
Gadis terpejam erat saat merasakan benda lunak itu kini telah menempel di atas bibirnya. Memangutnya mesra dengan penuh kelembutan. Kalan menciumnya. Dan Gadis membiarkan lelaki itu untuk menyentuh bibirnya.
Ini aneh, ini gila.
Gadis hanya terdiam dengan tangan mencengkram jas yang di kenakan Kalan. Sementara itu, Kalan terus ******* bibirnya, mengecap bagian atas dan bawah secara bergantian hingga bibir keduanya menjadi basah.
Kecupan lembut serta ringan itu, kini berubah menjadi panas ketika Gadis membalas ciumannya. Bibir mereka saling bertaut dengan lidah saling membelit dan bermain di dalam rongga mulutnya.
Kalan ******* bibir manis itu dengan penuh gairah yang menggebu. Seolah ia akan kehilangan Gadis untuk yang kedua kalinya, maka Kalan tidak akan melepaskan Gadis begitu saja. Entah apa yang membuat lelaki itu mencium Gadis sampai sedalam ini. Padahal, di saat ia sedang bercumbu bersama Retha pun, Kalan tidak pernah merasa dirinya ada pada titik terendah seperti ini.
"Eugh ..." Lenguhan itu tanpa sadar keluar dari bibir Gadis. Membuat lelaki itu semakin menggila di buatnya. Kini, ciuman itu pun tak lagi berpusat pada bibir dan wajahnya, tetapi secara perlahan Kalan mulai menurunkan ciumannya itu pada perpotongan leher Gadis, meninggalkan beberapa jejak kemerahan disana. Kalan menurunkan tali gaun gadis itu hingga sebatas lengan dan membuat bahunya menjadi sedikit terbuka, lalu menciumi, menghirup aroma memabukkan dari tubuhnya, bahkan menggigit kecil di sekitar area bahunya yang terbuka.
"Dis ..." Lirih Kalan dengan suara terendahnya di sela-sela kegiatannya yang sedang mencumbu gadis itu. Kalan tahu ini gila, ia pun tahu ini tidak benar, dan jika memang di teruskan akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat besar. Akan tetapi meski di dalam benaknya berusaha matian-matian untuk mengelak, tapi tidak dengan tubuhnya yang justru menginginkan lebih dari sekedar saling mencumbu.
"Aku tidak bisa berhenti sampai disini." Lalu, ia kembali maraup bibir gadis itu yang sedikit membengkak karena tak henti ia *****. Rasa manis bibir itu benar-benar membuatnya kecanduan. Dalam satu tarikan yang sangat mendebarkan, Kalan membawa tubuh Gadis dalam gendongannya untuk ia bawa masuk ke dalam kamar.
Begitu berada di dalam kamar, Gadis merasakan jika kini tubuhnya sudah terbaring di atas sprei lembut milik pemuda itu. Jantungnya berdebar tidak beraturan saat Kalan mulai menunduk dan ******* lagi bibir itu dengan sangat rakus. Gadis pun tak tinggal diam, ia membalas ciuman Kalan itu sama gilanya.
Untuk sesaat mereka menghentikan ciuman itu hanya untuk saling memandang dengan napas memburu. Ada sorot gairah yang terpancar dari mata keduanya. Kalan menginginkan Gadis lebih dari ini, pun dengan Gadis yang siap jika lelaki itu akan menyentuhnya lebih dalam lagi.
Seharusnya mereka berhenti sampai disitu, harusnya mereka tidak lagi melanjutkan sesuatu yang akan membuat keduanya berada di dalam kehancuran. Tapi keadaan yang membuat mereka semakin menggila. Untuk kali ini Kalan tidak bisa lagi menahan untuk tidak memiliki Gadis sepenuhnya. Meskipun perasaannya masih terasa abu-abu untuk Gadis, tapi rasa ingin memiliki dan menjadikan gadis itu miliknya sangat besar.
Ya, Kalan ingin Gadis menjadi miliknya malam ini.
Seolah tidak perduli dengan apa yang akan terjadi pada esok hari, maka yang di lakukan oleh Kalan sekarang adalah kembali ******* bibir Gadis dengan penuh nafsu. Membelai tanpa henti, lalu disesapan menggairahkan itu, Kalan melesakan lidahnya ke dalam rongga mulut gadis itu.
"Kalan ..." Gadis mendesah di dalam cumbu. Memeluknya erat hingga detak jantung yang terdengar menggila.
"Eugh ..."
Gadis kembali melenguh saat ia merasakan telapak tangan besar dan hangat itu sedang membelai kulit pahanya dengan manja. Ini aneh, tapi diam-diam Gadis menyukai apa yang sedang di lakukan Kalan pada tubuhnya.
Beranjak dari tubuh Gadis dengan kedua lutut sebagai penyanggah, Kalan menanggalkan jas serta kemeja yang masih melekat pada tubuhnya itu lalu membuangnya asal.
Jantung Gadis berdebar tak menentu saat ia melihat dada bidang milik lelaki itu yang terpahat begitu sempurna. Ia pun kembali terpejam saat Kalan menunduk dan ******* bibirnya dengan lembut. Lidah lelaki itu pun seolah-olah menari di dalam rongga mulutnya, menghasilkan decapan kenikmatan yang sangat menyesatkan.
Sungguh, Gadis dan Kalan telah kehilangan akal sehatnya sekarang.
__ADS_1
Seharusnya Gadis bisa menjaga diri, seharusnya ia bisa menjaga kehormatannya sendiri, dan seharusnya ia juga bisa menjaga perasaan orang yang benar-benar baik dan mencintainya dengan tulus selama ini.
"Dis ... aku mencintaimu."
"Jaga diri kamu baik-baik disana, aku akan selalu setia menunggumu disini." Ucapan itu tiba-tiba saja terngiang dalam benaknya, membuat Gadis tersentak.
"Dasar cewek murahan."
"Lo itu gak punya harga diri."
"Kalan gak cinta sama lo."
Seperti mendengar suara petir menggelegar di tengah teriknya matahari, gadis itu sontak membuka mata. Kalimat demi kalimat itu berhasil menghantam benaknya, membuat sekujur tubuhnya gemetar seketika.
Apa yang aku lakukan?
"Kalan ..." Segera tersadar saat tangan Kalan mulai menyentuh area sensitifnya yang masih berpenghalang, Gadis menggeleng. "Nggak, kita gak bisa seperti ini." Ujarnya yang menimbulkan raut terkejut di wajah lelaki itu.
"Ini salah. Ini gak bener."
Kalan terdiam, ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa sampai sejauh ini. "Maaf ...!" Lantas Kalan segera beranjak dari atas tubuh Gadis, lalu duduk di tepi ranjangnya sambil mengusap wajahnya gusar. Kepalanya berdenyut nyeri merasakan perubahan suasana mendadak dalam dirinya. Di tambah lagi dengan Gadis yang menolaknya.
"Maafkan aku, Dis." Ulangnya kembali.
Gadis yang masih merasakan pening pada kepalanya akibat minuman itu, lantas mengangguk samar. Ia pun membenarkan kembali pakaiannya yang sedikit terlihat berantakan karena ulah tangan lelaki itu.
"Maaf aku tidak bermaksud ___"
"Sudahlah." Sela gadis itu cepat. "Bukan kamu juga yang salah." Seru Gadis kemudian. Pipinya pun memanas karena rasa malu.
Ck, karena disini mereka berdua sama-sama salah.
Gadis hampir lupa diri, ia hampir saja memberikan kehormatannya itu pada lelaki yang jelas-jelas tidak mencintainya.
Ya, karena itu yang Gadis tahu.
"Aku mau kembali ke apartemen ku." Ujar Gadis sambil beranjak dari kasur itu.
__ADS_1
"Biar aku antar."
"Gak perlu, aku bisa sendiri." Tolak Gadis saat ia sudah berdiri di hadapan Kalan.
"Tapi kamu mabuk."
Gadis membuang pandangannya saat Kalan menatapnya seperti itu. Apalagi melihat dada bidang Kalan yang masih terbuka itu, membuatnya takut tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Bayang-bayang saat mereka bercumbu tadi pun sekilas terlintas dalam kepalanya. Kalau saja ia tidak segera tersadar, mungkin saat ini mereka berdua tengah bergumul penuh peluh di atas ranjang itu.
"Aku mau tidur di kamar ku."
Setelah berujar demikian, Gadis pun beranjak keluar meninggalkan Kalan yang masih tertegun dari tempatnya berdiri saat ini.
Kalan menutup matanya rapat-rapat sembari mengguyar rambutnya gusar.
"Sial.!"
Ia mendesah frustrasi seraya mengusap wajahnya gusar, "Apa yang tadi gue lakukan?" Sekilas wajah Retha muncul dalam benaknya. Dan rasa bersalah pun datang menghampiri bersamaan dengan datangnya perasaan aneh itu untuk Gadis.
Perasaan ingin memiliki gadis itu sepenuhnya.
Apa jangan-jangan Kalan telah membuka hatinya untuk Gadis?
Karena jujur, sampai detik ini pun ia tidak ingin kehilangan Gadis untuk yang kedua kalinya.
...*******...
Sampai disini dulu ceritanya ya?
Nanti aku lanjut lagi di episode berikutnya ..
Mohon maaf jika Up nya telat, pas bagian ini udah beberapa kali tidak lulus review. Makanya aku perbaiki lagi dari awal. Padahal gak terlalu fulgar kok .. hihi.
Jadi banyak yg aku hapus deh ...
Jangan lupa like, komen dan votenya juga.
__ADS_1
Makasih ... ❤❤❤