ETERNITY OF LOVE

ETERNITY OF LOVE
Chapter 25


__ADS_3

Pagi harinya sebelum berangkat ke sekolah Luna, Faisal ditemani Dito dan Ike pergi ke Bandara untuk mengantar Aldi dan Aini yang akan Melakukan beberapa pekerjaan di US.


"Kalian berdua jagain Nana, selama papa di sana"


"Papa sama mama ati ati" Ucap Luna sambil tersenyum


"Iya sayang, do'ain semuanya lancar biar ngak terlalu lama ninggal kalian" Kata Aini Melihat ke arah Faisal dan Luna


"Iya ma" Kata mereka kompak


"Ya udah Papa sama Mama berangkat sekarang, kalian juga buruan berangkat nanti telat lagi" Ucap Aldi


Aldi dan Aini berjalan menuju ke dalam pesawat, rasanya berat bagi Luna melepas kepergian kedua orang tuanya dalam waktu yang belum tentu hingga kapan.


"Udah kalian berangkat sekolah sekarang, nanti telat lagi. Masa iya ujian telat" Ucap Ike mengingatkan


"UJIAN" Kata Dito dan Luna sambil bertukar pandang


Setelah bergantian menyalami Ike dan sang kakak Luna segera berhambur menuju arah mobilnya


"Tungguin wey" Kata Dito sedikit berteriak lalu menyusul Luna


Faisal dan Ike melihat adegan itu tersenyum sambil menggelengkan kepala tak percaya


Di sekolah....


Setelah aksi kebut kebutan karena takut telat akhirnya mereka sampai juga di sekolah dengan tepat waktu.


"Hampir aja" Gumam Luna sambil ngos ngosan


"Tumben mepet banget?" Tanya Gavin sambil bermain ponselnya


"Abis nganterin Mama sama Papa ke bandara" Jawab Luna yang masih berusaha mengatur nafasnya


"Mau ke mana?" Kata Gavin bertanya


"Ada kerjaan di luar negri tapi gak tahu buat berapa lama" Jelas Luna


Tak lama bel masuk berbunyi, mereka berhambur ke bangku masing masing karna satu bangku hanya akan diisi satu orang saja.


"Weh HP mana Dit, suka banget lo sama HP gue" Protes Luna pelan kearah Dito yang ada di depannya itu


"Enak aja gue gak suka sama HP lu tapi gue suka sama lu" Gerutu Dito lalu memberikan ponsel Luna kembali


"Berisik amat, mau kena bu Ira lo" Gumam Luna kesal sementara Dito hanya cengengesan


----££----


Saat Luna sedang asyik membaca buku dikantin ponselnya tiba tiba berbunyi ada panggilan masuk dari 'Bara'


Telepon 📱


Iya kak Kenapa?


Gawat Na batu merah delimanya ilang dari tempat kemarin kakak simpen


Kok bisa kak?


Tadi pagi waktu kakak bangun pagi masih ada, pas kakak selesai mandi trus berangkat ke kampus udah gak ada


Masih kakak rendem di air garam kan ?


Yah, sorry Na kakak lupa masukin lagi selesai Nana liat kemarin


Ya ampun kak, ya udah nanti pulang sekolah Nana kesana kita cari di rumah dulu kalo gak ada berarti ditarik sama pemiliknya


Serius bisa gitu Na?


Bisa kak dan itu bisa bahaya buat kakak nantinya


Gimana dong?


Kakak di mana sekarang?


Di kampus


Ada kak Fais gak di sana?


Ada, tunggu loudspeaker ya


Sip


Udah, kenapa dek?

__ADS_1


Kakak bisa buat benteng sementara gak sampe batu itu ketemu atau paling ngga sampe Nana tahu ada di mana


Oke kakak coba, thanks Na


Sama sama 


Telepon 📱


"Kenapa Na?" Tanya Gavin penasaran


"Batu merah delima yang ada di kak Bara ilang"


"Ilang?" Kata Dito tak percaya


"Selesai gue liat kemarin kak Bara lupa balikin ke air garam"


"Pantesan" Gumam Gavin


"Yang gue takutin kalo sampe batu itu balik ke pemiliknya" Kata Luna dengan menerawang


"Kenapa emang?" Tanya Imam


"Bisa nyerang balik kak Bara" Jawab Gavin


"Sekuat itu?" Ucap Dito


"Lebih parahnya lagi bisa ngebunuh orang" Tambah Gavin


"Feeling gue masih ada di sekitar sekolah ini" Kata Luna


"Sekolah ini?" Kata mereka kompak


"Kok bisa? Yang punya ada disekolah kita gitu maksudnya" Tanya Cila


"Bisa jadi" Jawab Luna yang sudah jauh dari teman temannya


"Na" Teriak Melodi menyusul Luna


"Na tunggu" Kata Dito sambil menge jar Luna


"Kebiasaan banget nih anak" Gerutu Gavin menyusul yang lainnya


Luna berjalan kearah taman belakang sekolah, matanya mengedarkan pandang pada setiap jengkal tanah di taman belakang


"Gue bisa rasain energinya ada di sini" Jawab Luna


"Na.." Kata Gavin dan Imam menggantung


"Apa?" Luna menoleh kearah Gavin dan Imam


"Sini" Kata Imam


Batu merah delima tersebut ternyata berada di antara rerumputan


"Jangan pake tangan" Luna mengeluarkan sampu tangan dari saku roknya


Luna membungkusnya dengan sapu tangan dan menaruh dalam saku roknya lalu kembali kekantin


"Ada yang punya plastik?" Tanya Luna


"Tunggu bentar! Gue mintain bu Kantin" Ucapan Melodi diangguki oleh Luna


[kak, Nana udah nemuin batu merah delimanya]


[Di mana?]


[Di taman belakang sekolah]


"Nih ada Na" Kata Melodi memberikan plastiknya pada Luna


"Thanks Mel" Jawab Luna


[Kok bisa ada di sana]


[Nana juga gak tahu]


[Jadi mau di apain?]


[Biar Nana aja yang bawa kalo gitu]


[Yakin Na?]


[Besok Nana kasih ke kakak, kalau udah netral]

__ADS_1


[Mau Nana apain emang]


[Rendem pake garam kasar semaleman, besok juga udah netral]


[Ada efeknya gak?]


[Buat kita gak, mungkin ke pemilik nya]


[Read]


Luna memasukkan batu merah delima tersebut kedalam plastik yang di bawa Melodi tanpa membuka bungkusan sapu tangannya


"Abis ngapain sih?" Tanya Dito penasaran lalu mengambil ponsel Luna yang ada di meja


"Pengen Tahu banget jadi orang" Lirih Luna sambil melirik kearah Dito


"Nggak ada salahnya kan?" Gumam Dito membalas lirikan Luna


"Enggak" Jawab Luna singkat, padat, & jelas


Luna tahu jika manusia yang berada di sampingnya itu kapan saja akan menjelma menjadi seseorang yang posessif tapi nanti akan berubah biasa lagi.


"Gitu banget ekspresinya?" Tanya Dito melihat kearah Luna


"Biasa aja perasaan" Jawab Luna


"Emang gue gak tahu apa kalo anda lagi mikirin sesuatu?" Tebak Dito


"Gue lagi mikir aja ini batu kan kecil banget, kenapa gampang banget ya ketemu nya?" Jawab Luna bingung


"Dari warnanya aja beda dari yang ada di taman, ya cepet lah" Jawab Dito


"Gue tadi liat kaya keluar cahaya gitu malah" Jawab Gavin


"makanya tadi langsung gue samperin trus si Imam manggil lo"


"Kok bisa?" Tanya Melodi


"Kayaknya ada yang bantu kita nyari deh" Ucap Luna sambil melamun


"Siapa?" Pertanyaan Dito justru membuat Luna kaget


"nggak tahu siapa Tapi bisa aja kan?" Jawab Luna sesegera mungkin


"Tahu ah, mending gue ke toilet dulu" Ucap Cila sambil beranjak dari tempat duduk


"Ikut" Kata Luna menyusul Cila ke arah toilet


"Kenapa tuh anak?" Tanya Melodi pada Dito


"Tahu, kaya ada yang dipikirin" Jawab Dito


"Kayaknya dia lagi ada yang ganggu deh dit" Kata Gavin tiba tiba


"Ada yang ganggu gimana?" Tanya Dito khawatir


"Iya, Ada yang bikin Nana gak Fokus & Nana kayaknya udah sadar itu trus lagi nyari tahu siapa dalangnya" Jelas Gavin


"Bakal bahaya kalo gitu terus terusan, apa ini ada hubungannya sama batu yang dia bawa?" Tanya Dito


"Bukan, gue bisa liat perbedaannya"


Dito terlihat berpikir sebentar sambil mencerna ucapan Gavin, apa yang di bilang Luna benar Semua ada sangkut pautnya sama Andra.


"Dit" Kata Gavin lagi


"Hm, apa?"


"Lah malah dia yang ngelamun" Celetuk Melodi


"Kalian gak lagi berantem kan?" Tanya Imam curiga


"Enggak, emang dari tadi keliatan berantem apa?" Tanya Dito balik


"Enggak sih" kata Imam


"Selain masalah ini, Luna ada masalah lagi ga?" Tanya Gavin


"Ada sih sebenernya, tapi gue gak bisa cerita sama kalian" Jawab Dito menjelaskan


"Mungkin dari masalah dia yang lain pemicunya kita gak tahu kan?" Tambah Gavin


"Bisa juga sih" Kata Imam menyetujui

__ADS_1


"Tapi apa mungkin Billy yang ngelakuin ini, bukannya dulu Billy cinta banget sama Luna" Ucap Dito dalam hati


__ADS_2