
"Cantik."
Gumam Gadis setelah ia selesai mengoleskan sedikit lipstik berwarna pink bibir itu pada bibirnya yang ranum. Ia menatap dan melihat penampilannya sendiri yang sudah terlihat sangat cantik dengan gaun pink muda yang melekat pada tubuh mungil dan kulitnya yang putih itu.
Rambutnya yang panjang bergelombang pun ia biarkan tergerai indah menutupi punggungnya. Memakai riasan sederhana dan tidak mencolok tidak membuat kecantikannya berkurang sedikitpun. Gadis tetap terlihat cantik meskipun tanpa makeup tebal yang menghiasi wajahnya itu.
Malam ini, sesuai dengan permintaan Retha dan juga Mario yang mengharuskannya untuk hadir di acara reuni akbar itu, Gadis memilih untuk pergi sendirian, ia pun menolak saat Retha menawarkannya untuk berangkat bersama dengannya dan juga Kalan.
Tidak ... karena Gadis tidak ingin berada di antara tengah-tengah mereka.
Meskipun sedikit terlambat karena sibuk merias diri dan memilih-milih gaun yang akan dikenakannya malam ini, tapi Gadis senang, setidaknya ia akan bertemu dengan teman-temannya sewaktu masa sekolah dulu. Dan yang membuat gadis itu bersemangat untuk mengahadiri acara reuni itu adalah karena ia ingin bertemu dengan Tania, teman satu bangku sekaligus sebagai sahabatnya dulu sewaktu masih di sekolah.
Selama empat puluh lima menit ia menyusuri jalanan ibu kota, beruntungnya saat itu jalanan tidak terlalu macet, jadi gadis itu bisa datang tanpa terlambat. Tiba di parkiran tempat dulu ia pernah menjadi bagian dari sekolah itu, Gadis segera memarkirkan mobilnya disana. Sekolah elit yang telah memberinya banyak kenangan.
Keluar dari dalam mobilnya, Gadis merasa takjub melihat bangunan yang masih berdiri kokoh di hadapannya saat ini. Tidak banyak yang berubah dari gedung sekolah tempat ia menuntut ilmu dulu. Bangunan itu masih terlihat sama, masih sama seperti enam tahun yang lalu.
Dari kejauhan, Gadis sudah bisa mendengar suara orang-orang yang sudah memenuhi ruangan itu. Ia berjalan perlahan, dan begitu masuk ke dalam ruangan itu, Gadis begitu terkejut saat Mario, si panitia pelaksana itu memanggil namanya dengan suara yang sedikit keras.
"Gadis ..." Teriak cowok itu yang membuat semua orang menatapnya. Pun dengan Kalan dan juga Retha yang langsung menoleh melihatnya. Retha tersenyum dan begitu kagum melihat penampilan Gadis pada malam ini. Begitu juga dengan Kalan, lelaki itu terpaku melihat kecantikan Gadis yang tidak biasanya.
"Gadis ..." Di tambah dengan teriakan wanita yang tengah bunting itu dengan suara cemprengnya.
Ya ampun ... semua semakin memperhatikannya.
Gadis menoleh, menatap wanita yang sedang berjalan menuju ke arahnya itu sambil tersenyum lebar.
"Ya ampun ..." Wanita itu membekap mulutnya tidak percaya. "Kamu Gadis kan?"
Kepala gadis itu mengangguk. "Iya, ini aku Gadis. Tania."
Seketika wanita yang sedang hamil besar itu menghambur memeluk tubuhnya. Tania tidak pernah mengira jika ia akan kembali bertemu dengan sahabat lamanya itu.
"Aku seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi, Dis."
"Aku juga. Aku kangen banget sama kamu." Balas Gadis sembari mengurai pelukannya.
Mereka berdua tersenyum, dan interaksi keduanya pun tidak luput dari perhatian orang-orang yang berada disana. Tania masih tidak percaya jika wanita cantik yang saat ini berdiri di depannya itu adalah Gadis Ayunda. Gadis berkacamata yang sedikit culun, yang kini talah berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan menarik.
"Kamu cantik banget, Dis." Puji Tania masih tidak percaya. "Aku benar-benar pangling saat liat kamu tadi."
Gadis tentu malu, karena sekarang semua orang yang tengah hadir disana sedang menatapnya. Gadis menjadi pusat perhatian karena ulah Mario dan juga Tania.
Semua mata tertuju padanya di saat Gadis itu berjalan melewati mereka semua. Gadis merasa malu, apalagi saat tanpa sengaja Gadis mendengar orang-orang itu sedang berbisik-bisik membicarakannya.
"Itu ... Gadis si kutu buku itu kan?"
"Iya, dia Gadis culun itu."
"Wah ... dia kok jadi cantik ya?"
"Dia berubah."
__ADS_1
"Aku denger-denger, sekarang dia jadi pemimpin perusahaan loh."
"Itu Gadis, yang selalu di tolak sama Kalan kan?" Bisik salah satu mantan murid wanita itu sambil tertawa geli.
Dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi Gadis tidak sedikitpun menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu, ia justru malah tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah.
Ternyata keburukan orang lain itu lebih mudah di ingat ketimbang dengan kebaikannya.
******
Semakin malam acara itu semakin bertambah meriah. Gadis yang sebenarnya tidak menyukai keramaian, tapi pada malam ini ia bahagia karena bisa bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya.
Selama acara itu berlangsung, Gadis masih menjadi satu-satunya orang yang tengah banyak di perbincangkan banyak orang. Bagaimana tidak, sejak kedatangannya tadi, banyak teman laki-laki yang datang mendekatinya. Mengajak ngobrol yang tentunya hanya sebuah basa-basi belaka.
Pun dengan Mario yang tanpa henti mencoba untuk mendekati Gadis. Beruntungnya ada Tania, Gadis merasa tenang karena Tania selalu berada di sampingnya.
"Dis ... itu Kalan sama Retha kan?"
Gadis mengikuti kemana mata Tania mengarah. "Iya."
"Hubungan mereka berdua bisa awet gitu ya?"
Tania menoleh ke samping, dimana Gadis duduk di sebelahnya. "Kamu sama Kalan, gimana? kalian baik-baik aja kan?"
Gadis menatapnya sekilas sambil terkekeh. "Maksud kamu apa sih, Tan? Aku sama Kalan baik-baik aja kok."
Tania merubah posisi duduknya menjadi miring. "Emang kamu udah gak suka lagi sama Kalan?"
Tania tertawa kecil, "Maaf ..."
Gadis dan Tania pun kembali melanjutkan perbincangan hangat yang diselingi tawa kecil di tengah-tengah obrolan mereka. Banyak hal yang Gadis ceritakan kepada Tania, pun dengan Tania yang terus mengoceh tanpa henti. Meskipun sebentar lagi wanita itu akan menjadi seorang Ibu, tapi Tania tidak berubah, ia masih sama seperti Tania yang dulu. Tania yang banyak bicara seperti Gadis dan Tania yang sedikit humoris.
Berada di puncak acara, semua orang berdecak penuh kagum saat mendengar suara emas dari seorang penyanyi papan atas seperti Aretha Kanza. Selain sebagai murid, Retha juga hadir sebagai salah satu tamu undangan spesial yang akan memeriahkan acara puncak pada malam hari ini.
Memiliki wajah yang cantik dan suara yang sangat bagus, tentunya membuat semua orang begitu mengaguminya. Meskipun sudah menjadi seseorang yang sangat terkenal, tapi ketenaran yang di milikinya itu tidak menjadikan Retha berubah menjadi orang yang sombong.
Sudah tiga buah lagu yang di bawakan oleh Retha saat bernyanyi di atas panggung. Selama di atas panggung itu, Retha tanpa henti mempersembahkan semua lagu-lagunya hanya untuk Kalan. Bahkan, Retha pun tidak segan saat mengeluarkan kata-kata romantis untuk kekasihnya itu. Membuat semua orang iri dan berteriak histeris.
"Dis ... Aku ke toilet sebentar ya?" Kata Tania yang langsung mendapat anggukan kepala dari Gadis.
Selama Tania tidak ada, Gadis duduk seorang diri. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap arah untuk mencari keberadaan Kalan. Dan Gadis sedikit tersenyum saat ia menangkap sosok lelaki yang terlihat sangat tampan pada malam ini sedang berbincang bersama teman-temannya. Tapi tidak berselang lama senyuman Gadis pun memudar ketika ada seseorang yang datang dan membuat ia sedikit terkejut.
"Masih aja ya, lo suka sama Kalan?" Gadis tersentak, buru-buru membuang pandangannya dari Kalan. Ia menoleh dan mendapati wanita itu sedang tersenyum miring menatapnya. "Gue boleh duduk disini kan?"
Meskipun sedikit kesal, tapi Gadis membiarkan Ziyana untuk duduk di sebelahnya. Ya, Ziyana. Wanita yang dulu pernah menampar Gadis di sekolah. Wanita itu sangat seksi dan terlihat cantik karena makeup tebal yang menghiasi wajahnya.
"Gue dengar, lo dulu kabur ke Paris ya?" Cibir Ziyana sembari menatap Gadis dari ujung kepala hingga kaki. Ziyana merasa tidak suka dengan kemunculan Gadis yang menjadi pusat perhatian semua orang. Termasuk Mario.
Bagaimana bisa gadis culun bisa berubah cantik seperti ini?
Gadis mendelik tajam, menatap wanita itu tidak suka. "Kabur?"
__ADS_1
Ziyana tertawa sarkas. "Iya." Kepalanya mengangguk. "Lo kabur karena Kalan kan?"
Gadis mendengus kesal, ingin sekali ia menyiram wajah Ziyana dengan minuman yang sedang di pegangnya sekarang. Tapi demi menjaga nama baiknya sendiri, Gadis tentu saja tidak akan bersikap bar-bar seperti itu. Gadis berusaha untuk tetap tenang, walaupun kesabarannya kini sudah mulai menipis. Ia memilih untuk diam dan tidak meladeni wanita seperti Ziyana.
Dan sepertinya, Ziyana memang sengaja sedang memancing kesabaran Gadis. Wanita itu terus saja mengoceh hal-hal tidak jelas yang membuat Gadis geram saat mendengarnya.
Sementara di sudut yang berbeda, ternyata secara diam-diam Kalan terus memperhatikan Gadis dari kejauhan. Lelaki itu sedikit terkejut saat melihat Ziyana dan Gadis duduk di meja yang sama.
Kalan melihat ada rasa ketidaknyamanan yang di tunjukkan oleh Gadis saat duduk bersebelahan dengan Ziyana. Kalan juga sedikit terkejut, saat matanya menangkap Gadis sedang meminum wine yang baru saja di sodorkan oleh seorang pelayan.
Kalan tidak bisa diam saja seperti ini saat melihat gadis itu terus memasukkan minuman yang bisa membuatnya mabuk ke dalam mulutnya. Bagaimana pun Gadis tetap menjadi tanggung jawabnya selama ia tinggal di Jakarta. Apa jadinya jika sampai Bunda Yasika mengetahui kalau Kalan tidak bisa menjaga Gadis dengan baik. Bisa-bisa wanita setengah baya itu akan mengamuk dan kembali mogok makan, sama seperti dulu saat ia tidak bisa menemukan keberadaan Gadis.
"Sepertinya Kalan dan Retha memang di takdirkan untuk tetap bersama ya? Mereka berdua memang pasangan yang serasi. Gue juga iri sama mereka." Sungut wanita itu tak tahu malu. "Dan kalo gue jadi lo ..." Ziyana melirik ke arah Gadis, ia sedikit kesal saat semua ocehannya tidak mendapat tanggapan sama sekali dari Gadis. "Gue sih akan malu. Meskipun sekarang gue jadi cantik, tapi tetap aja Kalan gak akan pernah melirik ke gue. Karena ... mungkin dia gak suka kali ya, sama cewek yang rela mempermalukan dirinya sendiri demi mendapatkan cintanya."
Gadis menutup matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kekesalannya. Pertahanannya itu akan runtuh seketika jika mulut sialan itu tidak berhenti mengoceh. Dan Gadis tidak ingin jika sampai hal itu terjadi.
Gadis kembali merampas gelas yang berisi cairan memabukkan itu lalu menenggaknya hingga tandas. Gadis memang bukan seorang pemabuk, ini adalah kali pertama lidahnya merasakan cairan itu masuk kedalam mulutnya. Rasanya sangat aneh, ia pusing dan ingin kembali memuntakahkannya.
Merasa sudah gerah berada di tengah-tengah wanita itu, Gadis pun memutuskan untuk beranjak dari sana. Ia ingin ke toilet untuk memuntahkan semuanya disana. Selain karena minuman, perut Gadis juga melilit dan mual saat mendengar ocehan-ocehan yang keluar dari mulut wanita sialan itu.
Dan benar saja, begitu tiba di dalam toilet Gadis memuntahkan semuanya disana. Gadis membasuh bibir dan wajahnya yang seketika menjadi terlihat pucat. Kepalanya terasa pusing, dan ia kembali membungkuk saat perutnya bergejolak merasakan mual kembali.
Di detik selanjutnya, Gadis tersentak saat ia merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh belakang lehernya. Ia menoleh dan mendapati Kalan sedang berdiri di belakang tubuhnya saat ini.
"Ngapain kamu ada disini?." Gadis menepis tangan Kalan yang berada di bahunya. "Pergi sana." Ujar Gadis sambil menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu.
"Kamu mabuk?"
"Nggak." Kemudian ia terkikik geli. "Siapa yang mabuk?"
Gadis kembali membungkuk, lalu membasuh bibirnya dengan air keran.
"Ayo pulang." Ajak Kalan yang memang mengetahui kalau Gadis sedang dalam pengaruh alkohol.
"Nggak mau." Gadis pun kembali menolak, ia ingat semua perkataan Ziyana yang mengatakan kalau Gadis tidak mempunyai harga diri.
"Aku tuh masih punya harga diri. Aku juga gak mau menjadi wanita paling paling bodoh lagi karena mencintai kamu." Gadis terus meracau semakin melantur. "Aku gak cinta kamu lagi, Kalan."
Kalan mendesah, sepertinya tidak baik jika Kalan membiarkan Gadis kembali lagi masuk ke dalam, dalam keadaan mabuk seperti ini. Lantas, yang di lakukan Kalan sekarang adalah mengambil kunci mobil dari dalam tas gadis itu, lalu merogoh ponselnya dalam saku celana untuk menghubungi seseorang.
"Saya tunggu kamu sekarang di SMA Bhakti Kencana."
"Baik, Pak."
"Dan jangan lupa, kamu anterin Retha pulang. Bilang sama dia kalau saya pergi karena Bunda mendadak sakit."
Setelahnya, Kalan menutup panggilan telepon itu sembari menutup matanya rapat-rapat. Setelah ini ia pastikan akan meminta maaf pada Bunda dan juga Retha karena telah berbohong.
Ya, karena untuk yang pertama kalinya, Kalan telah membohongi Retha demi Gadis.
...******...
__ADS_1
Bersambung ...