
Nyatanya,
Keputusan Kalan untuk tidak lagi melanjutkan hubungannya bersama Retha telah membawa pengaruh besar terhadap namanya sebagai seorang pengusaha serta terhadap keluarga besarnya. Kai dan Yasika hampir kewalahan karena setiap hari rumahnya selalu dipadati oleh para pemburu gosip yang ingin meminta keterangan mengenai batalnya rencana pertunangan antara Kalan, yang mereka kenal sebagai seorang pengusaha muda yang sangat terkenal, dan juga Aretha Kanza, sang penyanyi wanita papan atas yang namanya sudah sangat tidak asing lagi di telinga.
Bukan hanya para awak media saja, bahkan isu tentang berakhirnya hubungan mereka berdua pun sudah terdengar oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pun dengan nama keduanya yang kini telah menjadi bahan perbincangan di setiap saluran televisi dan juga berita-berita online. Tidak hanya itu, isu tentang adanya orang ketiga pun telah ramai jadi bahan perbincangan saat ini.
"Pengusaha Kalandra Aksa Pratama memutuskan hubungannya bersama seorang penyanyi terkenal bernama Aretha Kanza karena adanya orang ketiga."
"Benarkah ada orang ketiga yang menyebabkan batalnya pertunangan Kalandra bersama Aretha?"
"Aretha Kanza, mencoba untuk mengakhiri hidupnya setelah ia diputuskan sebelah pihak oleh kekasihnya."
"Batalnya pertunangan Kalandra bersama Aretha karena teman masa kecilnya."
Astaga ... jadi seperti itu artikelnya?
Retha yang baru saja keluar dari rumah sakit pun harus mendapatkan pengawalan ketat agar terhindar dari para wartawan yang seharian ini sudah menunggunya di pelataran rumah sakit.
Retha memilih bungkam dan hanya melempar senyum lebar ketika melewati para wartawan saat hendak masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu hanya meminta maaf serta mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal dalam hatinya, ia menjerit sakit.
Entah darimana dan dari siapa berita itu datangnya hingga secepat itu pula beritanya sudah menyebar luas. Padahal semuanya masih tertutup rapat. Tidak ada yang mengetahui kecuali dengan Mamanya sendiri, sang manajer dan tentunya keluarga dari Kalan.
Saat berada di dalam mobil Retha kembali terdiam. Ia lebih memilih untuk memandangi jalanan lewat jendela mobilnya daripada harus menjawab semua pertanyaan dari Mamanya dan juga Celine, adik sepupu yang bekerja sebagai manajernya saat ini.
Sesekali Retha mengusap air mata yang tanpa terasa keluar dari mata bulatnya itu. Ia kembali menangis saat tahu kalau ternyata hubungannya bersama Kalan yang sudah bertahun-tahun lamanya itu harus berakhir seperti ini. Retha mengira jika Kalan adalah laki-laki terakhir untuknya. Lelaki itu akan selalu menjaga dan menjadi teman hidupnya. Akan tetapi semua itu hanya tinggal kenangan, dan impiannya untuk menikah pun hancur seketika ketika cinta itu sudah tidak ada lagi untuknya.
Retha ingin marah, ia ingin memaki dan ingin melampiaskan semua kekesalannya itu sekarang juga. Hati siapa yang tidak akan hancur ketika pernikahan yang sudah di depan mata harus berantakan hanya karena lelaki itu mencintai wanita lain.
Mencintai wanita yang menjadi teman masa kecilnya.
"Maafkan aku ...!" Kalan menunduk, tidak sanggup untuk melihat betapa terlukanya Retha sekarang.
Kemana perginya Kalan yang selalu mencintainya selama ini? Kemana Kalan yang dulu tidak ingin melihat Retha-nya menangis?
Tapi kini lelaki itu benar-benar telah berubah, Kalan hanya diam saat melihat Retha menangis. Apa yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi juga. Retha takut jika suatu saat nanti Kalan akan mencintai Gadis, dan itu terjadi sekarang.
Dulu,
Satu hari setelah Gadis menghilang tanpa kabar, ada banyak perubahan yang terjadi pada Kalan. Lelaki itu menjadi lebih pendiam dan tertutup, bahkan terhadap Retha sekalipun. Semenjak kepergian Gadis ke Paris, Kalan tidak seperti biasanya. Kalan lebih suka menyendiri dan menyembunyikan penyesalannya hanya ketika ada Retha di sampingnya.
Dan Retha pun tahu akan itu.
Retha mengetahui kalau sebenarnya Kalan sangat kehilangan Gadis. Meskipun dulu hubungan mereka berdua seperti kucing dan tikus yang tidak pernah bisa akur, tapi ia tahu kalau ternyata secara diam-diam Kalan selalu peduli terhadap Gadis. Apapun yang dilakukan oleh Gadis, Kalan selalu menyukainya. Kalan selalu tersenyum setiap kali melihat tingkah laku Gadis yang menurutnya sangat polos dan konyol.
Bukan hanya itu saja, Retha pun pernah memergoki Kalan sedang menangis sambil melihat selembar kertas yang ia yakini kalau itu adalah poto Gadis. Bahkan Kalan sangat menyukai wangi parfum pemberian Gadis sebagai hadiah ulang tahunnya dulu ketimbang dengan parfum yang Retha berikan untuknya.
Lalu, rasa takut kehilangan Kalan pun sudah ia rasakan dari dulu. Retha takut suatu saat nanti Kalan akan meninggalkannya, ia takut Kalan tidak mencintainya lagi, ia juga takut kalau Kalan akan berpaling dan mencintai Gadis.
Ya, Gadis. Satu-satunya perempuan yang Retha takuti.
Dan benar saja, akhirnya ketakutannya itu terjadi juga. Ternyata, Kalan telah benar-benar jatuh cinta pada Gadis. Ia telah kehilangan Kalan, dan impiannya untuk menikah pun hanya tinggal mimpinya saja.
Sekeras apapun Retha ingin mempertahankan hubungannya, tapi Kalan tetap menolak dengan alasan sudah tidak ada cinta lagi untuknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi hatinya adalah ketika ia mendengar secara langsung dari bibir Kalan kalau lelaki itu telah jatuh cinta pada Gadis.
"Maafkan aku, Tha. Aku mohon maafkan aku."
"Aku mencintai Gadis."
__ADS_1
"Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita."
"Dan aku tidak ingin kehilangan Gadis untuk yang kedua kalinya."
Retha kembali mengusap air matanya yang tanpa terasa keluar begitu saja. Rentetan kalimat demi kalimat itu terus berdengung di telinganya yang seketika membuat hatinya kembali terasa sakit. Dan hal itu pun tak luput dari perhatian Mama serta Celine yang mengetahui kalau Retha sedang menangis di balik kacamata hitam yang menutupi mata bulatnya itu.
Mereka hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba untuk menenangkannya. Pun dengan yang di lakukan oleh Mamanya sekarang, melihat putrinya terpuruk seperti itu tentu membuat sebagian hatinya ikut terluka.
Desi berjanji, ia akan mengembalikan keadaan ini seperti semula. Ia akan membuat Kalan kembali pada putrinya serta melanjutkan rencana pernikahan mereka.
"Mama berjanji sayang, Mama akan membawa Kalan kembali sama kamu."
Retha menoleh sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, Ma. Jangan lakukan apapun, aku mohon."
"Tapi kenapa? Mama gak bisa liat kamu di sakiti seperti ini. Mama gak terima." Ujar wanita setengah baya itu bersungut-sungut.
"Ini semua sudah menjadi takdir buat aku, Ma. Mungkin Kalan memang bukan jodohku."
"Kalan akan tetap bersama kamu kalau saja perempuan itu tidak ada."
Retha menunduk pilu, apa yang dikatakan oleh sang Mama ada benarnya juga. Kalau saja Gadis tidak kembali, mungkin Kalan tidak akan meninggalkannya seperti ini. Mungkin hubungan mereka berdua akan tetap baik-baik saja sampai menikah nanti. Dan semua itu hancur seketika saat Gadis kembali.
Gadis lah orang pertama yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini.
Dan Retha sangat membenci Gadis.
"Aku benci kamu, Dis.!"
******
Berbeda dengan Retha,
Apa yang membuat Kalan berubah menjadi jinak seperti itu?
"Pak ..."
"Hem ..."
"Pak Kalan sudah dengar berita hari ini kan?"
"Berita apa.?" Tanya Kalan tanpa menoleh sedikitpun melihatnya.
"Apa semua berita-berita ini benar?"
Kalan menyimpan pulpennya di atas tumpukan dokumen sembari mendengkus kesal, pertanyaan di jawab dengan pertanyaan adalah sesuatu yang sangat di bencinya. Dan Bima lah yang sering melakukan kesalahan itu. Tidak bisakah Bima menjawabnya terlebih dulu?
Menyebalkan.
"Maaf ..." Bima segera menunduk, ia sadar telah melakukan kesalahan.
"Memangnya ada berita apa?"
"Ini ..." Bima pun menyerahkan ponselnya kehadapan Kalan. "Bapak baca saja sendiri artikelnya."
Kalan mengambil ponsel itu dari tangan Bima, ia pun menatap Bima sekilas sebelum kemudian matanya tertuju menatap layar ponselnya itu.
Ck, artikel macam apa ini?
Tidak ingin ambil pusing, Kalan pun memberikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.
__ADS_1
"Apa saya perlu melakukan sesuatu, Pak?"
"Tidak." Jawab Kalan sembari menyandarkan kepalanya pada punggung kursi kebesarannya itu. "Biarkan saja."
"Apa semua berita itu benar?" Tanya Bima menatap bos'nya itu takut-takut. Ia takut jika telah salah bertanya.
Kalan menghela napas pelan sembari beranjak dari tempat duduknya saat ini, ia pun berdiri di depan jendela sambil melihat betapa cerahnya langit siang ini di luar sana. Kalan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana sebelum kemudian berujar.
"Berita itu semuanya benar. Kecuali dengan artikel percobaan bunuh diri itu. Ck," Kalan berdecak malas. "Jadi kamu gak perlu melakukan apa-apa."
"Baik, Pak. Tapi ... apa yang diberitakan mengenai adanya orang ketiga itu, maksudnya adalah Nona Gadis?"
Seketika Kalan memutar badannya untuk berhadapan dengan Bima sekarang, ia pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa berita ini tidak akan berdampak buruk pada karir Nona Gadis?"
Kalan hanya memberi seulas senyum sebelum kemudian ia mendekati Bima. "Dan aku pastikan, Gadis akan baik-baik saja."
Bima pun mengangguk seraya tersenyum tipis. Bima percaya dengan kemampuan Kalan yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan darinya.
Kalan menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Bima. Tidak ada yang Kalan sembunyikan termasuk dengan perasaannya sendiri kepada Gadis. Kalan mengakui secara terang-terangan kalau ia telah mencintai Gadis sejak dari lama.
"Saya yakin, kalo Nona Gadis pun menyukai, Pak Kalan."
"Ck, sok tahu kamu."
"Sekarang tugas Pak Kalan tinggal satu."
Kalan menatap Bima dengan dahi mengernyit. "Apa?"
"Buat Nona Gadis di putusin sama pacarnya."
Kalan tersenyum tipis, tapi senyuman itu tidak berlangsung lama saat pintu di depannya itu tiba-tiba saja terbuka lebar. Kalan menoleh, pun dengan Bima yang langsung menoleh melihatnya. Mereka berdua terkejut saat melihat seorang gadis cantik tengah berjalan ke arahnya dengan tampang menakutkan.
Sepertinya akan terjadi perang dunia ketiga di ruangan ini.
"Kalan ... kamu tuh bener-bener keterlaluan ya?" Meskipun terlihat galak, tapi kecantikan gadis itu tidak berkurang sedikitpun. "Gara-gara kamu, aku jadi di kejar-kejar sama wartawan." Bukannya takut, Kalan justru melipat bibirnya ke dalam menahan tawa.
Ternyata selain lucu, Gadis juga terlihat sangat menggemaskan ketika sedang marah seperti itu.
Ya, Gadis lah orang yang telah menerobos masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Dan Kalan sangat senang, saat melihat gadis yang begitu ia rindukan seharian ini ada di hadapannya sekarang. Dan Gadis lah yang datang menemuinya secara langsung.
Ck, ternyata kita sehati.
...*******...
Hai ... balik lagi aku bawa ceritanya Kalan & Gadis.
Semoga suka ..
Setelah baca, janga lupa untuk tinggalkan jejak nya ya?
Kasih like, komen, vote dan simpan sebagai favorit ..
Makasih semua,
Ketemu lagi di part berikutnya yess ...
__ADS_1
❤❤❤