
Sesuai dengan rencana Gadis yang akan segera kembali ke Paris untuk menemui Bian dan menyelesaikan semuanya sendiri tanpa Kalan, membuat mereka berdua terpaksa harus berpisah untuk sementara waktu.
Selain karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja, Kalan juga menuruti keinginan dari Gadis. Gadis memaksa dan meyakinkan dirinya bahwa ia akan kembali dan menetap selamanya di Indonesia. Gadis juga meyakinkan Kalan, setelah kembalinya ia dari Paris, Gadis akan menerima lamaran dan siap untuk menikah dengan cinta pertamanya itu.
Ya, seperti itulah rencana Gadis.
Kalan dan Gadis, mereka berdua akan menjalani hubungan jarak jauh selama dua minggu lamanya. Dan itulah yang membuat Kalan tersiksa, Kalan terus merengek layaknya anak kecil kepada Gadis. Dua minggu bukanlah waktu yang lama, tapi bagi Kalan, dua minggu itu rasanya akan sangat lama. Akankah Kalan bisa menahan perasaan rindunya pada Gadis? Apakah lelaki itu akan terbiasa tanpa Gadis di sampingnya?
Jawabannya tentu saja tidak, ia tidak akan sanggup.
"Aku tidak tahu, apakah aku bisa tanpa kamu disini, Dis.?"
Gadis itu terkekeh seraya mengusap rambut legam milik sang kekasih dengan lembut. "Sejak kapan kamu jadi lebay kayak gini sih?"
"Lebay?"
"Hem ..." Kepala mungil itu mengangguk. "Kemana Kalan yang aku kenal selalu jutek, dingin dan galak itu, hum?"
"Apa tidak ada lagi kata-kata lain selain itu?" Ia mendengus kesal, menatap Gadis dari bawah dengan pandangan tajam.
Meskipun tajam, tapi penuh cinta.
"Kenyataannya memang seperti itu." Dengan polos dan tanpa rasa takut akan tatapan horor lelaki itu Gadis berujar santai. Kalau perlu, Gadis ingin sekali mengatakan semuanya pada Kalan. Biar lelaki itu sadar dengan sikapnya yang terlampau dingin, ketus dan keras kepala.
"Aku tidak seperti itu." Tukas Kalan tak terima. Meskipun dalam hati, ia pun tak menyangkalnya.
"Tanpa kamu sadar." Cibir Gadis yang membuat Kalan terkekeh geli.
Kalan yang merasa jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk mereka berdua berdebat, lantas dengan segera menyembunyikan wajahnya pada perut Gadis. Ia mencium serta menggigit kecil yang seketika membuat gadis itu tertawa karena geli.
"Kalan ... geli.!"
"Ini hukuman untukmu."
"Kenapa aku di hukum?" Tanya Gadis di sela tawanya yang semakin terdengar keras itu.
__ADS_1
"Karena kamu begitu cerewet."
Sejak kepulangannya dari kantor, Kalan memang tidak berniat kembali ke rumah ataupun apartemennya. Lelaki itu memilih untuk menemani Gadis seharian ini. Dan disinilah sekarang mereka berdua, berada di dalam ruangan apartemen milik Gadis. Kalan ingin menghabiskan waktunya bersama Gadis sebelum gadis itu berangkat ke Paris esok pagi.
Rasa lelah karena seharian bekerja pun hilang seketika saat ia bisa menyandarkan kepalanya pada paha Gadis. Lelaki itu sempat tertidur dan merasa tenang saat Gadis mengelus rambutnya dengan begitu lembut. Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja membuat Kalan bahagia.
Setelah rasa lelahnya itu hilang, Kalan memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Ia meminta izin kepada Gadis untuk menggunakan kamar mandi miliknya. Meskipun apartemennya bersebelahan, tapi Kalan tetap tidak ingin keluar dan lebih memilih membersihkan dirinya di tempat Gadis.
******
"Lagi masak apa?"
Gadis tersentak saat Kalan tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Wangi maskulin dari tubuh lelaki itu seketika menyeruak masuk kedalam indera penciumannya. Wangi yang selalu Gadis sukai, wangi yang selalu membuat Gadis ingin sekali menenggelamkan wajahnya disana.
"Bisa gak sih jangan ngagetin.?"
Kalan terkekeh, "Maaf." Lalu ia kecup tengkuk Gadis sekilas.
"Aku lapar." Ujar Kalan tanpa melepaskan pelukannya itu.
"Ya udah lepasin, aku siapin dulu makanannya."
Oh ... ya ampun,
Bagaimana Gadis bisa menyelesaikan masakannya kalau Kalan terus memeluknya dengan begitu posesif seperti ini. Bahkan, Gadis sampai mematikan dulu kompor yang masih menyala itu saat Kalan mengecupi kulit lehernya, menghisapnya kuat yang membuat Gadis tanpa sadar mengeluarkan sebuah ******* pelan.
"Ah ..."
Kalan yang senang mendengar suara ******* dari gadis itu, dengan bersemangat ia semakin menjadi. Mengecupi Leher serta tengkuknya yang kini menjadi tujuannya. Tak lupa, sesekali ia bermain dengan telinga Gadis, mengulum daun telinganya dan membisikkan sesuatu yang membuat Gadis merinding sekaligus berdebar dibuatnya.
"Ka-lan ..." Gadis mencengkram tangan Kalan yang masih melingkari perutnya. "A - Kuh ..." Suaranya terbata saat lidah lelaki itu terasa menyapu permukaan kulit lehernya. Menghisapnya kuat hingga menyisakan beberapa tanda merah di atasnya.
Gadis yang sedang terpejam erat pun seketika membuka matanya, ia merasa kehilangan saat Kalan sedikit menarik wajahnya dari lehernya itu. Mata mereka bertemu, ada kilat gairah saat mata keduanya beradu tatapan. Gadis menatap Kalan dengan pandangan sayu. Pun dengan Kalan, lelaki itu menatap Gadis dengan tatapan penuh damba.
Gadis memutar badan untuk mempertemukan pandangan serta melihat wajah tampan Kalan saat ini. Ia tersenyum, dan melihat senyuman itu membuat Kalan takut hilang kendali.
__ADS_1
"Jangan tersenyum seperti itu." Dengan suaranya yang berat ia berujar.
Bukannya menurut, Gadis justru lebih melebarkan senyumannya. Bibir ranum yang entah sudah keberapa kali Kalan sentuh. Bibir itu yang menjadi titik kelemahannya, dan sekarang Gadis seperti sedang menguji kendalinya. Tanpa aba-aba lagi Kalan menggendong Gadis, membawa tubuh mungil itu untuk ia rebahkan di atas sofa.
Gadis yang terkejut pun hanya bisa diam, ia tak bisa menolak saat Kalan merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk miliknya itu. Gadis menatap lelaki itu dari bawah, lalu tangannya terangkat untuk membelai setiap lekuk wajah tampan pemuda itu.
Sempurna.
Kalan hanya bisa menutup matanya saat sentuhan-sentuhan lembut itu kian terasa membelai wajahnya. Ia biarkan tangan halus itu menyentuh setiap bagian dari wajahnya itu. Lalu, ia membuka mata saat jari-jari lentik itu berhenti tepat di atas bibirnya. Hal pertama yang ia lihat adalah mata bulat itu sedang menatap sayu di bawahnya. Kalan tersenyum sembari mengecup tangan itu lembut.
"Kenapa?" Tanya Kalan masih dengan suara beratnya. "Apa kamu takut?"
Takut?
Tentu, Gadis sangat takut jika ia dan Kalan tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia takut, dirinya tidak bisa menolak cumbuan lelaki itu. Sama seperti sekarang, Gadis malah diam dan tak menolak saat wajah lelaki itu mulai menunduk, melabuhkan sebuah kecupan yang membuat Gadis mencengkram kaos lelaki itu kuat.
Kecupan lembut dan ringan itu berubah menjadi panas dan menuntut ketika Gadis membalasnya. Gadis memejamkan mata saat bibir Kalan ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Mengulumnya lembut hingga bibir keduanya menjadi basah. Tangan yang semula mencengkram kaos lelaki itu, kini merambat naik, menelusupkan jari-jarinya pada surai hitam milik Kalan.
Saling menyesap, saling beradu decapan, saling *******, dan saling membelit lidah di dalam sana membuat keduanya sama-sama terhanyut api gairah.
Gadis melenguh saat ciuman itu terasa begitu dalam dan menuntut. Seolah ini untuk yang terakhir kali, Kalan terus memangut bibir itu. Bibir yang selalu terasa manis saat ia kecup, bibir ranum yang menjadi candu baginya, dan bibir yang selalu ingin ia sentuh setiap detiknya.
Kalan ******* bibir itu tampa ampun.
Lalu ciuman itu turun menuju leher jenjangnya, ia sembunyikan wajahnya disana. Menyesap wangi memabukkan dari tubuhnya, tanpa sadar Kalan pun menghisap kulit leher Gadis, menjadikan kulit putih itu kini terlihat memerah karena hisapan yang kuat.
Merasa api gairah itu sudah mulai mempengaruhinya, lantas Kalan mengangkat wajahnya dan menatap Gadis dari atas. Mata keduanya memancarkan riak gairah, dan ... tangan pemuda itu bergerak pada kancing kemeja yang dikenakan Gadis, membukanya satu persatu hingga berhenti tepat pada kancing ketiga.
Gadis hanya diam saat Kalan mengecup bagian bahunya yang sedikit terbuka, turun menuju tulang selangka, lalu dengan kuat tangannya meremas surai hitam itu saat bibir Kalan mengecup dada bagian atas.
"Ka ... lan ... ah ..." Gadis melenguh tertahan, dan lelaki itu sangat menyukainya.
Gila, ini benar-benar bisa membuatnya gila. Kalan begitu lihai membuatnya terasa melayang seperti ini.
"Dis ..." Bisiknya serak. "Aku tidak akan merusakmu. Tapi ..." napasnya memburu, riak gairah itu benar-benar telah mengusai dirinya saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak akan berhenti untuk mencumbu mu."
...******...