ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhsatu


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan itu pun mendadak menjadi hening saat Kalan dan Gadis sama-sama terdiam. Rasa canggung pun mengambil alih semuanya sebelum kemudian Kalan lah yang memecah keheningan di antara mereka berdua.


Lelaki itu berdehem pelan. "Udah periksa ke dokter?"


"Belum." Jawab Gadis tanpa menoleh sedikitpun. Gadis itu merasa risih karena Kalan terus memperhatikannya.


Duh ... Gadis kan malu, jika Kalan terus menatapnya seperti itu?


"Kenapa?" Tanya Kalan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya itu.


"Gak mau, aku udah beli obat kok."


"Tapi tetep aja, kamu harus di periksa sama dokter, Dis." Kalan mengambil ponselnya dari kantong celana, lelaki itu berencana akan menghubungi dokter pribadinya sendiri untuk datang memeriksa keadaan Gadis sekarang.


"Biar aku suruh dokter Rey kemari." Ujarnya kembali yang seketika membuat Gadis langsung menoleh melihatnya.


Disaat Kalan hendak menempelken benda pipih itu pada telinganya, disaat itu juga Gadis berdiri dari tempat duduknya saat ini, ia menghampiri Kalan dan langsung merampas ponselnya dari tangan lelaki itu.


"Gadis ..." Bukan karena ponselnya yang di ambil paksa oleh Gadis yang membuat Kalan terkejut, akan tetapi jarak kedekatan mereka sekarang yang membuat laki-laki itu lebih terkejut.


Apa gadis itu sengaja melakukannya?


"Aku bilang jangan panggil dokter, aku gak papa, Kalan." Apa lelaki itu lupa, kalau Gadis akan ketakutan setiap kali mendengar kata dokter disebut.


Kalan mendengkus kesal, ia baru ingat kalau Gadis memang takut jika harus berurusan dengan Dokter. Tanpa merubah posisi mereka yang masih saling berdekatan, lantas Kalan mengangkat tangannya, ia tempelkan punggung tangannya itu pada kening Gadis untuk memeriksa sendiri keadaannya.


"Kamu demam, Dis." Ujarnya cemas. Bukan hanya kening saja yang lelaki itu sentuh, bahkan tangannya pun bergerak untuk menyentuh lehernya yang memang terasa panas melebihi suhu tubuh normal seseorang pada umumnya. Kalan tentu khawatir, selain karena Bunda yang mewanti-wanti untuk menjaga Gadis, ia sendiri pun tidak ingin melihat gadis itu sakit seperti ini.


"Aku panggilin Dokter, ya?"


Gadis tidak menjawab, ia hanya menatap Kalan sambil menggeleng-gelengkan kepala layaknya anak kecil.


"Dis ..." Kalan terdiam saat tiba-tiba saja Gadis menyandarkan kepalanya pada dada bidang miliknya. Tubuhnya menegang seketika serta detak jantung yang berdebar kencang tidak seperti biasanya.


"Aku cuma sedikit pusing, dengan tidur sebentar juga nanti sembuh." Suhu tubuhnya yang tinggi serta kepalanya yang terasa sedikit pusing itu secara perlahan berkurang hanya karena memeluk Kalan. Katakanlah ia terlalu berani, tapi hanya dengan cara seperti ini, rasa pusing pada kepalanya pun bisa sedikit berkurang.


"Dasar keras kepala." Gerutunya pelan sembari mengelus rambut Gadis dengan lembut.


Gadis sempat tersenyum dalam dekapan lelaki itu sebelum kemudian matanya terpejam. Kalan membiarkan Gadis untuk tidur di dalam pelukannya saat ini, rasa ngantuk yang menyerang pun membuat Kalan ikut terpejam bersamanya. Mereka berdua akhirnya tertidur di atas sofa dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


Setengah jam setelah terlelap, tiba-tiba saja Kalan terhenyak saat mendengar dering ponselnya yang menyala. Lelaki itu sedikit kesulitan saat hendak mengambil benda pipih itu dari kantong celana karena terhalang oleh Gadis. Dengan perlahan akhirnya Kalan bisa mengambil ponselnya dan melihat siapa orang yang tengah meneleponnya malam-malam seperti ini.


"Retha?" Gumam lelaki itu. Kalan pun hanya melihat tanpa berniat mengangkat panggilan dari kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kenapa gak di angkat?" Tiba-tiba saja Gadis bersuara, ia mendongak menatap Kalan dari bawah.


"Kenapa bangun?" Tanya Kalan sambil mematikan ponselnya itu.


Gadis mendesis, pertanyaan di jawab dengan pertanyaan kembali rasanya sangat menyebalkan.


"Siapa yang nelpon?"


"Kamu lapar? aku panasin dulu buburnya."


"Kalan ... ih." Gadis menarik kepalanya menjauh dari dada lelaki itu. Gadis pun meringis pelan saat sakit pada kepalanya tak kunjung hilang juga.


"Kamu gak papa kan, Dis?" Tanya Kalan sedikit cemas.


"Nggak, cuma pusing aja." Jawabnya sambil memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing.


"Ya udah, aku panasin dulu buburnya, setelah itu kamu makan dan langsung minum obat."


Kalan berdiri, lalu membawa bubur buatan sang Bunda itu ke dalam pantry untuk di panaskannya terlebih dulu. Seraya menunggu Kalan yang masih sibuk di dalam pantry, Gadis pun memutuskan untuk membuka baju hangat yang ia kenakan sejak tadi, lalu menyimpannya pada punggung sofa.


Gadis beranjak dari tempat duduknya hendak menuju ke dalam kamar mandi, tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba ia menoleh ke arah meja saat ponsel milik Kalan kembali berdering. Gadis menatap ponsel dan Kalan yang masih sibuk di dalam pantry itu secara bergantian, lalu pandangannya itu tertuju kembali pada ponsel milik lelaki itu yang tanpa henti-hentinya menyala.


"Retha." Gumamnya pelan seraya memperhatikan Kalan dari kejauhan. Gadis ingat sedari tadi Retha terus menghubungi Kalan. Tetapi, kenapa Kalan tidak mengangkat telepon dari kekasihnya itu?


"Ada apa?" Tanya Kalan saat lelaki itu sudah berada di balik punggung.


Kalan mengambil ponselnya itu dari tangan Gadis, lalu memasukkan kembali benda berbentuk pipih itu kedalam kantong celana yang membuat Gadis melongo tidak percaya.


"Duduk, Dis."


"Tapi ___"


Kalan menatap gadis itu sekarang sambil mengangkat tangannya yang membawa sebuah mangkuk berisi bubur ayam buatan sang Bunda di dalamnya. Tidak lupa dengan sorot matanya yang menatap Gadis dengan tatapan tajam seperti biasanya.


"Makan dulu buburnya, nanti keburu dingin." Ujar lelaki itu kembali pada mode dinginnya. "Mau sampai kapan kamu berdiri disitu?" Tanya Kalan saat melihat gadis itu masih diam mematung di depannya.


Seketika Gadis mencebik. "Mulai deh ...!" Gerutunya pelan sembari duduk di samping lelaki itu dengan kesal.


Tanpa memperdulikan kekesalan gadis itu, Kalan pun memberikan mangkuknya yang diterima Gadis dengan wajah cemberut.


Kalan sempat menaikkan sudut bibirnya ke atas sebelum kemudian kembali berujar. "Di makan, Dis." Entah kenapa ia baru menyadari kalau ternyata Gadis yang dulu sangat menyebalkan itu kini terlihat sangat menggemaskan di saat sedang cemberut seperti itu. Kalan menyilangkan kedua tangannya di atas dada sembari menyunggingkan sebuah senyuman, serta terus memandangi wajah Gadis yang benar-benar membuatnya tidak bisa berhenti untuk terus menatapnya.


Disaat sedang sakit seperti itu pun, Gadis masih saja terlihat sangat cantik.

__ADS_1


"Kenapa cuma di liatin?"


Gadis melirik sekilas sebelum kemudian memasukkan sendok yang sudah terisi bubur di atasnya itu ke dalam mulut tanpa minat. Meskipun sedikit terpaksa, tetapi sedikit demi sedikit ia menelan bubur itu. Selain karena Bunda Yasika yang sudah membuatkan bubur itu, Gadis juga takut dengan tatapan Kalan yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.


Disuapannya yang keempat, tiba-tiba saja Gadis merasakan perutnya bergejolak, dan rasa mual pun mulai menyerang. Seraya menutup mulutnya dengan talapak tangan, Gadis buru-buru berlari ke dalam kamar mandi, membuat Kalan memperhatikannya dengan dahi mengernyit. Lelaki itu lantas mengejar Gadis hingga masuk ke dalam kamar mandi.


Gadis yang sedang memuntahkan semua isi dalam perutnya itu terlihat tampak lemas. Kalan pun menghampiri tubuh Gadis yang kini sedang membasuh bibirnya dengan air keran.


"Dis ... kamu gak papa kan?" Tanyanya sedikit cemas.


Gadis menggeleng, lalu merasakan kepalanya yang kembali terasa pusing. "Gak papa." lalu di saat ia hendak keluar dari dalam kamar mandi tiba-tiba tubuhnya limbung hingga ia harus berpegangan pada dinding kamar mandi. Beruntung di sampingnya ada Kalan, lelaki itu menahan bahu Gadis yang hampir saja terjatuh.


"Dis ..!" Wajahnya berubah menjadi cemas. "Kamu gak papa kan?"


"Cuma sedikit pusing, Kalan." Tanpa sadar Gadis pun kembali menjatuhkan keningnya di atas dada lelaki itu. "Pusing sekali." lirih nya lagi. Entah kenapa saat Kalan menepuk bahunya lembut, Gadis merasakan kenyamanan di dalam pelukan lelaki itu.


"Ya udah, sekarang kamu minum obat ya?"


Lagi, kepalanya hanya menggeleng. Gadis hanya ingin tetap seperti ini. Ia hanya ingin berada di dalam dekapan lelaki itu walau hanya sebentar.


Sama-sama terdiam, Gadis bisa mendengar detak jantung Kalan yang sangat menenangkan. Hanya deru napas mereka yang saling bersahutan. Gadis bisa merasakan tubuh Kalan yang kembali menegang saat ia melingkarkan kedua tangannya pada perut lelaki itu.


"Dis, apa kita akan tetap berada di dalam kamar mandi sampe pagi?" Tanya Kalan yang membuat Gadis tersadar. Buru-buru ia melepaskan tangannya itu dari perut Kalan sambil menjauhkan wajahnya dari dada lelaki itu.


"Maaf ... Aku ___" Suara Gadis terhenti saat Kalan tiba-tiba saja menangkup kedua sisi wajahnya.


Lelaki itu tersenyum. Dan sumpah demi apapun, ini adalah kali pertama setelah enam tahun berlalu, Gadis melihat Kalan tersenyum secara dekat. Senyuman memikat yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya akan terlena.


"Aku gak mau melihat kamu sakit." Ujarnya lagi seraya mengelus pipi gadis itu. "Entah kenapa perasaanku menjadi tidak tenang saat mendengar kamu sakit, Dis."


Gadis terdiam, masih mencerna setiap kata yang baru saja lelaki itu ucapkan. Mata keduanya kini saling bertemu, saling mengunci satu sama lain. Gadis menatapnya dengan sorot dalam, pun dengan Kalan yang menatapnya sama sepertinya. Mereka berdua sama-sama sedang mencari tahu arti dari tatapannya itu.


Tatapan yang mampu membuat keduanya lupa diri dan tidak berdaya. Karena pada saat Kalan mempertemukan bibir keduanya, Gadis malah terpejam dan membiarkan lelaki itu kembali mencumbu bibirnya untuk yang kedua kalinya.


...*******...


Happy reading genks ...


Mohon maaf baru bisa Up lagi setelah lama tumbang ..


Next part berikutnya yess ...


Seperti biasa, jangan lupa like, komen, vote, serta simpan sebagai favorit ya?

__ADS_1


Makasih semua ...


💜💜💜


__ADS_2