
"Mau apa kamu kesini?"
"Aku mau bicara sama kamu."
"Keluar dari ruangan aku sekarang juga." Bentaknya kemudian yang membuat Kalan menutup matanya sekilas.
"Aku gak akan keluar sebelum kita bicara." Kekehnya. Kalan tetaplah Kalan, lelaki keras kepala itu tak takut meskipun gadis itu marah sekalipun.
"Mau kamu apa sih?" Akhirnya Gadis pun menyerah. Ia sudah lelah. Sejak kejadian itu terjadi, Gadis benar-benar menghindari Kalan. Gadis tak ingin bertemu, ia juga tak ingin melihat wajah Kalan untuk saat ini.
Dan itu yang membuat Kalan merasa tak tenang. Sudah tiga hari setelah kejadian itu, Gadis selalu sulit untuk ia temui. Dan Kalan tak akan menyerah begitu saja, sampai pada akhirnya disaat ada kesempatan, ia pun menerobos masuk ke dalam ruangan Gadis meskipun tadi beberapa orang sempat menghadangnya.
Dan ini seperti devaju untuknya. Kalan pernah melakukan hal yang seperti Gadis lakukan sekarang. Ia pernah menghidari, tak ingin bertemu, dan melarang Gadis untuk masuk kedalam ruangannya. Sama seperti sekarang, dan sepertinya karma lagi-lagi menghampirinya sekarang.
"Untuk kejadian malam itu, aku benar-benar minta maaf." Seketika Gadis memutar badannya, Gadis berdiri dengan posisi membelakanngi lelaki itu sekarang. Bisakah Kalan tak membahasnya? Sekilas kejadian pada malam itu kembali terlintas, dimana pada saat itu Kalan menyentuhnya dengan kasar dan penuh paksaan. Mengingat itu tentu membuat Gadis kembali merasakan ketakutan.
"Aku tahu aku telah melakukan kesalahan." Gadis hanya diam, sementara Kalan, lelaki itu akan terus berusaha sampai Gadis mau memaafkannya. Sampai ia benar-benar mendapatkan maaf dari Gadis. "Semua itu terjadi di luar kesadaranku."
"Aku mohon keluarlah."
"Dis ..."
"Pergi lah, aku gak mau bicara lagi sama kamu."
"Tapi aku ingin bicara sama kamu. Aku tidak akan pergi sebelum kamu lihat aku sekarang."
"Kalan ..." Bersamaan dengan itu, Gadis pun menoleh. Memutar badan hingga akhirnya Kalan pun bisa melihat wajah gadis itu sekarang.
Disaat mata mereka bertemu, disaat itulah Kalan kembali merasa bersalah. Tatapan Gadis yang biasanya selalu berbinar kini tak nampak lagi, mata bening yang selalu terlihat indah itu kini menyorotinya dengan penuh luka. Dan itu benar-benar membuatnya merasa sesak saat melihat sorot terluka dari mata gadis itu.
"Dis ... Aku ..."
"Sekarang kamu boleh pergi."
"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, dan malam itu aku benar-benar gak sadar saat melakukannya."
"Kamu pikir dengan kata maaf bisa merubah semuanya? kamu udah menghancurkan aku, Kalan."
"Aku tahu, tapi aku melakukan itu diluar kendali aku."
Gadis pun membuang pandangannya ke sembarang arah. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Melihat Kalan yang meminta maaf secara tulus membuat hatinya sedikit tersentuh. Gadis tahu kejadian malam itu benar-benar di luar kesadarannya. Kalan sedang mabuk, lelaki itu sedang dalam pengaruh alkohol. Tapi ...
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang udah aku lakukan sama kamu."
"Bertanggung jawab?" Gadis berdecih. "Kamu mau bertanggung jawab?"
"Iya."
"Sekalipun aku memasukkan kamu ke dalam penjara?"
"Jika itu bisa membuat kamu memaafkan aku. Maka lakukanlah."
"Bagaimana jika aku ingin membunuh mu?"
Kalan diam sesaat sebelum kemudian kepalanya mengangguk yakin. "Lakukan." Katanya lagi yang membuat Gadis menggeleng tak percaya. Seandainya saja Gadis tak mempunyai hati, mungkin ia akan dengan senang hati membunuh laki-laki yang telah menghancurkan kehidupannya itu.
"Aku benci kamu." Lalu, air bening seperti krystal itu jatuh dari mata indahnya.
"Aku tahu."
"Aku benar-benar membenci kamu, Kalan." Jeritnya putus asa. Gadis menangis dan tanpa sadar ia pun membiarkan Kalan kembali memeluknya. Gadis menumpahkan seluruh kemarahannya pada Kalan dengan cara memukul-mukul dada bidang lelaki itu dengan kedua tangannya. Kalan hanya diam dan menerima apapun yang Gadis lakukan, rasa sakit pada dadanya tak sebanding dengan apa yang telah Kalan lakukan pada Gadis. Rasa sakit ini tak seberapa, di banding dengan rasa sakit yang Gadis rasakan saat Kalan merenggut kesuciannya secara paksa. Itupun ia lakukan di bawah kesadarannya, dan karena obat perangsang sialan itulah yang membuat Kalan menjadi manusia paling berengsek.
Menyakiti gadis yang paling di cintainya itu.
Satu hari sebelumnya, Kalan yang memang mencurigai adanya ketidakberesan saat kejadian itu terjadi, ia pun memerintahkan Bima untuk segera menyelidiki dan mencari tahu apa yang terjadi pada malam dimana ia sampai meniduri Gadis. Ternyata, kecurigaannya itu memang benar, dan terjawab saat Bima mengatakan kalau pada saat itu bukan hanya alkohol saja yang membuat Kalan menjadi hilang kendali, melainkan ada obat perangsang di dalam tubuh lelaki itu.
Dan Kalan pun tak terkejut, saat ia mengetahui siapa orang di balik kejadian pada malam itu. Dalang yang membuatnya merasa bersalah sekaligus bersyukur dibuatnya. Kalan merasa bersalah karena telah menyakiti Gadis-nya. Tetapi Kalan juga merasa bersyukur karena pada malam itu ia tak menyentuh Retha.
"Apa maksud kamu, Kalan?" Bentak wanita setengah baya itu dengan penuh emosi. "Jangan main-main kamu?"
Kalan berdecih jijik seraya menyunggingkan bibirnya ke atas. "Saya tidak akan melanjutkan pertunangan ini."
"Apa maksud kamu?" Tanya Retha dengan suara yang melirih.
"Kamu tanyakan sendiri pada Mama kamu, kenapa aku sampai membatalkan rencana pernikahan kita."
Retha yang saat itu masih terkejut karena pembatalan pernikahan yang secara mendadak dari Kalan, ia pun harus kembali dikejutkan oleh sebuah kenyataan yang entah harus ditanggapinya seperti apa.
"Ma ... bilang sama aku kalo itu gak bener?"
"A-pa? Ma -mama gak mungkin melakukan itu." Elak Desi.
"Katakan, apa maksud Mama dengan memberi Kalan obat perangsang." Ya Tuhan ... Jerit Retha dalam hati, ia tidak tahu kenapa Mamanya itu bisa melakukan hal memalukan seperti itu.
__ADS_1
Desi blingsatan, wajahnya pun memerah antara kesal atau menahan malu. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol mulutnya sehingga semua rencananya itu di ketahui oleh Bima. Desi salah besar karena telah menganggap remeh seorang Kalan.
"Iya, Mama yang memasukkan obat perangsang itu." Akunya kemudian yang membuat Retha membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Sementara Kalan, lelaki itu hanya diam seraya tersenyum miring.
"Kenapa Mama lakukan itu?"
"Mama terpaksa melakukan itu, supaya Kalan segera menikahi kamu."
"Tapi tidak harus dengan cara seperti itu. Ma?" Sungguh, Retha tidak tahu. Seandainya ia tahu kalau di dalam minuman itu mengandung obat perangsang, tentu Retha tak akan memberikannya pada Kalan.
"Dan sayangnya, Rencana Tante gak berhasil kan?"
Desi mendelik, menatap tajam pada Kalan yang sedang tersenyum dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.
"Tapi kamu akan tetap menikah dengan Retha kan?"
Kalan memberi seulas senyum sebelum kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat kedua wanita di depannya itu menganga tak percaya.
"Karena ulah tante sendiri, terpaksa saya membatalkan rencana pernikahan ini."
"Apa maksud kamu? kamu gak bisa kayak gitu?" Sewot Desi bersungut-sungut.
"Karena ulah Tante, saya harus bertanggung jawab pada orang lain."
"A - apa maksudnya bertanggung jawab sama orang lain?" Oh ... tidak! Jangan katakan Kalan sudah meniduri wanita lain selain putrinya.
"Karena obat perangsang yang Tante berikan itu, maka saya harus bertanggung jawab." Kalan tersenyum tipis. "Saya mohon maaf karena gak bisa menikah dengan Retha."
"Ka -kalan, kamu ...?!" Mungkin, inilah akhir dari mimpinya. Lagi dan lagi Retha harus kehilangan Kalan kembali. Apakah ini pertanda kalau mereka memang tidak di takdirkan untuk bersama?
Kenapa rasanya sakit sekali?
"Maaf, aku gak akan mengingkari janji aku sama kamu, kalo bukan karena Mama kamu sendiri yang akhirnya memaksa aku untuk menikahi wanita lain."
"Siapa wanita yang kamu tiduri?" Tanya Desi dengan suara yang meninggi.
"Tante gak perlu tahu." Kalan tersenyum miring, lelaki itu pun akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kedua wanita itu disana. Tapi sebelum Kalan membuka pintu di depannya itu, ia menoleh ke belakang seraya berkata.
"Karena saya tahu kepada siapa saya harus bertanggung jawab."
******
__ADS_1