
Nyatanya,
Setelah satu minggu berlalu, Gadis belum bisa membuat Kalan menarik kembali pembatalan kerja samanya itu. Entah kenapa lelaki itu sangat sulit sekali untuk di temui. Kalan selalu menghindar dan menolak setiap kali Gadis ingin menemuinya. Bahkan beberapa hari yang lalu, Kalan kembali menunjukkan kebenciannya kepada Gadis di depan karyawannya sendiri. Gadis tak bisa berbuat apa-apa saat Bima dan Sheila kembali memberitahunya bahwa Kalan menolak bertemu dan melarangnya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Meskipun begitu, ia tak sakit hati ataupun menyerah. Anggap saja untuk saat ini ia sedang menerima tantangan. Tantangan untuk bisa mengetahui sampai dimana letak kesabaran gadis itu saat menghadapi Kalan. Ia juga ingin tahu sampai dimana dirinya akan bertahan demi perusahaan sang Paman.
Sama halnya seperti sekarang,
Gadis kembali menarik napasnya dalam-dalam saat ia kembali mendengar suara Kalan yang kembali menolaknya bertemu di dalam sana. Akan tetapi, bukan Gadis namanya kalau untuk saat ini ia mengalah begitu saja. Gadis sempat marah saat ia mengetahui tindakan Kalan yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu. Bagaimana bisa ia menarik semua investor dari perusahaan Gadis untuk bergabung bersama perusahaan miliknya.
Keterlaluan!
Apakah Kalan ingin membuat perusahaan Pamannya itu hancur? Gadis akan terima jika Kalan memang membencinya, tapi ia tak akan diam saja jika sampai lelaki itu mengusik perusahaan Pamannya.
Tidak, ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Lalu, bersama dengan perasaan dongkol yang ia rasakan, Gadis menerobos masuk ke dalam ruangannya itu meskipun Sheila sempat melarangnya.
"Maaf Pak, saya sudah melarang Bu Gadis masuk, tapi ...!" Sheila mengangguk saat ia mendapat anggukan dari Kalan.
Bukan hanya Kalan dan Bima saja yang terkejut saat melihat Gadis masuk kedalam ruangannya itu begitu saja. tetapi disana ada Retha, wanita itu sempat terkejut saat melihat Gadis yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah lagi bertemu.
Gadis yang dulu sempat membuatnya kehilangan Kalan.
Jadi Gadis ada disini?
"Nona Gadis ... Anda---?"
"Saya hanya ingin bicara dengan atasan anda." Gadis melirik ke arah Kalan yang sedang menatapnya tajam di ujung sana. Tak jauh di sampingnya ada Retha yang berdiri sambil menatapnya penuh tanda tanya.
"Tapi, Nona ...."
"Apa maksud anda dengan menarik semua investor dari perusahaan saya, Pak Kalan?"
Tanya Gadis dengan nada ketus. Dengan napas memburu ia pun menatap Kalan sama tajamnya. Gadis tak peduli pada Kalan yang menatapnya penuh benci seraya menyeringai. Pun dengan Bima dan Retha yang hanya diam tanpa bersuara sedikitpun.
"Jadi seperti ini sikap seorang pemimpin perusahaan yang sangat dikagumi oleh semua orang itu?" Gadis tersenyum miring. "Jadi hanya dengan cara tak pantas seperti ini yang bisa anda lakukan untuk menghancurkan perusahaan Paman saya hanya karena anda tidak suka pada saya?"
Lihatlah, betapa beraninya gadis itu bersungut-sungut di hadapan lelaki yang sekarang sudah tampak sangat marah itu. Tak ada rasa takut sedikitpun meskipun kini Kalan menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Bukankah anda seorang pemimpin perusahaan yang sangat profesional? tapi kenapa sikap anda menunjukkan bahwa anda hanyalah seorang pengecut ...!"
"Cukup.!" Suara Kalan yang meninggi membuat Bima dan Retha sampai berjengit kaget. Tak terkecuali dengan Gadis. Ia tampak biasa saja.
"Kenapa? bukankah itu kenyataannya, Pak Kalandra?"
Kalan mengepalkan kedua tangannya erat di atas meja, ia menatap Gadis dengan tatapan menyeramkan. "Bima ...!" Kalan sedikit berteriak, ia berdiri, sedikit menyentak hingga kursi putarnya terdorong ke belakang.
"Iya, Pak."
"Bawa Retha keluar." Titahnya yang seketika itu juga Bima turuti.
"Baik, Pak." Bima pun menghampiri Retha. "Mari, Nona."
"Sayang ..."
Kalan menoleh, menatap wanita di sampingnya itu seraya berkata. "Keluarlah."
"Tapi ..."
Tanpa bisa membantah perintah dari Kalan, Retha pun akhirnya mengangguk, ia keluar bersama dengan Bima meskipun sebenarnya Retha ingin tetap berada disana, menemani Kalan. Apalagi sekarang, perasaan wanita itu mendadak menjadi tak tenang setelah ia tahu kalau Kalan bersama dengan Gadis. Dan mereka hanya berdua berada di dalam ruangan itu.
Meskipun sebenarnya Retha mengetahui kalau Gadis sudah menikah. Akan tetapi, tetap saja perasaan takut itu kembali menghampirinya.
Retha takut jika ia kehilangan Kalan kembali. Ia juga takut jika Gadis akan merebut Kalan darinya. Tidak, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dan sebelum itu terjadi, ia harus bisa membuat Kalan menikahinya secepat mungkin.
"Ya, aku harus bisa membuat Kalan menikahiku secepatnya." Gumamnya pelan sembari tersenyum sinis.
******
"Apa mau kamu.?" Kalan mendekat, berdiri tepat di depan Gadis yang sontak mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka berdua. "Kamu ingin tahu alasan kenapa aku menarik semua investor dari perusahaan kamu itu.?"
"Karena kamu membenci aku, kan?"
"Iya, mungkin itu salah satunya."
__ADS_1
"Kenapa kamu bertindak seperti seorang pengecut?" Tanya Gadis yang sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya terhadap Kalan. "Seharusnya kamu gak usah melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaan."
"Oh ... ya?" Kalan berdecih, menatap Gadis dengan jarak yang begitu dekat. Untuk beberapa detik Kalan membeku saat menatap mata bening itu. Tatapan yang tak pernah berubah, tatapan yang dulu selalu menjadi kelemahannya, Tatapan teduh yang tak pernah ia lihat lagi setelah dua tahun lamanya. Dan sekarang, mata bulat itu kembali menatapnya. Dan Kalan ...
****.!
"Karena aku sudah tidak tertarik lagi bekerja sama dengan perusahaan kamu itu."
"Kamu pikir aku bodoh? itu hanya alasan kamu aja kan?"
Kalan kembali menyeringai. "Alasan utama aku adalah ingin melihat kamu hancur." Katanya lagi yang membuat Gadis menatapnya tak percaya. Sebenci itukah Kalan padanya?
"Keterlaluan, kamu memang pengecut.!"
"Terserah, aku gak peduli sama apa yang kamu katakan." Bisiknya serak khas Kalan sekali. "Yang penting ... aku ingin melihat kamu menderita."
Gadis menggeram, mengepalkan kedua tangannya di sisi. "Baik." Sedikit saja Gadis menoleh, maka pipi keduanya akan saling bersentuhan karena jarak mereka yang begitu dekat. Bahkan, Kalan tak merubah posisinya sama sekali. Lelaki itu masih tetap mendekatkan bibirnya pada telinga Gadis. Membuat hembusan napas lelaki itu terasa begitu hangat menerpa permukaan kulit lehernya. "Silahkan lakukan apa yang kamu mau." Ada jeda di sela kalimatnya. "Aku gak takut."
"Sekalipun aku menghancurkan keluarga kamu?"
"Jangan bawa-bawa keluarga aku. Kamu hanya membenciku kan? kamu hanya ingin menyakiti aku kan?" Gadis berujar dengan napas memburu. "Jadi ... jangan pernah sedikit pun kamu mengganggu keluarga aku."
"Termasuk suamimu?"
"Kamu gak usah ganggu dia, karena dia udah ---!" Suaranya tiba-tiba saja tercekat, membuat Kalan menarik sedikit wajahnya menjauh dari Gadis. Lantas ia menatap gadis itu sekarang dengan penuh selidik.
"Udah apa?"
Gadis gelalapan, raut wajahnya pun seketika berubah menjadi sendu. Sejak kedatangannya tadi, Gadis sama sekali tak terlihat seperti ini. Kenapa sejak Kalan membahas tentang suaminya itu Gadis berubah. Dan itulah yang membuat Kalan sedikit penasaran meskipun sebenarnya ia tak ingin lagi mengetahui tentang kehidupan Gadis. Apalagi mengetahui tentang pernikahan atau kehidupan Gadis setelah menikah yang hanya akan membuatnya muak saja.
"Kamu gak perlu tahu, karena itu bukan urusan kamu."
Setelah mengatakan kalimat yang membuat lelaki itu semakin tak mengerti, Gadis pun pergi meninggalkan Kalan yang masih bergeming. Tetapi, sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan Kalan, tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti saat Kalan kembali melontarkan kalimat yang berhasil membuat matanya terasa perih seketika.
"Aku menyesal karena pernah mencintai kamu.!"
...******...
__ADS_1