
Keesokan harinya,
"Permisi Pak. Di depan ada nona Risa, ingin bertemu dengan anda."
Kalan mendongak, menatap Bima sambil mengernyit. "Risa.?"
"Iya, Pak. Sekretarisnya Nona Gadis." seru Bima yang membuat Kalan segera mengangguk.
"Suruh dia masuk." Ujar Kalan yang entah kenapa merasa aneh dengan kedatangan sekretaris dari Gadis itu. Memangnya Gadis kemana? bukankah seharusnya Gadis juga ikut pertemuan hari ini?
"Selamat siang, Pak Kalan." Sapa Risa saat ia sudah berdiri di hadapan lelaki itu, di temani oleh Bima di sampingnya.
"Siang." Kalan menyimpan pulpennya ke atas tumpukan berkas yang sedang ia tanda tangani. "Silahkan duduk." Kalan pun mempersilahkan Risa dan Bima untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya saat ini.
"Terima kasih, Pak."
"Hem ..." Kepala lelaki itu mengangguk. "Kenapa anda datang sendiri? Nona Gadis kemana? bukannya ia juga harus mengikuti pertemuan kita hari ini?"
Risa tersenyum tipis, "Maaf sebelumnya, Pak. Saya di perintahkan oleh Ibu Gadis untuk mewakili pertemuan hari ini, Ibu Gadis sendiri tidak dapat hadir di karenakan Ibu Gadis sedang sakit, Pak."
"Sakit?" Tanya Kalan sedikit terkejut.
"Iya, Pak. Ibu Gadis sedang sakit."
Bukan hanya Risa saja yang merasa aneh dengan sikap yang di tunjukkan Kalan ketika mendengar kabar tentang Gadis yang sakit, pun dengan Bima, cowok itu juga heran melihat sikap Kalan yang tidak seperti biasanya.
Selama pertemuan itu berlangsung, Kalan tidak bisa berkonsentrasi, entah apa yang mengganggu pikiran lelaki itu sampai-sampai Bima terus mengingatkannya. Kalan lebih banyak diam dan sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, baru setengah jam pertemuan itu berlangsung, tapi entah kenapa rasanya sudah sangat lama sekali.
Apakah karena Gadis, yang membuat Kalan ingin segera mengakhiri pertemuannya kali ini?
"Pak ..." Seru Bima sambil berbisik.
"Ya .." Kalan pun tersentak, melihat ke sekeliling dimana orang-orang yang berada di dalam ruangan itu sedang memperhatikannya. Kalan berdehem, lalu meminta Bima untuk melanjutkan pertemuannya kembali di lanjutkan besok siang.
Tanpa bisa menolak keinginan dari atasannya itu, maka Bima pun mengiyakan. Laki-laki itu meminta semua orang yang berada di dalam ruangan itu untuk melanjutkan pertemuannya kembali besok siang. Beruntungnya, mereka semua setuju dan segera bergegas meninggalkan ruang rapat itu setelah Kalan yang keluar lebih dulu.
Berada di dalam ruangannya sendiri, Kalan menggeram kesal saat panggilannya yang ketiga kali tak juga mendapatkan jawaban dari Gadis. Mendadak perasaan lelaki tidak tenang saat mendengar kabar tentang Gadis yang sakit. Kilasan tentang kejadian kemarin malam pun kembali terbayang dalam benaknya, bagaimana saat mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan penuh damba hingga kedua belah bibir itu menyatu, saling berpangutan dalam mesra.
Entah perasaan apa yang sedang Kalan rasakan sekarang, semenjak kejadian malam itu Kalan seperti telah melupakan semuanya. Melupakan apa yang pernah ia lakukan pada Gadis sewaktu dulu. Kalan yang selalu menganggap Gadis sebagai pengganggu, Kalan yang selalu kesal setiap kali Gadis mengikutinya, Kalan yang selalu marah setiap kali Gadis tidur di kamarnya, dan Kalan yang selalu menolaknya mentah-mentah setiap kali gadis itu menyatakan cintanya secara langsung.
Oh Tuhan ... apakah ini yang dinamakan dengan karma?
Seolah Tuhan sedang menghukumnya sekarang, maka yang ada di dalam kepalanya saat ini hanyalah Gadis. Gadis itu telah berhasil menyita seluruh perhatian dan pikirannya saat ini. Bukan hanya pekerjaannya saja yang menjadi terbengkalai karena terus memikirkan gadis itu, bahkan karena Gadis, ia pun sampai melupakan Retha, perempuan yang jelas-jelas masih berstatus sebagai kekasihnya bahkan sebagai calon tunangannya sendiri.
Di saat lelaki itu masih terus memikirkan tentang Gadis, di saat itu juga pintu di depan sana terbuka dengan lebar. Kalan tersentak begitu melihat sosok perempuan yang sejak tadi ia abaikan, bahkan panggilan telepon dari calon tunangannya itu pun ia hiraukan begitu saja.
"Hai sayang ..." Seperti hari-hari biasanya, Retha tidak pernah sedikit pun menunjukkan kekesalannya terhadap Kalan, meskipun ia sendiri sangat kesal karena Kalan lebih mementingkan pekerjaan ketimbang dengan dirinya. Padahal, ada alasan lain di balik itu semua yang tidak Retha ketahui.
"Hei ..."
"Kamu lagi sibuk ya sayang? kenapa telpon aku di angkat? pesan yang aku kirim pun gak ada yang kamu balas." Keluh gadis itu sedikit merajuk.
__ADS_1
"Maaf ... aku lagi sibuk. " Hanya itu yang keluar dari mulut lelaki itu.
Selain percaya, Retha bisa apa?
"Kamu sudah makan?"
"Belum." Jawabnya bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng.
Retha pun tersenyum sambil bergelayut manja pada lengan kekasihnya itu. "Gimana kalo sekarang kita makan siang bersama."
"Tapi pekerjaan aku masih banyak." Tolak Kalan yang entah itu benar atau hanya alasannya saja. Sejak mendengar kabar tentang Gadis yang sakit, selera untuk makan pun rasanya hilang begitu saja.
"Ayolah sayang, gak baik jika sering menunda makan, nanti kamu sakit."
Kalan menatap wajah Retha sekarang, ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja datang menghampiri benaknya. Setelah berbohong tentang Bunda yang tiba-tiba sakit, kini kebohongan itu pun ia ulangi kembali dengan alasan pekerjaan.
Astaga ... entah kebohongan apa lagi yang akan ia katakan nanti kepada Retha.
"Sayang ..." Retha menatapnya dengan tatapan memohon. "Aku juga kangen banget sama kamu, udah lama kita gak makan bareng."
"Baiklah." Akhirnya Kalan pun mengalah, selain karena rasa bersalah, anggap saja makan siang kali ini pun ia gunakan sebagai penebus atas semua kesalahan serta telah mengabaikan Retha seharian ini.
Kalan dan Retha pun keluar dari dalam ruangan, di saat mereka baru mau memasuki lift, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan nama sang Bunda lah yang tertera di layar benda pipih milik lelaki itu.
"Siapa?" Tanya Retha karena ponsel itu terus menyala.
"Bunda." Lalu, Kalan menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Bundanya itu.
"Iya, Bunda. Ada apa?"
"Nggak, Bunda. Memangnya kenapa?"
"Nanti kalo pulang dari kantor, kamu bisa mampir dulu ke rumah kan?"
"Mampir?"
"Iya, Bunda lagi buatin bubur buat Gadis." Sontak Kalan menoleh ke samping dimana saat ini ada Retha di sebelahnya. "Tadi Bunda habis dari apartemennya Gadis, dan dia lagi sakit. Bunda kasian sama Gadis, kamu bisa kan ambil buburnya nanti.?"
"Hem ... Nanti aku kesana."
Sepertinya Tuhan memang sedang menguji keimanan lelaki itu.
Kalan pun segera memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong celana setelah sang Bunda yang memutuskan panggilannya terlebih dulu.
"Ada apa?" Tanya Retha penasaran.
"Gak papa, Bunda cuma nyuruh mampir dulu nanti."
"Bunda sehat kan?"
Kalan tersenyum bersama dengan kepalanya yang mengangguk. "Hem ... Bunda sehat kok."
__ADS_1
"Oh ... Syukurlah." Retha bernapas lega. "Aku kira Bunda kamu sakit lagi." Ya, karena jujur Retha sangat mengkhawatirkan keadaan calon ibu mertuanya itu. Karena pada saat Kalan meninggalkannya begitu saja di acara reuni itu, sampai sekarang Retha belum melihat bagaimana keadaan dari Bunda Yasika.
Kalan tersenyum kaku. Terkutuklah ia sebagai anak yang telah memanfaatkan nama sang Bunda demi Gadis.
Ya Tuhan ... Bunda, ampuni anakmu ini.
******
Setengah jam setelah mengantarkan sang kekasih pulang ke rumah serta mengambil bubur buatan Bundanya itu. Kalan segera melajukan kembali kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera tiba di apartemen dan bertemu dengan Gadis. Seharian ini tidak melihat gadis itu, rasanya ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan. Entah itu apa? yang jelas, perasaan lelaki itu menjadi tak menentu.
Biasanya, Kalan akan menjadi satu-satunya orang yang paling bahagia ketika Retha ada di sampingnya, menemaninya makan, dan menghabiskan waktu berdua setelah beberapa hari mereka tidak bertemu karena kesibukannya masing-masing.
Tetapi entah kenapa, perasaan bahagia itu seolah hilang bersama dengan ingatannya yang terus berpusat pada Gadis.
Begitu mobilnya memasuki basement gedung apartemen, Kalan segera memarkirkan mobilnya disana. Buru-buru ia keluar dan melangkahkan kakinya lebar-lebar agar segera sampai menuju unit apartemennya Gadis. Tak lupa dengan bubur ayam buatan sang Bunda yang ia bawa di tangannya.
Sebenarnya Kalan sangat senang ketika Bunda Yasika memintanya untuk memberikan bubur itu kepada Gadis. Jadi dengan begitu, ia tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari cari alasan agar bisa bertemu dengan gadis itu.
Di saat ia sudah berdiri di depan pintu unitnya Gadis, tiba-tiba perasaan aneh itu muncul kembali. Seketika dadanya berdebar kencang, serta bayangan saat mereka sedang bercumbu kemarin malam pun sekilas terlintas dalam benaknya kembali.
Mengingat hal itu membuatnya sedikit merinding.
Kalan sempat menutup matanya sekilas sebelum kemudian tangannya terangkat untuk mengetuk pintu apartemen milik gadis itu. Sudah dua kali ia ketuk pintu itu, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana. Kemana Gadis? apa gadis itu sudah tidur?
Sudah ketiga kalinya Kalan mengetuk pintu itu, tapi hasilnya masih sama. Lalu, di saat ia akan mengetuk untuk yang ke empat kalinya, tiba-tiba saja benda itu terbuka. Hal pertama yang lelaki itu lihat adalah wajah Gadis yang sejak dari tadi terus mengganggu pikirannya, meskipun terlihat sedikit pucat, tapi kecantikan dari gadis itu tidak berkurang sedikitpun.
Lalu,
"Kalan ..." Seru gadis itu setengah tidak percaya. Gadis terkejut, pun dengan Kalan yang merasa gugup.
"Kamu ...?"
"Boleh aku masuk?" Tanya Kalan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari gadis itu.
Masuk? apa aku harus membiarkan laki-laki itu masuk?
"Aku denger kamu lagi sakit, dan Bunda meminta aku untuk mengantarkan bubur ayam buatannya sendiri langsung ke tangan kamu." Kalan mengangkat paper bag itu dari tangannya.
Tanpa berkata apapun, Gadis membuka pintunya itu lebar-lebar dan mempersilahkan Kalan untuk masuk kedalam apartemennya.
...*******...
Happy reading genks ...
Di lanjut lagi di episode berikutnya ..
Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote.
Serta,
Follow Ig aku yuk
__ADS_1
@hakimparida
Makasih ...💜💜💜