ETERNAL LOVE

ETERNAL LOVE
Empatpuluhenam


__ADS_3

Ternyata,


Pengaruh obat perangsang itu benar-benar membuat Kalan hilang kendali. Ia tak menghiraukan Gadis yang meronta, menjerit atau memukul ketika Kalan menyeretnya ke dalam kamar lalu melemparnya ke atas ranjang.


"Kalan, lepasshh ..." Gadis memukul dada lelaki itu saat Kalan menciumnya dengan sangat rakus dan kasar. Tak ada kelembutan sama sekali. Yang ada di pikirkannya saat ini hanyalah ingin menuntaskan rasa panas yang menjalar di tubuh serta kepalanya. Menuntaskan hasratnya yang telah mengusai seluruh kesadarannya. Ia tak mungkin berhenti, karena pengaruh obat perangsang itu benar-benar telah menyiksanya.


"Kalan, lepasin aku.!" Jerit Gadis saat ciuman lelaki itu beralih pada lehernya. Menghisap, menjilat dan sesekali menggigit hingga menyisahkan warna kemerahan disana.


Kalan tak peduli pada teriakan gadis itu, ia malah melucuti seluruh pakaiannya hingga membuatnya bertelanjang. Pun dengan Gadis, Kalan sudah berhasil merobek seluruh kain yang menutupi tubuhnya.


Gadis meronta, menahan Kalan agar lelaki itu berhenti. Tapi kekuatan yang dimiliki Gadis tak sebanding dengan kekuatan Kalan. Gadis pun tak bisa berbuat apa-apa saat kedua tangannya di tahan ke atas oleh Kalan. Ia pun hanya bisa pasrah, ia tak memiliki kekuatan lagi saat Kalan membuka pahanya lebar-lebar lalu menyatukan tubuh mereka dengan sekali hentakkan.


Gadis menangis, menjerit, meronta, tangannya pun tak diam, ia mencengkram apapun yang ada saat milik lelaki itu berhasil merobek selaput mahkotanya yang seketika membuat Kalan mengangkat wajahnya untuk menatap gadis yang ada di bawahnya itu dengan penuh tanya.


Kenapa rasanya sulit sekali? Kalan pun menatap ke bawah, Darah?


Kenapa berdarah? bukannya ia sudah menikah?


Tapi ...?


Meskipun ia sedikit terkejut, tapi Kalan tak peduli. Hawa nafsu itu telah menguasai kesadarannya. Selain karena hasratnya yang harus tertuntaskan karena obat yang diberikan Desi, ia juga menginginkan Gadis.


"Kalan ... hentikan." Ada rasa tak tega saat melihat Gadis menangis, tapi nasi sudah menjadi bubur, Kalan sudah memasuki Gadis dan ia tak akan berhenti sampai disini.


"Sakit ..." Lirihnya terisak sambil mencakar punggung polos lelaki itu.


Lagi, kalimat itu berhasil membuat Kalan sedikit tersadar dengan apa yang di lakukannya sekarang.


Bagaimana ia bisa berbuat jahat seperti ini?


Bagaimana ia bisa menyakiti gadis yang begitu di cintainya?


Tapi, Lagi dan lagi, ingatan Gadis yang telah menghancurkan dan mengkhianatinya membuat Kalan kembali lupa diri. Persetan dengan isakan Gadis yang terdengar pilu, yang ia inginkan sekarang hanyalah bisa mencapai puncak kenikmatannya dengan segera.

__ADS_1


"Ka - lan ... cukup!" Perlahan, gerakan Kalan di atas tubuhnya memelan diiringi dengan kecupan pada bahu telanjangnya. Gadis mencengkram punggung lelaki itu dengan sangat keras saat ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam tubuhnya.


Kalan pun ambruk, memeluk tubuh gadis itu sangat erat seraya berbisik. "Maafkan aku."


Dan pada malam itu, untuk yang pertama kalinya pula Gadis telah kehilangan mahkotanya. Meskipun statusnya sudah menikah, tapi saat itu Bian tak pernah menyentuhnya sama sekali.


******


Pagi itu,


Kalan yang tengah tertidur pulas seketika menggeliat pelan saat sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah gorden kamarnya, membuat laki-laki itu mau tak mau membuka mata sepenuhnya. Lalu beranjak duduk dan menyandarkan kepalanya pada punggung ranjang. Kepalanya pun masih berdenyut pusing sampai sekarang. Sudah pukul sembilan pagi, dan Kalan tak menyangka jika ia akan tertidur selama itu.


Membenarkan posisi duduknya, ia menatap sekeliling ruangan yang tampak berbeda itu. Seketika Kalan terhenyak saat ia menyadari kalau ini bukanlah kamarnya. Lalu, kamar siapa ini? kenapa ia bisa tertidur disini?


Dadanya semakin berdebar, pun dengan kepalanya yang semakin berdenyut nyeri ketika mendapati tubuhnya yang tak tertutup sehelai benangpun. Kalan benar-benar dalam keadaan polos selain sebuah selimut yang menutupi tubuhnya itu.


"Dimana aku?" Sial! Kenapa ia tidak bisa ingat sama sekali. Yang Kalan ingat hanyalah waktu bertemu dengan para temannya di kelub malam milik Ruben. Setelahnya, Kalan pun tak ingat apa-apa lagi.


Disaat kepalanya sedang di penuhi oleh beberapa pertanyaan dari dirinya sendiri, disaat itu pula matanya tak sengaja menatap pada sprei putih yang terdapat beberapa bercak merah di atasnya.


****!!


Kalan turun dari ranjang itu sebelum kemudian memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Satu hal yang membuatnya merasa takut sekarang, ia takut apa yang ada di dalam kepalanya adalah sebuah kenyataan yang nyata. Perlahan, ingatan tentang kejadian malam tadi sedikit demi sedikit mulai ia ingat.


Tak ingin menerka-nerka, lantas Kalan keluar dari dalam kamar itu untuk menuju ke ruang bawah. Dan saat itulah, saat kakinya menapaki anak tangga yang terakhir, tubuhnya menegang seketika. Dadanya berdebar tak beraturan dan tanpa terasa keringat dingin pun mulai keluar memenuhi dahinya. Kalan membeku, menatap punggung seorang gadis yang tengah membelakanngi saat ini. Ia tahu siapa pemilik punggung itu, Kalan pun tahu dimana semalam ia tertidur.


Dengan langkah pelan dan dada yang berdebar, ia mendekati gadis itu yang sedang membuat minuman di dapur. Lalu ...


"Dis ..." Saat memanggilnya, suara lelaki itu terdengar sangat berat. Ia yakin jika perempuan yang ada di hadapannya sekarang itu adalah Gadis.


Sama halnya seperti Kalan, saat mendengar suara laki-laki yang telah menodainya semalam membuat tubuh Gadis pun menegang seketika. Apa yang harus Gadis lalukan? ia benci, marah, bahkan rasanya sangat muak saat ini. Gadis tak ingin melihat wajah lelaki yang telah menghancurkannya itu. Meskipun ia tahu, apa yang di lakukan Kalan semalam itu di luar batas kendali serta kesadarannya.


"Dis ..." Ulangnya lagi. Kalan mendekat, dan saat itulah Gadis menjerit.

__ADS_1


"Jangan mendekat." Meskipun tak menoleh ke belakang, Gadis tahu kalau lelaki itu berusaha untuk mendekatinya. "Kamu sudah bangun kan? sekarang kamu boleh pergi dari sini."


"Tapi---"


"Aku bilang pergi." Jeritnya putus asa.


Bisa Kalan lihat tubuh Gadis yang bergetar, ia pun bisa mendengar suara isak tangisnya. Apa yang telah ia lakukan pada Gadis? apa semalam ia dan Gadis ...?


Tidak, itu tidak mungkin. Tapi kilasan bercak seperti darah serta kenyataan tadi saat bangun ia tak mengenakan apapun membuatnya semakin yakin, kalau semalam ia telah melakukan sebuah kesalahan besar pada Gadis. Memikirkan itu tentu membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri.


Kalan menutup matanya rapat-rapat, jika memang ia telah melakukan hal itu pada Gadis, berarti ia adalah laki-laki paling berengsek yang ada di muka bumi ini.


Ia merutuki dirinya sendiri serta mengumpat dalam hati.


Melihat tubuh Gadis yang masih bergetar, Kalan pun mendekat dan memutar tubuh gadis itu hingga kini ia bisa melihatnya.


"Jangan sentuh aku." Bentaknya kemudian seraya menepis tangan Kalan dengan Kasar. "Pergi kamu dari sini, sekarang." Melihat matanya yang sembab, membuat Kalan semakin yakin ada sesuatu yang terjadi tadi malam. Dan rasa bersalah itu datang kembali.


"Dis ... aku ..." Kilasan kejadian tadi malam sedikit demi sedikit tiba-tiba terlintas. Bayangan Gadis yang meronta, menangis, serta menjerit kesakitan. Berengsek!!


"Keluar, kamu.!"


"Aku ingin bicara, aku gak akan keluar sebelum aku tahu apa yang telah terjadi. Kenapa aku bisa ada disini?"


Gadis pun menangis semakin keras membuat kepala Kalan berdenyut nyeri berkali-kali lipat. Dan melihat itu membuat Kalan semakin yakin kalau semalam ia telah membuat Gadis-nya terluka.


"Kamu jahat." Setelahnya, Gadis pun hanya diam dan tak meronta saat Kalan menarik tubuhnya. Lelaki itu memeluknya dengan sangat erat, dan membiarkan Gadis untuk menangis sepuasnya di dalam pelukannya.


"Aku benci kamu."


Kalan tahu kalau sekarang ia adalah laki-laki paling berengsek dan jahat.


"Maaf ... Maafin aku."

__ADS_1


...******...


__ADS_2