
Saat ini mereka sudah sampai di lokasi dan tengah bertemu dengan Om Haikal & tante Sinta sang istri. Acara akad nikah baru saja berakhir 2 jam lalu, Haikal meminta mereka untuk menginap di Bandung.
Saat ini Haikal dan Luna sedang duduk di kursi depan rumah, mengobrol berdua karna sudah lama sudah tidak mengobrol bersama.
"Kakakmu kapan pulang Na?" tanya Haikal pada Luna
"Sempet bilang sama Nana sih bebe rapa bulan lagi Om" jawab Luna
"Padahal sempet bilang sama Om kalau mau pulang minggu minggu ini, katanya mau usahain ada di akadnya Om tapi dia gak bisa ternyata" tambah Haikal
"Om sih mau nikah, ngasi tahunya mepet banget" celetuk Luna sementara Haikal tertawa mendengar celetukan keponakan tercintanya
"Om setelah ini gimana, masih mau di Bandung?" tanya Luna kembali
"Untuk sementara waktu mungkin akan di Bandung dulu, Om kan masih ada proyek sama papa kamu" jelas Haikal sambil meminum kopinya
"Emang rencananya Om mau pindah ke mana?" tanya Luna penasaran
"Yogyakarta orang tuanya tante Sinta gak bisa ditinggal sendiri, Kasian kan udah sepuh" jelas Haikal sambil tersenyum kearah Luna
"Yah, jauh banget Om" protes Luna pada Omnya
Haikal sudah menebak hal itu akan di katakan oleh Luna, karna mereka sudah sangat dekat sejak Luna masih bayi dulu.
"Trus yang nemenin Nana kalau liburan di Bandung siapa dong?" tanya Luna sambil menekuk bibirnya
"Apa Nana mau ikut Om aja ke Yogya?" tanya Haikal sambil terkekeh pelan
"Ya enggak lah Om" jawab Luna sambil tertawa pelan
Haikal adalah kakak dari Aldi, hal itu lah yang membuat mereka menjadi sangat akrap hingga saat ini. Jika liburan tiba Luna lebih suka menghabiskan waktu di Bandung bersama degan Haikal.
"Nanaaa" teriak seseorang dari dalam rumah mendengar itu Luna menghela nafas berat
"Wey, mulut bisa dikontrol ga" kesal Luna pada lelaki yang selalu membuat nya kesal itu, siapa lagi jika bukan Dito
"Eh iya maap maap" kata Dito cengengesan
"Kenapa Dit?" tanya Haikal yang tak kalah terkejutnya sambil memainkan ponselnya
"Eh ada om Haikal" tanya Dito
"Ngapain lu, teriak teriak gitu di kira lapangan apa?" tambah Luna yg masih merasa kesal
"Jangan ngambek dong Na, mending sekarang lo ikut gue" katanya sambil menarik Luna
"Gak usah tarik tarik Dit" jawab Luna dengan mengikuti langkah Dito
Haikal yang melihat adegan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena ulah Dito pada Luna.
"Mereka selalu aja berantem setiap kali ketemu, heran gue" Kekeh Haikal kemudian
"Kebangetan lo Dit, anak orang main di tarik tarik aje" protes Cila setelah melihat Dito dan Luna datang
__ADS_1
Saat ini mereka ada di taman belakang rumah Haikal, Gavin baru saja di telfon Imam kalau ada sedikit masalah di Jakarta.
"Kenapa?" tanya Luna penasaran
"Jadi gini, tadi gue di telfon sama Imam. Katanya ada yang nyari lo sama gue tadi" jelas Gavin pada Luna
"Nyari gue? Ngapain? Siapa?" Luna memberondongi Gavin dengan beberapa pertanyaan sekaligus
"Nanya itu satu satu, gak keroyokan gitu Na" tegur Dito
"Iya maap maap, gak usah sensi gitu napa" kekeh Luna
"Tahu lo, yang ditanya aja biasa" kata Cila menanggapi
"Ini tentang sekolah kita, jadi yang nyari kita tadi itu salah satu temennya Doni dan tadi dia cerita sama Imam kalau beberapa hari ini dia digangguin sama mereka dan waktu Imam tanya sejak kapan? Dia jawab sejak mereka habis main jailangkung di gudang sekolah waktu itu" jelas Gavin panjang lebar pada teman temannya
"Trus nyariin kalian berdua mau ngapain?" tanya Cila
"Ya minta di bantuin lah, dan untuk saat ini Imam sama Reno ada di base camp kita" jawab Gavin
"Tapi bukannya besok kita masih di liburin ya sama pihak sekolah?" tanya Dito
"Iya" jelas Gavin kembali
"Trus gimana dong?" tanya Cila
"Karna kita hari ini nginep di sini, gimana kalau besok malem kita ke sekolah semoga aja kita bisa tuntasin semuanya" jelas Luna pada Gavin
"Yang lainnya tetep di Basecamp termasuk kamu sama Mel" kata Gavin sambil melihat kearah Cila
"Gak boleh ikut nih"
"Gak!" Jawab Gavin, Luna, dan Dito kompak
"Iye iye, gak usah ngegas gitu gengs" kekeh Cila
____
Saat ini Luna dan Cila berada di kamar untuk beristirahat didalam kamar.
"So, sebenernya lo sama Dito itu gimana sih Na?" tanya Cila penasaran
"Gue sama Dito?" Cila mengangguk
"sahabat" jawab Luna singkat padat dan jelas
"Yakin?" tanya Cila selidik
"Ya iyalah gue yakin, emang kenapa?" tanya Luna penasaran
"Ya, gue tuh bingung aja sama kalian berdua setiap kali ketemu berantem aja kerjaannya, tapi kalo gak ada salah satu pasti nyariin" jelas Cila sementara Luna hanya tersenyum
"Apa jangan jangan lu suka sama dia Na?" tebak Cila kemudian
__ADS_1
"Enggak" jawab Luna dengan nada yang sedikit ada keraguan di sana
"Kok ragu?" tanya Cila menoleh ke arah Luna
Luna tak menjawab pertanyaan Cila, sebenarnya dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Soal apa yang sela ma ini dia rasakan pada Dito, apa kah Cinta? Sayang? Atau hanya seke dar nyaman?
"Na..." Cila memegang tangan Luna dan menyadarkan dari lamunan
"Hmm?" Luna menoleh kearah Cila
"Coba lo cerita sama gue, apa yang lo rasain?" tanya Cila lembut
"Gue sebenernya juga bingung sama diri gue sendiri, apa yang sebenernya gue rasain selama ini cinta? Sayang? atau apa?" jelas Luna lirih
"Jadi?" tanya Cila menggantung
"Selama gue deket sejauh ini sama dia gue ngerasa nyaman aja sama dia" jawab Luna sambil menatap langit langit kamar
"Cuma sebatas nyaman?" Luna mengang guk sebagai jawaban
"Jadi kalo lo tanya gue sama dia itu gimana? Gue bisa jawabnya Sahabat" kata Luna yakin
"Gak mau lebih?"
"Tergantung"
"Tergantung apa?"
"Hati gue siap apa gak buka hati lagi"
"Sedalem itu ya selama ini yang lo rasain?"
"Bukan sedalam itu, tapi sesakit itu. Coba lo bayangin aja lo percaya sama orang tapi ke percayaan lo di hancurin gitu aja, gimana rasa nya?" tanya Luna
"Ya sakit lah Na" katanya kesal
"Makanya? Gue cuman gamau gue rasain hal sama buat kedua kalinya aja Cil, terlalu sakit buat gue"
"Gue tahu ini berat buat lo Na, tapi gue yakin lo pasti bisa lewatin semua ini" tanpa menjawab Luna hanya tersenyum tipis
Banyak hal yang sudah Luna lewati selama ini, di masa masa terpuruk nya hanya mereka yang selalu menja di penyemangatnya. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang tak pernah memandang kasta satu sama lain
"Sekarang yang harus lo lakuin cuma satu, lupain semuanya yang pernah lo rasain dari masa lalu lo sesakit apa pun. Lo harus Move On Na, gue percaya sama lo. Perlahan lo harus mulai buka hati buat orang baru" kata Cila menyemangati
"Insya Allah" kata Luna sambil tersenyum
Tanpa mereka berdua sadari diam diam seseorang mendengarkan pembicaraan mereka dengan senyum yang mengembang.
"Gue janji akan bantu lo untuk buat ngelupain masa lalu lo gimanapun caranya"
Tadinya ia ingin mengetuk pintu dan membicarakan sesuatu dengan Luna, tapi saat mendengar obrolan Cila dan Luna ia mengurungkan niatnya.
"Setidaknya masih ada harapan buat gue masuk ke hatinya, gue gak akan nyerah atas pengorbanan gue selama ini" Ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat
__ADS_1