ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Duapuluhlima


__ADS_3

Berada di sebuah restoran yang terlihat tampak sepi itu, kini mereka bertiga memilih duduk di sudut restoran yang jarang terjangkau oleh pelanggan yang lain. Gadis terdiam, melirik ke arah Kalan dan Yasika seraya mengesap minumannya.


Canggung, itulah yang Gadis rasakan sekarang saat Kalan terus memperhatikannya. Bukan hanya itu saja, Yasika pun tengah melakukan hal yang sama. Wanita setengah baya itu seolah sedang menunggu penjelasan dari Kalan dan juga Gadis. Sebenarnya Gadis sudah menolak saat lelaki itu memintanya untuk tidak pergi. Tapi, lagi dan lagi, Kalan lah yang telah berhasil membuat gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.


Maka disinilah Gadis sekarang, ia duduk bersama Bunda Yasika dan Kalan sembari menunggu apa yang akan di katakan oleh lelaki pemaksa itu.


"Sekarang jelasin sama Bunda, apa yang sebenarnya terjadi?"


Yasika yang pertama kali memecah keheningan di antara mereka bertiga. "Apa maksud perkataan kamu, Kalan?"


Kalan yang sedang mengesap cofe latte itu langsung menoleh ke arah sang Bunda, ia letakkan cangkir itu di atas meja sebelum kemudian membuka suaranya.


"Aku udah bilang sama Bunda, kalo aku mencintai Gadis." Ujar Kalan yang seketika membuat Gadis langsung menoleh melihatnya. "Aku jatuh cinta sama Gadis." Lagi, Gadis hanya bisa menurunkan pandangannya saat kalimat itu kembali terdengar. Sementara Yasika, wanita itu pun melihat kesungguhan dari diri putranya itu. Ternyata, Kalan memang benar-benar mencintai Gadis.


Ya Tuhan ...


Yasika menarik napas dengan mata terpejam. Jadi benar, kalau putranya itu telah menyukai Gadis? Bagaimana dengan Retha dan keluarganya yang sudah berharap lebih pada Kalan?


"Sejak kapan kamu mulai mencintai Gadis, sayang?" Karena setahu Yasika, hanya Retha lah satu-satunya gadis yang bisa membuat anaknya itu jatuh cinta.


Kalan melirik Bundanya sekilas sebelum kemudian ia melihat kearah Gadis yang hanya terdiam tanpa minat. Kalan tahu apa yang sebenarnya gadis itu rasakan sekarang, rasa marah, kesal sekaligus malu melebur menjadi satu. Seharusnya Kalan tidak memaksa dan membiarkan Gadis untuk pulang saja. Akan tetapi, ia tidak ingin itu terjadi. Ia ingin agar Gadis tetap bersamanya, ia juga ingin membuktikan kepada Gadis tentang kesungguhannya dihadapan sang Bunda. Semakin Gadis menghindarinya, maka semakin besar pula keinginannya untuk mendapatkan gadis itu.


Dulu Gadis tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta darinya. Begitu pun dengan Kalan sekarang, ia juga tidak akan menyerah begitu saja meskipun Gadis sudah menolaknya. Dan Kalan tidak akan membiarkan orang lain untuk memiliki Gadis-nya.


Ck, egois!


"Aku tidak tahu jelasnya kapan aku mulai menyukainya, tapi perasaan itu muncul ketika aku bertemu kembali dengan Gadis untuk yang pertama kalinya." Bahkan disaat dulu Gadis pergi meninggalkannya pun, ada rasa tak biasa yang ia rasakan dalam hatinya. Entah itu apa? yang jelas, Kalan selalu berharap agar ia bisa dipertemukan lagi dengan Gadis kembali.


"Kalan ..." Yasika mendesah frustrasi. "Bagaimana ini?"


"Maaf, Bunda. Maaf kalo aku belum sempat cerita sama Bunda. "


"Tapi kamu masih bersama Retha? bagaimana dengan dia?"


Kalan menatap sang Bunda. "Untuk itu, biar aku yang akan mengurusnya sendiri. Bunda tidak usah khawatir."


"Bagaimana Bunda tidak khawatir, kamu akan menyakiti Retha, dan kamu juga akan mengecewakan keluarganya."


"Apa yang di katakan oleh Bunda memang benar." Tiba-tiba saja Gadis membuka suaranya setelah lama hanya berdiam diri, membuat kedua orang itu langsung menoleh menatapnya. "Kamu gak bisa seperti ini. Kamu gak boleh egois, Kalan. Dan lagi ... bukannya aku udah bilang, kalo aku gak cinta sama kamu.!"


"Bukannya aku juga udah bilang, walau ratusan kali kamu menolak aku, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan kembali cinta kamu."


"Dan sampe kapanpun aku gak akan pernah jatuh cinta lagi sama kamu." Sungut Gadis kembali tanpa memperdulikan Yasika yang sedang menyaksikan perdebatan mereka berdua. "Aku punya seseorang yang sedang menungguku di Paris, dan aku juga akan menikah sama dia."


"Selama belum ada janur kuning melengkung, aku masih mempunyai kesempatan."


"Dan aku gak akan memberi kamu kesempatan itu."


"Kita lihat saja nanti." Ujar Kalan seraya menyeringai.


Gadis menggeram tertahan, menatap lelaki yang sedang tersenyum menyebalkan itu dengan mata menyalang. Berhadapan dengan Kalan sama saja dengan membuang-buang tenaganya secara cuma-cuma. Sampai kapanpun lelaki itu akan selalu membuatnya tidak bisa berkutik.


Oh ... menyebalkan.!


Sementara Yasika, wanita setengah baya itu hanya bisa tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat tingkah keduanya yang kini saling berseteru. Ternyata mereka berdua masih sama, tidak ada yang berubah dari kedua mahluk yang begitu ia sayangi itu. Sama-sama keras kepala walau Gadis lah yang akhirnya selalu mengalah untuk Kalan.


Yasika tidak pernah mengira jika putranya itu akan mengakui perasaannya sendiri terhadap Gadis. Karena yang Yasika tahu, dari dulu Kalan menganggap Gadis hanya sebagai musuhnya saja, tidak lebih dari itu. Tapi karma seolah sedang menghukumnya sekarang. Dulu, Kalan selalu menolak cinta Gadis dengan berbagai alasan, tapi sekarang justru anaknya lah yang dengan terang-terangan mendapat penolakan dari Gadis.


Yasika tidak marah, ia pun tidak akan mencampuri urusan yang bukan menjadi urusannya meskipun itu menyangkut anaknya sendiri. Sebagai seorang Ibu, tentu Yasika akan mendukung apapun keputusan yang Kalan tentukan. Karena Yasika sangat mengenal bagaimana putranya itu dengan baik. Yasika yakin jika Kalan tidak akan mengambil langkah yang salah. Putranya itu tidak akan mengambil keputusan tanpa di pikirkannya terlebih dahulu.


Pun dengan cintanya kepada Gadis.

__ADS_1


Bagi Yasika, tidak ada yang salah dengan cinta Kalan terhadap Gadis. Kalan memang akan bertunangan, tapi sebelum semuanya terlambat, ada benarnya juga jika Kalan mengakuinya dari sekarang. Mengakui cintanya tanpa harus ada yang di sembunyikan. Meskipun nantinya ia akan menyakiti hati yang lain.


Sama hal nya seperti sekarang, Kalan begitu yakin jika ia akan mendapatkan cinta Gadis kembali. Sementara Retha serta keluarganya, Yasika menyerahkan sepenuhnya kepada Kalan. Ia ingin tahu bagaimana cara putranya itu untuk bertanggung jawab.


Sesuai dengan permintaan Kalan, maka Yasika dan Gadis memutuskan untuk pulang terlebih dulu setelah mereka sempat berpamitan kepada Retha dan Mamanya. Ia akan membiarkan putranya itu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus melibatkan Yasika di dalamnya.


Yasika sempat melarang Kalan untuk tidak membahas apapun hari ini, ia juga meminta pada Kalan untuk tidak gegabah, mengingat kondisi Retha yang belum sepenuhnya membaik. Yasika pun meminta pada Kalan untuk mencari waktu yang tepat agar mereka berdua bisa berbicara dengan tenang. Menyelesaikan masalah tanpa adanya kesalahan pahaman. Yasika takut terjadi sesuatu yang buruk pada Retha saat Kalan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya, serta membatalkan rencana pertunangannya yang tinggal beberapa minggu lagi.


Tapi ... Kalan tetaplah Kalan, anak laki-lakinya itu bersikeras akan mengatakan semuanya kepada Retha hari ini juga. Ia tidak ingin menunda lagi, semakin lama ia bungkam maka semakin besar pula ia akan menyakiti Retha nantinya.


Dan Kalan tidak ingin itu terjadi.


Ya, ternyata rasa cinta yang dulu matian-matian ia jaga untuk Retha, secara perlahan mulai pudar seiring dengan tumbuhnya perasaan untuk Gadis.


Kalan tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya itu, ia akan berusaha jujur meski nantinya akan ada hati yang terluka saat mengetahui tentang kebenarannya.


Kebenaran, bahwa cintanya tidak lagi untuk Retha, melainkan untuk seseorang yang dulu selalu ia abaikan. Seseorang yang pernah menangis karenanya. Dan seseorang itu yang kini telah memporak-porandakan hatinya.


Ya, seseorang itu yang kini begitu ia cintai dengan sepenuh hati.


Gadis Ayunda, kini nama itulah yang telah berhasil menguasai seluruh hati dan hidupnya.


******


Setelah sang Bunda dan Gadis berpamitan untuk pulang, maka di dalam ruangan itu tinggal hanya ada mereka bertiga. Kalan begitu tampak tenang meskipun hatinya sedikit berdebar. Pun dengan Retha, gadis itu selalu bisa menyembunyikan perasaannya yang merasa tidak baik menjadi terlihat baik-baik saja meskipun ia pun sama seperti Kalan.


Sejak kedatangannya kembali ke dalam kamar, entah kenapa Retha merasakan jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Kalan. Tiba-tiba saja rasa takut menghampiri, mendadak perasaannya pun menjadi tidak tenang saat Kalan menatapnya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.


Tatapan hangat penuh damba disaat Kalan menatapnya, kini seakan menghilang begitu saja.


"Sekarang bilang sama Tante, kalau kamu tidak serius ingin menunda pertunangan itu kan?" Meskipun terlihat lebih tenang, tapi Desi masih tetap memperlihatkan kekesalannya itu terhadap Kalan.


"Mama tidak ingin pertunangan kalian ditunda. Semuanya sudah beres, kenapa tiba-tiba kamu ingin menundanya?"


Kalan menghirup udara banyak-banyak sembari menutup matanya sekilas. Ia tahu akan seperti apa nantinya jika mereka berdua sampai mendengar kabar yang mungkin akan membuat kedua wanita itu marah. Apapun yang terjadi, Kalan sudah siap untuk menanggung segala konsekuensinya. Termasuk dengan kenyataan kalau Retha dan Mamanya itu akan membencinya setelah ini.


"Maaf ..." Ia jeda kalimatnya sebentar. "Maaf, tapi seperti itu kenyataannta Tante."


Wajah cantik yang terlihat tenang itu kini berubah menjadi tegang. Pun dengan Desi yang begitu terkejut.


"Apa maksud kamu, sayang?" Sungguh, Retha tidak bisa lagi menutupi ketakutannya. Ia raih tangan Kalan untuk digenggamnya. "Apa maksud kamu?" Ulangnya kembali.


Kalan membalas genggamannya itu untuk memberi kekuatan kepada Retha. "Aku ingin membatalkan pertunangan kita."


Detik itu juga Retha merasakan jika kini jantungnya seakan berhenti berdetak, pun dengan napasnya yang mendadak terhenti. Ada apa ini?


"Apa maksud kamu Kalan?" Tidak, Desi tidak terima dengan semua ini. Apa-Apaan ini? kenapa Kalan memutuskannya secara mendadak dan sepihak? Dan lagi, sepertinya putrinya itu tidak tahu apa-apa.


"Maafkan aku Tante, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini." Ada rasa bersalah ketika melihat mata bulat milik Retha itu mulai menggenang. Sungguh, bukan maksud Kalan ingin menyakitinya. Semua ini ia lakukan untuk kebaikan bersama, karena Kalan tidak ingin menyakiti Retha lebih dalam lagi.


Berengsek, satu kata yang tepat untuknya saat ini.


"Jangan sembarangan bicara kamu? Kamu lagi bercanda kan?" Desi tidak bisa lagi menahan emosinya, apalagi ketika ia melihat putrinya itu menangis.


"Maafkan aku, Tante."


Dan itulah kata terakhir yang bisa Kalan ucapkan sebagai permintaan maafnya. Desi sangat marah, bahkan sakit jantung yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun lamanya itu kini datang kembali. Kalan begitu terkejut, pun dengan Retha yang semakin menangis melihat kondisi Mamanya itu sekarang. Beruntung, Desi segera mendapatkan penanganan dari Dokter. Dan keadaannya pun sekarang sudah mulai membaik.


"Maafkan aku, Tha." Kalan meraih tangan Retha yang sekarang terasa dingin itu. "Maafkan aku."


Retha terdiam, mata bulat itu memandang lurus kedepan dengan pandangan yang kosong. Setelah melihat sang Mama yang mendapat perawatan dari sebelah kamarnya, Retha kembali masuk ke dalam kamarnya atas perintah sang Dokter. Ia pun menurut, dan kembali ke dalam kamar dibantu oleh Kalan.

__ADS_1


Retha kembali duduk di atas ranjangnya bersama Kalan yang duduk di sampingnya.


"Aku mohon maafkan aku." Meskipun beribu-ribu kali ia meminta maaf, tetapi semua itu tidak akan cukup bagi Retha.


"Kenapa, Kalan? kenapa?" Tanya gadis itu begitu lirih.


"Katakan alasan kamu yang sebenarnya sama aku?"


"Apa yang membuat kamu ingin mengakhiri hubungan kita?"


Retha tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia menangis pilu di hadapan laki-laki yang baru saja memintanya untuk berpisah. Setahunya, hubungan mereka selama ini baik-baik saja. Tidak ada alasan yang membuat keduanya harus berpisah. Tapi kenapa sekarang Kalan tiba-tiba memutuskannya secara sepihak.


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Apa aku kurang perhatian?"


"Atau ...?"


"Tidak, Tha. Tidak." Kalan menyela cepat. "Kamu tidak bersalah, justru disini aku yang bersalah sama kamu."


"Lalu kenapa? kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita?"


Kalan bungkam, ia ragu untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa ia lebih memilih untuk mengakhiri hubungannya bersama Retha. Selain karena Gadis, alasan lain yang membuatnya ingin berpisah adalah karena sudah tidak ada lagi perasaan cinta untuknya.


"Apa karena seseorang kamu ingin mengakhiri hubungan kita?"


Kalan mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan mereka. Retha kembali menangis saat ia mengetahui jawabannya. Meskipun Kalan diam, tapi Retha bisa melihat dari sorot matanya.


"Katakan siapa dia?"


"Retha ...?"


"Katakan Kalan, katakan siapa orang yang telah membuatmu berpaling dari aku?"


Butuh waktu lima detik untuk Retha mengetahui siapa gadis yang bisa membuat Kalan-nya itu jatuh cinta. Dan Retha yakin, jika dugaannya kali ini tidak akan salah. Meskipun berat dan takut untuk menghadapi kenyataannnya, tapi ia akan berusaha untuk tetap kuat.


Dan ...


"Gadis ...!" Retha tersenyum getir sembari menangis.


"Gadis ..." Ulangnya kembali dengan melirih.


Lalu, tanpa ia sadari air matanya kembali mengalir deras saat kepala laki-laki itu menunduk.



"Maafkan aku ..."


...*******...


Sampai disini dulu ceritanya Kalan dan Gadis ya?


Next, aku lanjut lagi di episode berikutnya yess ..


Jangan lupa like, komen, vote, serta simpan sebagai favorit ya?


Makasih buat semua yang sudah mampir baca ceritanya Kalan dan Gadis.


Semoga suka ..


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2