ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Enambelas


__ADS_3

Tiga hari setelah kepulangannya dari Bandung, Kalan dan Gadis tidak pernah bertemu kembali walau tempat tinggal mereka yang saling berdekatan. Mereka berdua di sibukkan dengan pekerjaannya masing-masing yang semakin hari semakin menumpuk. Selain karena pekerjaan, sepertinya mereka berdua juga memang sedang saling menghindar.


Kalan dan Gadis sama-sama menghindar setelah kejadian yang hampir saja membuat mereka berdua melakukan kesalahan. Meskipun dalam hati keduanya, mereka sama-sama ingin melakukan kesalahan itu.


Sebuah kesalahan yang mungkin akan menyakiti hati banyak orang nantinya.


Beruntungnya, Kalan dan Gadis adalah orang-orang yang sangat sibuk, hingga alasan keduanya untuk saling menghindar pun ada benarnya juga. Kalan harus segera menyeselesaikan pekerjaannya itu dalam waktu yang sangat singkat. Pun dengan Gadis yang memiliki banyak pekerjaan sehingga membuatnya mengharuskan untuk bekerja lembur.


Sama seperti sekarang, di luar langit sudah sangat gelap dan Gadis masih berada di kantornya bersama dengan Risa yang terpaksa juga mengharuskannya untuk bekerja lembur malam ini. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan mereka berdua masih berada di dalam ruangan Gadis untuk membereskan semua pekerjaannya hari ini juga.


Gadis merentangkan kedua tangannya lebar-lebar saat ia baru saja menutup salah satu berkas yang menjadi pekerjaan terakhirnya hari ini. Ia sangat lelah, ia butuh istirahat sekarang. Gadis ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk menghilangkan rasa lelahnya karena seharian ini telah sibuk bekerja.


"Risa ... kamu ikut saya saja, kita kan searah."


"Maaf Bu, bukannya saya menolak. Tapi ..." Gadis itu tersenyum malu-malu. "Saya sudah di jemput sama pacar, Bu."


"Oh ... seneng ya kalo punya pacar, jadi ada yang jemput." Ujar Gadis sembari terkekeh. "Coba saya juga punya pacar, pasti di jemput juga, sama kayak kamu."


"Ah ... Ibu bisa aja." Kemudian mereka berdua keluar dari dalam ruangan menuju lift. Berada di dalam lift, Gadis dan Risa kembali terlibat obrolan yang membuat mereka tertawa bersama. Risa pun tidak segan untuk menceritakan tentang kekasihnya yang sedikit humoris itu kepada Gadis. Pun sebaliknya, Gadis juga tak segan untuk bertukar cerita dan berbagi pengalaman kepada Risa.


"Bu ..." Risa yang berjalan bersebelahan dengan Gadis pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran selama ini. Apalagi menurut kabar yang beredar, Risa sempat mendengar rumor tentang Gadis yang mempunyai hubungan spesial dengan pemilik perusahaan Pratama's Grup itu. "Kalo saya boleh bertanya, sebenarnya ada hubungan apa antara Ibu sama pemilik perusahaan Pratama's Grup itu?"


Gadis menoleh sembari mengernyit dengan dahi yang mengkerut. "Maksud kamu Pak Kalan?"


"Iya." Jawabnya bersama kepala yang mengangguk. "Kalo saya perhatikan, Ibu dan Pak Kalan sepertinya sangat dekat?"


Gadis tersenyum, "Saya dan pak Kalan memang sudah saling mengenal dari dulu." Ujar Gadis yang membuat Risa semakin penasaran. "Tapi kita gak ada hubungan apa-apa. Kita berdua cuma berteman."


"Cuma berteman aja, Bu?" Tanya Risa heboh.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tapi sepertinya Pak Kalan menyukai Ibu Gadis deh."


Seketika langkah kakinya berhenti, lalu gadis itu menoleh menatap Risa yang berada di sampingnya. "Sok tahu kamu."


Risa pun cengengesan. "Kalian berdua serasi kok, Bu."


"Hus ..." Gadis menepuk pelan bahu perempuan itu. "Jangan sembarangan bicara, Kalan itu sudah ada yang punya dan sebentar lagi mereka akan menikah. Jadi kamu jangan buat gosip yang enggak-enggak. Ya?"


"Hehe ..." Ciri khas Risa sekali ketika perempuan itu tersenyum. "Maaf, Bu. Tapi sepertinya Pak Kalan memang menyukai Ibu. Coba aja Bu Gadis perhatikan, bagaimana cara Pak Kalan selalu menatap Ibu?"


"Risa ..." Gadis menggeram gemas. Beberapa hari ini Gadis berusaha untuk menghindar dari Kalan, ia sampai rela menyibukkan dirinya dengan tumpukan pekerjaan yang sangat melelahkan itu. Tapi kenapa hari ini yang menjadi topik pembahasan di antara mereka berdua adalah Kalan. Laki-laki yang kemarin sempat membuat dadanya kembali berdebar tidak beraturan.


"Udah ah, jangan bahas dia lagi." Ya, kerena Gadis tidak ingin membahas tentang laki-laki yang sudah membuatnya tidak bisa tertidur beberapa malam ini.


******


Begitu tiba di parkiran, Gadis langsung masuk ke dalam mobil setelah Risa pergi dengan kekasihnya terlebih dulu. Selama dalam perjalanan pulang, Gadis tanpa henti-hentinya memikirkan Kalan, laki-laki yang tidak pernah ia temui lagi selama beberapa hari terakhir ini.

__ADS_1


Apartemen yang sama dengan unit yang bersebelahan pun tidak membuat mereka berdua bertemu.


Seperti biasa, yang selalu Gadis lakukan setiap kali ia akan masuk ke dalam gedung apartemen itu adalah menyapa dan melempar senyum ramah kepada satpam penjaga yang ada disana.


"Selamat malam Pak Ridwan." Gadis melempar senyum lebar yang selalu membuat satpam itu kegirangan di buatnya.


Selain cantik, baik dan ramah, Gadis juga memiliki sifat yang akan membuat siapa saja jatuh cinta di buatnya. Kekayaan dan jabatan yang dimilikinya, tidak menjadikan gadis itu tumbuh menjadi orang sombong yang tidak menghargai orang lain.


Dan itulah nilai lebih dari seorang Gadis Ayunda.


Di saat Gadis sedang berdiri di depan lift, tiba-tiba saja ia mendengar suara seorang perempuan yang memanggil namanya. Gadis menoleh ke belakang, dan mendapati Retha yang sedang tersenyum lebar di sebelah Kalan dan juga seorang laki-laki lainnya yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


"Retha.?"


"Hai ... Dis." Retha tersenyum. "Kamu baru pulang?" Tanya wanita itu saat ia sudah berdiri di depan Gadis. Retha pun sudah mengetahui kalau ternyata Kalan dan Gadis tinggal di gedung apartemen yang sama.


Kepala gadis itu mengangguk. "Iya." Lalu, matanya melirik ke arah Kalan dan seorang cowok lainnya yang sedang menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.


"Kamu - Gadis?" Tanya cowok itu tanpa mengalihkan pandangannya. "Kamu beneran Gadis kan?" Ulangnya kembali masih tidak percaya.


Gadis pun hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan dari cowok itu.


"Dis, kamu masih ingat sama dia kan?" Pandangan Retha kini tertuju pada laki-laki yang sedari tadi terus menatap Gadis tanpa henti.


Kepala Gadis menggeleng. "Siapa, Tha?"


"Mario?"


Laki-laki yang bernama Mario itu pun tersenyum sambil membusungkan dadanya ke depan. "Hai ... Gadis Ayunda." Mario mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, gue Mario Reginata. Cowok paling ganteng di sekolah kita dulu." Ujarnya dengan bangga.


Gadis yang sempat bingung dengan laki-laki yang sedari tadi terus menatapnya itu, akhirnya tersenyum setelah mengingat siapa laki-laki yang bernama Mario Reginata itu, dia adalah laki-laki tengil yang selalu mengganggunya dulu ketika di sekolah. Bukan hanya mengganggunya saja, tetapi lelaki itu juga sering mencontek kepada Gadis ketika sedang ulangan.


Gadis sempat tidak mengenali karena kini Mario terlihat sedikit berbeda. Tubuhnya yang dulu kurus kini terlihat lebih berisi. Dan lelaki itu, sepertinya Mario berprofesi sebagai seorang dokter. Karena seragam putih khas pegawai medis itu masih melekat pada tubuhnya.


"Ya ... aku ingat sekarang, kamu itu Mario yang sering ngumpetin buku aku kan?" Cibir Gadis yang membuat Mario cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Lo masih ingat aja."


"Jelas lah ..." Gadis kembali mencibir. "Siapa sih yang bakal lupa sama cowok badung kayak kamu."


"Duh ... Gadis, Mentang-mentang udah cantik, jadi berani ya?" Kelakar Mario yang membuat semuanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tidak dengan Kalan, lelaki itu hanya diam dan menatap Gadis dengan tatapan yang tidak biasanya.


Beberapa hari tidak bertemu, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Lain Kalan, lain lagi dengan Mario yang menatap penuh kagum pada sosok gadis cantik yang sekarang berdiri di hadapannya. Mario tidak pernah mengira, jika Gadis yang dulu tidak pernah lepas dari kacamata, buku, dan berpenampilan sederhana itu, kini telah berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan juga anggun.


Parah ... cantik banget sih calon bini orang. !


******

__ADS_1


Berada di dalam apartemen milik Kalan,


Mario yang dipilih sebagai ketua penyelenggara acara reuni akbar itu mengajak Kalan dan juga Retha untuk berpartisipasi dalam acara yang akan di gelar besok malam nanti. Selain reuni, mereka juga akan melakukan penggalangan dana untuk membantu orang-orang yang terkena bencana dari berbagai kota.


"Gimana, Dis. Besok lo dateng kan?" Tanya Rio yang seketika mengalihkan perhatian Kalan dari gadis itu.


"Em ..." Ada jeda di sela kalimatnya sebentar. "Aku usahain akan datang."


"Pokoknya lo harus datang, Dis. Suatu kehormatan buat gue sebagai ketua penyelenggara, kalo lo bersedia untuk datang." Entahlah, dari awal pembahasan mereka tadi, Mario tidak pernah lepas menatapnya. Membuat Gadis menjadi risih dan tentunya tidak nyaman.


Sebelumnya Gadis menolak saat Mario mengajaknya untuk ikut bergabung bersama mereka. Lagi dan lagi, Retha lah yang telah berhasil membuatnya mau tidak mau ikut masuk ke dalam apartemen milik Kalan. Meskipun sebenarnya ia sangat enggan.


Dan ketidaknyamanannya itu tak luput dari perhatian Kalan. Lelaki itu terus memperhatikan Gadis. Memperhatikan bagaimana gadis itu selalu menghindar darinya dan juga Mario. Semenjak kejadian waktu itu yang hampir membuat keduanya lupa diri, Kalan tidak pernah bertemu dengan Gadis kembali. Sepertinya gadis itu kembali menghindarinya.


Sama seperti sekarang, di saat Kalan baru saja keluar dari dalam kamarnya, di saat yang bersamaan juga Gadis keluar dari dalam toilet. Mereka berdua berpapasan sebelum kemudian Kalan menarik tangan Gadis saat gadis itu berbalik badan untuk menghindarinya.


"Kalan?" Gadis itu begitu terkejut. "Ada apa?"


Lelaki itu diam, yang di lakukannya sekarang adalah menatap wajah itu dalam diam. Sebenarnya Kalan sendiri bingung dengan apa yang telah di lakukannya sekarang. Kenapa tangannya begitu saja ingin menarik tangan halus milik gadis itu.


Apa yang aku lakukan?


"Ada apa?" Ulang Gadis kembali. Mata keduanya pun kini saling memandang.


Kalan menutup matanya sesaat sebelum kemudian ia melepaskan tangan Gadis dari genggamannya itu. Kalan sadar, jika perbuatannya kali ini bisa membuat Gadis salah paham. Apalagi di dalam apartemennya itu sekarang tidak hanya ada Gadis, di sana ada Retha dan juga Mario yang kapan saja bisa melihat kebersamaan mereka.


"Maaf ..." Dan sepertinya Kalan memang gemar sekali membuat perasaan seseorang berubah-ubah.


Ya, karena tidak seharusnya Gadis terlalu banyak berharap pada Kalan.


Sekuat apapun Gadis menentang hatinya yang mengatakan tidak merindukan lelaki itu, tapi pada kenyataannya ia sangat merindukan Kalan. Sebesar apapun keyakinan hatinya untuk tidak mencintai Kalan kembali, tapi semua itu sirna ketika perasaan itu datang kembali.


Ya, Gadis tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau sebenarnya, rasa itu masih ada.



Apa aku hanya di takdirkan untuk mencintai kamu?


...*******...


Happy reading ...


Next episode selanjutnya yess ..


Jangan lupa like, komen, dan vote.


Makasih semua ...


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2