ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Tigapuluh


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu, dan selama itu pula Kalan benar-benar tidak pernah lagi memperlihatkan batang hidungnya sama sekali di hadapan Gadis. Laki-laki itu menjauh dan benar-benar menghindarinya.


Gadis yang tahu Kalan sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, ia merasa ada yang berbeda saat lelaki itu tidak pernah menemuinya lagi. Seperti ada sesuatu yang hilang dan hari-harinya pun terasa kosong. Apalagi saat mengetahui kalau Kalan telah berpindah tempat tinggal. Laki-laki itu tidak lagi tinggal di apartemennya, dan Gadis sendiripun tidak tahu dimana Kalan tinggal saat ini. Jujur, Gadis merasa sangat kehilangan.


Kalan benar-benar telah menutup semua hal yang berhubungan dengannya. Nomor ponsel lelaki itupun sudah tidak aktif lagi, dan bunga yang biasanya Kalan kirim setiap hari, kini sudah tidak ada lagi.


Ternyata, Kalan benar-benar menepati janjinya.


Menyesal?


Tentu tidak, Gadis tidak akan menyesal karena ini adalah keinginannya, keputusannya sendiri. Semua Gadis lakukan semata-mata demi kebaikan bersama, dan merupakan jalan terbaik untuk mereka berdua.


Sama halnya seperti sekarang, dimana seharusnya Kalan lah yang memimpin pertemuan mingguan kali ini. Lagi, laki-laki itu tidak menghadirinya, ia lebih mempercayakan semuanya kepada Bima, asisten sekaligus sekretaris pribadinya itu.


Sebegitu enggannya Kalan bertemu dengan Gadis? sampai-sampai ia melibatkan masalah pribadi dengan pekerjaan yang seharusnya bersikap profesional.


"Maaf mengganggu waktunya sebentar, Nona Gadis."


"Ya." Gadis mendongak, lalu menatap Bima yang kini berdiri di depannya sambil menutup berkas yang sedang ia periksa hasil dari pertemuannya tadi.


"Ada apa ini?" Tanya Gadis kembali saat Bima menyodorkan berkas laporan dari perusahaan Gadis.


"Maaf sebelumnya." Bima menunduk sebentar sebelum kembali menyerukan suaranya. "Menurut Pak Kalan, ada beberapa laporan yang sepertinya tidak sesuai dengan pertemuan kita tadi. Ada beberapa laporan juga yang mesti Nona Gadis baca ulang kembali dan harus segera di perbaiki."


Gadis mengernyit, menatap Bima dengan raut bingung. "Harus di perbaiki?"


"Iya." Jawabnya dengan lembut.


Gadis membuka satu persatu berkas yang Bima sodorkan padanya, lalu membacanya dengan teliti. Dan benar apa kata Bima, kalau laporan yang ia buat ternyata tidak sesuai dan banyak sekali salahnya.


Bima, laki-laki yang masih setia berdiri itu tersenyum tipis saat melihat Gadis melebarkan kedua bola matanya sambil menggerutu kesal. "Ya ampun, kenapa bisa seperti ini? ada apa denganku?" Ujar Gadis sembari memijit pelipisnya.


"Sepertinya anda sedang ada masalah, Nona?" Tanya Bima kemudian yang membuat Gadis melupakan kalau Bima masih berada disana. "Tidak biasanya anda membuat laporan sekacau ini kan?"


"Maaf, ini memang kesalahan saya." Ujar Gadis sambil tersenyum kaku. "Katakan permintaan maaf saya kepada Pak Kalan, saya akan memperbaiki ini secepatnya."


"Saya akan menunggu anda disini, Nona. Karena Pak Kalan membutuhkan laporan itu sekarang juga."


"Baik. Kalo begitu silahkan duduk."


Bima pun menurut, ia segera menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Gadis saat ini.


Gadis yang masih berada di perusahaan milik Kalan itu mau tidak mau harus membuat laporan ulang karena kesalahannya sendiri. Gadis malu, tentu ini adalah kesalahan pertama selama ia bekerja sebagai pemimpin perusahaan besar di Jakarta. Sebelumnya Gadis hampir tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun, ia akan bekerja dengan baik dan teliti saat membuat laporan-laporan seperti ini.

__ADS_1


Tapi karena ia terus memikirkan Kalan selama mengikuti pertemuan tadi, akhirnya pikirannya pun pecah dan Gadis tidak dapat lagi berkonsentrasi dengan apapun.


Ck, kenapa juga ia harus memikirkan laki-laki itu?


Di tambah lagi dengan ketidakhadiran Risa sekarang, bisanya Risalah yang akan membantu dan memperingatkannya kalau ada kesalahan dalam membuat laporan, kali ini Gadis benar-benar harus melakukannya sendiri.


"Apa saya bisa bertemu dengan Pak Kalan?" Seru Gadis saat ia telah menyelesaikan pekerjaannya itu.


"Sebelumnya saya mohon maaf Nona Gadis, tapi sepertinya Pak Kalan tidak bisa ditemui hari ini." Bukan tanpa alasan Bima mengatakan hal seperti itu kepada Gadis, laki-laki itu hanya sedang menjalankan perintah dari atasannya sendiri.


"Apa dia sibuk?" Tanya Gadis kembali yang membuat Bima tersenyum tipis.


"Iya, hari ini Pak Kalan benar-benar sedang sibuk."


Gadis memberi seulas senyum tipis kepada Bima. Ia tahu kalau sebenarnya Bima mengatakan itu hanya alasannya saja. Pasti Kalan lah yang memerintahkan Bima agar Gadis tidak bisa menemuinya dengan alasan pekerjaan.


"Baiklah, kalo begitu saya pamit, dan tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Pak Kalan."


"Baik Nona." Balas Bima seraya mengangguk.


Setelah itu, Bima menggeleng pelan saat melihat Gadis sudah pergi dan tak terlihat lagi. Sebenarnya ada rasa kasihan dan tidak tega saat melihat gadis itu pergi dengan raut kecewa.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara mereka berdua?"


******


Kalan yang sedang fokus memeriksa laporan dari Gadis seketika menghentikan kegiatannya itu. Ia diam tanpa menatap Bima sedikitpun.


"Tidak biasanya seorang pemimpin seperti Nona Gadis tidak fokus saat sedang bekerja." Ujarnya lagi yang membuat Kalan mengiyakan apa kata asistennya itu. "Tadi juga saya melihat Nona Gadis terlihat sedikit kecewa saat dia tidak bisa bertemu dengan Pak Kalan."


"Sudahlah, lagipula itu keinginannya sendiri." Setelah lama diam, akhirnya Kalan bersuara.


"Maksud Bapak?" Tanya Bima penasaran.


Kalan menyimpan pulpennya di atas tumpukan dokumen itu, lalu melepas kacamata seraya memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Bukan hal yang mudah bagi Kalan melupakan Gadis begitu saja, selama satu bulan lamanya ia tidak bertemu dengan Gadis membuatnya tersiksa. Perasaan rindunya pada Gadis sangat lah besar. Jujur, Kalan benar-benar merindukan Gadis.


"Dia sendiri yang meminta saya untuk menjauh. Saya hanya sedang memenuhi keinginannya itu. Meskipun sebenarnya, menjauh darinya membuat saya tersiksa." Akunya pada Bima. Kalan tidak lagi menutupi apa yang ia rasakan pada Bima. Karena bagi Kalan, Bima adalah satu-satunya orang yang ia bisa percaya saat ini.


"Menurut yang saya lihat, sebenarnya Nona Gadis juga sama seperti Pak Kalan."


"Maksudnya?" Kalan menatap Bima dengan dahi mengkerut dalam.


"Sepertinya Nona Gadis juga merasakan apa yang Pak Kalan rasakan."

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Bima. Gak usah bertele-tele." Kalan mendengkus kesal, ia paling tidak suka dengan orang yang menggantung kalimatnya.


"Saya punya usul, Pak.!" Seru Bima lagi.


"Usul apa?"


"Gimana kalo Pak Kalan ..." Bima sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik pelan tepat di sebelah telinga atasannya itu.


"Ck." Lelaki itu berdecak. "Saya gak yakin sama usul kamu.!"


"Itu terserah Pak Kalan saja." Bima sedikit tersenyum sebelum kemudian kembali berujar. "Tapi hanya dengan cara seperti itu, Pak Kalan akan tahu gimana perasaan Nona Gadis sebenarnya."


"Apa usul kamu itu bisa di percaya?" Tanya Kalan yang sepertinya sedang menimbang usul yang diberikan oleh Bima.


"Saya yakin, Pak." Jawab Bima seraya menganggukkan kepalanya.


Kalan yang sepertinya tertarik dengan apa yang Bima usulkan, Tidak ada salahnya juga jika ia mencoba dan melihat seperti apa reaksi yang akan Gadis tunjukkan jika ia melakukan apa yang Bima anjurkan. Lagipula, Kalan sudah tidak bisa lagi menahan perasaan rindunya yang ingin melihat wajah perempuan yang kini telah menguasai hatinya itu.


Gadis,


Nama itulah yang kini membuat Kalan nyaris gila karena berjauhan.


Setiap hari, bahkan setiap detik wajah Gadis selalu berputar di kepalanya. Gadis lah yang membuat Kalan tidak dapat tertidur dengan pulas setiap malamnya. Gadis lah yang membuat pekerjaan Kalan akhir-akhir ini selalu berantakan. Dan Gadis lah, nama satu-satunya perempuan yang selalu Kalan sebutkan di setiap hembusan napasnya.


Gadis, sebenarnya apa yang dia lakukan sampai membuat Kalan berubah menjadi gila seperti ini?


"Baiklah ... saya akan ikuti permainan kamu." Kata Kalan yang membuat Bima tersenyum puas.


"Selamat berjuang, Pak Kalan."


Kalan mengangguk. Sudah saatnya pula ia mengetahui bagaimana perasaan gadis itu untuknya.


Demi Gadisnya itu, apapun akan Kalan lakukan.


Ya, semua demi Gadis.


...*******...


BERSAMBUNG ...


Jangan lupa like, komen, vote, dan simpan di favorit ya?


Makasih semua ..

__ADS_1


Next part berikutnya ...


bye ... ❤


__ADS_2