ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Tigapuluhtujuh


__ADS_3

"Aku pergi ya?"


Gadis mengeratkan pelukannya, ia memeluk Kalan dengan sangat erat. Entah ada berapa pasang mata yang kini menyaksikan kemesraan mereka berdua, Gadis tak peduli, pun dengan Kalan. Mereka berdua sama-sama tak mau melepaskan pelukannya itu, mereka berdua ingin tetap seperti ini sampai Gadis benar-benar masuk kedalam pesawat.


Setelah berpamitan kepada Kai dan Yasika, Kalan sendiri yang mengantarkan Gadis hingga menuju Bandara. Ingin sekali ia ikut, namun apa boleh buat, selain Gadis, pekerjaannya pulalah yang mengharuskan lelaki itu tidak bisa kemana-mana.


"Aku akan selalu merindukanmu." ujar Kalan dengan perasaan yang tak menentu. Berat rasanya jika ia harus berpisah dengan Gadis.


"Aku juga."


"Cepatlah kembali."


Kepala mungil itu mengangguk dalam dekapannya. Entah kenapa Gadis merasa sedih padahal sebelumnya ia terlihat baik-baik saja. Baru beberapa hari saja mereka menghabiskan waktu bersama, tapi kini ia harus kembali berpisah meski bukan untuk selamanya.


Ya, hanya sementara.


Sampai Gadis benar-benar menyelesaikan masalahnya bersama Bian disana. Gadis tak ingin membuang waktu, ia ingin semuanya segera selesai agar mereka berdua bisa hidup bersama untuk selamanya.


Kalan masih bergeming di tempatnya saat pesawat itu sudah benar-benar membawa Gadis-nya pergi. Langit siang yang begitu cerah itu seakan redup saat benda yang terlihat seperti burung raksasa itu sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.


"Hanya dua minggu." Guman lelaki itu, matanya terus menatap langit cerah di atas sana sebelum kemudian ia di kejutkan oleh suara dering ponselnya yang menyala.


Kalan segera menutup panggilan telepon dari Bima, laki-laki itu memintanya untuk segera kembali ke kantor karena akan ada pertemuan penting dengan beberapa kliennya. Sebelum pergi, Kalan kembali menatap langit di atas sana dengan pandangan menyipit, ia tersenyum berharap Gadis tahu dan membalas senyumannya.


Ya ampun ... baru beberapa menit saja ia sudah merasa kehilangan seperti ini. Apalagi dua minggu? Entah apa yang akan ia rasakan saat Gadis tak ada di sampingnya.


"Cepatlah kembali ... sayang?"


******


Menempuh perjalanan yang tak sebentar, membuat Gadis merasa sedikit kelelahan. Sekarang, beberapa menit yang lalu ia baru saja turun dari taksi yang mengantarkannya sampai depan rumah.


Gadis menghirup udara yang sangat segar saat ia menginjakkan kakinya lagi di Paris. Beberapa bulan berada di Jakarta membuatnya rindu dengan suasana sejuk seperti ini. Gadis pun tersenyum saat melihat rumah yang sangat ia rindukan. Bukan hanya rumah, Gadis pun sangat merindukan sang Mama tercinta yang ia tinggalkan beberapa bulan terakhir ini.


"Gadis ...!!" Seru seseorang saat pintu di depan sana terbuka. "Ya ampun, sayang" Ujarnya lagi seraya menghampiri anak gadisnya yang masih berdiri di depan pintu.


"Mama ..."


"Sayang, apa kabar kamu, Nak?"


"Baik, Ma. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah sayang, Mama sangat rindu."


"Gimana keadaan Mama?"


"Baik sayang, Mama seperti kamu, baik-baik saja."


Sang Mama sangat terkejut karena anak gadisnya itu pulang tampa memberi tahunya terlebih dulu. Gadis pun sengaja melarang paman Ricard untuk memberi tahu Mamanya karena ingin memberi kejutan. Sang Mama sangat senang, bahkan ia sampai menitikkan air mata saat Gadis sudah ada di hadapannya, ia senang karena Gadis telah kembali.


"Istirahat lah dulu sayang, Mama akan buatkan makanan kesukaan kamu."


"Iya, Ma. Makasih ya?"


Setelahnya, Gadis pun merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Suasana di dalam kamar itu masih tetap sama seperti dulu, tak ada yang berubah sedikit pun. Karena Gadis tahu, sang Mama akan selalu merawat kamarnya ini dengan baik.


Saat matanya akan terpejam, saat itu pula bayangan wajah Kalan tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan ..." Bagaimana ia bisa melupakan lelaki itu, Gadis beranjak bangun, ia segera merogoh ponsel dari dalam tas yang terletak tak jauh dari tempatnya sekarang. "Kenapa aku bisa lupa." Lalu di beberapa detik kemudian ia menghubungi laki-laki yang sangat di rindukannya itu.


"Ya Tuhan, Dis ... kemana aja kamu?"


Gadis kembali mengatupkan rahangnya saat Kalan tiba-tiba saja menyerobotnya dengan pertanyaan.


"Kenapa baru hubungi aku?


"Kenapa hape kamu baru nyala?"


"Kamu tahu kan, aku disini cemas nunggu kabar dari kamu."


Serentetan pertanyaan itu Kalan lontarkan dalam satu tarikan napas. Tidak tahukah Gadis betapa khawatirnya pemuda itu, bahkan Kalan sampai tidak bisa diam saat ia belum mendapatkan kabar apapun dari Gadis.


"Kenapa kamu diam, huh?" Dapat Gadis dengar suara Kalan yang mendesah frustrasi di seberang sana.


"Udah ngomelnya?" Tanya Gadis sambil terkekeh geli.


Kalan menarik napas dalam, bukannya meminta maaf Gadis malah tertawa, membuatnya geram saja.


"Maaf ..." Cicitnya pelan, Gadis menunduk seolah Kalan dapat melihatnya saja. "Aku baru sampe rumah dan baru nyalain hape." Ujarnya lagi karena ia tahu kalau Kalan sedang benar-benar marah padanya. "Maafin aku."


Kalan yang sedang kesal pun akhirnya menyerah saat mendengar permintaan maaf dari Gadis.


"Jangan di ulangi lagi." Tukas nya tegas.


"Iya," Lagi, kepala itu mengangguk tanpa Kalan melihatnya.


Sudah hampir satu jam lamanya Kalan dan Gadis bercengkrama melalui saluran telepon. Ada banyak hal yang lelaki itu bicarakan pada Gadis, dan entah kenapa Kalan yang selalu irit bicara, kini terdengar lebih cerewet ketimbang dengan dirinya.


Gadis hampir saja menyemburkan tawanya saat Kalan tak henti-hentinya mengoceh di seberang sana. Kalan pun bersikap seperti bapak-bapak yang sedang menasehati anak gadisnya. Dan entah kenapa juga, semua itu terdengar sangat menggemaskan di telinga Gadis.


Uh ... berlebihan sekali.


Untung cinta, kalau enggak, mana mau Gadis menurut.


******


"Sayang, bukannya kamu akan kembali kesini setelah enam bulan?"


Pertanyaan sang Mama saat Gadis baru saja menyelesaikan makan malamnya. Yang Mamanya tahu kalau putrinya itu akan kembali setelah enam bulan. Tapi kenapa sebelum enam bulan Gadis sudah kembali? apa Gadis mengetahui tentang keadaan Bian?


Mana mungkin? siapa yang memberi tahunya?


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, Ma." Ujar Gadis sembari mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu. Mungkin, sudah saatnya Gadis memberi tahu Mamanya itu tentang alasan kenapa ia kembali secepat ini.


"Apa mengenai pekerjaan?"


"Bukan." Jawabnya bersama kepala yang menggeleng.


"Apa karena, Bian?" Tanya Merry, wanita paruh baya itu mengernyit dengan raut bingung. Apa Bian yang sudah memberi tahu Gadis?


Seingatnya, Bian sendiri lah yang melarang Mama Merry untuk tidak mengatakan apapun tentang keadaannya pada Gadis.


"Iya." Gadis mengangguk. "Aku mau ketemu Bian, Ma." Ada jeda di sela kalimatnya. "Ma ..." Gadis mendekat, sekarang ia duduk di samping Mamanya itu. "Mama masih ingat Kalan kan?"


"Kalan?"

__ADS_1


"Iya, anaknya Tante Yasika."


Mama Merry tersenyum, "Iya, sayang. Mama ingat. Gimana keadaan mereka disana.?" Mana mungkin ia lupa dengan keluarga Kalan yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.


"Mereka baik, Ma."


"Dan Kalan? apa kamu sama dia?" Mama Merry terdiam,


"Ma ... ada yang mau aku bicarain sama Mama."


Gadis menarik napas panjang sebelum kemudian ia menceritakan apa yang menjadi tujuan kepulangannya kembali ke Paris. Tak ada satupun yang Gadis sembunyikan dari sang Mama, bahkan ia menceritakan tentang rencananya yang akan menikah bersama Kalan. Mama Merry sempat terkejut saat ia mendengarkan cerita putrinya itu. Bahkan ia sangat bahagia ketika melihat Gadis yang begitu bahagianya membicarakan tentang Kalan di hadapannya.


Tapi ... ada sesuatu yang membuat wanita paruh baya itu tak tahu harus merespon seperti apa. Apakah ia harus senang, atau sebaliknya?


Melihat sikap Mamanya yang diam serta raut wajahnya yang berubah sendu membuat Gadis heran. Gadis pun menerka-nerka apa yang membuat Mamanya berubah menjadi seperti itu.


"Ma ... ada apa? apa Mama gak suka aku menikah sama Kalan.?"


Wanita paruh baya yang sedari tadi hanya diam itu pun akhirnya menggeleng lemah. Bukan karena ia tidak suka dengan rencana putrinya itu. Mama Merry akan bahagia jika melihat putrinya juga bahagia. Ia pun sangat senang saat mendengar bagaimana seorang Kalan yang dulu selalu membuat putrinya itu menangis akhirnya mencintai Gadis dengan tulus. Tapi ... ada sesuatu hal yang membuat dirinya bingung dengan keadaannya sekarang.


"Mama sangat bahagia saat kamu dan Kalan akhirnya bersama. Tapi ...!" Mama Merry menunduk, membuat Gadis semakin bingung. Sepertinya, ada sesuatu yang Mamanya itu sembunyikan darinya.


"Tapi kenapa, Ma?'


"Sayang." Mama Merry meraih tangan anak gadisnya itu, lalu di genggamannya erat. "Bagaimana dengan Bian? laki-laki itu sudah sangat baik selama ini, Bian selalu menunggu kamu disini. Dan Bian ... bukankah kalian juga akan menikah.?"


"Justru itu kenapa aku kembali sekarang, Ma. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan Bian secara baik-baik."


"Tapi bagaimana mungkin sayang. Kamu akan menyakitinya."


"Aku tahu, tapi aku bisa apa Ma. Aku mencintai Kalan, dan aku ingin menikah dengannya."


"Mama ngerti sayang. Tapi apa kamu tega dengan Bian yang sedang berjuang melawan penyakitnya sekarang?"


Deg ...


Jantung Gadis tiba-tiba saja berdetak dengan sangat kencang.


"Apa maksud Mama?"


"Keinginan terakhir Bian adalah bisa menikah dengan kamu." Entah kenapa air mata itu tiba-tiba saja jatuh dari matanya. "Temui dia, Nak. Dan Bian pasti akan sangat senang karena kamu kembali."


"Ma ..."


"Bian sakit sayang, dan Mama tidak ingin kamu menyesal nantinya."


"Sa-kit ...?" Kenapa perasaannya mendadak menjadi tidak tenang seperti ini.


Kepala wanita paruh baya itu mengangguk, ia tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya di hadapan Gadis.


"Temui dia secepatnya, sayang? mungkin dengan adanya kamu, Bian bisa secepatnya pulih kembali."


Sebenarnya sakit apa laki-laki itu sampai membuat Mama Merry menangis? dan Bian ...?



Ya Tuhan ... Bian sakit?

__ADS_1


...*******...


__ADS_2