
🌷🌷🌷
"Kak, Aira takut kalo papa tahu" Ucap sang adik sambil menangis sesenggukan dipelukan Arka
Arka dan Aira adalah sepasang saudara kembar yang tinggal disebuah rumah yang cukup mewah
"Aira tenang dulu ya, Aira jangan Nangis gitu?" Arka sekuat tenaga mencoba menenangkan sang adik
Kedua orang tuanya memang tak pernah pulang ke rumah, mereka bekerja di luar negeri sudah dua tahun terakhir
"Coba bilang sama kakak, siapa yang berani ngelakuin itu ke kamu?" Tanya Arka tegas
Hal itulah yang membuat Aira dan Arka tak ada yang mengurus bahkan dirumah mereka hanya ditanami satu asisten rumah tangga saja.
"Alkandra" Jawab Aira sambil sesenggukan
Saat ini Aira sedang berada di dalam kamar Arka dan memberikan sebuah alat tes kehamilan pada sang kakak, Aira hamil anak dari Alkandra sang pacar.
"Al pacar kamu itu?" Tanya Arka penuh emosi di jawab anggukan oleh sang adik
"Dia udah tahu soal kehamilan kamu?" Tanya Arka yang masih diliputi rasa amarah itu
"U-u-udah, tapi dia gak mau tanggung jawab kak" Jawab Aira dengan penuh ke beranian
"Cowok brengsek Berani beraninya dia" Kesal Arka sambil nerogoh saku celananya mencari benda pipih miliknya itu
"Cari Al sampe ketemu, jangan pernah ketemu gue kalau kalian belum ketemu sama dia" Katanya melalui sambungan telfon
Aira sudah ditipkan orang tuanya kepada sang kakak yaitu Arka, kini adik yang sangat dia sayangi itu harus menderita karna ulahnya
"Maafin Aira kak, semua ini salah Aira yang gak pernah dengerin kata kata kakak. Coba aja waktu itu Aira percaya sama kakak mungkin Aira gak akan bikin susah kakak" Kata Aira sambil menunduk melihat ke arah lantai
"Aira kok ngomong gitu sih, aira gak salah. Kak Arka yang harusnya minta maaf sama kamu belum bisa menjadi kakak yang baik buat kamu, belum bisa jagaiin kamu" Ucap Arka dengan memegang kedua pundak Aira
🌷🌷🌷
Saat ini Gavin sudah kembali pada kesadarannya lagi dengan nafas yang memburu seperti habis lari maraton jarak yang sangat jauh
"Minum Dulu" Cila memberikan segelas minum pada Gavin dan langsung diterima
"Are you oke Vin?" Tanya Luna khawa tir
"I'm oke, kalian tenang aja" Jawab Gavin memastikan
"Lama banget soalnya Vin, gimana kita gak khawatir coba" Kata Imam yang masih berdiri di belakang Gavin untuk menopang tubuhnya agar tak jatuh ke lantai
"Liat apa?" Tanya Luna penasaran
Gavin menceritakan semua apa yang dia lihat melalui kemampuannya saat memegang Diary itu pada kelima sahabatnya tersebut.
"Siapa tadi nama Cowoknya Aira?" Tanya Melodi
__ADS_1
"Alkandra, tahu sesuatu?" Tanya Gavin
"Gue kaya Familiar sama nama itu, tapi siapa?" Jawabnya sambil berpikir
"Alkandra" Gumam Luna pelan
tak lama setelah itu Luna saling bertukar pandang dengan Dito, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama
"ANDRA" Kata Luna dan Dito bersamaan hingga membuat keempat sahabatnya menoleh kearah mereka berdua
"Andra?" Tanya Gavin memperjelas
"Kayaknya bener deh yang, coba cek IG nya Andra" Ucap Cila sambil mengotak atik ponselnya. Ucapan Cila membuat yang lainnya mengikuti membuka Instagram Andra
"IG nya Andra" Gumam Melodi
"Tadi kamu bilang Familiar sama nama cowoknya Andra bukan maksudnya?" Tanya Imam
"Kayaknya iya deh, bukannya Andri pernah bilang gitu ya?" Ucap Melodi melihat kearah Luna
"Emang Andra" Ucap Imam "Trus buku nya siapa?" Tambah Imam
"Aira" Jawab Luna "ada beberapa cerita yang gue baca sekilas nyambung sama cerita Gavin" Tambah Luna
"Vin cuma itu aja?" Tanya Luna men cari tahu
"Iya cuma itu, gue curiga masih ada lanjutannya" Ucap Gavin menerawang jauh dengan pikirannya entah apa
"Jadi ini masuk ke mana?" Tanya Dito lirih
Dia bisa melihat kekhawatiran dalam tatapan Luna itu, rasa yang tidak pernah mau dia ungkapkan pada sahabatnya yang lain.
"Gak usah khawatir berlebihan dulu, belum jelas arahnya kemana?" Lirih Dito
Ia menarik tangan Luna yang berada di bawah meja menggenggam ponselnya sedang tangan satunya masih setia dengan cemilannya.
"Iya juga sih, tapi gue masih pena saran btw" Gumam Luna
Sedangkan Gavin masih membaca buku diary yang dia pegang dari tadi mungkin sama penasarannya dengan Luna
"Apa Andra yang bunuh Aira" Gumam Luna Asal
"Ya nggak mungkin lah Na, masa iya dia berani bunuh pacarnya sendiri?" Jawab Cila
"Bisa aja, bukannya Gavin bilang tadi Al gak mau tanggung jawab?" Tambah Dito menang gapi
Tangannya masih menggenggam tangan Luna lalu menaruhnya di paha dan satu tangannya memainkan ponsel Luna
"Gue malah curiga sama Arka" Celetuk Gavin
"Arka?" Kata mereka kompak
__ADS_1
"Kakak kembarnya sendiri?" Tanya Luna diangguki oleh Gavin
"Gue bisa ngerasain ada yg beda aja sama Arka" Kata Gavin mencoba berce rita kembali
"Tapi kenapa?" Tanya Imam bingung
"Nah itu, makanya jadi kaya gantung buat gue" Jawab Gavin
"Kenapa jadi ke kriminal sih arahnya" Protes Luna
"Bukannya kalian selalu dapet yang sejenis terus ya belakangan ini" Gumam Melodi
"Makanya Mel, gue jadi heran kenapa tingkat kriminalitas di Indonesia bisa seserem ini" Tambah Luna
Setelah hampir dua jam di kantin karna guru yang baru saja membunyi kan bel & saat ini mereka sudah ber ada di kelas.
"Pantesan aja guru gurunya pada rapat" Ucap Luna sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi
"Na" Ucap Imam tiba tiba
"Hmm?" Jawab Luna menggantung karna sedang membaca sebuah artikel
"Disuruh kerumah nya kak Bara"
"Ngapain?" Tanya Luna bingung
"Cuma lo yang bisa netralin batu itu" Jawab Imam sambil membalikkan kursinya
"Untuk sementara suruh Kak Bara rendem batunya di air garam, sampe gue sampe sana" Jawab Luna menjelaskan diangguki Imam
Di Rumah Bara....
"Diemin aja kak selama semalem, paling besok berkurang. Tadi Nana udah tanya sama Papa, kalo energinya udah gak sekuat kemarin pindahin aja isinya ke media lain terserah kakak" Jelas Luna
"Jadi Nana gak bisa Mindahin?" Tanya Nino
"Gak bisa, energinya bentrok sama energi Nana" Jawab Luna menjelaskan
"Jangan juga dia" Melirik ke arah Dito yang dengan santainya tidur "malah molor nih anak" Gumam Luna
"Bukannya harusnya bisa ya kan sama kaya Bara?" Tanya Nino kembali
"Bisa sih, tapi efeknya yang aku gak yakin akan gimana nantinya"
"Maksudnya?"
"Energi kak Bara sama Dito emang sama, tapi energi Dito beberapa persen justru bisa memperkuat energi dibatu ini" Jelas Luna pada mereka berdua
"Tapi bisa aja kan energi kakak sama?" Tanya Bara
"Bisa, tapi perlu proses dan impact nya bakal ngerubah energi yang kakak punya"
__ADS_1
"Itu kenapa butuh air garem" Luna mengangguk sebagai jawaban
"Kalo udah energinya netral jadi gak terlalu butuh efforts lebih" Bara menyetujui