ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Tigapuluhdua


__ADS_3

Ternyata,


Rencana Kalan untuk membuat Gadis cemburu tidak sesuai yang ia harapkan. Padahal Kalan sudah benar-benar memerankan perannya bersama Jesica dengan baik. Tapi tetap saja tidak membuat Gadis cemburu sedikitpun. Melihat sikap Gadis yang terlihat tenang dan tidak perduli sama sekali membuat Kalan semakin kesal dibuatnya.


Ck, susah sekali.!


Belum hilang rasa pening pada kepalanya, tiba-tiba saja Kalan harus kembali memijit pelipisnya saat pintu di depannya itu terbuka dengan lebar.


"Maaf, Pak ___" Belum sempat Bima meminta izin, tiba-tiba orang di belakangnya itu sudah menerobos masuk melewatinya begitu saja.


"Hallo sayang ...!" Seru wanita cantik dan seksi itu dengan suara yang di buat-buat manja. Kalan mendengus sembari memutar kedua bola matanya malas saat melihat Jesica sudah ada di depannya.


"Ck, ngapain kesini sih.?" Tanya Kalan dengan ketus.


Wanita berambut kecoklatan itu tertawa kecil, "Ey ... ganteng-ganteng kok judes?" Cibir Jesica sambil duduk di hadapan laki-laki itu sekarang. Pun dengan Bima, pemuda itu ikut duduk di sebelahnya Jesica.


Kalan segera menutup berkas-berkas itu saat keduanya kini tengah menatapnya, "Ada apa kamu kesini?" Kembali ia bertanya dengan nada ketus.


Jesica mencebik, Kalan itu benar-benar manusia yang tidak tahu terima kasih ya? Sudah beruntung Jesica mau menolongnya.


"Kamu gak lupa kan sama acara makan siang hari ini.?" Jesica mengingatkan Kalan tentang rencananya hari ini, mereka berdua akan pergi makan siang bersama dengan seseorang. "Sama Gadis loh ..." Ujarnya lagi yang membuat Kalan menatapnya bingung.


"Gadis?"


"Hem ..." Jawab Jesica dengan anggukkan di kepala. "Aku udah minta ketemuan sama dia, dan dia mau." Jesica melirik ke arah Bima, dan laki-laki itu pun hanya tersenyum tipis.


"Entahlah ..." Kalan merasa jika rencananya kali ini pun akan kembali gagal. Ternyata ingin memiliki Gadis sepenuhnya itu tidak semudah yang ia pikirkan. Mungkin ini karma untuknya, belum apa-apa Kalan sudah hampir mau menyerah.


Bagaimana dengan Gadis dulu yang selalu berjuang untuk mendapatkan perhatian dari Kalan?


Memori di kepalanya seperti sedang berputar pada beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu Gadis tidak pernah lelah dan menyerah meskipun Kalan selalu menolaknya. Seharusnya ia pun sama seperti Gadis. Ya, Kalan akan terus berjuang meski Gadis menolaknya, ia tidak akan menyerah sampai Gadis benar-benar menjadi miliknya.


Karena Kalan yakin, jika perasaan Gadis masih sama seperti dulu. Kalan pun meyakini, jika gadis itu masih mencintainya sampai sekarang. Hanya saja keadaannya yang tidak memungkinkan untuk saat ini. Mengingat dengan datangnya berbagai masalah dan kejadian-kejadian yang menghampiri Gadis akhir-akhir ini, serta status dari Gadis sendiri yang masih menjadi kekasih dari pria lain.


Mengingat akan itu, Kalan menutup matanya rapat-rapat.


"Apa kamu mau menyerah?" Tanya Jesica yang membuat Kalan segera membuka matanya kembali. "Ayolah Kalan, ini belum seberapa. Dan sepertinya Gadis memang sengaja sedang nantangin kamu." Ujarnya lagi seraya tersenyum miring.


"Benar apa yang di katakan Nona Jesica, Pak."


"Maksud kamu apa?" Kalan menatap Bima tidak suka.


Bima berdehem pelan sembari melonggarkan tali dasinya sedikit. "Kemarin malam itu baru permulaan, dan sekarang waktunya Pak Kalan kembali menunjukkan, Pak Kalan harus bisa membuat Nona Gadis sampai cemburu."


"Saya tidak yakin." Ketusnya sambil membuang muka.


"Gimana mau dapetin Gadis coba, kalo kamunya sendiri tidak yakin." Cicit Jesica yang membuat Kalan kembali menatapnya.


Begitulah Jesica, wanita yang terlihat anggun tapi sebenarnya cerewet itu adalah saudara sepupu Kalan yang tinggal di Surabaya. Setelah mendapat perintah dari Kalan, ia langsung terbang menuju Jakarta hari itu juga. Sebenarnya Jesica sudah menolak, dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja, tapi Kalan, lelaki keras kepala itu terus memaksa dan mengancam akan membuat perusahaannya gulung tikar jika sampai Jesica berani menolak permintaannya.


Menyebalkan.!

__ADS_1


Sesy, nama panggilan dari Jesica Anastasya itu sebenarnya sudah mengenal Gadis sejak dulu. Mereka bertiga pernah bermain bersama sebelum kemudian Jesica beserta keluarganya harus pindah ke Surabaya karena urusan pekerjaan. Sesy kecil yang dulu bertubuh gembil, sekarang berubah menjadi Jesica yang sangat cantik dan juga seksi. Mungkin karena perubahan Jesica yang berubah cukup drastis, membuat Gadis sampai tidak bisa mengenali dirinya.


Jesica sendiri sempat menertawakan Kalan, saat lelaki itu memintanya untuk berpura-pura menjadi teman dekatnya demi untuk membuat seseorang cemburu. Jesica mengira jika wanita yang di maksud Kalan itu adalah Retha, tapi saat mendengar lebih jauh lagi dari Bima, Jesica sempat tidak percaya kalau Kalan mencintai teman masa kecilnya itu.


Jesica sangat mengenal Kalan dengan baik, ia tahu seperti apa Kalan dulu memperlakukan Gadis. Bocah laki-laki yang sedari kecil sudah sangat dingin itu selalu membuat Gadis menangis. Dan sekarang, laki-laki yang sama sekali tidak berubah di mata Jesica itu mencintai Gadis.


Astaga ...


Seandainya Kalan tidak galak dan mengancam, Jesica ingin sekali bertepuk tangan dan mengucapkan selamat datang Karma pada Kalan. Tapi ia tidak berani. Jesica selalu kalah dan kehilangan kata-kata setiap kali berhadapan dengan Kalan. Apalagi sekarang, Jesica mulai menciut saat Kalan kembali menatapnya tajam.


"Ya udah buruan.!" Bukan sebuah ajakan, melainkan seperti sebuah perintah. Ck, seperti itulah Kalan dimata Jesica.


Ya, begitulah Kalan. Rasanya Jesica gemas sekali, seandainya Kalan bukan saudara sepupunya, seandainya Kalan tidak mempunyai pengaruh besar pada perusahaannya, ia ingin sekali menelan pemuda itu hidup-hidup saat ini juga.


******


Bukan Kalan, bukan pula dengan Gadis yang sedari tadi tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Entah apa yang mengganggu pikiran Gadis sekarang sehingga ia lebih banyak melamun.


Apalagi di saat Jesica, wanita yang saat ini tengah dekat dengan Kalan itu memintanya untuk makan siang bersama hari ini.


Duh ... seandainya Gadis tidak berjanji pada malam itu, mungkin ia akan beralasan untuk menolak ajakannya. Rasanya Gadis sangat malas jika harus berhadapan kembali dengan Jesica dan juga Kalan.


Bukan tanpa sebab, malam itu saja Gadis Matian-matian menahan rasa sesak di dada melihat kemesraan yang terjadi antara Kalan dan Jesica di hadapannya sendiri. Meskipun pada malam itu ia terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya yang mengatakan lain.


Cemburu.


Sekeras apapun ia menyangkal, tapi rasa cemburu itu memang Gadis rasakan. Dan rasanya akan sangat sulit untuk Gadis menyembunyikan rasa cemburunya itu.


Ya Tuhan ...


Gadis itu menelungkupkan wajah di atas meja kerjanya sebelum kemudian benda pipih itu kembali menyala. Dengan malas ia mengangkat telepon dari Jesica, wanita itu memberitahukan bahwa sebentar lagi Jesica dan Kalan akan segera sampai di sebuah kafe yang sudah mereka tentukan.


Dengan tergesa-gesa Gadis pun segera keluar dari ruang kerjanya. Ia tidak ingin terlambat, ia juga tidak ingin membuat keduanya menunggu. Ingatkan apa yang paling tidak di sukai oleh Gadis?


Menunggu.


Ya, Gadis paling tidak suka dengan yang namanya menunggu.


"Bu ...!" Risa yang baru saja akan masuk kedalam ruangan, tiba-tiba berhenti saat melihat Gadis keluar.


"Bu Gadis mau kemana?" Tanya Risa penasaran.


"Maaf Risa, saya buru-buru, saya mau keluar." Jelas Gadis, ia pergi begitu saja melewati Risa yang masih berdiri disana sembari menatapnya bingung.


"Tumben ..." Gumamnya pelan saat Gadis sudah tidak terlihat lagi.


******


Hampir lima belas menit Gadis menunggu kedatangan keduanya sambil terus menatap jam yang melingkar indah pada pergelangan tangannya itu. Ia mendesah beberapa kali saat Kalan dan juga Jesica belum juga menampakkan batang hidungnya sedikitpun.


Lima belas menit rasanya sudah seperti berjam-jam bagi Gadis.

__ADS_1


Disaat ia akan kembali menghubungi Jesica, disaat itu pula pintu kafe di depannya itu terbuka lebar, lalu menampilkan keduanya yang baru saja masuk ke dalam kafe sambil bergandengan tangan. Gadis kembali menyimpan ponselnya ke atas meja dengan perasaan yang tak menentu.


Lagi, belum apa-apa Gadis sudah kembali memanas. Dadanya terasa sesak saat melihat Kalan dan Jesica bersama.


"Hai ... maaf sudah menunggu lama." Ujar Jesica tanpa tahu kalau gadis itu hampir mati mendadak karena terlalu lama menunggu. "Pasti kamu udah lama disini ya, Dis.?"


"Gak papa," Gadis itu tersenyum, meskipun sebenarnya ia sangat kesal. " Aku juga baru sampe kok."


Ujarnya lagi yang membuat Kalan sedikit menaikkan sudut bibirnya ke atas. Ia tahu kalau Gadis-nya itu sedang kesal.


"Sayang, kamu mau makan apa?" Tanya Jesica dengan manja saat keduanya sudah duduk berhadapan dengan Gadis.


"Samain aja sama kamu." begitu lembut Kalan menjawab. Membuat iri saja.


Gadis hanya menunduk, ia tidak ingin melihat apa yang membuat matanya perih. Begitu makanan yang mereka bertiga pesan tiba di mejanya, Gadis sudah tak berselera. Tapi, sedikit demi sedikit ia memasukkan makanan itu ke dalam mulut meskipun rasanya terasa hambar.


Melihat sikap Gadis yang lebih banyak diam tak seperti biasanya, membuat Kalan dan Jesica saling melempar tatapan seraya melempar senyum. Apalagi disaat keduanya melihat Gadis yang memakan makanan itu tanpa minat, membuat Kalan tersenyum penuh kemenangan.


Sepertinya ia telah berhasil membuat Gadis cemburu.


Tidak ingin membuang kesempatan untuk membuat gadis itu semakin terbakar api cemburu, dengan sengaja Kalan merangkul pinggang Jesica saat mereka berdua baru saja menyelesaikan makan siangnya dan hendak kembali ke dalam mobil.


Kalan sengaja melakukan hal itu karena Gadis masih memperhatikan mereka berdua di dalam kafe itu. Kalan dan Jesica berpamitan terlebih dulu karena ada kepentingan yang lain. Sementara Gadis, ia lebih memilih untuk menyendiri dulu di dalam kafe itu sembari mencari udara segar.


Dua puluh menit telah berlalu, dan Gadis harus segera kembali lagi ke kantornya karena Risa terus menghubunginya tanpa henti. Gadis terpaksa harus menyebrang jalanan karena mobilnya ia parkiran berseberangan dengan kafe tersebut.


Entah apa yang membuat Gadis itu seperti tidak bersemangat dan melamun, sampai ia tidak menyadari ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan.


Seakan rohnya hilang dari dalam raga, ia tak memperhatikan sekeliling. Gadis baru sadar saat mendengar teriakan seseorang, seketika wajahnya menoleh ke arah dimana motor itu melaju ke arahnya dengan kencang. Lantas Gadis menutup matanya rapat-rapat, ia takut, dan ia tahu kalau motor itu akan menghantamnya, membuatnya terluka dan lebih parahnya lagi, ia bisa saja kehilangan nyawanya kalau saja seseorang tidak segera menarik tubuhnya ke tepi jalan.


"Kamu apa-apaan sih?" Bentak laki-laki itu dengan napas terengah-engah. Sumpah demi apapun ia akan menyesal seumur hidup kalau sampai terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada gadis itu.


"Kamu mau mati, hah?" Bentaknya lagi yang membuat Gadis semakin mengeratkan pelukannya itu.


Gadis masih memejamkan matanya sambil menangis, ia tahu siapa laki-laki yang saat ini dipeluknya.


"Sumpah, Dis ... kamu buat aku takut seperti ini."


Lalu, tanpa lelaki itu duga Gadis mengatakan sesuatu yang membuat ketakutannya hilang secara perlahan.


"Jangan tinggalin aku, jangan buat aku seperti ini." Tanpa melepaskan pelukannya itu Gadis berujar di sela-sela isak tangisnya yang semakin kencang.


"Aku cinta sama kamu, aku sayang kamu, Kalan.!"


...******...


Bersambung ...


Lanjut part berikutnya ya?


Jangan lupa, Like, komen, dan vote.

__ADS_1


Makasih semua ...❤❤


__ADS_2