ETERNITY OF LOVE

ETERNITY OF LOVE
Chapter 27


__ADS_3

Dito terbangun karena bunyi ponselnya, ia segera mengangkatnya sebelum Luna terbangun karena suara tersebut


"Siapa sih?" Tidak ada tertulis nama penelfonnya


"Halo" Ucap Dito pelan karna dia berada di dalam kamar namun tak ada jawaban dari sambungan telfon


"Orang iseng kali ya" Gumam Dito sambil mematikan ponselnya dan kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Luna


Dito memegang kening Luna namun panas di tubuhnya belum juga turun dan justru semakin panas.


"Kok jadi makin panas?" Gumam Dito khawatir


Perlahan tangan mungil Luna jika di bandingkan dengan tangan Dito yang kekar itu ditarik Luna dari keningnya lalu ia genggam dengan erat.


"Gue tahu lo lagi khawatir sama gue Dit" Ucap Luna dalam hati


Luna sadar dengan apa yang dia lakukan barusan, entah dorongan darimana dia bisa melakukan hal itu.


"Trimaksih, perlakuan kecilmu membuatku kuat" Ucap Dito dalam hati


Senyuman tipis terukir di bibirnya dengan perlakuan manis Luna entah secara sadar atau tidak sadar.


"Kenapa keapala gue makin pusing ya?" kata Luna dalam hati


Sekuat tenaga Luna menahan rasa sakit di kepalanya, dirinya seperti sedang berputar dengan kencang hingga tanpa sadar genggaman lembut di tangan Dito berubah menjadi sangat kuat


"Na?" Gumam Dito panik saat merasakan genggaman erat Luna, ia tahu saat ini dia sedang kesakitan


"Sakit ya?" Tanya Dito lembut dijawab anggukan lemah Luna yang masih memejamkan mata itu


"Istirahat di sini bentar, gue cariin obat" Kata Dito pelan dan mencium kening Luna lalu menghilang


Dito pergi ke dapur, sepertinya Bi siti sedang mencuci baju di kamar mandi. Dito membawa bubur dalam ma ngkuk dan teh hangat beserta obat dalam sebuah nampan kembali kekamar


"Lo sih Na, dari tadi gak mau makan jadi makin sakit kan?" Ucap Dito pelan setelah sampai di kamar


"Yuk makan bentar abis itu minum obat baru bisa tidur lagi" Dito sudah duduk di pinggir tempat tidur


"Gamau" Gumamnya lemah


"Dikit aja, lo dari tadi gak mau ma kan Na trus panas lo juga makin naik" Bujuk Dito lagi


Dito membantu Luna duduk untuk memakan bubur yang baru saja dia bawa. Dengan telaten Dito menyuapi Luna hingga suapan terakhir, membantu Luna meminum obat.


"Mau tidur lagi?" Dito membiarkan tangannya di tarik Luna lalu digunakan sebagai bantalan kepalanya


"HP gue mana?" Tanya Luna mencari keberadaan ponselnya


"Gue taruh mana ya tadi, tunggu bentar gue lupa" Ucap Dito dengan satu tangannya lagi mencari gagang laci dan mengambil ponsel Luna


"Awas aja HP orang di ilangin" Gerutu Luna pelan


"Nih, gak usah ngedumel gitu" Ucap Dito memberikan ponsel pada Luna


Luna sibuk bermain dengan ponselnya sebentar, sementara Dito masih kepikiran siapa yang sempat menelfonnya kenapa tak ada jawaban.


"Siapa sih tadi? Dari mana dia dapet nomer gue?" Ucap Dito dalam hati


Dia bukan orang yang akan dengan mudah memberikan nomernya pada orang lain yang belum dia kenal.


"Kenapa minta HP coba kalo tidur" Ucap Dito gemas melihat tingkah Luna


Dia melihat Luna sudah terlelap dengan ponsel diatas dada itu segera dipindahkan ke meja agar tak jatuh


----££----


Malam ini kondisi Luna sudah sangat baik, dia juga sudah mulai belajar untuk ujian besok.


"Masih pusing?" Tanya Dito yang masih setia menemani Luna di dalam kamar


"Udah baikan kok" Jawab Luna yang sedang serius dengan laptop di hada pannya

__ADS_1


"Ini anak satu besok ujian bukannya belajar malah main laptop" Gerutu Dito melihat kearah laptop


"Nggak liat gue lagi ngapain?" Tanya Luna santai "email"


"Nah lu lagi ngapain coba?" Kata Luna balik bertanya


"Buka email" Jawabnya singkat padat dan sangat jelas


Saat ini Luna sedang membaca beberapa materi yang sempat di kirimkan oleh gurunya melalui email


"Pak Imron kan gak pernah nyuruh muridnya nyatet tapi sekalinya ngirim materi buat belajar segudang" Tambah Luna


"NANAAA..." Teriak seseorang dari luar kamar hingga membuat Dito dan Luna kaget


"BERISIK WEY" teriak Luna dan Dito bersamaan melihat ke arah Cila


"Maap maap" Kata Cila sambil cenge ngesan lalu masuk kedalam kamar


"Pilih deh Cil mau gue lempar pake laptop apa pake kursi noh" Kesal Lu na yg kembali fokus pada laptopnya


"Eh jangan jangan, maen lempar lem parannya pake bantal aja. Lo kan lagi sakit Na" Kata Cila sambil ter kekeh


"Nih, gue lempar bantal" Dito melem par bantal tadi dia gunakan bersan dar


"DITOOO LU TUH YA" Teriak Cila kes al


"Ape? Ganteng? Emang" Jawab Dito asal


Sementara Luna hanya melirik Dito sekilas masih dengan kekehan kecil di mulutnya


"Pede banget jadi orang" Gerutu Lu na


"Tahu lo" Tambah Cila sambil melem par bantal pada Dito


Sementara Gavin yang baru saja ma suk hanya menggelengkan kepala meli hat kelakukan kekasih dan sahabat nya yang sedang perang bantal itu


"Gimana? Baikan?" Tanya Gavin sambil duduk di sofa sebelah Luna


"Mau sampe kapan kalian mau lempar lemparan bantal gitu wey?" Tanya Gavin heran


"Nih si kampret ngeselin banget" Protes Cila


"Kan lo tadi yang bilang minta di lem par bantal aja daripada laptop atau korsi markonah" Kesal Dito


"Lagian masuk rumah orang malah teriak teriak, kesel lah gue" Protes Luna


"Elu juga berarti yang salah" Kata Ga vin lalu melempar bantal pada sang ke kasih pelan


"Huaaaa"


Melihat reaksi Cila mereka bertiga ha nya tertawa dan menggelengkan kepala


"Udah sih, masa iya habis becanda masa nangis" Kekeh Gavin sambil menghapus air mata di pipi Cila


"Kan lagi becanda Cila" Kekeh Dito yg dengan sengaja menaruh kepalanya di paha Luna yang tertekuk tersebut


"Baperan banget sih Cicil" Gemas Luna melihat kearah Cila yang sedang cemberut


"Trus kalian malem malem tumben ke sini?" tanya Luna lagi


"Nah kan Gue sampe lupa mau ngapain" Kata Gavin kemudian


"Apaan sih jadi kepo gue?" Tanya Dito penasaran masih pada posisi yang sama


"Harusnya gue gak ngomongin ini sekarang Na, tapi malah bikin gue ke pikirkan" Kata Gavin melihat kearah ku serius


"Tentang?" Tanya Luna penasaran


"Batu merah delima yang kita temuin waktu itu" Jelas Gavin kembali


Mendengar ucapan Gavin Dito memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan bersiap mendengarkan Gavin cerita

__ADS_1


"Sekarang batunya di mana? Semoga aja airnya udah berubah menjadi lebih item sekarang" Tanya Gavin


"Di depan jendela belakang lo persis" Jawab Luna pelan


Gavin mengambilnya dan menaruhnya tak jauh dari tempatnya duduk


"Item?"


Kata Luna, Cila dan Dito bersamaan saat melihat botol yang berisi batu merah delima yang air garam didalamnya berubah menjadi hitam


"Kiriman?" Tanya Dito dan Luna secara bersamaan itu diangguki oleh Gavin


"Jadi sakit Nana gara gara ini?" Tanya Dito tak percaya


"Iya, dan gue curiga orang yang punya batu itu udah tahu siapa yang bawa dan berusaha menghalangi lo netralin batu itu" Jelas Gavin panjang lebar


"Lo tahu siapa orang nya?" Tanya Luna serius


"Kali ini gue kesusah buat nyari tahu siapa orangnya, 3 kali masih gelap terus"


"Apa ini ada hubungan nya sama sosok yang sempat nyerang gue waktu camping?" Tanya Luna kemudian


"Apa lo sempet liat sosoknya?"


"Sempet" Jawab Luna serius


"Ada kemungkinan sosok itu yang kasih tahu tuannya" Ucap Dito


"Bisa aja" Kata Gavin


Mendengar jawaban itu Luna dan Dito saling bertukar pandang, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama.


"Kalian tahu sesuatu?" Tanya Cila bersemangat


"Kita belum bisa bilang sekarang sama kalian soal itu, tapi gue cuma mau bilang sama kalian hati hati aja kalau lagi lewat didepan gudang kosong" Jelas Dito panjang lebar & diangguki oleh Luna


"Ini demi keselamatan kita, karna gue yakin sosok itu ada di sekitar kita. Lo tahu kan akibatnya apa kalau sampe kita cerita akan gimana nantinya?" Tambah Luna menjelaskan dan diangguki Gavin dan Cila


Mereka tahu jika Luna sudah berbicara seperti itu, apa yang dia ketahui membahayakan orang lain.


"Apa gue cerita sama mereka aja ya soal yang tadi siang sama mereka" Kata Dito dalam hati


"Kenapa? Kok jadi ngelamun gitu?" Tanya Luna heran


"Gue mau cerita satu hal sama kalian" Kata Dito serius membuat Luna, Cila & Gavin memasang wajah serius nya kembali


"Jadi sebelum lo kebangun karna sakit kepala lo makin parah, gue itu di telfon sama nomer yang nggak gue kenal tapi pas gue angkat gak ada suaranya" Jelas Dito panjang lebar


"Orang iseng kali" Cila menanggapi


"Awalnya gue kira gitu tapi setelah si Gavin cerita barusan gue kok jadi curiga ada hubungannya" Jelas Dito lagi


"Jadi?" Tanya Luna bingung


"Harus lacak nomer itu punya siapa" Jawab Gavin dan langsung diangguki oleh Dito


"Caranya?" Tanya Cila penasaran


"Kak Bara" Jawab Dito


"Kak Bara?" Tanya mereka kompak


"Kak Bara kan jago IT, dia pasti bisa bantu kita" Jawabnya menjelaskan


"Punya opsi lain kalo kak Bara seandainya gak bisa?" Tanya Gavin


"Kantor polisi" Jawab Luna singkat


"Yakin mau libatin polisi soal kasus ini?" Ucap Gavin ragu


"Kan belum tentu pake opsi ini" Tambah Dito menyetujui

__ADS_1


__ADS_2