
semua siwa dan Siswi sudah berkumpul di lokasi dan barusaja selesai memasang tenda. masing masing kelompok mendapatkan 3 tenda dan diisi 3 orang.
"kalian bisa pilih sendiri tidur sama siapa?" tanya pembina Kelompok Luna yg kebetulan Axel
"oke gue tidur sama Bella dan Sella karna si kembar ini mana bisa di pisah kan" kekeh Ayla
"langsung masukin barang ke tenda" kata Axel
"dito, Gavin, sama gue" jelas Imam dan langsung diangguki oleh mereka berdua
"gilang, Andre, sama Billy" kata Axel pada mereka bertiga
"terakhir gue, Mel, sama Cicil" kata Luna diangguki Melodi dan Cila
"iya dong, gak ada lagi kan?" kekeh Axel
mereka merapikan barang barang ke dalam tenda masing masing lalu beristirahat selama beberapa waktu
"kak Axel" kata Luna saat menyadari keberadaannya tak jauh dari tenda
"kenapa Na?" jawab Axel lumayan keras
"jangan keras keras kak, nanti yang lain denger"
Mendengar ucapan Luna barusan Axel mengangguk dan mengerti apa yang akan di katakannya,
"kakak Tahu 'sejarah' sekolah gak?" tanya Luna tho the point
"yang mana nih, kan banyak Na?" tanya Axel
"soal kejadian Doni sama teman teman nya" jawab Luna
"sebenarnya soal itu bukan kejadian yang pertama di sekolah" Kata Axel dengan suara pelan
"hah? jadi dulu pernah kejadian sama gitu maksud kakak?" tanya Luna diangguki oleh Axel
"pantes aja" kata Luna bergumam
"kenapa?" tanya Axel bingung
Luna menceritakan soal ia meminta Gavin mencari latar belakang sekolah tapi seperti ada yang menutupi.
"ada korban kak?" tanya Luna kemudian
"untungnya enggak ada, kebayang sih kalo ada"
"apa ini ada hubungannya sama orang tua Doni?" kata Luna dalam hati
"untuk sementara ini aja dulu deh kak, Nana gak mau bahas yang kaya gini di hutan serem" jelas
"kalau Nana masih butuh bantuan dan kakak bisa bantu pasti kakak bantu, Nana tenang aja" Luna hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban
mereka kembali melakukan aktivitas mereka masing masing
"ngomongin apa sih, keliatannya seru banget?" tanya Cila penasaran
"soal 'sejarah' sekolah" jawab Luna
"trus gimana?" tanya Melodi berse mangat
"jangan sekarang ceritanya, gue mau ambil Hp di kak Fais dulu" kata Luna diangguki Cila dan Melodi
"kita Mulai acaranya kapan?" tanya Cila
"kalo gak nanti abis maghrib ya besok pagi" jawab Melodi
Luna berjalan mencari keberadaan sang kakak, ia menemukan didepan tenda OSIS bersama yang lainnya
__ADS_1
"ghibah aja Terus" gumam Luna berjalan kearah sang kakak
"ngomongin apa sih?" Kekeh Luna
"lah, tetep endingnya kepo juga Na" jawab Bara sambil tertawa
"kenapa?" tanya Faisal pada sang adik
"HP Nana mana?" tanya Luna kearah Faisal namun dia seperti diarahkan ke suatu tempat di hutan
"nih" kata Faisal memberikan ponsel Luna "hey liat apa sih?" kata nya kembali
"heh? eh iya" menerima ponsel dari tangan sang kakak
"kamu kenapa?" tanya Faisal bingung
"liat ke arah jam 12 Sekarang" kata Luna Lirih dan diikuti arah pandang pandang Faisal mengikuti interupsi Luna.
"masuk tenda gih, jangan kasih tahu yang lain biar gak panik" Luna meng angguk sebagai jawaban
Di tenda....
saat ini Luna sedang memikirkan apa yg baru saja ia lihat jika sekilas di perhatikan ini mirip seperti yg ada di mipinya.
"Na" kata Cila menyadarkan lamunan ku
"hah? apa?" kata Luna dengan gugup
"kenapa, kok ngelamun?" tanya Melodi
"gak papa" jawab Luna sambil tersenyum kearah dua sahabatnya
"yakin lo gak papa?" ucap Cila kha watir
"kalian tenang aja, gue baik baik aja kok" ucap Luna meyakinkan sambil beranjak
Melodi tahu jika ada yang Luna sembunyikan darinya, dan hal itu jelas saja membuat Melodi khawatir.
"apa ini soal mimpi nya semalem" kata Melodi dalam hati
"kenapa tuh anak?" tanya Cila bingung
"Mana gue tahu Cil, gue aja bingung" kata Melodi berbohong
karna ia sudah berjanji tak akan menceritakan apapun yang berhubungan degan mimpi yang dialami Luna pada siapapun, Melodi terpaksa berbohong pada Cila.
"Sorry Cil, gue udah terlanjur janji ke Nana buat gak cerita ke sia papun" kata Melodi dalam hati
-----
saat ini Luna sedang duduk di bawah sebuah pohon yang tak terlalu besar, dia bisa merasakan angin segar menerpanya.
"trus gue harus gimama sekarang? gue gak mau mimpi gue jadi kenyata an" gumam Luna dalam hati
"ngapain malah ngelamun di sini? bukannya masuk tenda" tanya seseorang yang mulai mendekat kearahnya
Luna mendengarnya namun ia sedang tak mau melihat kearahnya untuk saat ini, entah dengan keberanian dari mana dia mendekat dan memeluknya dari belakang.
"kenapa?" Katanya lembut
Luna kembali merasakan ketenangan yang tadi sempat menghilang dari dirinya, air matanya perlahan mulai jatuh.
"G-gue takut" lirih Luna yang masih membeku namun ia bisa merasakan pelukan yang semakin erat
"kenapa? Coba cerita sama gue? lo takut kenapa?" katanya Lembut
Luna menceritakan apa yang baru saja ia lihat saat mengambil ponsel di tenda OSIS tadi
__ADS_1
"gue takut Dit, gue gak mau yang ada di mimpi gue kejadian" kata Luna masih terisak
"udah! jangan nangis, ada gue di sini gue bakal jagain lo" kata Dito lembut sambil mengusap air mata Luna yang sudah membasahi pipi
"percaya sama gue, gak akan ada yang berani deketin lo karna banyak yang bakal jagain lo disini" Dito tersenyum dan memegang Kedua pundak Luna
"sekarang jangan pikirin yang aneh aneh nikmatin aja semua kegiatan yang kita lakuin di sini" Luna hanya mengangguk sebagai jawaban
"senyum dong, jangan cemberut gitu" kata Dito sambil menjewer kedua pipi Luna yang Menurutnya menggemas kan itu
"sakit tahu gak" protes Luna sambil menekuk bibirnya ke bawah
"enggak" jawab Dito santai
"ish, ngeselin banget sih lo" kesal Luna sambil mencibit pinggang Dito
"aww, sakit Na" kata Dito sambil meringis Kesakitan sementara Luna hanya terkekeh pelan
"Bodo amat, siapa suruh ngeselin" tambah Luna
"jadi orang itu jangan galak galak kenapa, marah marah mulu" protes Dito kembali duduk di samping Luna
"siapa suruh jadi orang ngeselin banget"
"gaak ada yang nyuruh sih, pengen aja" celetuk Dito tanpa dosa
"pengen kok bikin kesel orang, yang lain kek" kesal Luna
"yang gue pengen cuma satu Na, gue pengen selalu ada disamping lo" kata Dito sambil melihat menerawang lurus kedepan
"bukannya lo udah ada disamping gue, ngerecokin gue mulu?" tanya Luna dengan wajah polosnya
"lebih dari itu" gemas Dito sambil mengacak rambut Luna gemas "gue mau lebih dari itu dari lo"
"Maksudnya?" tanya Luna bingung
"gue mau lo Na" ucap Dito tegas sambil melihat ke arah Luna
Luna sebenarnye dari awal tahu arah pembicaraan yang akan Dito katakan, ia hanya mengulur waktu saja agar ia bisa menyiapkan hatinya.
"lo yakin?" tanya Luna ingin tahu
"gue yakin, bake banget malah" jawab Dito meyakinkan
"gue punya satu syarat buat lo?" kata Luna sambil melihat kearah tenda yang tertutup rapat di depannya
"apa?" tanya Dito bersemangat
"bantu gue lupain semuanya yang pernah buat gue sakit hati, gue gak tahu lo bisa apa gak? lo mampu apa nggak? tapi itu syarat buat lo" jelas Luna panjang lebar
"lo bisa pegang janji gue, apapun itu gue akan lakuin. asal lo bisa kaya dulu lagi, gue kangen lo yang dulu, lo yang selalu Ceria" ucap Dito dengan penuh ketulusan
"gue pegang Janji lo" Kata Luna sambil tersenyum tipis
"padahal gue tadi nyari lo buat ngasih tahu kalo makanannya udeh dateng kenapa jadi edisi curhat" celetuk Dito bingung
"kenapa lo gak bilang dari tadi" kesal Luna
"kenapa emang?"
"gue laper, pake nanya lagi" Luna berjalan meninggalkan Dito
"kan, kumat lagi galaknya" kata Dito bergumam menyusul Luna
"bodo amat, buruan jalannya" jawab Luna santai
"Iya" jawab Dito sambil tersenyum
__ADS_1
Ia tahu apa yang sedang dia usahakan sudah dalam genggaman, saat ini tugasnya hanya satu meyakinkan wanita yang sudah memberinya kesempatan tersebut.