
Setelah menceritakan semuanya pada Renaldi saat ini Luna mengantarkan pria tersebut kelokasi kejadian, di tengah jalan dia teringat belum berpamitan pada sahabat sahabatnya yang lain.
[Sorry, gue lupa ngabarin kalo gue nganter kak Renaldi ke lokasi kecelakaan]
Ia segera mengirimkan pesan tersebut pada Dito, siapa lagi orang pertama yang akan marah marah nantinya jika bukan dia.
[Iya, ati ati. Nanti di kasih tahu sama yang lain]
Belum selesai Luna membaca, sudah ada Notif dari Dito kembali
[Inget, jaga jarak! Jangan deket deket paham ente?]
[Paham pak ustadz]
Luna merasa sejak Luna mulai bisa membuka hatinya dan mengakui jika ia mulai bisa menerima Dito mengisi hatinya pria itu semakin protektif padanya.
"Siapa Na? Pacar?" Tanya Renaldi menyadari Luna tersenyum sambil membaca sebuah pesan
"Bisa dibilang gitu" Jawab Luna sambil tersenyum
Mereka samapai di lokasi, Luna memilih ikut jalan yang sempat di tunjukkan Bara sebulan lalu itu.
"Jadi menurut teman saya dan kakak saya yang bisa melihat masa lalu seseorang hanya dengan menyentuh barang pribadinya bercerita jika Arka ditabrak mobil sedan berwarna hitam di sini, & badannya terpental kearah tempat yang luas itu" Kata Luna mengawali cerita sambil menunjuk lokasi yang dia maksud
Luna bisa melihat raut wajah Renaldi berubah sedih bahkan matanya berkaca setelah mendengar ceritanya
"Maaf kalau cerita saya membuat kakak menjadi sedih" Ucap Luna mencoba menenangkan
"Tidak papa, saya hanya merasa bersalah meninggalkan mereka berdua sendiri di Indonesia hingga membuat mereka harus mengalami kejadian keji ini" Jawabnya sambil tersenyum kearah Luna
"Dan di depan gudang itu ada sebuah sekolah yang dulu sempat Arka dan Aira kenyam dan kebetulan juga seko lah saya" Jelas Luna merubah arah pembicaraan agar Renaldi merasa nyaman kembali
"Apakah kita bisa kesana?" Tanya Renaldi pada Luna
"Kemungkinan hanya bisa di depan saja, karena saat ini sekolah sedang libur" Jawab Luna sambil mengangguk
"Tidak papa saya hanya ingin melihat sekilas saja" Katanya juga dengan menganggukan kepalanya
Luna dan Renaldi turun dari mobil karena sejak tadi mereka hanya di mobil tak keluar sama sekali
"Luas" Gumamnya sambil tersenyum tipis
[Hey, masih lama?]
[Sabar, masih di depan sekolah ini]
Tanpa Luna sadari seseorang yang berada di sampingnya itu melirik ke arah ponselnya
[Buruan balik, sebelum yang punya HP ini ilang di bawa maling]
[Amin ya Allah]
[ALLAHUAKBAR! PACAR ILANG MALAH AMIN]
[BODOAMAT 😂]
Luna tertekekeh pelan saat membayangkan ekspresi Dito saat ini, walaupun hubungan mereka bukan lagi sebagai sahabat namun cara bercanda nya dan Dito tidak pernah berubah.
"Gue gak akan buat lo berubah jadi apa yang gue mau Na, tapi gue akan selalu berusaha buat lo selalu nya man dengan cara apapun" Ucapan itu selalu teringat dalam benaknya
Luna kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan kembali memperhatikan pria yang sedang di samping nya itu
__ADS_1
"Bisakah kita di sini sebentar? Ke kasih ku akan datang ke sini katana untuk menyusul"
"Tentu" aku mengangguk sebagai jawa ban
Sesaat kemudian sebuah taxi datang menampil kan seorang wanita yang sangat ia kenal baik dari dalamnya
"Kak Nabila..."
"Nana...."
----££----
Setelah kejadian itu Luna, Renaldi, & Nabila berada dalam kecanggungan setelah Nabila mengatakan kenapa ia bisa mengenal Luna
"Gue harus bilang apa kalau mereka ketemu nanti" Batin Luna yang kini berpindah duduk di belakang
Saat matanya melihat ke arah jende la ia merasa ada sesuatu yang memb uat perasaan nya tak enak secara tiba tiba
"Nana kenapa?" Tanya Nabila dari arah depan
"Enggak papa kak" Kata Luna mencoba memberanikan dirinya untuk menatap Nabila
Saat bersamaan Renaldi mengerem mobilnya mendadak, hingga membuat Luna yang duduk di belakang dan Nabila yang sedang tidak siap itu terhantuk kedepan
"Kalian gak papa?" Tanya Renaldi
"Aldi, kamu apa apaan sih?" Tanya Nabila bingung
"Maaf, kamu gak lihat itu didepan kita dihadang mobil" Ucap Renaldi lembut. Hal itu membuat Luna dan Nabila kompak melihat kearah depan mereka
"Sayang kamu telfon polisi, aku coba hadang mereka sampe polisi datang" Kata Renaldi memerintah
"Iya, emangnya kamu bisa lawan mereka bertiga?" Tanya Nabila yang tak kalah khawatir dari Luna
"Kalian tenang aja! Jangan keluar dari mobil sebelum polisi datang kunci pintu mobilnya" Nabila mengangguk sebagai jawaban
Tanpa Renaldi sadari Arka yang sengaja Luna panggil itu masuk kedalam tubuh nya, Luna bisa merasakan jika Arka yang dulu tidak bisa menyelamatkan adiknya kini dia harus bisa me nyelamatkan kakak nya.
Suara ponsel berdering mengagetkan Luna karna itu adalah ponsel milik nya
Di telfon 📲
Halo, lo seriusan gak papa kan?
(Kini justru Luna bimbang harus me njawab apa pada Dito)
Na, lo gak papa kan? Jangan bikin gue khawatir dong?
Lo tenang aja gue gak papa, ini udah dijalan pulang
(Luna mencoba untuk tenang agar Dito tidak curiga)
Soalnya perasaan gue dari tadi gak enak tau gak, ya udah pulangnya ati ati
Iya, tenang aja kita gak akan kenapa napa juga kok
Ya udah gue tutup telfonnya Assalamu'alaikum
Wa'alaikum Sallam
Telfon 📲
__ADS_1
Luna menutup telfon lalu menutup matanya, rasanya berat jika harus berbohong tentang kejadian ini, namun apa boleh buat ini yang terbaik bagi mereka
"Sorry Dit" Lirihnya masih dengan memejamkan matanya "gue gak maksud bohong sama lo" lirih nya
"Walaupun bohong buat kebaikan itu gak di perbolehkan, buat yang ini boleh deh ya" gumam Nabila sambil tersenyum kearah Luna
"Terpaksa kak, kak Aldi udah bilang gitu" jawab Luna membalas tatapan Nabila
"Iya sih, tuh anak emang keras kepala" jawab Nabila melihat kearah Renaldi khawatir
Luna kembali berfokus pada Renaldi yang masih mencoba melawan tiga orang yang mencoba menghadang mobil mereka, Luna juga melihat Arka masih merasuki tubuh sang kakak untuk menyelamatkan nyawanya.
"Kalian selama ini gimana, baik baik aja kan?" tanya Nabila memecah keheningan
"Alhamdulillah baik baik aja kak, kakak juga sekarang ada di Jakarta gak balik ke Luar Negri lagi" jelasku sedangkan Nabila hanya mengang guk sebagai jawaban
Tak lama setelahnya terdengar suara sirine polisi menuju kearah mereka karna sesuai dengan permintaan Renaldi Nabila memanggil kan polisi untuk mereka
"Alhamdulillah" Ucap Luna dan Nabila bersamaan dan bersamaan dengan itu Arka keluar dari tubuh Renaldi
Luna dan Nabila turun dari mobil karena rasa penasaran itu muncul, Luna mencoba untuk mencegah polisi yang akan membawanya langsung karna dia merasa familiar degan 3 orang dengan postur tersebut.
"Tunggu pak!" Kata Luna mencegah polisi segera membawa 3 orang tersebut
"Iya, kenapa Dek?" Tanya salah satu polisi yang memegang pelaku
"Boleh jika saya ingin mengetahui wajah dari tiga orang pria ini, sepertinya saya Familiar dengan postur tubuh mereka" Kata Luna tegas menatap 3 orang pria tersebut satu persatu
"Tentu saja, mungkin juga akan mempermudah mendapatkan informasi melalui Anda" Kata salah satu polisi yang lainnya
"Dan ini adalah informasi terakhir dari saya untuk kak Renaldi" lanjut Luna lalu melihat kearah Renaldi
Ketiga polisi yang sudah memborgol pelaku tersebut membuka masker yang menutupi wajahnya, hal diluar dugaan benar benar terjadi. Luna mengenal bahkan sangat mengenal mereka.
"Bagus sekali ya, tiga orang yang katanya sudah mau berubah dan ingin menjadi lebih baik ini justru ingin membunuh temannya sendiri" Ucap Luna dengan penuh emosi menatap 3 orang tersebut
Mereka menatap Luna dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan terutama seseorang yang sangat Luna kenal bahkan Luna harapkan
"Kenapa gue jadi berpikir yang selama satu bulan terakhir ini ngikutin gue dan jadi stalker gue itu kalian?" Tambah Luna kali ini menatap salah satu dari mereka
"Bukan begitu bapak Alandri?" Tanya Luna sinis
Ucapan Luna sukses membuat Andri terkejut bukan main lalu menatap Luna dengan penuh penyesalan
"Dan satu lagi yang harus kak Aldi tahu dari pria ini" Luna melihat kearah Andra yang berdiri di samping Andri
"Dia berhak bertanggung jawab atas kematian adik kembar kakak, Arka dan Aira" Tegas Luna menatap tajam kearah Andra
"D-dari mana lo tahu?" Akhirnya Andra berani berbicara
"Apakah bapak lupa jika saya dan sahabat saya yang lain punya keistimewaan yang bisa membantu saya mengetahui semua nya?" Jawab Luna tegas
"Jadi dia yang sudah membunuh adik saya?" Ucap Renaldi yang mulai tersulut emosi
"Serta bertanggung jawab atas kehamilan Aira yang membuat dia harus menderita hingga timbul inisiatif gila dari seorang Andra untuk membunuh Aira namun dia buat seolah bunuh diri"
Luna bisa melihat emosi yang memuncak dari seorang kakak yang harus kehilangan kedua adiknya sekaligus
"Bawa mereka pak!" Ucap Renaldi degan penuh amarah
"Maaf gue terlalu bodoh bisa percaya sama lo dan inget baik baik gue udah gak akan pernah mau ketemu lo lagi" Ucap Luna sangat pelan didepan Billy lalu pergi menjauh dari mereka bertiga
__ADS_1