
Saat ini Luna berada di kamar Aira bersama dengan Cila dan Melodi, sedangkan Renaldi menceritakan semua yang terjadi padanya dan Luna saat pulang dari lokasi kejadian.
"Udah Na, jangan nangis lagi" Ucap Melodi sambil mengusap air mata Luna di pipi
Mereka membaringkan tubuh mereka di kasur yang masih empuk tersebut, memandang langit langit kamar berwarna biru tersebut
"Iya Na, dia gak pantes lo tangisin lagi" Tambah Cila dengan mengelus bahu Luna lembut
Sejak pulang tadi hingga sekarang air mata Luna masih saja menetes, ia masih merasa tak percaya jika seseorang yang diam diam ia harapkan itu justru bisa memberinya rasa sakit.
"Gue emang terlalu bodoh percaya sama dia" Lirih Luna sambil menatap kedua sahabatnya itu
"Jangan pernah bilang gitu! Luna gak salah! Luna cuma terlalu percaya sama seseorang tapi orang itu gak pernah sadar" Kata Melodi sambil menggenggam tangan Luna erat untuk memberinya kekuatah
"Please berhenti salahin diri, lo gak merasa kayak gini lagi. Udah terlalu banyak luka yang lo alami dan sekarang bukan waktunya buat memperdalam luka itu tapi waktunya buat sembuhin luka itu" Tambah Cila yang mengerti bagaimana perjalanan cintanya dengan Billy dari awal seperti apa
"Gue setuju sama cicil, sekarang waktunya Luna buat move" Tambah Melodi meyakinkan Luna
"Thanks ya kalian udah mau selalu ada buat gue" Kata Luna sambil memeluk kedua sahabatnya itu
"Kita bukan lagi sahabat Na tapi kita udah jadi keluarga. Apapun akan kita lakuin buat anggota keluarga kita" Jawab Melodi sambil tersenyum dan membalas pelukan Luna disusul Cila
Sesaat setelahnya seseorang membuka pintu kamar, menampilkan seseorang degan tersenyum kearah mereka. Cila dan Melodi meninggalkan mereka berdua didalam kamar.
"Masih mau nangis?" Katanya lembut sambil mengelus lembut kepala Luna
"Enggak ah cape" Jawab Luna asal
Entah kenapa saat melihat Dito di sampingnya justru membuat dadanya semakin sesak, rasa bersalahnya kembali muncul dihati
"Katanya udah gak mau nangis" Kekeh Dito menghapus jejak air mata dipipi Luna
Luna yang memang masih merasa hatinya sesak dan semakin tak bisa menahannya itu kembali dalam isakannya, kali ini ada yang setia di samping nya, menemaninya dan memeluknya dengan erat bahkan.
"It's okay baby, everything will be fine." Dito kembali memeluk Luna erat memberinya kekuatan untuk melewati semuanya
"Maybe" Lirih Luna yang kita telah menjadikan tangan Dito sebagai bantalan kepalanya
"Optimis, jangan pesimis gitu" Kata Dito gemas lalu mencubit hidungnya pelan
Luna menatap Dito yang juga menatap nya sambil tersenyum, sepersekian detik mereka tak melepaskan pandang satu sama lain hingga
Cup!
Dito mencium kening Luna lembut hal yang belakangan ini sering ia lakukan sebelum atau setelah Luna terlelap.
"Kita lewatin semuanya sama sama, jangan selalu ngerasa sendiri" Kata Dito kemudian sambil tersenyum dan narik Luna kedepan dadanya
"Kalo gitu mau dengerin cerita gue" Tanya Luna menoleh kearah Dito
"Apapun itu gue selalu denger" Jawabnya sambil memainkan rambut Luna
__ADS_1
Luna menceritakan tentang Renaldi yang sempat dirasuki oleh sang adik yaitu Arka untuk melawan tiga manusia tidak berpendidikan itu pada Dito.
"Serius?" Tanya Dito tak percaya
"Serius lah, masa iya gue bohong soal gituan" Jawab Luna bersemangat
Dito melihat Luna yang kembali bersemangat itu hanya tersenyum masih dengan bermain dengan rambut Luna
"Arka kok tahu?" Tanya Dito lagi
"Gue yang panggil, karna gue gak mungkin manggil kalian kesana" Jelas Luna kemudian
"Loh kenapa? Bukannya bagus ya kak Aldi ada yang bantuin?" Tanya Dito heran
"Iya bagus buat kak Aldi tapi nggak buat kak Faisal" Jawab Luna
"Kenapa?" Dito mengerutkan kening
Luna menceritakan pertemuannya degan Nabila yang notabenenya adalah mantan terindah sang kakak, Faisal.
"Jadi kak Nabila itu pacarnya kak Aldi?" Kata Dito sedikit berteriak
"Iya, tapi jangan keras keras Kalo kak Fais denger gimana? Mau tanggungjawab" Tanya Luna sambil mencubit perut Dito kesal
"Aduh" Kata Dito meringis kesakitan akibat ulah Luna
"Kebayang reaksi kak Faisal sama kak Nabila kalo sampe mereka bener ketemu" Lanjut Luna
"Ke kantor polisi wakili kak Aldi yang harus balik ke sini nganterin gue" Jawab Luna
"Sekaligus ngindarin kakak lo" Te bak Dito
"Mungkin" Gumam Luna
----££----
Faisal saat ini sedang mencari keberadaan sang adik, jujur saja ia khawatir setelah Renaldi menceritakan semuanya tadi.
"This Perfect Love"
Seulas senyum menghiasi bibirnya mendapati sang adik sedang tertidur pulas di dalam pelukan Dito yang juga tengah tertidur.
"Ngapain wey" Ucapan Bara membuat Fais terlonjak dan segera menatap tajam ke arah pemilik suara
"Menikmati pemandangan yang telah Tuhan buat" Faisal tersenyum dan bersamaan dengan Bara di sampingnya
"Oh" Jawab Bara yang berniat masuk ke dalam kamar Arka
"Balik ke depan wey" Kata Faisal melihat Bara akan segera masuk
"Iya bentar, gue mau ambil HP ketinggalan di dalam" Jawab Bara tanpa menutup pintu kamar
__ADS_1
Mereka kembali ke ruang TV yang letaknya di ruang tengah bersama dengan yang lainnya kecuali Dito dan Luna yang masih terlelap.
"Kalian libur berapa lama?" Tanya Nino
"Kemungkinan satu Bulan" Kata Imam menjawab
Luna, Cila, Melodi, Dito, Imam & Gavin memutuskan bergabung sebagai OSIS bersama agar tidak ada aksi saling tunggu saat pulang sekolah.
"Satu bulan?" Tanya Nino tak percaya
"Itu gurunya sehat kan? Ngasih libur banyak banget?" Tanya Bara tak percaya
"Kita udah pernah cerita belum soal di sekolah ada yang pernah main Jailangkung" Tanya Gavin
"Lagi?" Tanya Nino, Faisal, dan Bara bersamaan
"Iya, anak kelas 10 namanya Doni main sama tiga orang temennya" Jawab Imam
"Ada hal yang lebih parah lagi kak" Kali ini Melodi ikut bercerita
"Apa?" Tanya mereka bertiga kompak
"Orang tua Doni manfaatin dia buat dapet tumbal di sekolah kita untung aja kita udah sempet gagalin waktu itu" Tambah Imam
"Gimana caranya? Kalian tahu dari mana?" Ucap Nino yang sudah mulai penasaran
"Kalo nanya itu jangan keroyokan No" Protes Faisal
"Tahu lo, kumat lagi nih anak jiwa keponya" Tambah Bara sementara Nino hanya cengengesan
Gavin menceritakan mulai dari kesurupan yang dialami Doni dua hari berturut turut sampai mereka membakar Jailangkung
"Sumpah gue sama Dito baru pertama kali liat Luna ngusir sosok sampe bentak kaya gitu" Kata Gavin menanggapi
Sementara Faisal hanya tersenyum mendapati pertanyaan seperti itu dari Gavin
"Satu kemampuan Nana yang gak pernah dia pake" Gumam Faisal
"Hah?" Kata mereka kompak kecuali Bara dan Nino
"Nana sebenernya secara gak langsung bisa menundukkan semua sosok yang bisa dia liat, sayangnya kalau dia gak bisa ngendaliin dirinya justru dia yang bakal dikendaliin sama mereka" Jelas Faisal
"Itu kenapa selama ini Luna gak pernah ngasah kemampuan itu, dia takut sama efeknya. Tapi pernah sih sekali kakak liat tanpa sadar Nana pake kemampuan itu tapi dibawah sadarnya dia" Tambah Bara menjelaskan
"Kapan?" Tanya Faisal bingung
"Setahun setelah lo ke London kita dapet klien yang kita rasa dia itu pengikut ilmu Hitam, cuman dia bingung cara ngakhirinya itu gimana" Jelas Bara diangguki Faisal
Faisal tersenyum mendengar penjelasan sang sahabat, untuk saat ini dia hanya bisa berharap Luna bisa melewati semuanya dengan baik.
"Semoga degan Nana mengawali lembar baru bareng Dito dia bisa bahagia" batin Faisal "dan gue bisa bahagia sama pilihan gue yang sekarang"
__ADS_1
...\= Bersambung \= ...