. Selain karena pekerjaannya yang sudah selesai, meskipun tidak sepenuhnya. Kalan juga menuruti keinginan dari sang calon mama mertua, melihat keadaan Retha yang menurutnya sedang sakit itu.
Mengendarai kereta besinya dengan kecepatan sedang, Kalan tiba di basement gedung apartemen itu setelah menempuh setengah jam perjalanan. Ia memasuki lift untuk naik ke lantai tujuh belas dimana Retha tinggal saat ini.
Begitu pintu di buka, pertama yang ia lihat adalah sosok Retha yang tersenyum meski wajahnya terlihat sedikit pucat. Kalan tebak, pasti sakit maag serta kekurangan tidur yang membuatnya menjadi sakit seperti ini.
"Apa kamu sudah periksa ke dokter?" Tanya Kalan begitu ia duduk di sofa yang terletak di ruang tengah.
"Udah kok, maag ku kambuh. Tapi sekarang udah baikan."
"Syukurlah." Kalan bernapas lega. "Sekarang tidurlah.!"
"Kamu mau temenin aku kan?"
"Aku harus pulang."
"Sayang ..." Retha merajuk manja. "Please ... temenin aku malam ini saja ya?" Sungguh, Retha ingin sekali Kalan menemaninya malam ini. Karena jujur, sejak pertemuannya bersama Gadis terjadi, perasaan tak tenang itu mendadak muncul. Ada banyak hal yang ingin Retha tanyakan pada Kalan. Tapi ia tak berani, Retha takut jika nanti Kalan beranggapan tak mempercayainya.
"Aku gak bisa, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di rumah."
"Kamu bisa bekerja disini, aku janji gak akan ganggu kamu. Aku hanya ingin kamu menemaniku saja."
Kalan menggantung kalimatnya saat mendengar suara ponselnya menyala. Buru-buru ia ambil benda pipih itu dari dalam saku jas yang masih melekat pada tubuhnya.
"Baiklah, aku kesana sekarang." Lalu, Kalan mematikan panggilan yang entah dari siapa itu.
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Kalan berdiri, sambil merapihkan kembali jasnya.
"Tapi ... aku disini?"
"Masih ada Sinta, kan?" Tanya Kalan yang berhasil membuat Retha merengut kesal. Baru beberapa menit yang lalu Retha memerintahkan asisten pribadinya itu untuk pulang kerumah, dan sekarang dengan terpaksa ia harus kembali menghubungi Sinta untuk menemaninya disini.
Tak ingin membuat Kalan kesal, Retha pun mengizinkan Kalan untuk pergi. Tapi sebelum lelaki itu benar-benar pergi, Retha memberikan sesuatu kepada Kalan.
"Apa ini?" Tanya Kalan saat Retha menyodorkan sebuah botol minuman kehadapannya.
"Ini teh herbal."
"Teh herbal?" Tanyanya dengan mengernyit.
" Mama yang buatkan khusus untuk kamu. Itu teh kesehatan kok, bukan racun." Kata Retha yang membuat Kalan tersenyum. "Di minum ya? meskipun sibuk, tapi kamu harus tetap menjaga kesehatan. Aku juga minum kok."
"Baiklah, nanti aku minum."
__ADS_1
Setelahnya, Kalan benar-benar pergi dengan membawa botol minuman itu dalam genggamannya. Botol minuman berisi teh herbal yang khusus di buatkan Desi untuk calon menantunya itu. Tanpa ada yang tahu, bahkan Retha sekalipun. Kalau di dalam botol minuman itu bukan hanya berisi teh herbal saja, melainkan Desi telah memasukkan sesuatu kedalamnya.
******
"Sorry ... gue telat."
"Widih ... bos muda kita datang nih?" Seru Andrew saat Kalan baru saja datang ke dalam klub malam milik Ruben Arganta itu.
"Makin gagah aja lo, Lan?" Tambah Edo, salah satu temannya Kalan sewaktu duduk di bangku kuliah.
"Jelas lah gagah, dia kan penguasa perusahaan di Jakarta." Kelakar Ruben, sang pemilik tempat hiburan malam itu yang membuat kedua temannya yang lain ikut tertawa.
"Ck, basi." Kalan berdecak, lalu menuangkan cairan memabukkan yang sudah tersedia di atas meja itu ke dalam gelas.
"Lo minum, Lan?" Tanya Ruben. Setahunya, Kalan tak pernah lagi meminum minuman haram itu sejak lama. Sejak pertama ia di tinggal kekasihnya menikah.
"Lagi galau kali." Balas Andrew seraya tersenyum.
"Kenapa? Ada masalah?" Entahlah, kenapa Ruben begitu penasaran saat melihat Kalan memasukkan minuman itu ke dalam mulutnya. "Tumben, lo?" Tanyanya lagi yang tak dapat tanggapan sama sekali dari Kalan.
Sementara Kalan, lelaki itu kembali menuangkan cairan haram itu ke dalam gelasnya, lantas meneguknya hingga tak tersisa sedikit pun. Mungkin hanya dengan cara minum seperti ini bisa membantunya untuk menghilangkan wajah seseorang yang terus berputar di kepalanya. Sejak pertemuannya bersama Gadis kembali terjadi, mendadak perasaannya menjadi kacau berantakan. Sampai-sampai lelaki itu kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, tapi tetap saja tak membuat bayang-bayang wajah Gadis hilang dari kepalanya begitu saja.
Sudah beberapa gelas yang Kalan minum hingga membuatnya mulai hilang kesadaran. Sesekali Kalan tertawa sambil merancau tak jelas membuat ketiga temannya itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis seraya menggeleng.
"Gadis ... Sialan!" Ia terkikik geli.
"Gadis ... Gadis ... berengsek."
Lagi, entah sudah keberapa puluh kali pula lelaki itu menyebut dan memanggil nama Gadis dalam setiap tarikan napasnya. Bahkan, sesekali Kalan mengeluarkan kata-kata yang membuat ketiga temannya itu ikut merengut bingung. Ternyata, yang membuat seorang pengusaha seperti Kalan menjadi mabuk seperti ini adalah seorang wanita. Wanita bernama Gadis yang telah meninggalkan Kalan dan memilih untuk menikah bersama laki-laki lain.
Miris.!
Di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menipis karena terlalu banyak minum, Kalan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam kantong celana. Ia mendial nomer seseorang yang dalam hitungan detik orang itu langsung menerima panggilannya.
"Hallo ---!"
"Hallo ..." Terdengar Suara lembut milik seorang perempuan di seberang sana. "Hallo ... siapa ya?"
Suara lembut yang dulu selalu ia dengar, selalu ia rindukan. Dan sekarang, ia dengar kembali membuatnya tersenyum.
"Kalo gak ada kepentingan aku tu----" Suara itu tercekat saat mendengar suara milik seseorang yang tak asing di telinga. Gadis tahu siapa pemilik suara itu, Gadis pun tahu siapa orang yang kini tengah meneleponnya.
"Hai ... istri orang.!"
...******...
__ADS_1