
"Mau kemana?"
Gadis tentu terkejut. Ia sampai akan berteriak kalau saja bukan Kalan yang menariknya. Gadis juga sampai lupa kalau sekarang lelaki itu ada di dalam apartemennya.
******
Ya, setengah jam yang lalu setelah Kalan menghubunginya melalui telepon, seseorang yang bernama Ruben itu meminta pada Gadis untuk menjemput Kalan di kelub malam miliknya. Ruben yang saat itu secara tidak sengaja mendengar percakapan Kalan dengan seorang wanita bernama Gadis, lantas segera merampas ponsel itu dari Kalan. Mungkin hanya Gadis lah yang bisa membantunya.
Tetapi Gadis menolak, ia tak ingin datang karena merasa itu bukan urusannya. Dan lagi, Gadis takut jika ia harus datang ke tempat hiburan malam seperti itu sendirian. Bukan hanya itu saja, Gadis pun ingat dengan kata-kata Kalan saat di telepon, berulang kali lelaki itu menyebut kalau ia begitu membencinya. Bahkan Kalan mengatakan ia tak ingin melihatnya lagi. Kalan memintanya untuk segera pergi dan tak menampakkan wajahnya lagi di hadapannya.
Padahal, di luar itu semua ternyata Kalan belum bisa melupakan Gadis sepenuhnya. Bibirnya berkata demikian, tapi tidak dengan hatinya yang justru mengatakan lain.
Disaat Gadis sedang memikirkan kata-kata Kalan yang sedikit mencubit hatinya, di saat itu pula bel apartemennya berbunyi. Gadis itu berdecak, sungguh, Gadis sedang tak berminat untuk menerima tamu siapapun. Ia sedang ingin sendiri. Apalagi dengan keadaan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya malas sekali untuk berbicara dengan siapapun.
"Iya, sebentar." Gadis terburu-buru melangkah saat bunyi bel apartemen itu terus berbunyi secara terus-terusan. Tanpa melihat pada lobang pintu, Gadis membuka benda yang terbuat dari kayu jati itu hingga membuatnya sedikit terhuyung kebelakang akibat dorongan dari seseorang.
"Kamu?" Pekiknya saat ia menyadari siapa sosok itu. "Kalan --- kamu?"
Ternyata, laki-laki itu benar-benar mabuk. Terlihat dari tubuhnya yang sempoyongan serta bau alkohol yang keluar dari mulutnya. Ya ampun ... sejak kapan Kalan suka mabuk-mabukkan seperti ini?
Hal pertama yang ia lihat adalah keadaan Kalan yang teramat sangat berantakan. Bajunya sudah tak serapih seperti biasanya, rambutnya pun sudah sangat acak-acakan, dan lagi, pandangan mata lelaki itu begitu sayu.
"Hai ... istri orang?!" rancaunya seraya terkekeh. Wajah dan telinganya tampak memerah serta mata yang sayu. Sepertinya lelaki ini terlalu banyak minum.
"Kamu mabuk?" Tanya Gadis sembari menutup pintu. Dengan susah payah Gadis membawa tubuh itu untuk masuk ke dalam ruangannya lalu membaringkannya di atas sofa. "Kenapa mabuk-mabukkan seperti ini sih?"
"Hei ... siapa yang mabuk? aku gak lagi mabuk." Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala layaknya anak kecil. Lalu, ia menatap Gadis lamat-lamat. "Kamu siapa? kok cantik.!" Tanya Kalan tanpa henti menatap wajah yang begitu terlihat cantik pada malam ini.
"Hh ..." Gadis mendesah bersama bibirnya yang menggerutu kesal. "Sejak kapan kamu suka mabuk-mabukkan?"
"Sejak wanita itu menikah." Kalan terkikik, "Kan sialan." rancaunya lagi yang membuat Gadis menggeleng.
"Lalu kenapa kamu datang kesini? seharusnya kamu pulang ke apartemen kamu."
"Kamu kok mirip dia ya?" Jadi seperti ini rasanya menghadapi orang yang sedang mabuk? rasanya Gadis kesal sekali. Ah ... rese.
__ADS_1
Apa dulu Gadis juga bersikap konyol seperti ini saat tanpa sengaja meminum wine di acara reuni beberapa tahun yang lalu?
"Dia itu cerewet, gak bisa diem. Galak lagi." Celoteh Kalan di selingi dengan segukan di sela kalimatnya. "Jangan-jangan kamu memang dia kan?" Tanya Kalan sambil beranjak duduk.
"Kamu pikir siapa?" Entahlah, kenapa Gadis begitu kesal menghadapi Kalan yang tengah mabuk seperti ini.
"Ck," Seketika Kalan berdecak, "Jadi benar kamu itu, Gadis --- sialan?"
"Kamu mabuk, aku buatin dulu minuman buat kamu."
"Gak perlu." Tolaknya. "Aku punya minuman sendiri."
Gadis mengernyit saat Kalan mengangkat botol minuman itu ke udara. Ia baru sadar jika sedari tadi Kalan memang membawa botol minuman itu dalam tangannya. Tapi ... dari mana Kalan mendapatkan botol minuman itu?
Gadis hanya diam sambil memperhatikan bagaimana cara Kalan menenggak minuman dari dalam botol itu seperti orang kehausan. Lelaki itu lantas membuang botolnya ke lantai begitu saja. Kalau sedang tidak mabuk seperti ini, tentu Gadis akan mengusirnya sekarang juga.
Tanpa mendengarkan lelaki itu yang terus berceloteh tak jelas, Gadis pun meninggalkan Kalan sendiri. Dan sepertinya Kalan pun tertidur, di lihat dari matanya yang terpejam dengan kepala menyandar pada punggung sofa.
Gadis pergi ke kamarnya mengambil selimut untuk lelaki itu. Untuk malam ini, ia akan membiarkan Kalan tidur di apartemennya. Gadis bisa mengunci kamarnya dari dalam dan membiarkan Kalan tidur di atas sofa.
Tetapi ... saat ia baru saja keluar dari dalam kamar yang berada di lantai dua, Gadis terkejut saat tiba-tiba seseorang menariknya.
******
"Mau kemana?" Ulang lelaki itu dengan suara lirih serta mata yang sayu.
"Mau ngasih ini." Gadis menunjukkan selimut yang ia bawa. "Untuk kamu tidur."
"Gak perlu."
Dahi Gadis mengernyit. "Kenapa?"
"Karena aku gak butuh itu." Kemudian ia tertawa. "Aku cuma butuh----"
"Kamu mabuk, Kalan."
__ADS_1
Dengan jarak sedekat ini tentu membuat Gadis merasa tak nyaman, apalagi di saat ia melihat sorot mata Kalan yang tak seperti biasanya. Ada kilat gairah di balik tatapan sayunya itu. Dan Gadis, ia merasa ada sesuatu yang aneh saat tangan Kalan bergerak lembut dari belakang punggungnya.
Kalan memberi seulas senyum saat melihat Gadis sedikit gelisah. Ia pun mengumpat dalam hati saat melihat Gadis yang terlihat semakin cantik pada malam ini. Kaos putih serta celana pendek yang ia kenakan pun begitu pas melekat pada tubuhnya. Dan Kalan ... Ia kembali mengumpat saat matanya tak sengaja menatap bibir Gadis yang begitu ranum. Ia ingin bibir itu, ingin mencium, menggigit, lalu melesakan lidahnya di dalam sana.
Sial! Kepalanya terasa berat sekali. Apalagi saat aroma tubuh dari gadis itu yang tercium begitu memabukkan. Kalan sangat menyukainya. Dan Kalan rasanya tak tahan. Ia ingin memeluknya, menyerukan wajahnya di perpotongan leher Gadis sambil menyesap kulitnya dalam-dalam.
Kalan benar-benar ingin memiliki Gadis malam ini.
"Sepertinya kamu harus tidur sekarang." Kata Gadis saat ia melihat wajah Kalan yang memucat dengan butiran keringat yang memenuhi dahinya. "Aku izinkan kamu tidur disini malam ini. Tapi di sofa." Ujarnya lagi yang membuat Kalan tersenyum.
Entah apa yang ada di pikiran Gadis kali ini, tanpa sadar ia mengangkat tangannya untuk mengusap peluh pada dahi Kalan. Kulit mereka bersentuhan dan menimbulkan sengatan yang luar biasa hingga naik ke kepala.
Kalan benar-benar bergairah.
Meskipun dalam keadaan mabuk, tapi Kalan ingat kalau sekarang Gadis yang ada di hadapannya ini sudah menikah, Gadis sudah menjadi milik orang lain. Dan tubuh ini, apakah tubuh ini juga sudah di sentuh orang lain?
Berengsek!
"Ka - Lan ..." Gadis tersentak saat Kalan tiba-tiba saja menyerukan wajahnya di atas perpotongan leher.
"Pusing, Dis. Kepala aku benar-benar pusing." Gadis meremang saat hembusan napas Kalan begitu terasa menerpa permukaan kulit lehernya. Laki-laki itu memeluknya sangat erat dengan tangan yang merayap menyentuh punggungnya.
"Kalan ... kamu?"
"Pusing, Dis."
"Aku buatin kamu teh hangat ya?" Gadis mencengkram erat pinggiran baju Kalan saat ia merasakan kulit lehernya menjadi basah. Sepertinya obat perangsang yang di masukkan Desi kedalam botol minuman itu sudah mulai bereaksi.
"Ka-lan, jangan gini.!" Gadis berusaha mendorongnya agar Kalan berhenti mengecupi lehernya.
"Dis ...!"
Entah kenapa perasaan Gadis menjadi tak enak. Tubuhnya pun bergetar tak seperti biasanya. Ia tak tahu apa yang membuat Kalan menjadi seperti ini.
"Dis ..." Ulangnya lagi tanpa melepaskan kecupannya itu.
__ADS_1
"Aku mau kamu."
...*******...