
Malam ini Luna dan Gavin sudah menceritakan semuanya pada Bara & Nino karena Faisal masih di Bandung.
"Jadi maksudnya Arka juga di bunuh gitu?" Tanya Nino
"Nah itu kak yang Aira coba sampein sama Nana, cuman kaya ada yg nahan, makanya Aira kasih kita Clue dari Liontinnya Arka" Jelas Luna panjang lebar
"Jadi intinya kalung itu jadi kunci masalah ini" Kata Bara
"Kakak masih inget gak, energi paling kuat di area mana?" Tanya Gavin
"Kalian tahu pohon besar deket jalan yang kita lewatin waktu itu?" Jawab Bara
"Tahu! Pohon pesar di sana kan cuma satu" Kata Imam
"Di situ?" Tanya Luna memastikan
"Kalo gue gak salah nangkep energi nya ya disitu" Jawab Bara menjelas kan
"Mau kesana sekarang?" Tanya Dito
"Ya enggak lah, gak liat itu di luar ujan" Jawab Luna sambil melihat kearah kolam renang tempat Bara menaruh batu merah delima itu "lo mau gue sakit lagi?"
"Apaan sih" Kata Dito yang duduk di sebelah nya sambil menutup wajah Luna
"Ngeselin banget" Kesal Luna lalu memindahkan tangan Dito dan segera digenggam oleh Dito
"Eh tunggu, mau nanya serius" Kata Luna serius
"Gue gak salah liat kan kalo batu merah delimanya berubah jadi warna putih?" Kata Luna lagi
"Hah?" Kata mereka kompak lalu melihat kearah botol yang ada disebelah kolam renang
"kok bisa?" Tanya Imam heran
"Itu berarti batu itu warna aslinya putih tapi karna diisi sama energi yang lumayan negatif kemarin jadi berubah warna karna udah dinetralin lagi warnanya balik" Jelas Bara panjang Lebar
"Berapa lama kakak taruh situ?" Tanya Luna penasaran
"Dihitung sejak kamu bawa kesini 4 hari" Jawab Bara
"Cepet banget?" Tanya Nino
"Di rumah udah Nana rendem pake air garam kasar, jadi waktu dibawa kerumah kak Bara tinggal ngilangin energinya aja berarti" Jelas Luna
"Di rumah lo berapa hari Na?" Tanya Cila
"Dua hari" Luna berjalan menuju kolam renang dan mengambil botol berisi batu yang sudah berubah warna menjadi putih.
"Masalah lama clear ya kak?" Kata Luna melihat kearah Bara
"Insya Allah" Jawab Bara masih terlihat ragu
"Kakak nyimpen kotak kecil gak?" Tanya Luna pada sipemilik rumah
"Ada" Bara berjalan menuju laci
"Sekalian plastik" Tambah Luna
"Udah di taruh kotak masa iya kotak nya di plastikin" Celetuk Dito sambil menaruh kepalanya di paha Luna lalu memainkan ponselnya
"Ya bukan kaotaknya yg di plastikin lah dit, tapi batunya" Jawab Gavin
"Apa lu sekalian gue plastikin?" Kesal Luna sambil menerima kotak kecil dan plastik dari Bara
"Jangan Gila, dikira gue barang?" Protes Dito. Mendengar hal itu yang lainnya hanya tertawa termasuk Luna
"Ya lagian pikirin, dibotol aja bisa tiba tiba ilang. Apalagi ini di kotak, bisa gak balik" Kata Luna setelah menyelesaikan tawanya
"Iya juga ya" Gumam Melodi
"Tapi bukannya udah clear ya, emang masih bisa ditarik?" Tanya Imam
"Kalau menurut papa, orang yang lagi cari medium biasanya bisa narik" Jawab Luna lagi
"Kok bisa?" Tanya Cila bingung
"Kadang walaupun menurut kita batu itu udah bersih, belum tentu 100% bersih. Bisa aja sisa sisa energinya masih ada" Kata Gavin menjelas kan
__ADS_1
"Fungsi plastik ini jadi kaya kunci nya, karena sama Nana dikasih doa biar gak ada yang bisa buka. Kecuali mereka yang tahu Luna yang bawa batu itu" Tambah Bara
"Mau ditaruh mana ini Na?" Tanya Bara
"Gabungin sama temen temennya aja, gak mungkin bentrok juga" Jawab Luna
"Yakin gak mungkin bentrok sama patung punya Abi?" tanya Bara
"Aman" jawab Luna meyakinkan sambil mengangguk sebagai jawaban
Karna Papa dari Bara bisa membersihkan Rumah atau barang, jadi memiliki satu ruangan yang khusus untuk menaruh barang barang yang memiliki energi.
----££----
Pagi harinya di sekolah, masih sama seperti kemarin udara sangat dingin dan mendung disertai hujan deras.
"Dua hari aja kaya gini apalagi ber hari hari?" Ucap Gavin bergumam
"Salah satu karunia Tuhan kalau berlebih jadi bencana" Kata Luna menanggapi
"Di tambah kesadaran manusia masih minim" Tambah Melodi
"Kok serem jadi di bayangan gue" Kata Cila sambil bergidik
"Jangan di bayangin makanya" Jawab Luna
Matanya kali ini tertuju pada sebuah pohon yang menurut matanya sedikit miring itu akan jatuh juga pada akhir nya
"Lu kenapa Na, gitu banget ekspresi nya?" Tanya Gavin bingung
"Itu pohon" Ucap Luna menggantung
"Iya gue tahu itu pohon kali Na" gumam Gavin
"Lo liat dulu makanya" jawab Luna
Ia masih melihat kearah pohon berada dan membuat Gavin ikut melihat kearah pandang Luna
"Lo ngerti kan maksud gue?" Tambah Luna lagi
"Ya nggak ada lah Vin ujan mana ada yang diluar" Jawab Luna saat Gavin berjalan kembali kebang kunya
Mereka kembali asyik dengan ponsel masing masing hingga satu suara yang membuat seisi kelas berjlonjak kaget
BRUUUKK!
"Allahuakbar" Ucap Luna dan Cila bersamaan
"Beneran dong Na" Kata Gavin yang sudah duduk di pinggiran meja kearah jendela
"Apaan?" Tanya Dito penasaran
"Pohon di depan sekolah" Kata Luna
"Roboh" Kata Imam, Melodi, dan Cila bersamaan
Sedangkan Gavin dan Luna kembali du duk di bangku disusul sahabatnya yg lain
"Untung tuh pohon jauh dari kelas" Kata Melodi
"Tapi kok bisa sih, padahal pohon itu kan gede banget?" Kata Cila ma sih heran
"Angin sekenceng itu sih apa aja bi sa roboh" Gumam Luna
"Bener sih" Katanya lagi
[Na, mau susul kakak ke Bandung?]
[Kenapa kak?]
[Om Haikal butuh bantuan kamu dek]
[Kenapa, om Haikal gapapa kan?]
[Belakangan ini om Haikal ngerasa ada yang aneh di rumah]
[Aneh gimana?]
__ADS_1
[Kakak juga ngerasa sih sebenernya energinya beda gitu]
[Kakak gak bisa liat apapun?]
[Gak ada yang mencurigakan dek cuma ada satu ruangan aja yang kayaknya aneh]
[Oke, nanti aku ke sana deh dan mau coba liat sendiri]
[Hati hati di jalan, jangan ngebut ujan]
[Siap kakak ku sayang]
[Read]
Luna mematikan ponsel dan menaruh nya di atas meja, memasukkan ke dua tangannya didalam saku hoodie nya.
"Vin?" Luna menoleh kearah Gavin
"Hm?"jawabnya sambil bermain ponsel
"Waktu kita nginep di rumah om Haikal lo ngerasa ada yang aneh gak?" Tanya Luna penasaran
"Aneh? Gak ada deh kayaknya? Emang kenapa?" Tanya Gavin ingin tahu
Luna menceritakan tentang pesan yg di kirimkan Faisal pada Gavin.
"Cara yang paling bener ya gue yang harus nyusul ke sana" Tambah Luna mengakhiri
"Ikut" Kata mereka kompak
"Semangat banget lo pada" Kata Luna sambil tertawa
"Kapan?" Tanya Dito
"Pulang sekolah, besok Om Haikal harus ke Yogyakarta" Jawab Luna "bawa seragam, kemungkinan kita berangkat sekolah dari bandung"
"Cuma ada satu ruangan yg gak per-nah digunain bahkan jauh sebelum Om Haikal tinggal disana, apa semuanya dari situ?" Kata Luna dalam hati
"Eh apaan tadi barusan lewat didepan jendela" Gumam Melodi
"Orang kali Mel" Jawab Luna Santai
"Ya kali Na, kita dilantai dua untuk sementara. Lo gk liat gue ngadepnya ke jendela mana" Kata Melodi
"Eh iya ya, kita di lantai dua lupa gue"
Beberapa kelas di lantai bawah sedang dalam perbaikan, makanya beberapa kelas dipindahkan ke atas termasuk kelas X IPS 3 kelas Luna dan teman temannya.
"Biarin aja cuma lewat" Gumam Dito
"Sama gak sih kaya yang dilihat Bella tadi pagi?" Kata Luna pelan sambil melihat kearah Dito
"Yang tadi pagi?" tanya Dito membalas tatapan Luna
"Iya sebelum lo ngagetin kita tadi pagi" Kesal Luna melihat kearah Dito yang ada di hadapan nya
"Masih kesel aja lo" Kekeh Dito sambil memainkan ponsel di tangannya
"Di tempat yang sama?" Tanya Gavin
"Nggak, dijendela sebelah gue Nih" Jawab Luna
"Bisa jadi emang yang sering lo liat juga" Jawab Gavin
Bersamaan dengan itu bel istirahat berbunyi dan membuat para siswa berhamburan keluar kelas
"Bodo amat lah gue sama sosok itu, gue laper" Gumam Luna sambil beranjak dari tempat duduknya
"Lo kira lo aja Na" Gumam Melodi
"Tungguin kali" Ucap Cila
"Lah HP mau ditinggalin di meja?" Teriak Dito
"BAWAIN" Teriak Luna yang sudah berada di Luar kelas bersama Melodi dan Cila
"Kebiasaan banget jadi anak" Gerutu Dito sambil membawa ponsel Luna
__ADS_1