ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhsembilan


__ADS_3

Ternyata,


Kalan benar-benar menepati ucapannya sendiri yang akan mengirimkan bunga setiap hari untuk Gadis. Meskipun Gadis sudah melarangnya, tetapi Kalan tetaplah Kalan. Lelaki keras kepala itu tidak pernah mau mendengarkannya sama sekali. Gadis pun sampai rela membayar dan meminta tukang kurir itu untuk mengembalikan kembali semua bunganya kepada Kalan. Dengan alasan, sudah terlalu banyak bunga yang lelaki itu kirimkan, bahkan ruangan kerjanya pun sekarang sudah tampak seperti sebuah taman bunga saja.


"Dia tuh ... bener-bener, ya?" Gerutunya gemas.


Belum lagi, setiap hari Gadis harus menghadapi semua karyawannya sendiri yang tidak pernah berhenti untuk menggodanya. Membuatnya malu setengah mati karena ulah Kalan. Apalagi Marisa, wanita itu terus-terusan menggodanya dan mengatakan sesuatu yang membuat Gadis selalu merotasikan kedua bola matanya malas.


"Ciee ... ternyata Pak Kalan romantis juga ya, Bu?"


"Ibu Gadis beruntung loh, di taksir sama laki-laki seperti Pak Kalan. Udah gantengnya gak ketulungan, kaya lagi." Ujar Risa sambil terkikik geli di hadapannya.


Meski Gadis tidak pernah menanggapi semua ocehan sekretarisnya itu, tapi Risa tidak pernah berhenti untuk selalu membuatnya merasa kesal sekaligus tersipu malu. Padahal ada yang tidak ketahui oleh sekretarisnya itu, bagaimana hubungan Kalan dan Gadis sewaktu dulu. Seandainya Risa tahu, apa wanita itu masih akan tetap membanggakan Kalan?


Dan lagi, Risa tidak mengetahui kalau Kalan, lelaki itu tidak pernah memberinya kabar selama beberapa hari terakhir ini. Di balik Kalan yang terus mengirimkan bunga untuknya setiap hari, lelaki itu sebenarnya sedang marah karena kejadian malam itu.


Sudah satu minggu semenjak Gadis meminta Kalan untuk berhenti mengganggunya, sejak saat itu pula Kalan tidak pernah lagi menghubunginya, apalagi sekarang lelaki itu sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Gadis pun tidak tahu kapan Kalan akan kembali.


Kalan tidak pernah absen untuk memberinya bunga meskipun ia sedang marah. Tapi lelaki itu tidak pernah lagi menghubungi ataupun memberinya kabar meski lewat pesan.


Terkadang Gadis merasa bersalah, tapi semua itu ia lakukan untuk kebaikan bersama. Ya, Gadis harus membuat Kalan berhenti untuk tidak mengejar dan mengganggunya lagi.


...******...


Malam itu, satu hari setelah Kalan memanggilnya dengan panggilan sayang, ia memenuhi keinginan Kalan yang memintanya untuk makan malam bersama. Seperti biasa, Gadis tidak bisa menolak dan akhirnya ia menyerah karena Kalan terus memaksanya. Bahkan laki-laki itu sampai rela menunggunya berjam-jam di depan pintu unit apartemennya.


Menurut Gadis, ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Kalan secara baik-baik.


Begitu tiba di sebuah restoran elit yang telah di persiapkan oleh Kalan, Gadis mengikuti kemana Kalan akan membawanya untuk makan malam. Gadis merasa risih saat mereka berjalan bersama, apalagi saat ia dan Kalan melewati beberapa orang yang sepertinya sudah sangat mengenal Kalan dengan baik.


Dan disinilah sekarang mereka berdua berada, duduk saling berhadapan di salah satu meja yang sudah Kalan persiapkan untuk makan malam bersama dengan Gadis.


"Gimana? kamu suka kan sama makanannya?"


"Hem ..." Jawab Gadis bersama kepalanya yang mengangguk. "Ini semua kan makanan kesukaan aku." Ya, karena Kalan memang sengaja memesan semua makanan kesukaan Gadis.


Meskipun dulu Kalan selalu bersikap datar dan dingin terhadap Gadis, tapi ia tahu apa saja makanan yang disukai atau tidak disukai oleh gadis itu.


"Tunggu ... tunggu ..." Gadis nampak sedikit berpikir, "Kalan ... semua makanan ini___?"


"Itu semua kesukaan kamu kan?" Kalan menyela cepat.


"Kamu tahu?" tanya Gadis begitu penasaran.


"Apa sih yang enggak aku ketahui tentang kamu, Dis."


Kalan tersenyum, dan senyuman itu mampu membuat Gadis membeku untuk beberapa detik.


"Meskipun dulu sikap aku kurang baik sama kamu, tapi aku tahu semuanya. Bukan hanya makanan saja, aku juga tahu semua kebiasaan kamu."


"Kabiasaan apa?"


"Kebiasaan ... " Kalan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Gadis. "Kebiasaan yang sering kamu lakukan ketika sedang tidur." bisiknya tepat di sebelah telinga Gadis.


"A - apa?" Jangan bilang kalau Kalan juga mengetahui semua kebiasaan buruknya itu. Duh ... Gadis kan malu jika sampai Kalan mengetahui kebiasaan suka mengompol meskipun sudah kelas empat sd.


Lagi, pemuda yang Gadis kenal dingin itu kembali tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


Kalan kalau sedang tersenyum seperti itu kenapa bisa ganteng banget sih?


Gadis buru-buru menggeleng. Tidak, ia tidak boleh terhanyut apalagi sampai terbawa suasana oleh senyuman yang Kalan torehkan. Ingat, tujuannya kali ini hanya untuk membuat laki-laki itu berhenti untuk tidak lagi mengganggunya.


Disaat Kalan dan Gadis baru saja menyelesaikan makan malamnya, di saat Gadis akan memulai pembicaraan yang serius dengan lelaki itu, disaat itu pula Gadis kembali mengatupkan rahangnya saat ada beberapa orang yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua dengan emosi yang sudah membucah.


"Oh ... rupanya kalian berdua lagi bersenang-senang disini?"


Gadis menatap wanita paruh baya itu, pun dengan Kalan yang langsung menoleh melihatnya.


"Ma ... pliss.!" Perempuan itu memelas. "Jangan buat keributan, aku mohon."


"Alah ..." Sungut wanita paruh baya itu, ia tidak peduli meskipun kini mereka semua menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana. Desi akan memberi pelajaran kepada Kalan dan Gadis karena telah berani menyakiti putrinya. "Biar, biar semua orang tahu siapa mereka berdua." Desi menunjuk Kalan dan Gadis yang masih diam memperhatikannya.


"Ma ..." Retha yang tahu akan kemarahan sang Mama, ia buru-buru menarik lengan Mamanya itu untuk menjauh dari Kalan dan juga Gadis. "Ma ... ayo kita pulang."


Bukannya menuruti keinginan putrinya itu, Desi malah menepis dan membuat keributan disana semakin menjadi. Meskipun ruangan itu sedikit tertutup, tapi tetap saja membuat semua pengunjung disana mendengar sekaligus menyaksikan keributan yang terjadi karena kerasnya suara yang Desiani lontarkan.


Apalagi, siapa orang yang tidak mengenali sosok Retha. Seorang penyanyi papan atas yang tentunya sangat di kenal banyak orang.


"Dasar wanita murahan!" Sungutnya dengan suara yang lantang.


"Tante." Cukup sudah kesabaran Kalan kali ini. Ia tidak akan membiarkan siapapun kembali mempermalukan Gadis. Kalan menggebrak meja sembari berdiri dari duduknya dengan wajah yang mengeras. "Cukup saya bilang."


Bukannya takut, justru Desi semakin menjadi. "Kenapa? sekarang kamu belain dia karena dia berubah menjadi cantik? bukannya dulu kamu sangat membenci wanita ini kan?" Ujarnya dengan bersungut-sungut.


"Ma, cukup Ma. Malu diliatin sama orang-orang." Pinta Retha dengan memohon.


"Mama gak peduli. Biarin semua orang tahu, kalo wanita yang terlihat polos ini adalah wanita licik, penggoda dan tentunya perebut tunangan orang lain."


"Saya bilang cukup Tante, sebelum saya berbuat sesuatu yang mungkin bisa menyakiti Tante."


"Kamu berani?" Ucap Desi menantang.


"Kenapa tidak." Balas Kalan seraya menyeringai. "Saya bisa melakukan apa saja untuk membuat mulut Tante berhenti agar tidak mempermalukan Gadis."


"Oh ..." Wanita paruh baya itu bertepuk tangan seperti sedang mengejek. "Lihat semua ..." Desi berjalan ke arah dimana sebagian orang sedang memperhatikan perdebatan mereka. Desi tidak akan berhenti sebelum ia benar-benar mempermalukan Gadis, meskipun Retha sudah melarangnya. "Karena dia, karena wanita ini, pemuda yang dulu di kenal baik dan sopan, kini berubah menjadi pembangkang. Karena dia juga." Desi mendekat ke arah Gadis. Ia kesal sekali karena melihat sikap Gadis yang terlihat tenang.


"Kalo kalian mau tahu, dia juga yang menyebabkan putri saya gagal bertunangan dan menikah. Dia merebut dan menghancurkan kebahagiaan putri saya."


"Cukup Tante." Teriak Kalan.


Lelaki itu hampir saja melakukan sesuatu yang tidak di inginkan jika saja Gadis tidak menahannya.


Desi semakin kesal dan marah saat melihat interaksi keduanya, apalagi melihat sikap Gadis yang tampak tidak terganggu sama sekali. Ia geram, lantas dengan segera Desi merampas gelas berisi jus di atas meja lalu menyiramkannya pada Gadis.


"Tante, apa yang Tante lakukan?" Sumpah demi apapun Kalan sangat marah, ia ingin membalas jika yang menyiram Gadis itu bukanlah seorang wanita.


Semua terkejut, dan kejadian itu tentu saja menarik perhatian banyak orang.


"Ma, apa yang Mama lakukan?" Pekik Retha tidak percaya.


"Itu balasan buat wanita seperti dia, karena dia memang pantas mendapatkannya."


Melihat kondisi Gadis yang sangat mengenaskan, Kalan menggeram, lalu segera memanggil petugas keamanan yang bekerja di restoran itu. Ia menyuruh beberapa petugas itu untuk membawa Desi keluar saat ini juga.


Desi menolak dan memberontak, ia tidak terima dan merancau tidak jelas saat beberapa orang memaksa dirinya keluar. Sementara Retha, ia menyempatkan dirinya untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada Kalan dan Gadis atas semua kekacauan yang terjadi akibat ulah Mamanya itu, sebelum kemudian ia pun ikut menyusul sang Mama keluar dari restoran.

__ADS_1


"Dis ... ayo kita pulang?" Ajak Kalan saat melihat keadaan sudah mulai tenang.


"Puas kamu?" Kalan tersentak saat tiba-tiba saja Gadis menepis tangannya dengan kasar. "Belum cukup kamu membuat aku selalu dipermalukan seperti ini, hah?" Entah kenapa ia tidak bisa lagi menahan kekesalannya, Gadis marah, dan ia siap meledakkan semuanya kepada Kalan. Jika tadi Gadis masih bisa menahan emosinya, maka untuk saat ini ia tidak bisa lagi memendam amarahnya.


Tidak perduli dan masa bodo dengan orang-orang yang kembali memperhatikannya sekarang. Gadis sudah di permalukan sejak tadi, ia sudah terlanjur malu di hadapan orang lain.


Sejak kembalinya Gadis ke Jakarta, sejak ia kembali bertemu dengan Kalan, sejak itu pula masalah selalu datang secara bertubi-tubi. Gadis sadar, jika ia tidak bertemu kembali dengan Kalan, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Semua masalah yang terjadi belakangan ini karena ia tidak bisa mencegah kedekatannya bersama Kalan. Gadis lupa jika kedekatannya bersama Kalan itu akan membawa pengaruh buruk pada semua orang.


"Sekarang aku minta sama kamu untuk pergi, dan berhenti ganggu aku!"


Kalan yang mendengarpun hanya diam, ia akan membiarkan Gadis meluapkan semua emosinya. Meskipun sebenarnya ada rasa sakit yang tiba-tiba menyentil hatinya saat Gadis memintanya untuk pergi.


"Kamu tahu? dari dulu sampai sekarang aku selalu di permalukan seperti ini, dan itu semua gara-gara kamu." Gadis berujar dengan napas memburu, dadanya naik turun bersama dengan matanya yang mendelik tajam. "Sekarang aku minta sama kamu untuk berhenti gangguin aku, jauhi aku, dan kalo perlu jangan pernah lagi muncul di hadapan aku.!"


Kata-kata itu seperti devaju untuknya. Dulu, kata-kata itulah yang Kalan lontarkan hingga akhirnya Gadis pergi. Dan sekarang, Gadis lah yang memintanya untuk pergi. Kalan menutup matanya rapat-rapat saat kalimat demi kalimat menyakitkan itu terus terlontar dari bibir Gadis. Cukup ia diam sedari tadi, tapi untuk kali ia tidak akan diam lagi.


"Keluarkan, keluarkan semuanya agar hati kamu tenang, Dis." Kalan berusaha mendekat tapi Gadis memilih untuk menghindar.


"Katakan semuanya jika itu bisa membuat kamu tenang." Kata Kalan yang membuat Gadis tidak bisa lagi menahan tangisnya.


"Kamu tahu apa yang akan membuat aku tenang sekarang?" Gadis menatap Kalan dengan buliran air mata yang terus menetes melewati pipinya. "Kamu pergi dari kehidupan aku." Bisa Kalan lihat betapa terlukanya gadis itu sekarang.


"Itu tidak mungkin." Tukas Kalan. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah pergi dari kehidupan kamu."


"Kalo begitu sampai kapanpun aku tidak akan tenang, kehadiran kamu akan terus nyakitin aku, Kalan."


"Apa dengan perginya aku kamu akan tenang dan bahagia?"


"Ya." Jawab Gadis tegas.


"Apa kamu benar-benar menginginkan aku pergi?"


Gadis diam, ia tidak berani menatap mata kelam milik laki-laki itu.


"Lihat dan jawab aku.!" Gadis itu masih menunduk. "Jika kamu masih seperti ini, maka aku pastikan aku tidak akan pernah pergi dan menjauh dari kamu."


Seketika Gadis yang sedang menunduk itupun mengangkat wajahnya. Lalu menyeka air matanya dengan kasar. "Ya, aku akan bahagia jika kamu pergi menjauh dari aku. Dengan begitu, aku akan hidup dengan tenang." Meskipun bibirnya berkata demikian, tapi tidak dengan hatinya.


"Baik." Kalan tersenyum, tapi senyuman itu berbeda dari biasanya. "Bukankah aku pernah bilang, kalo aku akan pergi jika kamu sendiri yang meminta." Bibirnya kembali tertarik sedikit. "Baik." Ulangnya lagi. "Aku akan melakukan apa yang kamu minta." Kalan berjalan mundur perlahan.


"Aku akan pergi. Dan aku janji tidak akan pernah mengganggu kamu lagi."


Setelah itu, Kalan benar-benar pergi meninggalkannya sendiri disana. Tanpa bicara, tanpa menoleh lagi ke belakang. Dan Gadis, Gadis hanya bisa menangis saat punggung lelaki itu sudah tidak terlihat lagi.


...********...


Hai ... Hai ... gimana kabarnya kalian semua?


Maafin aku yang baru bisa Up lagi ...🙏


Masih pada nungguin ceritanya Kalan dan Gadis gak sih?


Next episode berikutnya yess ...


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan simpan di favorit ya ...


Makasih semua ...💜💜

__ADS_1


__ADS_2