
Pagi ini udara begitu dingin serasa menusuk tulang, selain itu cuaca juga mendung diluar sana, tidak seperti hari biasanya.
"Masih pagi udah mendung aja" Kata Luna bergumam sambil melepas kacamata hitam yang ia gunakan dan berjalan ke arah koridor sekolah
Waktu menunjukkan pukul 06.15 menit hari dimana Luna akan datang kesekolah lebih pagi karna akan melakukan piket di pagi hari.
"Pagi guys" Ucap Luna saat melihat di dalam kelas sudah ada Ayla, sella dan Bella
"Pagi Nana" Jawab mereka bertiga kompak
"Gimana kalau gue sama Nana yag nyapu sama nata mejanya dan Ayla sama Ella yang ngepel lantai" Kata Bella menginterupsi
"Oke" Kata mereka bertiga kompak
"Kalo gitu gue sama Ella ambil air sama kain pel dulu ya" Kata Ayla
"Yo'i" Jawab Luna dan Bella kompak
"Eh kain pel di mana?" Tanya Sella
"Di gudang sebelah kantor" Jawab Luna yang sudah mulai aktivitas menyapu lantainya
"Thanks Na" Kata Sella tersenyum
Saat Luna dan Bella sedang membersihkan kelas, tiba tiba Bella seperti melihat ada bayangan yang lewat di depan jendela.
"Eh apaan tuh barusan" Kata Bella melihat kearah jendela
"Apaan sih Bel, orang gak ada apa apa juga" Jawab Luna santai
Luna tahu jika Bella seorang yang penakut, jika dia menjawab apa yang dia lihat benar ada bayangan yang lewat
"Pada liatin apa sih?" Tanya seseorang yang berhasil membuat mereka berdua terkejut
"Allahuakbar" Gumam Bella
"Ngagetin lu dit" Kesal Luna. Sementara Dito hanya tertawa melihat tingkah Mereka berdua terutama Luna yang terlihat sangat kesal karena ulahnya.
"Tuh kan Bel, gak ada apa apa. Paling juga yang lo liat barusan nih anak curut lewat" Kata Luna menjelaskan
"enak aja anak curut" protes Dito
"Iya kali ya, apa gue Yang salah liat" Katanya
"Lu mau gue sapu apa gimana? Masih di sini?" Kata Luna yang masih kesal
"Dulu, gue mau naroh tas Na Elah" Gerutu Dito
"Buruan! Kelamaan gak keluar gue timpuk sapu lo" Gerutu Luna
"Iye ini gue keluar, gue tunggu di kantin" Teriak Dito
"Demi apa lo ngeselin banget" kesal Luna. Sementara Bella hanya tertawa melihat tingkah Luna dan Dito yg sudah seperti Tom & Jerry tersebut
"Kok ya punya temen model dia Na" Kekeh Bella
"Tahu, nemu di mana gue dulu" Kata Luna sambil tertawa pelan
Tak lama Ayla dan Sella masuk mem bawa kain pel dan air dalam ember
"Udah selesai guys nyapunya?" Tanya Sella
"Udah" Kata Bella dan Luna bersamaan namun mereka melihat Luna yang terlihat emosi
"Kenapa Na?" Tanya Sella
"Cape gue" Keluh Luna sambil mengelap pelipisnya yang berkeringat
"Mood nya rontok gara gara Dito barusan" tambah Bella sambil terkekeh
__ADS_1
"Hohoho..." celetuk Ayla
"Mendingan kalian duduk di bangku luar deh istirahat, biar kita ngepel bentar" Ucapan Sella diangguki oleh Bella dan Luna
[Masih lama Na?]
[Bentar lagi Vin, kenapa emang?]
[Ada yang gue mau bicaraain sama lo, ini soal Aira]
"Siapa?" Tanya Bella penasaran
"Gavin minta gue ke kantin ada yang mau di omongin katanya"
"Oh yaudah kalo lo mau kesana sekalian aja, gue mau ke toilet"
"Yuk" Kata Luna menyetujui
Setelah meminta ijin pada Ayla dan Sella mereka berdua menuju kantin
"Mau kemana Bel?" Tanya Melodi
"Ke toilet bentar" Jawab Bella melihat ke arah Melodi
"Ikut" Kata Melodi dan Cila bersamaan. Sementara Luna langsung duduk di kursi
"Kenapa Vin?" Tanya Luna penasaran
"Gue itu semalem Chatan sama kak Bara ngebahas soal halaman gudang belakang ini, kak Bara ngerasa kaya ada energi yang masih nyangkut di sana" Jelas Gavin panjang lebar
"Nyambung tuh kayaknya sama yang lo bilang ke gue semalem" Kata Dito menanggapi
"Apa?" Tanya Imam
Luna mencerita kan soal Aira pada mereka, namun tidak menceritakan soal masalalu yang dimaksud Aira
"Gila 6 jam loh Na semalem, gue kira tidur lo" Kata Dito tak percaya
"Iya dan untuk tahu apa kejahatan yang Al lakuin gue harus nemuin kalungnya Arka" Jawab Luna
"Apa Cuma Nana yang nyari?" Tanya Dito
"Ya enggak lah Dit, kita juga cuma kalungnya diamanahin Aira buat Nana supaya dipergunakan dengan baik" Jawab Gavin
"Nah itu yang mau gue tanya ke lu Vin, yang di maksud Aira itu kemampuan yang mana ya?" Tanya Luna pada Gavin
"Yang di maksud Aira itu, Lo kan punya daya tarik gitu buat Aira, ada satu kemampuan yang sampai sekarang gak pernah lo gunain perlahan akan keasah di bantu sama kalung punya Arka" Jelas Gavin panjang lebar
"Cukup! gak usah di perjelas soal itu" Gavin mengangguk sebagai jawaban "itu kemampuan rahasia" Kekeh Luna
"Itu berarti ada kemungkinan gak sih menurut kalian kalau Arka juga udah meninggal" Kata Imam tiba tiba. Hal itu membuat Gavin, Luna dan Dito saling bertukar pandang
"Mungkin sih" Kata Gavin kemudian
"Itu berarti energi yang nyangkut kata Kak Bara sama lo semalem itu kalungnya Arka dong kalau dia udah meninggal?" Kata Luna yang dari tadi mencoba untuk merangkai semua kejadian
"Bener juga Vin" Kata Dito sependapat
"Itu berarti yang tahu lokasi kalung nya Arka kak Bara, Right?" Kata Imam menambahkan
"iyaps" jawab Luna yakin
"Gue coba kasih tahu kak Bara aja gimana?" Kata Gavin meminta saranĀ
"Ajak ketemuan aja Vin di basecamp baru kita ceritain semuanya ke kak Bara" Jawab Luna dan diangguki oleh Gavin
"Guys ke kelas yuk, bentar lagi masuk Nih" Kata Luna saat menyadari Melodi dan Cila sudah kembali dari toilet
"Bentar bawa cemilan sekalian, gue masih laper nih" Kata Dito
__ADS_1
"Lah yang ngabisin sarapan gue tadi siapa ya, kenapa masih laper lu" Ledek Luna melirik Dito
"Makan mulu lo Dit" Ledek Cila
"Nah kamu apa bedanya coba" Kata Gavin melihat Cila yang dari tadi ngemil itu
"Iya juga" Hal itu justru membuat sahabatnya yang lain tertawa karna ulah Cila
Di dalam kelas....
Bersamaan dengan mereka sampai di kelas, hujan turun dengan sangat deras
"Untung aja udah ada didalem kelas" Gumam Luna pelan sambil melihat ke arah jendela
"Dingin ya" Kata Gavin tersenyum
"Gue pikir entar siangan panas, jadi gue bawa jaket yang tipis" Jawab Luna
Suasana kelas yang ramai teman teman nya yang lain membuat suasana semakin bising karna bercampur suara derasnya hujan.
"Aira, kamu harusnya bisa pergi dari dunia ini kenapa masih disini?" Tanya Luna dalam hati
Matanya masih menatap ke jendela melihat kearah langit yang mendung dan hujan yang semakin deras diluar sana.
"Karna aku ingin menunggu kakakku" Ucapan itu berahasil mengagetkan Luna
"Aira?" Gumam Luna tanpa sadar
"Apa Na?" Tanya Gavin menyadari Gumaman Luna barusan
"Em.. Enggak! Gak papa" Jawab Luna
"Gue denger" Jawab Gavin bergumam sambil bermain ponselnya
"Itu gue kan barusan ngomong dalam hati kalau harusnya Aira itu udah bisa pergi karna masalahnya udah selesai, tapi kenapa masih di sini" Jelas Luna
"Iya juga ya, bukannya Al udah masuk penjara waktu itu?" jawab Gavin
"Nah barusan gue denger suara Aira jawab kalau dia nunggu kakaknya" Kata Luna mengakhiri
"Berarti Arka..." Gavin tidak melanjut kan ucapannya dan melihat kearah Luna
"Bisa jadi dia sama kaya Aira" Kata Luna menjawab apa yang sedang Gavin pikirkan
"Gue rasa tuh anak harusnya dimasukin rumah sakit jiwa bukannya kantor polisi" Kesal Melodi yang ikut mendengarkan dari belakang
"Kalo pembunuhan gak dilarang, udah gue gantung tuh anak" Tambah Cila
"Kok lebih kriminal kamu" Kata Gavin sambil tertawa pelan
"Kesel banget sumpah" Gerutu Cila
"Sabar! apa bedanya kalian sama dia kalo gitu" Kata Luna sambil ter senyum
"Bener juga" Kata mereka kompak
Ada benarnya memang yang Luna kata, apa bedanya jika kita menangkap penjahat dengan cara jahat. Semua tidak berdampak baik bagi dirinya dan juga bagi orang lain yang ada di sekitarnya.
"Sama kaya yang Aira bilang ke lo Ikhlasin semuanya" Ucap Gavin tiba tiba
"Aira" Kata Luna sambil tersenyum
"Pelan pelan" Kata Luna "ilmu Ikhlas itu gak sama kaya ilmu matematika yang masih bisa dipelajari secara cepet"
Obrolan mereka terhenti karena guru masuk ke dalam kelas, namun mereka tidak melakukan pelajaran karna baru saja melakukan ujian.
"Baik baik lu berdua main game ada pak Idar" kekeh Luna melihat Imam dan Dito
"Mampus" gumam Imam "hp gue bisa di pake pak Idar" lanjutnya
__ADS_1
Biasanya akan berlanjut selama satu minggu, hanya beberapa pengumuman & tambahan saja hingga akhinya mereka libur.